
"Apa yang pak Graham lakukan disini?" Aku melihatnya tanpa ekspresi seperti biasanya. Sepertinya dia tahu ke bagian mana aku pergi di rumah sakit ini.
"Saya akan mengantar Nona Hamid pulang. Itulah perintah tuan muda" Lagi-lagi pria itu menyuruhnya untuk mengikutiku. Dia sebentar lagi menikah dan masih mengurus perempuan lain.
"Tidak perlu, saya bisa mengurus diri sendiri dengan baik" jawabku.
"Apakah Nona Hamid mrngandung anak tuan muda?" Ternyata pak Graham mrngikuti aku ke dalam rumah sakit.
Aku terdiam sejenak sebelum menjawabnya dengan yakin.
"Sepertinya. Tapi saya akan membesarkannya sendiri. Pak Reynand tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Bisakah pak Graham memastikan hal ini?" Hanya bayi inilah yang kuperoleh dari rasa cintaku padanya. Dan biarlah bayi ini hanya menjadi anakku.
"Saya akan memastikan tidak ada keluarga Reynand yang tahu tentang ini sampai kapanpun" janji pak Graham padaku. Aku memeluknya lalu melangkah pergi.
"Apkah semua keperluanmu sudah ada di dalam koper?" Aku mengangguk lalu mengangkat dua koper milikku keluar dari kamar. Ayah mengambil dua koper dari tanganku. "Kau hamil, jangan mengangkat barang seberat ini." Aku sangat yakin ayah sangat menyayangiku, dia hanya kecewa dengan pilihan yang kubuat.
"Maafkan aku, Ayah" Tanpa bisa dibendung lagi, aku menangis di pelukan ayah dan menumpahkan semua kesedihan yang kupendam.
Aku pergi dengan semua bekas tangis yang tersisa di pipiku. Ayah dan ibu melihatku sampai aku masuk ke dalam pesawat dan pulang. Ini pertama kalinya aku akan hidup seorang diri, tanpa bantuan ayah dan ibu. Bisakah aku melakukannya? Semua tergantung dengan tekadku. Tidak akan kubiarkan aku dan anakku terlantar dan memilih kehidupan yang buruk. Semangat Anna!
.
.
.
"Nona Hamid memilih untuk pulang sendiri" lapor Graham pada tuan mudanya. Evan curiga sesuatu terjadi pada Anna. Ketika memegang lengannya, terasa tubuh Anna semakin kurus. Wajahnya pucat dan dia terlihat sangat rapuh seperti ingin menangis.
"Apa ada hal lain yang harus aku tahu?" Evan merasa Graham menyimpan berita lain dan disembunyikan. Graham mengatakan tidak dengan tenang, dan tidak ada alasan bagi Evan untuk mencurigainya lagi.
Pernikahannya akan berlangsung dua bulan lagi. Evan tidak memiliki tugas apapun selain muncul sebagai calon pengantin pria di upacara pernikahan nanti. Ibunya mengundang semua orang termasuk ayah dan ibu Anna. Dia akan bertemu lagi dengan Anna saat itu dan tidak bisa membayangkan perasaannya nanti.
.
.
.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" Ibu menelponku sekitar dua hari sekali. Aku juga selalu mengabarkan keadaanku di tempat yang asing ini.
"Baik, Ibu. Bulan ini si kecil belajar menendangku. Apakah ibu ingin melihatnya?"
"Sepertinya dia sehat. Apakah kau sehat?" Semakin bertambahnya bulan keadaan tubuhku semakin kuat. Walaupun tidak gemuk, tapi semuanya baik-baik saja.
"Aku sehat, Ayah. Hari ini aku harus bekerja di waktu malam. Sebaiknya aku bekerja dulu" Aku melambaikan tangan dan menutup telepon antara aku dan orang tuaku.
Lima bulan yang lalu, orang tuaku mengira aku pergi ke sebuah negara yang asing. Tapi tidak, aku memilih Bali menjadi tempat bagi anakku dilahirkan.
Mereka tidak tahu tentang ini dan aku juga merahasiakannya. Semakin besar kandunganku, maka semakin banyak biaya yang dibutuhkan. Aku tidak ingin membebani Ayah dan ibu dengan biaya hidup dan persalinan yang mahal.
Lagipula, setelah sebulan berada di kota asing ini, aku mendapatkan pekerjaan yang bisa mendukung keadaan keuanganku saat melahirkan nanti.
Kota Singaraja yang terletak di sebelah utara pulau Bali adalah pusat pemerintahan Kerajaan Buleleng di masa lampau. Tapi ketenarannya kalah dengan kota Denpasar yang menjadi ibu kota Provinsi Bali sekarang.
Keberadaan banyak hotel dan villa memberikan lapangan kerja yang banyak. Ketika melamar kerja, aku mengatakan keadaanku yang sebenarnya dan mereka tidak masalah karena tidak menempatkan aku untuk menjamu pengunjung.
Pekerjaanku adalah bagian administrasi hotel bintang 3 yang terletak di pusat kota Singaraja. Selain dekat dengan rumah yang aku sewa, kemungkinan bertemu dengan siapapun yang kukenal dari Jakarta sangatlah kecil.
Bekerja selama 7 jam, dari pukul 8.00 pagi hingga 16.00 siang membuatku mempunyai banyak waktu untuk diriku sendiri. Selain ke dokter selama dua minggu sekali, aku memulai hobi baru yaitu belajar membuat kue.
Dengan pengalaman sebagai asisten pembuat roti selama bertahun-tahun, aku dapat menghasilkan sekitar empat jenis cake yang kujual di salah satu cafe. Sebenarnya mereka memintaku untuk bekerja sebagai koki pastry disana, tapi terpaksa kutolak karena keadaan perutku.
Keadaan keuanganku membaik setelah mendapatkan dua kesempatan bekerja yang tidak pernah sekalipun aku mimpikan sebelumnya.
Tapi menginjak bulan kesembilan ini, tenagaku menjadi berkurang. Bergerak sedikit saja, sudah membuat kakiku terada sangat pegal. Punggungku sering sakit dan aku kembali tidak nafsu makan.
"Segeralah lahir, sayang. Ibu mrnunggumu dengan kebahagiaan besar untuk kelahiranmu nanti" Aku sering berbicara dengan bayiku yang masih ada di dalam perut. Karena tidak ada lagi teman yang bisa kuajak bicara.
"Ayah sudah menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya. Mereka memang terlihat cocok satu sama lain. Apa kau tahu, ibu akan selalu menyayangimu walaupun tanpa kebearadaan ayah?" Bayi ini merespon dengan tendangan-tendangan kecilnya. Aku merasa sangat lengkap di dalam hati dan jiwaku.
Bangun tidur di dini hari, memang menjadi kebiasaanku, karena aku harus membuat empat cake yang diantarkan sebelum bekerja di hotel. Tapi pagi ini rasanya sangat lain. Terdapat bercak darah di celanaku dan aku merasa sangat ketakutan.
Aku membawa semua keperluan melahirkan dan pergi saat itu juga ke rumah sakit. Dokter mengatakan dalam satu minggu adalah saatnya bayiku lahir dan mungkin hari inilah saatnya.
Suster membawaku ke ruangan perawatan dan melakukan persiapan persalinan. Jantungku berdetak dengan kencang dan air mata mulai mengalir. Aku takut sekali tidak bisa melahirkan dengan baik karena tidak ditemani oleh siapapun.
"Apa kau mau anakmu sedih melihatmu?" Aku terkejut dengan teriakan salah satu suster yang berusia hampir sama dengan ibuku. Tentu saja aku menggeleng dan kemudian mengerti arti dari kata-katanya.
Benar, aku sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. Demi anakku, aku akan menghadapi semua ini dengan baik. Nantinya aku tidak akan sendirian lagi karena ada anakku yang akan menemani.
Dengan semua semangat yang kupunya, suster mengajakku pergi ke ruangan persalinan dan mulai memberi kata-kata yang membuatku senang. Dia mengatakan aku akan menjadi ibu yang baik untuk anakku nantinya dan itu membuatku tersenyum.