My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 6. Pertemuan Kembali



"Nona Hamid" Pak Graham menghalangi jalanku pulang. "Panggil saja Saya Anna" aku berusaha sopan pada orang yang lebih tua dariku.


"Tuan muda mengharapkan Nona Hamid ke kantornya sekarang" Tuan muda? Apa maksud Pak Graham adalah pria itu? Lebih baik pulang daripada menemuinya.


Pak Graham menghalangi kemanapun aku pergi. Semakin banyak orang yang melihat kami di depan lift.


Sampailah aku di depan pintu besar bertulis CEO


EVAN HAROLD REYNAND


Sebaiknya aku mengetuk pintu dulu atau langsung membukanya. Aku mengulur waktu di depan pintu.


"Tuan muda menunggu Nona, sebaiknya Nona Hamid segera masuk ke dalam" merasa terpaksa, aku mengetuk dan membuka pintu.


Di dalam ruangan besar, pria itu duduk di meja kayu besar dan terlihat sangat hebat. Terlihat berwibawa dengan tubuh dan wajah sempurna. Terlebih lagi memiliki kemampuan mencium yang membuat hati meleleh.


Aku kembali mencubit tanganku untuk sadar dari pikiran kotorku. "Duduklah" Dia menunjuk kursi di belakangku. Perlahan aku duduk di kursi panjang yang berada tepat menghadap mejanya.


Lukisan pemilik Perusahaan tergantung di dinding. Kakek dan ayahnya memiliki wajah yang tidak terlalu tampan, tapi wibawanya terlihat sama dengan penerus mereka.


Karena melihat pria itu berjalan mendekat, aku menggeser duduk ke arah sebaliknya. Dia melihat aku menjauh dan duduk tanpa mempermasalahkan tingkahku.


"Camelia Anna Hamid, akhirnya aku mengetahui namamu. Kapan kau mengetahui melamar kerja sebagai sekretarisku?" aku menjawab pertanyaannya secara langsung "Tadi pagi"


Dia sangat sering tersenyum di depanku. "Aku akan menerimamu sebagai sekretarisku kalau kau menginginkannya" Dari kata yang diucapkannya, pasti aku tampak seperti memohon untuk diterima.


"Ada sepuluh calon sekretaris yang diwawancarai hari ini. Mereka termasuk aku, terpilih dari ribuan lamaran kerja yang masuk. Sebaiknya posisi sekretaris Pak Reynand diputuskan dari hasil seleksi yang adil" jawabku tegas.


Walaupun aku membutuhkan pekerjaan ini, aku tidak akan menggunakan cara kotor.


"Jam berapa kau sampai rumah malam itu?" dia menanyakan tentang malam saat kami bertemu.


"Tepat tengah malam" jawabku singkat.


"Ayahmu marah?" aku menjawabnya dengan mengangguk.


"Dimana kau bertemu dengan Graham?" aku melihat wajahnya karena penasaran.


"Apakah Pak Graham bekerja disini?" dia terkejut karena aku mengenal Pak Graham.


"Aku bertemu Pak Graham kira-kira satu bulan yang lalu di rumah teman ibuku" aku menceritakan hal yang sebenarnya karena menganggap hubungan mereka dekat.


"Siapa nama teman ibumu?" dia penasaran sekali.


"Bibi Diana" dia tertawa dengan keras mendengar jawabanku.


"Kau datang untuk menjadi sekretarisku, mengenal asistenku, datang ke rumahku dan kini kau mengenal ibuku juga. Sebenarnya siapa kau Nona Hamid?" aku merasa aneh mendengar intonasi yang berbeda darinya.


"Aku hanyalah wanita yang kehilangan suami dan pekerjaannya dalam waktu bersamaan. Dan bertemu seorang laki-laki yang kebetulan CEO sebuah perusahaan besar." aku menegaskan kejadian yang sebenarnya.


Direndahkan orang lain tidak akan ada di kamus kehidupanku selamanya.


"Jam makan siang sudah lewat, apakah kau mau makan?" aku terkejut mendengarnya mengajakku makan siang tanpa merasa bersalah


"Sebaiknya tidak. Karena banyak pegawai akan memberitakan hal yang buruk bagimu dan perusahaanmu. Sebaiknya aku pulang sebelum ayah marah karena aku meminjam mobilnya lagi hari ini" Bangun dari duduk, aku menuju pintu keluar dan tidak berbalik lagi.


Mungkin aku gagal dalam wawancara kali ini. Besok Ayah harus mengijinkan aku kembali di toko roti. Pikiran negatif mulai muncul di otakku.


Sebaiknya sekarang aku pulang dan tidak berharap lagi. Dalam dua bulan, aku akan menguasai resep rahasia ayah dan menuntutnya mundur dari toko roti.


.


.


.


"Hubungi semua eksekutif yang melakukan wawancara hari ini. Segera sediakan sekretaris untukku. Pekerjaanku terlalu banyak" Graham membungkuk dan meninggalkan Evan sendiri di ruangannya.


Mencari sekretaris adalah pekerjaan tersulit Evan. Sampai saat ini tidak ada sekretaris dengan niat murni. Mereka selalu menggoda dan memakai baju seksi di hari pertama bekerja. Hal itu membuat Evan kesal dan memecat mereka semua.


"Hai teman, Apa yang kau pikirkan dan membuat keriputmu semakin banyak?" Arman datang karena ingin mengajak Evan bersenang-senang malam ini.


"Sekretaris" Arman tahu memilih sekretaris untuk Evan adalah hal tersulit. Semua itu karena wajah dan badan sempurna yang dimiliki Evan. Semua wanita yang berada di dekatnya akan tertarik untuk membuatnya menjadi milik mereka.


"Malam ini kita akan bersenang-senang sedikit dengan beberapa putri mahkota di tempat biasa" Arman mendekati meja Evan dan merebut berkas yang dari tadi dipegangnya.


"Cantik juga. Dia calon sekretarismu?" Evan tidak menjawab dan melihat ke arah langit-langit. "Kau tertarik padanya?" semakin Evan tidak menjawab, Arman semakin penasaran.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Arman tidak menjaga bicaranya pada Evan.


"Aku menciumnya" Terlihat Evan berpikir dan kembali berbicara "Kami berciuman"


Arman membaca profil Anna dan merasa bingung. Selera Evan sangat berbeda dari Anna.


Freya, calon pengantin Evan yang kabur, cantik dan modern. Sedangkan wanita di foto ini terlihat polos walaupun cantik dan statusnya adalah janda. Apakah Evan mengejar perempuan yang lebih berpengalaman kali ini?


"Apakah ada yang terjadi setelah kalian berciuman?" Arman berusaha menggali lebih dalam tentang perempuan ini.


Evan melihat Arman dengan pandangan tajam. "Aku akan pergi nanti malam" Lebih baik mengusir Arman, sebelum banyak informasi yang didapatkannya.


Arman tertawa mengejek Evan dan pergi meninggalkan Evan sendiri di ruangannya.


.


.


.


"Bagaimana hasil wawancaramu?" Ibu sangat to-the-point melihatku masuk ke dalam toko roti. Aku mengambil roti sosis dan roti coklat kesukaanku kemudian duduk di tempat pelanggan menikmati roti mereka.


"Sepertinya aku gagal" Mendengarnya, ibu dan ayah terdiam dan tidak menggangguku lagi.


Gara-gara pria itu aku tidak akan bisa mendapat pekerjaan yang sangat kuinginkan. Tapi wajahnya sama seperti yang kuingat.


Rambut ikal yang disisir rapi ke belakang, bibir bawahnya yang lebih tebal membuatku teringat akan ciuman kami di atas pasir.


Seandainya Ayah tidak menghubungiku karena khawatir, mungkin aku sudah menyerahkan kesucianku padanya saat itu juga.


Malam itu aku sangat menikmati semuanya. Apakah dia merasakan hal yang sama atau jijik melihatku yang terlihat mengejarnya, seperti perempuan yang lain.


Aku memutuskan pulang ke rumah dan tidur untuk menghilangkan rasa kecewa yang kualami.


Kring...kring...


Ponselku berbunyi.


Manda yang menelepon


"Ada apa?" kataku malas


"Bagaimana wawancaramu?" Manda bertanya


"Buruk" Tidak ada jawaban dari seberang sana setelah aku mengatakannya.


"Malam ini peegilah ke rumahku untuk menginap. Kita akan bersenang-senang" sarannya membuatku tergoda. Lebih baik aku menghabiskan waktu bersama sahabatku daripada sendirian.