
Banyak orang yang mengenal pak Reynand. Wajah tampan, pakaian mahal dan badan sempurna membuatnya menjadi bujangan paling diinginkan perempuan di seluruh negeri.
Pandangan mata semua orang tertuju padanya, sedangkan aku tampak seperti wanita penghibur dihadapannya.
Aku mengikuti pak Reynand berjalan dan duduk di sebuah meja yang sudah dipesan.
"Kau tidak perlu mematuhi setiap perintah Arman karena dia bukan atasanmu" Tanpa dia berkata seperti itu, aku juga tahu.
"Saya ditipu dan masuk ke dalam situasi yang rumit" jawabku.
"Kau bisa pergi saat sampai di lobi hotel, tapi kau masuk ke dalam restoran dengan gaun seperti itu" Dia menunjuk ke arah belahan dadaku yang terlihat.
Aku menutup dadaku dengan tangan dan merasa sangat malu.
"Makanlah sebelum kau pergi. Aku tahu kau lapar" katanya merendahkan.
Belum pernah aku dihina karena masalah makanan oleh orang lain selain dia. Aku adalah anak pemilik toko roti yang tidak pernah merasa kelaparan di musim apapun.
Dan aku merasa beruntung karena keadaanku ini.
Aku melepas jas pak Reynand lalu mengembalikannya. "Saya akan makan dengan lahap. Terima kasih"
Pelayan membawa makanan secara bergantian, dan aku memakan semuanya. Makanan kelas atas memang sangat enak.
Lalu pelayan menuangkan air putih ke dalam gelas kami, aku minum setengah gelas.
"Apa kau membawa uang untuk pulang?" Dia kembali menghinaku.
Aku meminum habis air di gelasku dan merasa sangat marah.
"Saya tidak pernah mengemis untuk makanan. Pak Arman meminta bantuan Saya untuk membeli hadiah untuk Anda dan berakhir seperti ini" Aku bangun dari duduk dan berjalan keluar dari restoran.
Aku mencari pelayan yang membawa kantung bajuku untuk memberikannya padaku lagi.
Pak Reynand terlihat menikmati makanannya sendiri lalu datang perempuan berpakaian mewah menemaninya. Dasar orang kaya, tingkah laku dan kata-katanya sangat bertolak belakang.
Dengan kesal aku pergi dari restoran dan hotel ini.
Ketika menunggu taksi di depan hotel, aku merasakan rasa tidak nyaman di tubuhku. Seharusnya aku merasa kedinginan karena memakai baju terbuka seperti ini. Tapi saat ini aku merasakan badanku terbakar.
Rasanya semakin tidak nyaman sampai aku ingin melepas gaun yang kupakai.
Terasa tangan besar yang menarikku dan membawaku ke dalam pelukannya.
Aku mencium aroma laki-laki dan merasa seperti orang gila. Ketika aku tahu pria itu adalah pak Reynand, aku mundur dan menolak berada dalam pelukannya.
"Lepaskan Saya. Lepas!" Aku berteriak dan mendorongnya dengan kuat. Tapi dia tidak bergerak sedikitpun dan semakin erat memelukku.
"Dia meminum habis air dalam gelasnya. Sepertinya ada obat didalamnya. Lebih baik kita pulang sekarang" Pak Reynand menghubungi seseorang dengan ponselnya dan tidak melepaskanku.
Entah kenapa, aku merasa wajah pak Reynand semakin tampan. Bibir bawahnya yang tebal seakan memanggilku untuk menciumnya.
Ketika aku ingin mencium bibirnya, dia menyeretku pergi. "Kemana?" Tubuhku semakin panas dan aku tidak tahan lagi menahan diriku sendiri.
Kami masuk ke dalam mobil Bentley pak Reynand dan aku melihat wajah cemas dari pak Graham.
"Apakah kita akan membawa Nona Hamid ke rumah sakit?" pak Graham terdengar benar-benar khawatir.
"Pulang dan panggil Dokter ke rumah!" pak Graham segera membawa mobil melaju membelah lalu lintas yang tidak begitu padat.
Tapi rasa tidak nyaman ini seperti ingin menghabiskan napasku. Melihat tubuh kekar pak Reynand berada di sampingku, membuat aku ingin melakukannya.
Perlahan aku naik ke dalam pangkuan pak Reynand dan membuka dasinya. Aku membuka satu persatu kancing kemejanya dan meletakkan tanganku di dada telanjangnya. Dia tidak menolak sentuhan yang kulakukan.
Aku mencium dadanya lalu naik ke leher dan bibirnya. Kami berciuman dan dia menarikku mendekat ke tubuhnya. Aku merasa sangat senang saat ini.
Sayangnya ciuman kami harus berakhir karena mobil ini telah berada di depan rumah pak Reynand.
"Apa kau benar menginginkan ini?" suaranya yang dalam membuat telingaku geli. Aku melihat matanya dan kembali menciumnya.
Dia mendorong tubuhku perlahan dan memaksaku duduk dengan benar. Tanganku digenggamnya dan kami keluar dari mobil.
Dia membawaku masuk ke dalam kamar, mulai melepas jas dan kemejanya. Aku menurunkan gaun pemberian pak Arman ini.
Aku mendekatinya dari belakang lalu memluk tubuhnya. Rasanya nyaman dan aku menginginkan lebih dari bersentuhan.
Dia berbalik dan sepertinya terkejut melihat tubuh polosku. Aku dengan berani memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya.
Tak menanggapi gerakanku, dia mengambil jasnya dan menutupi tubuhku.
"Pak Reynand tidak menyukai Saya?" kataku dengan suara manis.
Dia mengangkat aku ke atas ranjang dan menindih tubuhku. Aku menarik kepalanya dan kami kembali berciuman sekali lagi.
Terdengar suara ketukan pintu dan dia berhenti. Walaupun aku memohonnya kembali, dia berdiri tegak di samping ranjang dan melihat tubuhku.
"Kita akan melakukannya saat kau tidak terpengaruh obat apapun" Dia menutup tubuhku dengan selimut tebal lalu memaksaku diam.
Pintu terbuka dan aku melihat dokter setengah berlari ke arahku. Dokter itu menyuntikkan sesuatu ke lenganku dan aku mulai merasa mengantuk.
.
.
.
Evan melihat perempuan yang berani menciumnya terlebih dahulu perlahan menutup matanya.
"Terima kasih atas bantuan dokter" katanya.
"Saya hanya memberinya obat tidur. Perlahan efek obat perangsang akan hilang dengan sendirinya. Sebaiknya beri Nona ini segelas teh hangat setelah dia bangun"
Dokter keluar dari kamar Evan meninggalkannya sendiri dengan Anna.
Dia membelai rambut panjang yang tergerai ke tepi ranjang dan mencium kening Anna.
Memakai kaus untuk menutup bagian atas badannya lalu keluar menemui dokter dan Graham di depan rumah.
"Saya akan mengantar dokter kembali ke rumah sakit. Sebaiknya tuan muda istirahat malam ini" Graham membawa dokter pergi dan meninggalkannya menghirup udara malam sendiri.
Evan masuk ke dalam rumah dan tidur tepat di samping Anna. Dia menarik Anna ke dalam pelukannya dan ikut tertidur.
.
.
.
Aku meregangkan tangan dan kaki saat muali merasa ingin bangun dari tidurku. Terasa gesekan kain dan seuatu menyentuh kulitku.
Mataku terbuka dan aku melihat pak Reynand berada tepat di sampingku. Yang membuatku terkejut adalah, tidak ada selembar kain di atas tubuhku.
"Apakah kami melakukannya kemarin?" pikirku. Tapi pak Reynand memakai baju dan tidak ada darah di sprei putih ini.
Kepalaku mulai memutar kembali ingatan tentang semalam. Aku merasa badanku tidak nyaman dan ketika melihat pak Reynand, aku mulai memegang dan menciumnya.
Pasti aku sudah sangat tidak waras. Ayah dan ibu akan membunuhku ketika tahu aku tidak pulang semalaman.
Perlahan aku turun dari ranjang dan menemukan kantung bajuku di lantai dekat gaun yang diberikan pak Arman.
Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan badanku.
"Kemana kau akan pergi?" Pak Reynand duduk di ranjang dan melihatku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
"Saya tidak tahu apa penyebab kejadian semalam. Saya benar-benar melakukan hal yang tidak baik kepada pak Reynand" Seandainya aku dipecat saat ini juga, aku akan menerimanya.
"Itu bukan salahmu" Pak Reynand berjalan mendekatiku. "Aku akan mengirimmu bekerja di bagian lain mulai saat ini. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi setelah hari ini"
Aku terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya.