
Malam ini adalah malam paling canggung antara aku dan pak Reynand. Mengetahui masa lalu dan sifatnya yang sebenarnya tidak membuatku tenang saat bersamanya seperti sekarang.
"Lebih baik aku mengantarmu ke rumah sakit, karena lukamu belum kering" Apakah dia benar-benar mengkhawatirkan aku atau tidak ingin berdekatan denganku?
"Saya mendengar semua cerita tentang pak Reynand dan Freya dari pak Arman" Aku harus meluruskan hatiku dan pergi bila dia tidak menginginkan aku.
Dia tidak bergeming dan membuat kopi untuk kami berdua. "Apa yang ingin kau ketahui?" Memberikan cangkir berisi kopi dan menanyakan hal yang mengejutkan. Tidak pernah kusangka dia akan to-the-point seperti ini.
"Apa alasan pak Reynand tidak mau ... melakukannya dengan saya?" Ragu membelenggu hatiku, ketakutan tidak menemukan jawaban yang kuinginkan membuatku sangat tertekan.
Pak Reynand duduk di depanku dan menatap lurus ke mataku. Sekali lagi, mata biru itu melemahkan niatku.
"Aku tidak ingin menyakitimu" katanya tenang.
"Aku tidak ingin merebut sesuatu yang berharga bagimu, bahkan mantan suamimu belum mendapatkannya. Lalu apa yang membuatku berhak untuk itu?" Ternyata masalah inilah yang membuatnya ragu. Selalu seperti ini, bahkan dengan mas Dimas.
"Kalau begitu, berhentilah menjadi baik dan membuat saya salah paham" Dia tidak akan pernah mengungkap perasaannya yang sebenarnya dan aku akan melindungi hatiku.
"Membuat keluarga orang lain bangkrut, membantu keluarga saya dan mendekati saya. Berhentilah berbuat seperti itu. Anda membuat saya bingung" lanjutku penuh dengan kemarahan.
"Apakah kau mau bersamaku walaupun tidak yakin kau akan menjadi istriku nanti?" tanyanya semakin membuatku bingung.
"Ayahku telah merencanakan pernikahanku di bulan Desember nanti. Dan sepertinya dia tidak akan mempertimbangkan seorang putri pemilik toko roti sebagai calon menantunya" Jadi inilah yang membuatnya ragu untuk mengungkapkan perasaannya selama ini?
"Tidak bisakah kita melakukannya dan mengganggap tidak ada yang terjadi?" Mungkin aku adalah perempuan bodoh karena menyerahkan sesuatu yang berharga bukan pada suamiku. Tapi aku sangat menyukainya dan ingin bersamanya bahkan kalau itu hanyalah dalam waktu semalam.
"Kau akan menyesal nanti, pergilah ke rumah sakit dan kita akan bertemu Senin nanti" katanya menolakku sekali lagi.
Aku tidak bergerak walaupun dia sudah mengusirku pergi. Terlalu berat bagiku untuk melangkah pergi dan tidak melakukan apapun.
Kini atau tidak sama sekali, aku membuka semua baju yang melekat di tubuhku dan pergi ke hadapannya. "Apakah Anda akan membuat saya memohon?" Perlahan, aku mendekati dan menciumnya. Dia tidak membalas seperti dulu, tapi aku tidak menyerah.
Aku membuka kancing kemejanya dengan gemetar dan merasa seperti perempuan tidak baik saat ini. Saat air mata mulai membuat pandanganku kabur, dia memeluk dan membalas ciumanku.
Sentuhannya di setiap bagian tubuhku membuat aku siap untuk melakukannya. Dia menatap mataku di bawah lampu terang kamarnya dan aku mengangguk. Dia mulai melepas celananya dan membuatku sangat malu karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak kulihat.
Saat semuanya usai, dia meninggalkan aku sendiri di atas ranjang dan pergi mandi. Tanpa menunggu, aku memakai semua bajuku kembali dan dengan susah payah keluar dari apartemennya.
Aku sudah memberikannya dan hal itu membuatku senang. Kini dia akan menikah dengan seseorang yang pantas menurut orang tuanya dan aku ... . Belum selesai aku membayangkan kehidupanku, air mata mulai mengalir di pipiku. Susah sekali mencintai seorang laki-laki untukku.
Aku kembali ke rumah sakit dan bersiap untuk pulang. Aku tidak ingin berlama-lama berada di rumah sakit miliknya, kota bahkan negara yang sama dengannya.
Pagi-pagi sekali, dokter dan suster masuk ke dalam kamar dan menemukan perban yang mereka pasang menjadi berantakan. Aku beralasan ingin melihat lukaku yang sebenarnya dan mereka memastikan lukaku sudah kering dan sembuh.
Mereka mengijinkan aku pulang lebih awal dengan catatan datang kembali untuk pemeriksaan ulang. Aku mengiyakan apa saja demi bisa pulang dan mereka melepasku pergi.
Dengan gembira, aku pulang ketika ayah dan ibu bekerja di toko roti bersama. Mereka sangat terkejut melihat aku muncul di depan pintu toko dan bertanya apakah aku benar-benar sembuh.
Setelah beristirahat beberapa jam, aku menghubungi Manda dan bertanya tentang mas Dimas. Kata Manda, mas Dimas ditahan di kantor polisi karena aku belum bisa memberi pernyataan. Aku meminta Manda mengantarkan aku ke kantor polisi untuk bertemu dengan mas Dimas.
"Saya hanya terluka sedikit, dan sekarang sudah sembuh. Semuanya hanya salah paham dan dia adalah mantan suami saya" Setelah memberi pernyataan, akhirnya mas Dimas dibebaskan. Awalnya dia meminta maaf karena melukai aku tapi akulah penyebab keluarganya bangkrut. Harusnya, aku yang meminta maaf padanya.
Dia pergi dari kantor polisi dan berpamitan padaku untuk kembali ke Cina. Keluarganya sempat bingung ketika tahu mas Dimas pulang ke Indonesia.
"Apakah kau memaafkannya?" tanya Manda padaku.
"Apa untungnya bagiku membenci dan mendendam padanya" Aku yakin dia akan kembali berjuang untuk hidupnya dan berhasil, semuanya membutuhkan waktu. Sama sepertiku, kini saatnya aku untuk keluar dari lingkaran kehidupanku sebelumnya dan berjuang demi diriku sendiri.
"Aku ingin berhenti bekerja" kataku pada Manda. Kami berhenti sebentar di sebuah kafe untuk minum kopi sebelum pulang.
"Kau sudah memikirkannya dengan baik?" Aku mengangguk mendengar pertanyaan Manda. Sudah saatnya aku membuat orang tuaku bahagia.
"Kalau begitu berhentilah, lalu aku akan mengajakmu berbelanja gaun pengantin" Aku melihat raut bahagia Manda. Aku sangat bahagia mendengarnya sampai berdiri dan bertepuk tangan. Akhirnya sahabatku mengalami tahap ini dan dia menemukan seorang pria yang baik untuk mendampingi.
Aku membagikan kabar bahagia ini ke ibu dan ayah saat pulang dan mereka mengucapkan selamat pada Manda. Mereka berjanji akan membantu semampu mereka untuk membuat pernikahannya terasa sempurna.
Malam hari, aku membuat surat pengunduran diri yang akan kutitipkan pada pak Graham esok harinya. Aku masih mengingat sentuhan yang diberikan pak Reynand semalam. Bahkan pangkal pahaku terasa sakit digunakan untuk berjalan. Tapi semua itu telah berakhir, dan aku harus melupakan segalanya.
Pak Graham menepati janjinya bertemu denganku saat makan siang. Tanpa beralasan, aku menyerahkan surat pengunduran diri dan mengucapkan selamat tinggal. Mungkin awalnya, pak Graham terkejut, tapi dia pasti sudah bisa menebak langkah yang kuambil sekarang. Tidak ada lagi hubungan antara aku dan Perusahaan Properti Reynand. Semua hanyalah masa lalu. Tidak lama lagi aku akan sibuk menyiapkan pernikahan sahabat yang paling kusayang dan aku akan dengan mudah melupakan segalanya