My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 42. Pertemuan Tidak Disengaja



"Kami akan bersenang senang selama satu hari penuh, makan siang, membeli mainan dan makan malam. Luangkan waktumu untuk Manda karena dia sangat tersiksa sejak kau pergi" Aku memeluk dan mencium Adam sebelum dibawa ayah dan ibu pergi, aneh rasanya melihatnya menjauh.


Sebaiknya aku merias diri sebelum bertemu dengan Manda. Aku tidak boleh terlihat seperti seorang ibu saat dia melihatku untuk pertama kalinya setelah lima tahun.


Baju lama yang ada di lemariku mungkin masih bisa kupakai sekarang. Aku membuka lemari dan menemukan terusan sederhana tapi cantik. V- neck dress dengan tali sphageti berwarna hijau tua membuat kulitku tampak lebih putih.


Mungkin terlalu terbuka, tapi aku ingin tampak lebih muda saat bertemu dengan sahabat lamaku. Aku mengambil blazer dan menutupi bagian atas tubuhku, sepertinya gaya ini lebih baik untukku. Aku berangkat dengan memesan taksi, menuju salah satu restoran terkenal untuk makan siang.


Sepertinya Manda belum datang di tempat ini, setelah aku melihat sekeliling. Sebaiknya aku menunggu dan memesan minuman yang akan disukainya.


Selama menunggu, ada pria yang terus menerus melihatku tanpa berkedip. Dia terlihat lebih muda dariku, pandangannya membuatku merinding.


Akhirnya Manda datang dengan kesal, dia tidak bicara dan memelukku. Aku tertawa melihat tingkahnya dan berniat minta maaf.


"Apa kau tahu kalau aku terus mencarimu hari itu? Tapi kau seperti menghilang dari muka bumi ini" Dia membicarakan saat aku pergi di hari pernikahannya.


"Ada sesuatu yang harus kukatakan tentang itu. Ini adalah alasan aku harus pergi saat itu juga" Aku menunjukkan sebuah foto dimana aku memeluk bayi Adam ketika lahir.


Aku bisa melihat Manda tidak mengerti tentang foto ini. "Dia adalah Adam, anakku" Manda melihat tanggal yang tertera di kanan bawah foto dan terkejut. Sepertinya dia menghitung bulan kehamilanku dan kembali merasa kaget.


"Kau hamil saat aku menikah?" Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.


"Dua hari sebelum kau menikah, aku baru tahu kalau hamil anak nakal itu" Tidak ada lagi kesedihan saat mengingat waktu itu. Kini semuanya berakhir dengan bahagia bagiku dan Adam.


Karena rasa penasaran Manda, aku menceritakan semua proses kehamilan dan kelahiran Adam. Tentang kami yang pindah ke Bali selama ini dan membangun kehidupan sendiri disana.


"Kau belum mengatakan satu yang penting. Siapakah ayah dari anak ini?" tanya Manda.


Aku terdiam sebentar dan dengan mantap mengatakan kebenaran pada Manda.


"Evan Harold Reynand" Teriakan terdengar dari mulut Manda. Untunglah kami tidak berada di dalam restoran yang ramai pengunjung.


"Dia menikah lima tahun yang lalu" Aku tidak bereaksi apa-apa tentang kabar yang Manda utarakan. Aku dan pak Reynand tidak memiliki hubungan apa-apa.


"Dia mencarimu kemana-mana" kata Manda membuatku terkejut.


"Pernikahannya hanya bertahan selama dua tahun. Karena seorang Evan Reynand tidak bisa melupakan mantan kekasihnya. Itulah yang ada di berita. Tapi dia terus menerus bertanya tentang keberadaanmu kepadaku" Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa tentang hal ini.


"Dia tidak menginginkanku waktu itu, lalu mengusirku pergi. Aku tidak tahu tentang kehamilan ini sebelum kecurigaan ibu. Kami tidak pernah memiliki hubungan apapun dan aku ingin membuatnya tetap seperti itu" tegasku. Aku tidak ingin lagi mendengar cerita tentangnya.


"Dimana Adam sekarang? Aku sangat ingin bertemu dengannya" lanjut Manda ingin mengalihkan pembicaraan.


"Dia bersama ayah dan ibu, bersenang-senang" Aku harap mereka baik-baik saja di mall.


"Apa kau ingin bersenang-senang juga? Arman Sanjaya membuka sebuah klub, sudah lama kau tidak menemaniku. Kali ini kau harus selalu berada di sisiku, kemanapun aku pergi" Sebenarnya aku sangat tidak ingin berdekatan dengan banyak relasi pak Reynand. Membuatku tidak nyaman, tapi aku juga tidak bisa menolak keinginan sahabatku.


Kami pergi ke klub di malam hari setelah seharian penuh aku menemaninya berkeliling Jakarta. Adam tertidur dengan cepat dan aku merasa tenang karena ayah dan ibu menjaganya dengan baik.


"Kenapa kau tidak meminjam bajuku? Kita akan pergi ke klub, bukan bekerja" ejek Manda. Aku melepas blazer dan mulut Manda tertutup rapat. Tubuhku tidak berubah bahkan setelah melahirkan, hanya bagian dada saja yang lebih besar dari sebelumnya. Dan semua itu berkat proses menyusui yang kulakukan selama satu tahun penuh.


"Hot mom, itulah temanku" Manda terlihat bersemangat dan kami berangkat menggunakan mobil Manda yang baru kulihat.


Sebenarnya aku sangat tegang dan tidak merasa nyaman berada di tengah suara musik keras dan bau tubuh banyak orang. Sudah lama sekali aku tidak pernah mendatangi tempat seperti ini, walaupun banyak juga di Bali.


"Apa kau ingin menari atau memesan minum dulu?" teriak Manda dan aku baru mengerti setelah membaca gerak bibirnya karrna suara musik yang terlalu keras.


"Aku akan pulang saja. Tidak tahan dengan suara musik ini" Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku tidak ingin berada di tempat ini untuk waktu lama. Manda terlihat marah dan menarikku ke dalam kerumunan banyak orang.


Ada pria yang mendekatiku dan ingin menari berdua denganku, tapi aku menolaknya dengan tegas dan pergi ke arah kamar mandi. Manda pergi memesan minuman dan menungguku.


Aku menarik napas panjang dan keluar dari toilet lalu mencari dimana Manda duduk. Dari baju merahnya yang mencolok, aku tahu tempat dia duduk. Sepertinya dia bersama seseorang, tapi tidak terlihat dari jauh.


Saat mendekat, aku mulai merasa ketakutan. Sosok yang berdiri di depan Manda itu sangat kukenal. Aku harus segera pergi dari tempat ini dan pulang, tiba-tiba wajah Adam muncul di kepalaku.


Aku berbalik ingin keluar dari tempat ini, tapi terlambat. Badan tinggi dan kekar pria itu telah berada tepat di depanku. Melihat wajahnya lagi setelah lima tahun membuatku teringat pada Adam. Alis, mata biru dan garis rahang Adam, menurun dari pria ini.


"Anna" panggilnya membuatku merasa sangat tidak nyaman.


"Selamat malam, Pak Reynand. Lama sekali tidak bertemu" sapaku seperti tidak pernah terjadi apapun diantara kami.


Kehadirannya disini telah menyita banyak perhatian dan aku tidak ingin berada dekat dengannya. Tapi sepertinya aku terlambat, banyak pasang mata yang melihat kami berdua. Anehnya, dia tidak bicara apapun sejak tadi dan hanya melihatku.


"Saya harus pulang, selamat malam" kataku. Dia mengangkat kedua tangannya melingkari tubuhku lalu mendekat dan memeluk. Dia mendekapku erat dan hampir menyakiti punggungku.