
"Selamat hari pertama bekerja!!!!!" Teriak ayah, ibu dan Manda ketika aku membuka pintu rumah.
Mereka membuat banyak makanan dan sebuah kue khusus untukku. Aku merasa sangat bahagia hari ini.
"Bagaimana hari pertamamu bekerja?Apakah Pak Reynand menyulitkan pekerjaanmu?" Manda bertanya banyak pertanyaan dan membuat aku bingung.
"Pak Reynand?" ayah bertanya padaku. "Iya, Evan Harold Reynand, putra Diana" ibu menjawab pertanyaan ayah.
"Dia adalah anak yang baik. Sayang sekali pernikahannya dibatalkan beberapa bulan yang lalu." terang ibu. Manda dengan jiwa penasarannya mulai mendekati ibu dan menanyakan secara detail tentang masa lalu keluarga Reynand.
Aku masuk ke dalam kamar dan mengganti bajuku. "Bibi sama sekali tidak mau memberitahuku cerita tentang batalnya pernikahan Evan Reynand. Kesal sekali" Manda merajuk ke dalam kamarku.
"Ibu tidak akan membocorkan berita tentang temannya. Aku saja baru tahu kalau ibuku berteman dengan ibu Pak Reynand" Manda tiba-tiba mendekatiku dan melihat ke arah leherku.
Aku mulai sibuk menutupi bekas kecupan pak Reynand yang berada di leher kiriku. "Aku melihatnya, percuma saja kau menutupinya" Manda menangkap basah aku.
"Siapa yang memberimu bekas kecupan semerah itu?" Aku meraba lukaku yang tertutup bekas ciuman.
Aku pergi menutup pintu karena takut ibu mencuri dengar percakapan kami.
"Evan Reynand yang melakukannya?" Manda sampai pada kesimpulan sebelum mendengar pendahuluan.
Aku menyerah dan mengangguk menyetujui prasangkanya. Manda berdiri lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aku benar ketika curiga bahwa kalian berhubungan" Manda semakin lantang bersuara dan membuat aku memukulnya dengan bantal.
"Kami tidak berhubungan, kau harus tahu hal itu" jelasku.
"Lalu kenapa dia meninggalkan bekas kecupan itu ketika kalian tidak berhubungan?" tanya Manda.
"Aku tidak tahu. Kami bertemu secara tidak sengaja setelah aku bercerai. Waktu itu dia juga ditinggalkan oleh calon istrinya pergi. Lalu kami ... ? Aku menunda menceritakan segalanya pada Manda.
Dia marah karena aku tidak melanjutkan cerita lalu memukulku dengan bantal juga.
"Seperti yang kau tahu, aku memasukkan lamaran kerja di perusahaannya lalu dia adalah orang yang melakukan wawancara padaku. Dan kami bertemu lagi di klub karena kesalahanmu" Aku masih marah karena Manda meninggalkan aku waktu itu.
"Aku juga penasaran dengan malam itu. Kau pulang bersamanya dan tidak terjadi apa-apa? Setahu ibumu kau tidur di tempatku, bagaimana kalau aku bercerita semuanya?" Aku memang tidak bisa merahasiakan sesuatu pada Manda.
Menyerah, aku mulai bercerita tentang kejadian di pantai dan malam itu. Awalnya Manda merasa bersemangat, lalu menjadi diam dan tidak antusias dengan ceritaku.
"Apa tujuannya melakukan itu semua padamu?" Pertanyaan Manda sebenarnya sempat terbesit di pikiranku.
"Aku tidak tahu. Sungguh tidak tahu" jawabku.
Aku mencintai seseorang selama 3 tahun, kurang lebih tiga bulan yang lalu dia mengkhianati cintaku dan aku merasa tidak akan pernah dekat dan jatuh cinta lagi.
Keberadaan Pak Reynand di pantai malam itu, membuatku bisa melepaskan segala kesedihan yang kualami dari hatiku.
Tentang ciuman, aku hanya berpikir itu adalah sebuah bentuk kebaikan hatinya yang mengetahui aku masih suci bahkan setelah menikah. Begitu juga dengan aku yang tidur di rumahnya. Dia pasti hanya ingin berbuat baik.
Tapi Manda tidak setuju denganku.
"Aku juga tahu itu. Sebenarnya aku juga tidak nyaman bekerja dengannya. Tapi ini kesempatan terakhirku mendapat pekerjaan sebagus ini" jelasku pada Manda.
Kami berpelukan dan saling menghibur satu sama lain. Ibu memanggil kami untuk makan malam dan malam semakin larut.
Pagi harinya, Manda membuatku sibuk dengan mengeluarkan semua pakaian dari dalam lemari dan memakainya ke kantor.
Aku merasa sangat kesal karena pakaian yang sudah kusiapkan menjadi berantakan. Akhirnya aku berangkat menggunakan gaun panjang selutut bermotif bunga kecil berwarna coklat dengan blazer putih.
Untuk menutupi rasa bersalahnya padaku, Manda mengantarku ke perusahaan properti Reynand.
"Ingatlah untuk selalu hati-hati pada pria super tampan dan kaya raya. Mereka pasti memiliki alasan setiap melakukan sesuatu" Manda tidak sadar bahwa pacarnya adalah tipe pria yang sama.
"Aku akan menjauh darinya. Sekarang pergilah!" aku membuat Manda akhirnya pergi dari depan Reynand Property.
Aku masuk ke dalam dan pergi ke ruanganku. Sebaiknya aku mulai mempersiapkan ruangan pak Reynand sebelum dia datang.
Aku mendapat pesan dari pak Graham yang mengabarkan tuan mudanya berangkat ke perusahaan. Segera aku merapikan diri dan turun ke lobi untuk menyambutnya bersama dengan pimpinan departemen lainnya.
Aku merasa mendapatkan banyak perhatian ketika menunggu kedatangan pak Reynand. Perempuan yang merundungku kemarin ternyata adalah pimpinan departemen desain. Aku menghindari tatapannya dan melihat ke arah luar pintu.
Tak lama pak Reynand datang dengan mobil Bentleynya. "Selamat pagi, Pak" semua orang yang berada di lantai 1 menyapanya.
Dia berjalan melewatiku lalu meminta agenda hari ini. Aku menyerahkannya dan dia masuk ke dalam lift. "Apa kau merasa kenyang kemarin malam?" tanyanya.
Aku lupa mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya. "Terima kasih, Pak" Dia melihatku dan meninggalkan aku sendiri di dalam lift.
Setelah memberikan laporan yang membutuhkan tanda tangan pak Reynand, aku mengambil tas dan mengikutinya ke lantai 1 dan naik mobilnya.
Aku memilih duduk di samping Pak Graham yang mengemudikan mobil dan kami berangkat ke Jakarta Timur.
Karena kemacetan lalu lintas, aku berbicara tentang keadaan Bibi Diana pada Pak Graham.
Merasa tidak nyaman dengan pandangan tajam tuan mudanya, Graham menjawab dengan jawaban paling singkat. "Baik"
Ketika akhirnya kami sampai di lokasi, jam menunjukkan waktu makan siang. Para pekerja makan bersama dengan makanan sehat dan terlihat enak. Kupikir kami akan makan bersama mereka, tapi pak Reynand berpikir lain.
"Makanlah!" Dia memberikan salad satu mangkuk kecil untuk makan siangku. "Ini hanya salad" Pak Reynand tidak peduli denganku lalu masuk ke dalam ruang makan pegawai dan makan bersama mereka.
"Sekretaris baru Pak Reynand ternyata sangat memperhatikan penampilannya dengan hanya makan salad" Aku tersenyum pahit mendengar kepala proyek menggodaku.
Kami kembali ke perusahaan setelah makan siang dan melihat kemajuan pembangunan. Pintu mobil bagian depan telah terkunci dan tidak dapat dibuka dari luar. Terpaksa aku duduk di bagian belakang mobil, tepat disebelah pak Reynand.
Matahari bersinar sangat terik dan membuat mataku tertutup. "Tidurlah kalau kau mengantuk" Pak Reynand membuka berkas laporan pembangunan mall dengan serius.
"Saya tidak mengantuk" kataku. Satu menit kemudian aku tertidur dengan kepala menempel di jendela. Kekuatan besar menggeser badanku dalam pelukannya dan aku menghirup parfum pria yang sangat kukenal.
Mataku sangat berat tapi aku mencoba untuk tetap terbuka. "Saya ... tidur" Samar aku melihatnya tersenyum.