
"Apa kau tidak waras?" Manda menyuruhku menginap di rumahnya, ternyata itu adalah sebuah kedok untuk mengajakku ke klub malam.
"Aku akan menemani pacarku bertemu dengan beberapa orang penting disana. Daripada sedih memikirkan pekerjaan, sebaiknya kita bersenang-senang disana" ajak Manda.
"Ayah akan membunuhku" Mungkin ibu juga akan membunuhku kalau mereka tahu aku pergi ke klub malam.
"Mereka pikir kita tidur dan tidak akan ada yang tahu kita kesana karena baju dan make up yang berbeda" Manda berusaha merayuku karena takut pergi sendiri.
"Aku tidak akan memakai baju itu. Celana dalamku pasti terlihat kalau aku memakainya" itu reaksiku melihat baju yang akan kami pakai.
"Kalau begitu, jangan roll depan dan belakang. Celana dalam dan dadamu tidak akan terlihat karena kita tidak akan melakukan apapun. Yang kita lakukan hanyalah tersenyum dan duduk manis" Manda mengeluarkan pose manisnya untuk merayuku.
"Lagipula badanmu tinggi dan ramping. Kau sangat cocok memakai baju seperti ini" Manda memaksaku berganti pakaian.
Baru kali ini aku memakai minidress, panjang gaun ini hanya sebatas tengah paha. Tapi bagian dada dan lengan tertutup kain berpola bunga yang tembus pandang. Belahan dadaku tidak akan terlihat dari jauh.
"Sebentar lagi Randy akan datang. Sebaiknya kita mulai berias" Manda telah menyiapkan segalanya. Setelah merias Manda, aku mulai memberikan sapuan perona pipi di atas wajahku. Hasilnya, kami terlihat sangat cantik. Orang tuaku tidak pernah melihat kami dengan riasan dan busana seperti ini
"Kau cantik Anna. Seharusnya kau pergi wawancara dengan riasan seperti ini. Pasti mereka langsung menerimamu bekerja" Ayah dan ibu pasti pingsan melihat riasan dan baju yang kupakai.
Manda adalah anak baik di keluarganya. Sayangnya, ayah dan ibunya bercerai sejak Manda berumur 8 tahun dan meninggalkannya sendirian bersama neneknya. Setelah neneknya meninggal, Manda tinggal bersama ibunya yang bekerja hingga larut malam.
"Randy datang. Ayo cepat" Manda terlihat senang mendengar pacarnya datang. Aku melihat pria tampan yang berumur lebih muda dari Manda. Sekitar 2 atau 3 tahun.
"Randy, aku membawa teman karena takut. Bolehkan?" Mendengar suara sengau Manda membuatku merinding. " Hai Randy, aku teman Manda, Anna" Randi menerimaku dengan cukup baik.
Melihat mobil hitam yang sangat bersih dan mengkilap memberitahuku bahwa Randy adalah anak orang kaya baru. Usaha Ayahnya pasti sangat berhasil tahun ini.
Kami bertiga berangkat ke klub malam tempat teman Randy bertemu. Dia berkata, teman-temannya kali ini sangat kaya. Hal itu membuat aku semakin rendah diri.
Baru kali ini aku pergi ke klub malam. Karena Manda berpegangan pada pacarnya, aku berjalan sendiri dan melihat sekeliling.
Bagaimana teman-teman Randy mengadakan pertemuan di tempat berisik seperti ini? Aku mengikuti Manda dan Randy ke tempat mereka berkumpul.
Tiga pria yang ditemani masing-masing dua orang gadis ini adalah teman Randy. Aku tidak menyangka Manda akan mengajakku ke tempat yang seperti ini.
"Perkenalkan ini pacarku Manda dan temannya Anna" Aku melihat pancaran mata yang lain dari mata pria-pria ini ketika melihat kami berdua. Salah satu pria memukul pundak seseorang yang berada di belakangnya. Pria itu memiliki lebih banyak perempuan yang mendampinginya.
Dengan cahaya remang, aku masih bisa mengenali pria itu. Kenapa kami bertemu lagi di tempat seperti ini?
"Tuan Reynand, perkenalkan, ini pacarku Manda dan temannya, Anna" Randy memperkenalkanku pada orang yang sudah kukenal.
"Manda, Manda" aku memanggil Manda dengan berteriak karena suara musik yang terlalu kencang. Akhirnya Manda menoleh ke arahku. "Aku ingin pergi ke toilet, dimana?" Manda mendengarkanku dan menunjuk tanda toilet di sebelah kanan DJ.
Aku pergi ke toilet untuk menghindari tatapan mata pria itu. Banyak sekali perempuan yang terlihat hanya memakai pakaian dalam mereka disini dan itu membuatku jijik. Apalagi perempuan yang menemani para pria teman Randy.
Setelah mengulur waktu cukup lama, aku keluar dari toilet. "Apa yang kau lakukan disini?" Pria itu berdiri tepat di depan toilet perempuan. Aku tidak mempedulikannya dan kembali ke tempat Manda duduk.
"Tuan Reynand kami menunggumu disini" Aku merasa tidak nyaman mendengar para perempuan itu merayunya. Dia tidak menghampiri mereka dan duduk tepat disampingku. Jantungku berdetak dengan kencang lagi.
Manda dan Randy melihatku dengan wajah yang sangat penasaran. Randy tidak pernah melihat Evan melepas jasnya untuk perempuan lain.
"Sepuluh menit lagi aku akan mengantarmu pulang" Dia berbisik tepat di telingaku dan membuatku tidak nyaman. "Saya datang bersama Randy dan Manda, Saya juga akan pulang bersama mereka" jawabku mengkhawatirkan Manda.
Wajah tampannya sangat dekat. Bibir itu seperti memanggilku untuk mencicipinya sekali lagi. Aku menggigit bibirku sendiri dan mengalihkan pandangan.
"Anna, ayo kita menari sebentar" Kata Manda yang membuatku kesal. Manda berjanji kami tidak akan melakukan apapun disini. Duduk diam adalah saran Manda padaku. Sekarang dia yang mengajakku bangun dari duduk. Tapi daripada berdampingan dengan pria satu ini, maka aku memilih menari.
Aku mengembalikan jasnya dan berjalan bersama Manda ke tengah keramaian. Manda mulai menari mengikuti irama dan memegang tanganku.
.
.
.
"Apa kau merasa panas?" Belum pernah Arman melihat Evan yang peduli pada perempuan di klub malam. Dia membebaskan Freya, kekasihnya untuk memakai pakaian apapun yang disukainya.
Kali ini Evan tidak tahan melihat paha perempuan itu terbuka dan dilihat pria lain. Arman tertawa ketika melihat Evan marah, karena perempuan itu pergi menari di tengah keramaian.
Mata Evan seperti laser yang mengawasi setiap pergerakan Anna. "Dia sudah cukup dewasa" sindir Arman.
"Tuan Sanjaya pasti membicarakan Anna" Randy mencoba mendekati dua pria paling kaya di Indonesia.
"Saya juga terkejut ternyata Manda memiliki teman yang sangat cantik. Tapi Saya lebih suka yang imut seperti Manda" penjelasan Randy hampir saja membuatnya terluka karena Evan menyiapkan tinju di balik jasnya.
Mata Evan beralih kembali kepada Anna. Walaupun perempuan disampingnya meminta perhatian, Evan tidak peduli.
Tiba-tiba Evan bangun dari tempat duduknya dan pergi ke arah Anna menari.
.
.
.
Terlalu asyik menari membuatku lupa diri. Manda masih memegang tanganku untuk menghindari kami berpisah. Tapi sepertinya semakin banyak laki-laki yang mendekati kami. Karena aroma laki-laki yang kuat, aku berhenti menari dan ingin pergi dari tempat ini.
Pria itu datang seperti pahlawan menyelamatkanku dari keramaian dan kepungan laki-laki. Dia membawaku dan Manda kembali duduk di samping Randy.
"Diam disini!" Perintahnya terdengar seperti hukuman untukku.
"Nona Anna, perkenalkan, aku Arman Sanjaya teman Evan" aku menerima uluran tangan pria yang menyebut namanya Arman dan tersenyum.
Arman merasa sangat senang melihat Evan kesal karena wanita cantik ini