My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 46. Perjalananku Bersama Adam



Melahirkan Adam adalah awal dari perjuangan besar yang harus kulakukan. Tidak ada orang yang membantuku begitu keluar dari rumah sakit bersalin. Dengan bayi merah di pelukan, aku pulang ke rumah sewa dan memulai kehidupan baru.


Setiap jam 3 pagi, aku harus bangun dan membuat roti atau cake untuk dititipkan di kafe dekat rumah sewa. Ketika Adam bangun, aku menghentikan semua kegiatanku dan harus menemaninya.


Setelah mengantar semua cake dan roti pesanan, aku memandikan Adam dan memastikannya kenyang. Tidak ada istirahat setelah melahirkan bagiku. Pilihannya adalah kerja keras atau terus mengeluh dan akhirnya menyerah.


Ketika Adam berumur dua minggu, dia mengalami demam yang sangat tinggi. Karena merasa takut, aku membawanya ke rumah sakit dan menangis sepanjang jalan. Sopir taksi yang membawa kami mencoba menenangkanku yang tidak bisa berhenti menangis.


Untunglah demam itu adalah reaksi imunisasi yang diberikan dan aku kembali tenang. Karena melihat aku menangis, dokter dengan baik hati menuliskan segala hal yang perlu kutahu tentang menangani anak yang sakit.


Ada suster yang sempat marah karena menganggap aku manja dan tidak pantas menjadi seorang ibu. Aku baru tahu kalau semua kata-kata kasar yang dikeluarkan oleh suster itu adalah pemicu semangat untuk ibu yang harus mengurus anaknya sendiri, sepertiku.


Aku memutuskan untuk menjadi lebih kuat dan banyak belajar cara merawat bayi. Aku membaca banyak buku dan artikel di internet tentang cara menyusui dengan benar, mengobati luka setelah melahirkan dan semuanya.


Ketika mulai bekerja lagi, aku membayar seorang bibi yang berpengalaman merawat bayi. Walaupun caranya memperlakukan bayi terlihat kasar, Adam baik-baik saja dan tidak pernah mengalami sakit parah. Itu membuatku tenang selama bekerja.


Bangun dini hari dan menyiapkan roti/cake pesanan, menyiapkan sarapan dan makan siang Adam, lalu pergi bekerja. Itulah kegiatanku setiap Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu, aku meliburkan bibi yang membantu dan mengurus Adam sendiri. Dengan cara itu, aku bisa menabung dan membeli rumah sendiri di Bali.


Aku selalu menghemat pengeluaran dan tidak pernah membeli pakaian dalam dua tahun karena ingin sekali memiliki mobil. Setelah mobil terbeli, aku menyiapkan uang sekolah Adam, walaupun umurnya baru dua tahun saat itu.


Semua keringat, air mata dan emosi yang kurasakan saat itu membuat aku bersyukur memiliki Adam. Bila tidak ada dia, mungkin hidupku akan membosankan dan tidak berwarna.


Karena itulah aku berkata pada Adam bahwa dia tidak membutuhkan ayah. Dengan kerja keras maka aku akan memenuhi semua kebutuhan Adam.


Tapi tidak kusangka Adam akan mengatakan semua itu pada pak Reynand. Saat ini aku merasa menjadi ibu yang paling bahagia di dunia. Anakku sangat mengerti ibunya selalu bekerja keras untuknya.


Sebenarnya aku tidak bisa berbohong kalau terkadang merasa kesepian. Setelah Adam tidur dan minum kopi sendirian di dalam dapur membuatku berpikir untuk menikah lagi. Tapi tentu tidak mudah membuat keputusan seperti itu. Aku harus berpikir seribu kali sebelum bisa melupakan semua sakit hati yang disebabkan oleh pak Reynand dan menerima cinta yang baru.


Ketika aku hamil besar dan berperang dengan perasaanku, pria ini menyiapkan pernikahannya yang dilaksanakan secara besar-besaran. Dia sama sekali tidak pernah mencariku atau sekedar menanyakan tentang keberadaanku pada siapapun.


Dan sekarang, dia ingin aku melupakan semuanya dan mencintainya sekali lagi. Dia pasti ingin menghancurkan hidupku sekali lagi dan merebut Adam.


"Lepaskan saya!" Pak Reyand sedikit terkejut mengetahui bahwa aku tidak tidur. Tapi dia bangun dan melepaskan aku tanpa mengeluh.


Aku merapikan pakaian dan rambutku lalu berdiri. "Adam, sebaiknya kita pulang. Kakek akan membuat daging panggang untuk makan malam" Adam turun dari kursi kebesaran pak Reynand dan mendekatiku.


"Aku akan mengantar kalian" pak Reynand menghalangi jalan keluar dan bersikeras.


"Kami bisa pulang sendiri, terima kasih untuk makan siangnya" Aku mendorongnya ke samping dan keluar dari ruangannya bersama Adam.


Sayang sekali Ayu tidak ada di tempatnya, aku harap setidaknya bisa minum kopi dengannya. "Ayo sayang" Aku menarik tangan Adam dan menuju ke lift.


"Evan tidak mengantar kalian pulang?" tanya ayah ketika aku baru saja meletakkan Adam.


"Tidak" jawabku singkat.


"Lebih baik kau menjauhinya agar dia tidak bisa mengambil Adam dari tanganmu" Aku terdiam dan memikirkan kata-kata ayah. Melihat betapa sedihnya Adam ketika menginginkan seorang ayah membuatku merasa bersalah. Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun dapat merebutnya dariku.


Tinggal satu hari lagi, kami berada di kota kelahiranku. Besok siang, aku dan Adam akan pulang ke Bali lalu melanjutkan kegiatan kami.


Sore ini, aku pergi ke mall dengan Adam untuk membeli tas dan sepatu sekolah. Jakarta memiliki lebih banyak pilihan model dan gambar daripada Bali.


"Kau suka gambar ini kan?" Aku memegang tas bergambar tokoh kartun yang sering dilihat Adam di televisi.


"Bukan, aku mau super hero" Aku mengalah dengan keinginannya dan membeli semuanya yang bertema super hero.


"Ibu, aku ingin makan es krim" pintanya setelah kami membeli semua keperluannya.


"Baiklah, tapi ibu minta tolong Adam membelinya sendiri. Bisa?" Adam terlihat memikirkan keputusannya lalu mengangguk.


Aku mencari tempat duduk dan mengawasi Adam di waktu bersamaan. Dia anak kecil yang pemberani. Ketika aku menata barang yang kami beli di atas meja, Adam terlihat melihat seseorang dengan pandangan tak teralihkan.


Kami sering sekali bertemu orang dari banyak negara di Bali, lalu kenapa dia melihat seorang wanita berkebangsaan asing seperti itu?


Lebih baik aku memperingatkannya, tidak sopan melihat seseorang seperti itu.


"Adam, apakah kau sudah membeli es krim?" Aku melihat wanita asing yang berada di sebelah Adam dan merasa tidak tenang.


"Adam kemari" Aku menarik tangannya dan berencana pergi dari tempat ini.


"Tapi es krim-nya. Ibu??" rengek Adam membuatku bingung.


"Anna. Kau Anna kan?" Aku berbalik dan menyembunyikan Adam di belakangku. Aku melihat wanita itu dan ingin segera membawa Adam pergi dari sini.


"Ibu, aku sudah menemukannya" ucap pak Reynand dari arah berlainan pada ibunya. Dia melihat aku yang sedang menyembunyikan Adam di belakangku.


"Ibu. Kita harus pergi, ayah akan marah karena menunggu" Aku tidak tahu apakah dia mengerti alasanku menyembunyikan Adam.


"Anna. Aku tidak akan salah mengenali putri teman ibu sendiri. Bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tidak bertemu" Akan sangat tidak sopan kalau aku tidak membalas sapaan Bibi Diana. Tapi dengan adanya Adam disini, aku tidak tahu yang harus kulakukan selanjutnya.