
"Darimana kau mengenal Evan?" Manda, Randy dan dua pria serta para wanita lain melihatku karena penasaran.
"Kau mengenal Tuan Reynand?" Manda berbisik. Otakku mulai bekerja untuk memberikan jawaban terbaik.
"Bibi Diana adalah pelanggan di toko roti orang tua Saya" kuharap mereka tidak akan berpikir macam-macam dengan jawabanku.
Arman sangat terkejut mendengar kedekatan mereka. Ternyata bukan hanya mereka yang saling mengenal, tapi juga orang tua keduanya.
Malam semakin larut dan klub menjadi lebih hidup. Perempuan yang menemani pria disini pergi menari di bawah lampu berwarna warni.
"Bagaimana kalau kita menari lagi?" ajakku ke Manda. Manda melihat ke arahku dan dibalas dengan tatapan kejam dari arah belakangku. "Kita duduk saja" Suara Manda terdengar ketakutan.
"Diam saja disini" Pria ini melarang kami melakukan apapun. "Aku haus" Tidak tahan, aku meminta minum padanya.
Dia memanggil pelayan dan membisikkan sesuatu. Tidak lama pelayan itu datang dengan beberapa botol air mineral. Mereka minum minuman mahal dan aku minum air putih.
Arman tidak tahan dengan tingkah laku Evan yang tidak masuk akal lalu pergi ke sebuah ruangan tertutup.
Manda bermesraan dengan Randy tepat disampingku dan membuatku bosan. Mataku terasa berat dan perlahan menutup. Aku tertidur di klub malam yang sangat berisik.
Terasa pelukan hangat yang merengkuhku, membuatku merasa hangat. Aku terbangun tapi tidak berani membuka mata, pria ini memelukku.
"Dia tidur?" Itu pasti pria yang bernama Arman.
"Hei Randy, sebaiknya kau bawa pacarmu pulang. Temannya tertidur" Arman memberikan perintah pada Randy dan Manda menoleh ke arahku.
Manda pasti terkejut aku berada dalam pelukan pria ini.
"Aku akan mengurusnya, kalian pulang saja" kata-kata Evan terdengar seperti perintah bagi Randy. Manda berdiri dan mereka pergi keluar klub tanpa aku.
'Bagaimana denganku?? Tidak setia kawan, bagaimana Manda bisa meninggalkan aku sendiri bersama pria ini???' protesku dalam hati.
"Aku akan pergi sekarang. Kau akan menunggunya bangun?" Tidak ada jawaban dari Evan saat ditanya Arman.
Semua orang sudah pergi dari tempat ini. Tinggal aku dan pria ini yang tertinggal.
"Bangunlah" Dia tahu aku hanya pura-pura tidur sejak tadi. Aku merapikan rambutku yang agak berantakan. Bagaimana caranya aku pulang?
"Aku akan mengantarmu!" Aku mengikutinya keluar klub. Banyak orang melihat kami dengan tatapan penasaran.
Di luar klub, suasana malam sangat sepi. Aku mengeluarkan ponsel lalu menghubungi Manda. "Anna. Kau masih disana?" Teman terbaikku yang meninggalkan temannya sendiri.
"Maaf Anna. Ibuku datang tepat setelah aku datang. Sepertinya kau tidak akan bisa pulang kesini" Rasanya petir menyambarku. Ayah dan ibu pasti membunuhku seandainya aku pulang ke rumah.
"Nona Hamid" Aku melihat badan tinggi di hadapanku.
"Pak Graham" hatiku mulai tenang melihat Pak Graham ada di sekitarku.
"Nona sebaiknya segera masuk ke dalam mobil! Malam semakin larut" kata Pak Graham menunjuk mobil bentley hitam di depanku.
Tak ada pilihan lain untukku selain mengikuti pria ini. Aku duduk diam di dekat pintu, menjaga jarak dari pria ini.
Jalanan sepi membuatku merasa tenang dan nyaman. Kami bertiga dalam satu mobil, tapi tidak ada yang berbicara. Aku mulai merasa mengantuk dan tertidur. Kali ini aku benar-benar tidur.
Tubuhku terasa hangat dan nyaman ketika bangun. Merasa lega karena tidak ada orang lain di ranjang tempat aku tertidur. Tapi aku dimana?
Aku keluar dari kamar dan melihat pria itu memakai kaus putih. Matahari membuat sosoknya bercahaya, bahkan dari belakang, dia terlihat tampan.
"Kau sudah bangun?" dia berbalik melihatku.
"Rumahku" Pria ini sungguh-sungguh kaya raya. Pantas saja perempuan-perempuan di klub semalam berusaha mendekatinya.
"Mandi dan makanlah. Aku akan mengantarmu ke rumah sebelum pergi ke kantor" Aku tidak dapat menolak pertolongannya.
Aku masuk ke dalam kamar yang tadi kugunakan dan menemukan baju di atas meja. Gaun terusan hitam selutut dengan pola bunga kecil berwarna biru.
Sebaiknya aku cepat mandi dan pulang sebelum Ayah dan Ibu kembali ke rumah setelah membuka toko.
Gaun ini menempel di tubuhku dengan cantik. Aku memakai peralatan rias di atas meja untuk merapikan rambut dan memberi riasan tipis pada wajahku.
Setelah merasa siap, aku keluar kamar dan melihat pria itu memakai jas lengkap duduk di meja makan.
"Apakah hanya ada ini untuk sarapan?" aku melihat salad sayuran dan dada ayam yang direbus di atas piringku.
"Apa yang ingin kau makan?" tanyanya
"Nasi, sup, daging panggang, atau roti cokelat?" aku menyebut semua menu makanan di rumah ketika sarapan.
"Makan yang ada. Kita segera pergi!" terpaksa aku memakan salad dan ayam yang terlihat putih itu. Tak ada rasa dalam makananku.
Kami keluar rumah dan aku melihat taman yang pernah kulihat. Ini adalah halaman rumah Bibi Diana tapi dari sudut yang berbeda.
Aku naik mobil sportnya dan kami melewati rumah Bibi Diana. Jadi rumahnya berdekatan dengan rumah ibunya.
Baru kali ini aku melihat kemewahan yang berlebih sepanjang hidupku. Mereka sangat kaya dan berbeda dengan orang-orang kebanyakan.
"Senin depan, kau bekerja sebagai sekretaris di perusahaanku!" aku terkejut dengan keputusannya. Kupikir aku tidak dipertimbangkan sebagai sekretaris yang terpilih.
"Apakah prosesnya adil?" Aku tidak akan menerima keputusan yang didasarkan hal lain selain kemampuan.
"Iya" jawabannya membuatku sangat gembira. Aku merasa senang dan menarik wajahnya lalu mengecup bibirnya.
"Maaf. Aku terlalu senang" aku sadar perbuatan ini akan membuatku dipecat sebelum bekerja.
Karena tidak ada reaksi darinya, aku merasa tenang lagi. Kali ini aku tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa membahayakan pekerjaanku lagi.
Dia mengantarkanku tepat di depan rumah. Setelah mengucapkan terima kasih, aku berlari masuk ke dalam rumah dan segera berganti pakaian.
.
.
.
"Bagaimana semalam? Apakah kalian melakukannya?" Arman datang lagi ke peeusahaan Evan untuk menggali informasi terbaru tentang temannya itu.
"Tidak ada yang terjadi" Evan disibukkan dengan banyak dokumen untuk diperiksa dan ditanda tangani.
"Padahal aku meninggalkan kalian sendiri, seharusnya kau mengambil kesempatan untuk menerkamnya" Evan melihat Arman dengan tatapan meremehkan.
Tapi Evan mengingat kecupan singkat yang diberikan Anna, dan membuatnya tersenyum. "Pasti terjadi sesuatu, ceritakan padaku!!" Arman memohon-mohon karena melihat senyuman singkat di wajah Evan.
"Dia dipilih menjadi sekretarisku mulai minggu depan. Hubungan kami hanyalah hubungan profesional antara atasan dan bawahan. sebaiknya kau kembali ke perusahaanmu sendiri!" penjelasan Evan membuat Arman merasa kesal.
Dulu Evan selalu menceritakan kisah cintanya dengan Freya, bahkan tentang hal-hal yang seharusnya tidak diceritakan.
Tapi Arman merasa senang Evan tidak bersedih lagi atas kepergian Freya. Dengan Anna didekatnya, Evan akan kembali seperti sebelumnya. Arman yakin