My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 25. Ada Apa Dengannya 2



Tak sabar ingin pulang, aku mengetuk pintu ruangan Presdir dan masuk ke dalamnya. "Selamat malam, Pak" Aku melihatnya memeriksa beberapa berkas laporan yang kuserahkan sore hari tadi.


"Apakah kau ingin pulang sekarang?" jawabnya tanpa aku bertanya. Tentu saja aku ingin pulang, hari pertamaku menjadi asisten presdir membuat tubuhku sangat lelah. Aku juga ingin melihat keadaan ayahku.


"Saya hanya ingin menanyakan makan malam yang pak Reynand inginkan" Lebih baik aku tidak membuat masalah atau dia akan memperlambat waktu pulang kami.


"Buatkan aku segelas kopi kesukaanku dan duduk diam di sofa itu" Aku mengintip sedikit ke arah pekerjaannya dan berniat membantu. "Besok kau yang akan mengerjakan semua ini. Untuk kali ini, diamlah dan duduk di tempat yang kusuruh" Aku keluar untuk membuat kopi sesuai permintaannya.


Aku meletakkan kopi itu di atas mejanya dan berpikir lebih baik berada di luar ruangannya. "Jangan membuatku mengulangi semua perintahku padamu!" ucapnya ketika aku memegang gagang pintu. Tidak jadi membuka pintu lalu berjalan kembali ke arah sofa.


Ketika pak Reynand menenggelamkan dirinya kembali di atas laporan, aku duduk diam dengan melihat-lihat keadaan sekitar.


Pekerjaan hari ini membuatku merasa sangat lelah, tapi aku tidak akan kalah dengan rasa kantuk dan membuat kesalahan lagi di depan pria ini.


"Berhenti melihatku!" ucapnya membuatku sedikit terkejut. Dia mengalihkan perhatiannya kepadaku dan membuatku sedikit gugup. Selama satu minggu, aku mencoba menekan perasaanku dan melupakannya, tapi melihat mata birunya membuatku goyah.


"Saya tidak melihat pak Reynand. Tolong jangan salah paham" Aku berusaha menutupi rasa cemas yang ada di hatiku.


"Keluarlah dan tunggu aku, sepuluh menit lagi kita akan pulang" Dasar pria plin-plan, tadi menyuruhku menunggu disini dan sekarang diluar. Dengan kesal aku keluar dari ruangannya dan memeriksa agenda kegiatan Presdir.


Satu minggu lagi, dia akan pergi ke Eropa dengan tim desain untuk mengunjungi beberapa bangunan yang memiliki bentuk arsitektur modern untuk inspirasi pembangunan gedung perkantoran di Singapura.


Kami menuju kota tempat kekasihnya tinggal, Italia. Dia pasti akan sangat senang dapat bertemu kekasihnya lagi. Tapi yang mengherankan untukku, seandainya dia begitu mencintai mantan calon istrinya. Dia seharusnya pergi dan membawanya dengan seluruh pengaruh dan kekayaan yang dimilikinya.


Tapi yang dilakukannya adalah menangisi kepergian kekasihnya di pantai dan melampiaskan kemarahannya pada orang lain.


"Kukira kau siap untuk pulang" Aku terkejut mendengat suara yang tiba-tiba muncul di dekat telingaku. Akibatnya, lututku terbentur meja dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Pasti meja di perusahaan ini memiliki kualitas terbaik.


"Apa yang kaulakukan?" Dia membalik badanku lalu mengangkatku dengan mudah ke atas meja. Dia melihat lututku dan menemukan bekas kemerahan. "Pasti sakit sekali" Ketika tangannya bergerak menyentuh kakiku, aku menghalanginya dengan tangan.


"Rasa sakitnya akan menghilang dengan cepat" Sepertinya dia mengerti kalau aku tidak ingin disentuh olehnya. Dengan cepat, dia mundur dan memberikan tempat untukku turun dari meja.


"Ambil barangmu dan kita pulang sekarang" Aku mengangguk dan mengambil tas serta ponselku. Berjalan dengan cepat untuk menyamakan langkahnya sangat sulit bagiku. Aku harus memikirkan cara agar dapat berada di belakangnya tanpa berlari.


Mobil sport kesayangannya telah siap berada di depan lobi perusahaan dan beberapa staf perempuan bagian keamanan, melihatku dengan tatapan sinis. Mungkin mereka masuk ke dalam grup penggemar pak Reynand.


"Sebaiknya saya pulang dan makan malam di rumah" saranku. Dia kembali terdiam lalu menjalankan mobilnya di jalan menuju rumahku.


"Terima kasih atas tumpangannya, Pak" Aku keluar dari mobil dan melihatnya pergi dengan kecepatan tinggi. Pasti pak Reynand juga merasa lelah sepertiku. Aku tidak bisa membayangkan hari esok, kuharap dia tidak marah denganku.


Masuk ke dalam rumah, aku disambut dengan tumpukan kantung baju yang berada di ruang tamu. Aku melupakannya karena terlalu sibuk bekerja hari ini. "Kulihat Evan kembali memanggilmu untuk menjadi asistennya" Suara ibu terdengar dari balik kantung-kantung itu.


"Iya" Aku mengambil beberapa kantung baju lalu membawanya ke dalam kamar.


"Apakah kau memiliki hubungan spesial dengan Evan yang tidak ibu ketahui?" Ternyata ibu mengikutiku ke dalam kamar.


"Tidak. Kami tidak memiliki hubungan selain atasan dan bawahan" jelasku tidak ingin membicarakan hal ini lagi.


"Ibu sangat mengenal Evan, dia tidak akan menyuruh Graham untuk mengantar semua ini pada sembarang perempuan" Ternyata ibu mengetahui semuanya dari pak Graham.


"Aku ingin sekali mandi, makan lalu istirahat. Hari Minggu, aku akan menyingkirkan sebagian baju itu." Aku berjalan terseok-seok menuju kamar mandi lalu menyalakan keran air. Sepertinya ibu keluar dari kamar, tanpa mendapatkan jawaban yang memuaskan. Malam belum begitu larut setelah aku mandi, tapi kuputuskan untuk tidur lebih awal.


Bangun pukul 5 pagi, matahari telah menyapa sebagian wilayah di Jakarta dan langit menjadi terang. Aku mencium bau roti tapi ayah tertidur lelap di atas tempat tidurnya. Sepertinya ibu yang mngambil tanggung jawab untuk memanggang roti hari ini.


Pergi ke toko roti dan melihat berbagai roti keluar dari panggangan membuat aku sangat senang. "Aku membawakan teh panas untuk ibu" kataku ketika melihat ibu mengoleskan mentega pada kulit roti agar terlihat berkilau. Ibu mengambil cangkir dari tanganku dan menyesap teh didalamnya.


"Jangan membantu, pekerjaanmu juga melelahkan" Aku memeluk ibu dan melihat beberapa pegawai toko mulai berdatangan. Sepertinya mereka tahu ibu akan membuka toko hari ini.


"Jangan terlalu lelah, Bu" aku mengambil kotak berisi mentega dan membantu ibu. Para pegawai mengganti pakaiannya lalu melakukan pekerjaan mereka masing-masing dengan sigapnya. Tak terasa sudah satu jam aku membantu di toko roti dan lupa pada pekerjaanku sendiri.


Saat ingat, waktu telah menunjukkan pukul 06.30. Aku terburu-buru mandi dan mempersiapkan baju kerja yang kuambil dari sembarang kantung. Tak lama aku keluar rumah dan melaju pergi dengan taksi.


Berada di depan gerbang keluarga Reynand membuatku teringat akan malam pesta dimana pak Reynand menghina dan membuatku menangis. "Nona, sepertinya taksi tidak akan dibiarkan masuk ke dalam lingkungan ini" Sopir taksi merasa ragu untuk masuk ke dalam meskipun telah mendapat ijin. Terpaksa aku turun dan berlari menuju rumah pribadi pak Reynand.


Melakukan olahraga di pagi hari membuatmu sangat segar, kecuali kau melakukannya memakai sepatu hak yang membuat kakimu tidak nyaman. Aku sampai di depan rumah pribadi pak Reynand dengan napas yang memburu.


"Kau terlambat" Dia berada di depan rumah dengan sepatu olahraganya. Pasti aku akan dimarahi lagi.