My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 50. Menjadi Keluarga



Setelah mengalami berbagai penolakan dari ayah dan ibuku, mereka akhirnya membiarkan aku menikah dengan pak Reynand. Semua benar-benar membutuhkan banyak waktu dan usaha.


Manda dan aku juga mulai berteman kembali setelah dia minta maaf dengan minta maaf karena kejadian di klub waktu itu.


Adam dan aku tidak pindah dari Bali dan tetap menempati rumah kami seperti sebelumnya. Tapi pak Reynand selalu datang untuk mengantar Adam pergi ke sekolah atau menjemputnya pulang.


Aku juga mulai terbiasa ketika harus bekerja dan pulang ke rumah yang sepi karena Adam berada di Jakarta bersama ayah dan kakek neneknya.


"Besok kita menikah, dan kau masih berada disini untuk membersihkan toko?" Aku terkejut melihat kedatangan pak Reynand di tokoku tengah malam.


"Toko tidak akan tutup hanya karena aku menikah besok" Aku menyambutnya dengan pelukan yang sangat erat.


"Adam bersama ibu sekarang, sebaiknya kau segera pulang dan aku bisa memijatmu di atas ranjang yang hangat" Dia sering sekali datang dan menggodaku seperti ini.


"Aku tidak ingin terlambat datang ke upacara pernikahan kita besok" Aku membalas dengan membuat suaraku terdengar manja.


Kami berdua tertawa dan memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kami berdua.


Paginya


"Anna, cepat bangun. Kita harus berangkat sepuluh menit lagi" Terdengar teriakan Manda dan suara pukulan tangannya di pintu.


Aku melihat pria yang akan kunikahi siang ini sedang tidur dengan tenang di depanku. Menginjak usia 36 tahun, bukanlah hal yang berarti untuk pak Reynand. Wajahnya masih tetap tampan dan membuat aku semakin mencintainya.


"Pagi. Sepertinya kita akan terlambat ke gedung pernikahan hari ini" bisikku di telinganya.


"Mereka akan menunggu" Dia menarikku kembali dalam pelukannya dan mulai mendengkur.


Seorang Evan Harold Reynand yang selalu tepat waktu dan tidak pernah membuang waktu, berencana datang terlambat di pernikahannya sendiri.


"Bagaimana kalau mereka memutuskan untuk membatalkan pernikahan?" pancingku untuk membuat dia bangun.


"Aku akan membunuh mereka dengan kedua tanganku" Akhirnya dia terbangun dan menatapku tajam.


"Kita benar-benar terlambat sekarang" Aku menunjuk jam di dinding.


"Kau tidak sabar menikah denganku sekarang?" Bagaimana bisa dia bicara seperti itu saat ini. Apakah dia ingin aku membatalkan pernikahan ini dan mulai berpura-pura jual mahal lagi?


Aku mencubit perutnya yang datar dan merasa sangat kesal karena kulit perutnya ternyata keras sekali.


Dia turun dari ranjang dan memakai semua pakaiannya dengan cepat. Setelah mencium keningku, dia keluar dari kamar dengan tenang.


Pasti Manda merasa terkejut melihat mempelai pria berada di rumah ini sekarang. Aku pergi mandi dan mulai mempersiapkan diri.


"Kau cantik sekali" puji Manda setelah aku memakai gaun pernikahan dan merias wajahku. Aku tertawa mendengar pujiannya dan merasa sangat malu.


"Ibu cantik" Adam masuk ke dalam kamar rias dan melihatku untuk pertama kalinya hari ini. "Ayah sudah menunggu ibu. Aku akan mengantar ibu ke ayah sekarang juga" paksanya membuat aku tertawa.


"Kakek Anwar yang akan mengantar ibu ke ayah. Adam duduk saja dengan rapi di dekat nenek" Adam menjadi terlalu bersemangat setelah melihat banyak orang di tempat ini.


Kami mengadakan pernikahan di salah satu villa milik keluarga Reynand. Tempatnya yang dekat dengan pantai dan berada di atas tebing, membuatnya menjadi istimewa.


Karena ini adalah pernikahan kedua bagiku dan pak Reynand, kami tidak mengundang banyak orang. Hanya teman dan keluarga terdekat yang hadir di villa cantik ini.


Setelah melalui bertahun-tahun pengorbanan dan perjuangan berat, akhirnya kami disatukan oleh keajaiban yang diberikan oleh Tuhan. Adam telah membuat kami berdua menjadi orang tua yang bahagia. Dan Adam juga yang membuat kedua keluarga yang asing ini menjadi satu.


"Apakah terlalu awal untuk memintamu mengandung anak kedua?" Mataku membesar mendengar Evan mengatakan hal itu.


"Sepertinya Adam membutuhkan seorang adik agar berhenti mengganggu kita." Bagaimana bisa seorang ayah menganggap anaknya sendiri sebagai gangguan?


"Nanti saja. Aku ingin menikmati waktu-waktu ini secara perlahan dengan semua orang yang hadir disini" Aku menjauh darinya lalu menangkap Adam yang terus berlari sejak upacara pernikahan selesai.


.


.


.


Tidak mudah ternyata menjadi seorang istri dari pemilik perusahaan properti terbesar di negeri ini. Begitu banyak acara harus kuhadiri bersamanya dan itu membuat waktuku mengurus toko menjadi berkurang.


Adam yang sekarang berumur 6 tahun, mulai belajar membaca dan berhitung. Aku juga harus meluangkan banyak waktu untuk mengurusnya.


"Wajahmu sangat pucat, apa kau tidak apa-apa?" tanya suamiku setelah kami menghadiri salah satu pesta pernikahan salah satu koleganya.


"Tidak apa-apa. Mungkin kelelahan dan kurang makan. Sudah seminggu aku tidak ingin makan apapun" Mungkin kini saatnya aku memikirkan lagi nasib dua toko roti yang kumiliki. Aku harus menugaskan orang lain untuk mengawasinya, karena kegiatan yang semakin banyak.


"Aku akan menyuruh Graham untuk memanggil dokter setelah kita sampai di rumah" kata suamiku dengan khawatir. Aku meletakkan kepalaku di dadanya dan merasa sangat hangat. Tapi akhirnya kami pergi ke rumah sakit karena keadaanku semakin mengkhawatirkan.


"Selamat Nyonya muda. Tuan muda kecil akan mendapatkan seorang adik" kata dokter membuatku sangat terkejut.


Memang sudah waktunya memberi adik untuk Adam. Tapi tidak pernah kukira akan secepat ini.


Pak Reynand tampak sangat bahagia karena ini adalah pertama kalinya dia melihat dan mengalami hal seperti ini. Pada saat hamil Adam, dia tidak bisa menemani kami karena pernikahannya terdahulu.


"Aku akan punya adik?" ucap Adam ketika kami pulang dan mengabarkan perihal kehamilan ini pada kakek Malik, Nenek Diana dan Adam.


Aku mengangguk dan memberi Adam foto USG bayi yang ada di dalam perutku. Mereka tampak sangat bahagia dan merasa mendapatkan keajaiban.


"Karena kehamilan kali ini sepertinya menguras tenaga Anna. Tidak boleh ada yang mengganggunya beristirahat, termasuk anak tampan ayah" kata pak Reynand pada semua orang di rumah ini.


"Tapi aku harus mengurus tokoku dan toko roti ayah selama orang tuaku berlibur ke Belanda" Ayah dan ibuku kini merasa tenang karena bisa meninggalkan tokonya padaku. Mereka sudah satu bulan tidak pulang dan berkeliling dunia dengan uang tabungan yang dikumpulkan selama dua puluh tahun.


"Kau tidak boleh meninggalkan tempat tidur terlalu lama. Dokter sudah memberikan peringatan padamu" Suamiku masih saja sering melarangku pergi kemanapun, apalagi dengan kehamilanku kali ini.


Tapi aku sangat bahagia sekarang. Manda mendapatkan anak pertamanya sekitar setengah tahun lalu. Seorang bayi laki-laki yang memiliki pipi seperti roti.


Pak Arman mulai mengencani beberapa model dan belum memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat.


Paman Malik dan bibi Diana sering mengajak Adam berjalan-jalan kemanapun. Dan pak Graham mengikuti mereka kemanapun pergi.


Dan aku, merasa tenang berada di pelukan suami yang mencintaiku. Kami berusaha menjadi orang tua yang baik dan tegas pada Adam. Semoga kami dapat terus berbahagia bersama-sama.


TAMAT