
"Aku benar-benar melihatnya duduk di depanmu dan membelai rambutmu" Lia masih saja bersikeras dengan hal yang sama ketika aku bersiap pulang.
"Aku tidak pernah mengatakan kau berbohong atau apapun. Hanya saja, untuk apa Presdir melakukan itu?" kataku menyangkal. Lebih baik pembahasan ini cukup sampai disini. Aku tidak mau ada yang mencurigaiku dekat dengan Pak Reynand.
"Sebaiknya kita pulang sekarang. Ini sudah malam dan aku mulai merasa lapar" Aku harus menghilangkan kecurigaan Lia saat ini.
"Baiklah, aku akan mengambil tasku" jawab Lia. Sebenarnya Lia adalah teman yang baik, dia adalah orang yang selalu menemaniku ketika berada di dalam perusahaan.
"Apakah kau ingin makan malam bersama?" ajak Lia saat kami menunggu lift yang turun. Sebelum aku sempat menjawab ajakan Lia, pintu lift terbuka dan sosok besar berada di depan kami.
"Nona Hamid"
Pak Graham berada di dalam lift, tentu saja bersama tuan mudanya. Aku menarik baju Lia bermaksud untuk mengajaknya turun ke lantai 1 dengan tangga. Tapi terlambat, Lia terpana dengan sosok tampan yang berada di belakang pak Graham.
"Ayo kita masuk, Anna" paksanya.
Lebih dari dua bulan aku menghindarinya dan tidak ingin melihatnya sedetikpun. Tapi saat ini, aku tidak punya pilihan karena Lia menarik badanku dengan kuat.
"Selamat malam, Pak"
Kami berdua menyapa atasan paling tinggi di perusahaan. Tidak ada reaksi yang diharapkan Lia, dan aku terbiasa dengan itu.
"Perkenalkan, Saya adalah Lia, pegawai baru di bagian desain. Saya menjadi salah satu anggota penggemar Pak Reynand di perusahaan" Aku menahan tawa mendengar Lia menyebut keberadaan kelompok itu di depan pak Reynand.
Pintu lift terbuka dan aku menunggu kedua pria itu keluar. Pak Graham keluar terlebih dahulu untuk menahan pintu lift. Mempersilahkan tuan mudanya keluar dengan selamat dari ruang berukuran 2×2 meter itu.
"Untuk mendukung keberadaan kelompok itu, aku akan mengajak kalian makan malam" Tiba-tiba dia mengatakan hal yang semakin membuat Lia senang.
Tanpa menunda, Lia menarik tanganku mengikuti pak Reynand ke arah pintu keluar. "Kita sangat beruntung bisa mendapatkan anugerah ini, Anna" kata Lia gembira.
Percuma saja aku menolak keinginan Lia dalam hal ini. Saat membicarakan pak Reynand kekuatannya menjadi 3 kali lipat dari biasanya. Dan aku terpaksa mengikutinya, lenganku dijepit kedua tangannya.
Pak Graham mengeluarkan mobil dan berhenti tepat di depan kami berdiri. Tentu saja pak Reynand adalah orang pertama yang masuk ke dalam mobil.
Pak Graham mengajak Lia untuk duduk di sebelah pengemudi dan meninggalkan aku sendiri yang berdiri di depan pintu mobil. Apakah dia salah paham denganku lagi?
"Aku tidak punya banyak waktu!" katanya memaksa.
Perlahan aku masuk ke dalam mobil dan duduk di tepi dekat pintu, sama seperti yang kulakukan saat aku menjadi sekretarisnya. Bisa kupastikan, malam ini aku tidak akan tertidur di pelukannya lagi.
Kami berempat sampai di sebuah hotel yang megah, seingatku ini adalah hotel milik keluarganya.
Berada di restoran dengan pak Reynand membuat kami menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Kapan kelompok itu terbentuk?" tanyanya pada kami berdua. Lia menjawab semua pertanyaan yang diberikan pak Reynand.
Karena aku bukanlah bagian dari kelompok itu, tentu saja diam menjadi pilihanku. Makanan mulai berdatangan dan membuat meja kami seperti jamuan yang diadakan untuk puluhan orang.
Aku tidak percaya dia akan memperlakukan aku dan temanku seperti ini.
"Apakah Anna adalah salah satu anggota di kelompok itu?" tanyanya disengaja.
"Tentu saja tidak" jawabku cepat dan tidak mempedulikan tanggapan Lia selanjutnya.
"Sepertinya makanan ini sangat enak" Lia mencoba untuk merubah suasana yang terlanjur tidak nyaman.
Aku merubah perhatianku pada makanan dan tidak memperhatikannya lagi.
Kami makan dalam diam dan tentu saja tidak bisa menghabiskan semua hidangan dalam jumlah besar. Kemarahanku seakan ingin keluar dari mulutku ketika dia melihatku sekali lagi.
Ponselku berbunyi dan menghalangi aku dari melepaskan amarah padanya.
"Ada apa, Bu?" Tidak seperti biasanya ibu menghubungiku.
Ketika aku mendengar suara ibu yang terputus-putus karena menangis, badanku menjadi lemah tak berdaya.
"Ada apa dengan ibumu?" tanya pak Reynand dengan nada khawatir. Dia bangun dari duduknya dan mendekatiku yang memegang ponsel dengan bergetar.
"Ayah ... Ayah ..." Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi dan bersiap untuk pergi.
"Anna. Aku akan mengantarmu. Katakan dimana ayahmu berada?" Dia memegang lenganku untuk menenangkan.
"Rumah sakit. Saya harus pergi sekarang. Lia maafkan aku" Aku melepas tangannya dan berlari keluar dari hotel.
Pak Reynand, tidak lama berhenti di depanku dengan mobil Bentley-nya. "Masuklah, aku akan mengantarmu!" katanya dengan memaksa. Aku masuk ke dalam mobilnya dengan pertimbangan tidak dapat menghentikan taksi dengan cepat.
Setelah memberitahu nama rumah sakit, pak Reynand melaju cepat dan mengantar aku ke ruangan IGD dimana ayah dirawat. Tapi tidak terlihat ayah dan ibu di ruangan ini, aku semakin cemas dan bingung. Pak Reynand menghentikan salah satu perawat dan menanyakan keberadaan ayahku. Ternyata ayahku masuk ke dalam ruangan operasi untuk pemasangan ring di dalam saluran pembuluh darahnya.
Aku berlari tanpa melihat sekeliling dan terjatuh, untungnya tangan pak Reynand menangkapku sebelum aku membentur lantai.
"Terima kasih" ucapku.
"Berhati-hatilah, aku tidak mau kau terluka" katanya, membuatku lebih memperhatikan jalan yang akan kulalui.
"Ibu" seruku ketika akhirnya melihat ibu di salah satu depan ruang operasi.
"Anna, Evan. Untunglah aku menemukannya sebelum terlambat. Dokter menyarankan agar ayahmu dipasang ring agar kecil kemungkinan terjadi serangan jantung lagi" Penjelasan ibu membuatku semakin khawatir akan keadaan ayah.
"Apa yang menyebabkan Paman Hamid mengalami serangan jantung?' tanya pak Reynand. Aku juga penasaran dengan sebab serangan jantung ayah. Karena selama ini aku tidak mengetahui ayah mengalami masalah jantung. Ibu melihatku penuh arti tapi tidak mengatakan apapun, mungkin hal ini berhubungan denganku dan ibu tidak ingin mengatakannya di depan orang lain.
Sekitar satu jam menunggu, dokter keluar dari ruangan operasi dan memberi kabar baik pada kami. Keadaan ayah baik dan dapat menerima semua penanganan dengan sempurna. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menunggu ayah bangun.
Ayah dipindahkan dari kamar operasi ke ruangan pemulihan, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk ke dalam. "Ibu yang akan menunggu ayah. Pulanglah untuk istirahat dan kau bisa melihat ayahmu besok" kata ibu.
"Tidak. Aku akan berada di depan ruangan dan menunggu ayah bangun" pintaku karena merasa bersalah.
"Saya akan membawanya pulang" Aku lupa kalau pak Reynand menemani kami sejak tadi. Kenapa dia tidak pulang?
"Semua telah diurus untuk kenyamanan Bibi, Ayah dan ibu juga akan mengunjungi Paman besok" sambung pak Reynand.
Setelah melihat wajah ayah yang tertidur, aku meninggalkan rumah sakit dalam mobil pak Reynand. Malam ini penuh dengan kejadian tidak terduga untukku