My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 17. Kehidupanku



Semua yang terjadi antara kami memang hanya suatu kebetulan. Kejadian di pantai, bekerja, klub malam dan hubungan antara ibu kami. Semuanya hanya sebatas kebetulan dan tidak sengaja.


Tapi dia selalu membuat aku merasa bersalah karena pertemuan kami. Bukanlah keinginanku untuk berada di sekitarnya.


Apakah aku benar-benar harus berhenti dari pekerjaan ini?


Sibuk berpikir membuatku berada di depan gerbang keluarga Reynand. Nyala lampu dan bunyi bising musik mungkin telah menyihirku selama ini. Saatnya aku untuk sadar bahwa dia seorang pria yang tidak mungkin kudapatkan.


"Apa yang kaulakukan? Bukannya kau ke pesta dengan ... ?" Manda pasti terkejut melihatku berada di depan pintu rumahnya. "Masuklah" ajaknya.


"Apa kau sudah makan?" Aku menggeleng mendengar pertanyaannya. "Makanlah dulu lalu ganti bajumu" Sekali lagi aku mengangguk tanpa bicara.


Sedih memang sedih, tapi perutku juga marah karena tidak diisi sejak tadi siang.


"Apakah besok kau ingin sedikit bergembira?" Mataku memicing melihat Manda yang memiliki rencana lagi. Terakhir kali dia membawaku ke sebuah klub malam dan berakhir, aku berada di rumahnya.


"Aku tidak akan mengajakmu ke tempat seperti itu lagi. Kita akan berenang lalu minum minuman segar." kata Manda gembira.


"Aku harus pulang sendiri nantinya?" Aku takut berakhir sendirian lagi.


"Tidak, atau kau berencana pulang sendiri?" Cara bercanda yang tidak lucu.


Aku berganti pakaian dan tidak lupa memberitahu ibu bahwa aku berada di rumah Manda.


Malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak karena berada di rumah Manda. Sekitar pukul 10 pagi, dia membangunkan aku.


Aku sempat marah, karena Manda membangunkan aku di saat aku tertidur dengan nyenyak.


"Pakailah bajuku dan kita akan bersenang-senang" Dengan malas, aku berjalan ke arah kamar mandi dan bersiap.


"Celana ini pendek sekali" Aku mengkhawatirkan pakaian yang kupakai. Gaun off shoulder sebatas paha dan celana ketat yang sangat pendek


"Kau terlihat cantik sekali. Bagaimana bisa kau bilang celana ini pendek" Seharusnya aku tidak mempercayai kata-katanya.


Sekali lagi, aku bertemu dengan Randy. Dia tampak sangat kaya dengan mobil mengkilap baru berwarna merah.


"Hai Randy" Aku hanya bersikap sopan dengan menyapanya. Dia melambaikan tangan padaku lalu masuk ke dalam mobil.


Kami berangkat ke sebuah rumah besar yang memiliki halaman belakang luas. Terdengar suara riuh tawa dan kesenangan dari luar.


"Aku tidak ingin kemari, kau tidak bisa dipercaya" Aku marah sekali padanya.


"Saat kau menikah, aku selalu menemanimu kemanapun kau mau. Apakah kali ini kau tidak menemaniku untuk lebih mengenal pacarku yang kucintai?" rengeknya.


Menyerah, aku masuk ke dalam rumah mewah ini. Ternyata di halaman belakang diadakan pesta kolam renang yang sangat ramai.


"Tenanglah, aku tidak memintamu masuk ke dalam air, walaupun aku membawa bikini juga untukmu" Aku mencubit pinggang temanku karena merasa kesal.


Sebaiknya aku pulang saja dari sini, meski aku tidak yakin taksi melewati area rumah ini. Belum sempat menginjakkan kaki keluar rumah, aku melihat mobil yang sangat kukenal.


Mobil sport Jerman berwarna abu-abu kesayangan pak Reynand. Di belakangnya mobil putih mewah dengan wajah penemudi yang kukenal, pak Sanjaya. Aku masuk kembali ke dalam rumah dan mendekat pada Manda.


"Kau pasti sengaja mengajakku kesini" bisikku pada sahabat baikku.


Manda tersenyum usil menjawab pertanyaanku.


Pasti pria itu salah paham lagi, saat melihatku ada disini. Lagipula aku tidak tahu siapa yang mengadakan pesta. Semua orang yang ada disini tampak sama saja bagiku.


Terdengar riuh suara menyambut kedatangan pak Reynand dan pak Sanjaya disini. Para perempuan memakai bikini seksi mengerumuni mereka seperti lalat.


Dia menganggapku sama dengan perempuan-perempuan itu. Kemarahan muncul di hatiku.


"Aku tidak tahu kalau kau suka acara seperti ini" Hatiku perih mendengar suara yang dekat denganku. Tidak mungkin aku bertemu dengannya di tempat seperti ini.


Dimas Santosa, mantan suamiku yang berselingkuh.


Keluarganya memang kaya, tapi aku tidak menyangka dia akan berada disini.


"Mas Dimas" Wajahnya masih sama seperti dahulu. Kenangan saat dia berada di kamar hotel dan pengadilan bersama Dina membuat hatiku semakin sakit.


.


.


.


"Kau pasti melihat Anna yang sedang bersama laki-laki itu" Arman sangat terkejut melihat Anna berada di tempat ini. Dan reaksi Evan jelas menunjukkan bahwa dia menyukai Anna.


"Siapa pria itu?" tanya Evan.


"Setelah aku mencari tahu latar belakang Anna. Ternyata dia pernah menikah dengan Dimas Santosa, pewaris 2 hotel bintang lima di daerah Jawa Tengah. Itulah mantan suaminya" Arman merasa bersemangat melihat kelanjutan cerita ini.


.


.


.


"Mana istri barumu?" tanyaku ketus.


Mas Dimas tersenyum dan membuat wajahnya semakin terlihat tampan. "Kau pasti sangat membenciku lalu tidak ingin mengetahui kabar terbaru dariku" jawab Dimas. "Aku tidak bersama Dina lagi. Kami putus" Entah mengapa, kabar itu semakin membuatku kesal.


"Kau terlihat sangat cantik, bolehkah aku meminta nomor barumu? Aku sering sekali menghubungimu, tapi tidak pernah tersambung" Tentu saja aku mengubah nomor ponselku setelah menerima pengkhianatan darimu.


"Sepertinya kita tidak perlu saling mengenal lagi" Tanpa sadar, aku berjalan mendekati meja minum di dekat pak Reynand dan pak Sanjaya.


"Jangan melihatku seperti itu! Aku tidak suka." kataku agak berteriak kepada mas Dimas. "Aku tahu kau masih menyukaiku. Bagaimanapun kau adalah milikku, Anna" Aku berhenti meminum air yang tidak segar ini dan menyiram air itu ke arah dada telanjang mas Dimas.


"Aku milikmu? Seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri. Masih pantaskah kau muncul di depanku?" Aku tidak peduli apakah Manda mencariku atau tidak. Tapi aku tidak mau berada di tempat yang sama dengan mas Dimas lagi.


Aku berjalan dengan kesal keluar dari rumah mewah ini dengan marah. Tiba-tiba ada tangan yang menarikku.


Pak Reynand.


Pria ini juga selalu menyakiti hatiku. Mau apa dia menghalangi kepergianku?


"Aku akan mengantarmu pulang" Dia menarikku ke arah mobilnya. Terpaksa aku masuk ke dalam mobil ini karena tidak tahu cara pulang.


"Saya tidak ingin pulang. Tolong turunkan Saya di pinggir jalan saja" Aku tidak ingin dia salah paham padaku lagi.


Tapi mobil tidak melambat, entahlah kemana dia akan membawaku. Asalkan tidak pulang, maka aku akan diam mengikutinya.


Kami sampai di sebuah villa yang berada di atas bukit.


"Turunlah, aku akan menyiapkan makanan untukmu" kata pak Reynand.


Aku turun dari mobil dan mengikutinya masuk ke dalam villa dengan pemandangan gunung yang hening. Bau cemara memenuhi hidungku dan membuatku lebih tenang dari sebelumnya.


Sepertinya pak Reynand meninggalkan aku sendiri menikmati pemandangan ini. Perlahan air mata menetes dari mataku. Aku menangis menyesali semua yang terjadi dalam hidupku.