My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 12. Rencana Arman Sanjaya



Aku berjanji pada Manda kemarin malam, menjauh dari pak Reynand dan tidak membiarkan dia masuk ke dalam kepala dan hatiku.


Tapi saat ini aku melanggar janjiku sendiri. Entah bagaimana, aku berada di dalam pelukan pak Reynand dan tertidur.


Aroma tubuhnya tercium di hidungku dan membuat aku merasakan sesuatu yang janggal. Tapi janji itu kubuat karena aku tidak mau terseret dalam cinta yang tidak terbalas. Lagipula dia masih memiliki kekasih dan tidak pernah bercerita tentang putus hubungan.


"Kau terbangun?" Dia pasti menyadari aku terbangun dari tadi.


"Maafkan Saya, hal ini tidak akan terulang lagi" Di hari kedua bekerja, aku tidur di dada bosku. Rasanya aku perlu belajar bekerja dengan benar.


"Lebih baik sekarang kita kembali ke perusahaan" katanya pada pak Graham. Pasti pak Graham tahu aku tertidur tadi.


Aku melihat jam, ternyata aku tidak tidur terlalu lama tadi. Hal itu membuat aku merasa lebih baik.


Kami sampai di perusahaan dan mengerjakan pekerjaan kami masing-masing.


"Apakah kau sudah memastikan makan malam nanti?" Pak Reynand kembali menanyakan rencana makan malamnya dengan temannya.


"Maafkan Saya karena terlambat memberitahu. Pak Sanjaya mengambil alih pekerjaan itu dari Saya." Dia melihatku dengan agak kesal. Pasti aku membuat kesalahan besar.


"Keluarlah!" Aku keluar sesuai keinginannya dan mengerjakan pekerjaan lain.


.


.


.


"Apa yang akan kau lakukan malam ini?" Evan segera menghubungi Arman.


"Evan, pasti Anna sudah mengatakan semuanya. Padahal aku ingin ini menjadi kejutan untuk kalian berdua" Arman sangat senang dengan reaksi Evan.


"Batalkan semua rencanamu atau aku akan membatalkan kerja sama kita!" Ancaman Evan sangat keras kali ini. Tapi Arman tidak takut padanya.


"Kau akan menyetujui semua keinginanku setelah malam ini. Nikmati saja semuanya dan beri aku kabar baik besok" Arman memutuskan sambungan telepon Evan dan tertawa kencang.


Evan tahu Arman akan merencanakan sesuatu yang gila malam ini. Tapi dia belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Sebaiknya dia mrngikuti permainan Arman dan membuat semua rencananya gagal.


.


.


.


Setelah membereskan satu tumpukan berkas yang lain, wajahku mulai terlihat dari depan meja. Aku mengambil ponsel karena mendengar nada deringnya. Pak Sanjaya mengirim pesan padaku, dari mana dia tahu nomor ponselku?


"Datanglah ke alamat yang kuberikan nanti sebelum kau pergi makan malam. Aku merasa Evan tidak akan senang bertemu denganku. Tolonglah aku membeli sesuatu untuk membuatnya menyukaiku malam ini" Isi pesan pak Sanjaya terasa aneh.


Mereka berteman tapi membenci satu sama lain. Untuk membantunya, sebaiknya aku datang ke tempat yang dimaksud. Tentu saja setelah aku meminta ijin pada pak Reynand terlebih dahulu.


Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat ketika kau berkonsentrasi pada pekerjaanmu. Saatnya aku pulang kerja dan melakukan sesuatu untuk membantu pak Arman.


Pak Reynand terlihat bersiap-siap pulang dan aku menunggunya keluar dari ruangannya.


"Kau pulang sekarang?" Pak Reynand bertanya karena melihat aku membawa tas.


"Iya, Saya sudah mengerjakan dua tumpukan berkas hari ini" Aku menunjukkan berkas yang sudah kubereskan.


"Jangan tertidur di taksi" katanya seperti dia mengkhawatirkanku. Aku menjawab dengan tersenyum.


Setelah mengantar kepergian pak Reynand, aku naik taksi dan pergi ke alamat yang diberikan pak Sanjaya.


Tempat ini sepertinya sebuah salon kecantikan. Apakah dia berencana memberikan wanita pada pak Reynand?


"Selamat datang, apa yang bisa kami bantu?" pegawainya yang ramah menyapaku.


"Saya mencari Pak Arman Sanjaya" Pegawai itu sepertinya tahu sesuatu.


"Nona Anna. Senang sekali Nona ke tempat kami. Pak Sanjaya telah memesan perawatan untuk Nona sebagai ucapan terima kasih"


Aku tidak mengerti dengan yang dibicarakannya. Belum ada bantuan yang kuberikan dan pak Sanjaya berterima kasih padaku?


Pegawai salon itu menarikku ke dalam dan mulai melepas tas dan blazerku. Ketika aku ingin berontak, pegawai itu menunjukkan kekuatan luar biasa untuk menahanku.


Terpaksa aku pasrah dan merelakan wajah dan badanku pada pegawai itu.


Setelah perawatan wajah, pedicure dan menicure, pegawai itu membawaku ke seorang penata rambut.


Rambutku dipotong lalu ditata dengan cantik. Pegawai lain menyapukan riasan ke wajahku.


"Nona Anna memang cantik. Kami hanya memberi riasan sedikit, dan wajah Nona semakin terlihat cantik" puji pegawai itu.


Aku memuji hasil kerja mereka, bisa membuat aku sangat berbeda.


"Sekarang saatnya Nona berganti pakaian dan setelah itu pergi menemui pangeran" ucap pegawai itu.


Sekarang aku tahu rencana pak Arman. Dia benar-benar mengirim seorang wanita pada pak Reynand. Dan wanita itu adalah aku. Bodoh sekali aku mempercayai pesannya yang terlihat tulus.


Para pegawai berkekuatan luar biasa ini kembali memaksaku berganti pakaian.


Gaun yang ingin mereka pasangkan di tubuhku terlihat seperti baju tidur sexy tapi panjang. Aku terpaksa memakainya dan merasa malu karena sebagian besar bagian dadaku terlihat.


Kukira gaun itu panjang menutupi kakiku, ternyata belahannya berada tepat di pahaku. Aku tidak akan mau pergi memakai baju seperti ini.


Ketika aku meronta ingin pergi, ponselku berbunyi.


"Anna" Ini dia orang yang melibatkanku dalam masalah.


"Pak, Anda tidak bisa melakukan ini terhadap Saya" kataku dengan sedikit berteriak.


"Tolonglah aku Anna. Kerja sama perusahaan kami berada di tanganmu. Evan tidak akan mungkin memecatmu bila terjadi sesuatu. Tolonglah aku Anna" Suaranya kembali membuat aku merasa kasihan.


"Baiklah. Tapi ini petama dan terakhir kalinya Saya membantu Anda" Aku menutup telepon dan melihat ke arah pegawai yang menahanku. "Aku akan pergi ke makan malam itu. Sekarang lepaskan aku!" Kesal sekali aku pada keadaanku saat ini.


Aku keluar dari salon kecantikan dan masuk ke dalam mobil yang disiapkan oleh pak Sanjaya. Aku membawa kantung besar berisi baju, tas serta sepatu yang kupakai sebelumnya.


Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan pak Sanjaya dan pak Reynand, tiba-tiba aku merasa gugup. Dengan pakaian seperti ini, semua orang akan menganggap aku wanita tidak baik.


Akhirnya aku sampai di sebuah hotel bintang lima dan supir pak Sanjaya memberitahu agar aku segera ke restoran hotel ini.


Aku membawa diriku dan kantung besarku masuk ke dalam hotel. Ketika bertanya dimana letak restoran, pegawai hotel itu menjadi sangat baik dan menawarkan tenaga untuk membawa kantung bajuku.


Aku memberikan kantungku kepadanya dan dia mengantarku ke restoran.


"Kami akan menyimpan kantung besar ini untuk Nona. Karena wanita secantik Nona tidak pantas membawa kantung baju seperti ini." Aneh sekali, itu adalah baju dan tasku, jadi terserah aku membawanya atau tidak.


"Simpan baik-baik karena aku akan memburumu ketika isi kantung ini hilang!" Aku tersenyum dan meninggalkan pelayan hotel itu ketakutan.


Masuk ke dalam restoran yang penuh dengan orang membuatku agak hilang konsentrasi.


Tiba-tiba pundakku yang terbuka terasa hangat dan tertutup. Sebuah jas laki-laki berada tepat di pundakku.


"Untuk apa kau ada disini?" Mendengar suara itu membuatku tenang. Semua orang yang berada di restoran termasuk pelayan hotel melihat pria yang berada di belakangku.