
Aku sangat tidak tahan dengan orang yang memandang rendah diriku. Pria ini telah mengataiku bodoh sejak pagi. Dan saat ini kemarahanku berada di ujung lidah.
"Saya akan memperbaiki dan segera menyerahkannya pada Pak Reynand" aku terpaksa menahan amarah, pekerjaan ini adalah satu-satunya kesempatanku untuk bangkit.
Pria itu melihatku dan kembali ke dalam ruangannya. Sebaiknya kali ini aku melakukan segala sesuatu dengan benar.
"Kau keterlaluan" Arman menghina Evan karena perlakuannya pada Anna. "Tidak ada urusan denganmu. Aku akan membicarakan usulan yang kauberikan pada ayahmu besok malam" Arman melangkah pergi dari kantor Evan dengan kesal.
Aku menyerahkan laporan yang telah kuperbaiki ke dalam ruangannya. Kali ini dia puas dengan hasil revisiku.
"Setengah jam lagi tiba waktunya makan siang. Pak Reynand ... " belum selesai aku bicara, dia membentakku.
"Bekerja beberapa jam membuatmu lapar? Kenapa kau tidak makan banyak ketika sarapan?" Aku teringat kata Ibu yang menyuruhku makan banyak pagi ini. Ironis sekali nasibku.
"Saya akan kembali bekerja" Aku keluar dari ruangannya dan memulai memilah-milah berkas di atas meja. Aku menunggu kedatangan Pak Graham untuk bertanya tentang agenda Pak Reynand.
Ada beberapa tanggal yang tulisannya tidak dapat kubaca sama sekali.
Waktu berjalan cepat ketika aku menghabiskan satu tumpukan berkas untuk dipilih dan diarsipkan. Pantas saja perutku lapar sekali, tiga puluh menit lagi waktunya jam pulang kantor.
"Anna, masuk ke dalam ruanganku" Pak Reynand memanggilku.
"Apakah ada yang bisa Saya bantu, Pak?" Aku masuk ke dalam ruangannya membawa dua agenda yang baru dan lama.
"Kenapa agendaku menjadi dua?" Pak Reynand melihat tanganku yang penuh. "Saya akan menyalin agenda Pak Reynand di agenda yang baru" aku gugup karena takut dimarahi lagi.
"Duduk" Aku ragu mendengar nada bicara berbeda dari pria ini. Dia berdiri dari kursi kebesarannya dan menarik tanganku ke arah sofa. Kali ini dia memperlakukanku dengan lembut sekali.
"Mana yang tidak kau mengerti?" Dia mulai membuka agendanya yang lama dan memeriksa agenda yang baru dibuat.
Aku menunjuk beberapa tanggal dan dia menjelaskan padaku, apa yang tertulis di agendanya. Tidak lama agenda baru siap untuk digunakan.
Tiba-tiba dia menjulurkan tangan kanannya ke arah leherku. "Kenapa ada darah di lehermu?" Aku tidak tahu memiliki luka yang berdarah. Ternyata darah yang sudah mengering.
Ketika aku meraba lukanya, tanpa pikir panjang aku berkata "Pasti terkena pinggiran kertas yang tadi dilempar" pasti dia akan marah lagi.
"Lukanya tidak tajam, sebaiknya kau mengobatinya sejak awal agar tidak berbekas" Luka ini karena dia dan sekarang aku yang disalahkan karena tidak mengobatinya.
"Apakah ada yang harus Saya lakukan lagi, Pak?" Aku berdiri dan siap untuk keluar dari ruangannya.
"Tidak. Kau boleh pergi" katanya. Aku pergi ke arah pintu dan tertahan oleh tangan besar yang memelukku dari belakang.
Terasa kecupan lembut yang membuat tubuhku bergetar hebat. Aku mengerang pelan merasakan sakit di sekitar lukaku.
"Kau harus menyembunyikan lukamu sekarang" Dia melepasku dan pergi ke arah meja kerjanya.
Ternyata dia meninggalkan bekas kecupan tepat di bawah lukaku. Aku melepas ikatan rambutku dan berusaha menutupinya. Seharusnya dia memberiku plester agar terlihat lebih baik dimataku.
Perutku lapar sekali sekarang dan aku benar-benar ingin pulang. Tapi pak Reynand juga tidak makan siang ini. Tidakkah dia merasa lapar dan kasihan padaku sebagai pegawai barunya?
Tak lama dia keluar dari ruangannya. "Aku akan pulang sekarang. Bereskan ruanganku sebelum kau pulang nanti!" Kupikir aku bisa pulang segera setelah dia pulang, ternyata tidak.
Sepertinya dia mengerjaiku tadi pagi di depan banyak orang.
"Besok kita akan bertemu dengan ayah Arman. Aku bisa menemuinya sekitar waktu makan malam." Itu berarti aku harus menghubungi restoran dan pak Sanjaya senior untuk janji pertemuan besok.
"Baik, Pak" Aku menahan pintu lift sampai dia keluar lalu mengikutinya keluar perusahaan. Dia masuk ke dalam mobilnya lalu melaju pulang.
"Kau sekretaris baru Pak Presdir?" Salah satu pegawai perempuan dan beberapa orang di belakangnya mwngerumuniku di pintu masuk.
"Iya. Apakah ada sesuatu yang salah?" Aku pernah mengalami ini di saat menjadi sekretaris baru di perusahaan sebelumnya.
"Jangan merasa sombong karena diterima sebagai sekretaris Presdir kami. Pak Evan tidak akan menyukaimu dan menjadikanmu kekasihnya" ucap perempuan lainnya.
"Kenapa Aku mau menjadi kekasihnya?" Mereka terkejut dengan kata yang keluar dari mulutku. "Aku bekerja untuk mendapat gaji dan bukan menjadi kekasih bosku sendiri. Dan jangan membuat keributan yang bisa mencoreng nama baik perusahaan seperti ini" Aku menghentikan kaki dan keluar dari kerumunan perempuan itu.
Apabila mereka tahu aku dan bos mereka berciuman dan tidur bersama, aku pasti dibunuh. Aku berlari ke arah lift dan naik ke lantai paling atas.
Aku membuka ruangan pak Reynand dan menemukan kotak makanan di atas meja kerjanya. Ayam goreng dan nasi hangat, bagaimana dia membawanya kesini tanpa sepengetahuanku?
Merasa lapar, aku mulai makan nasi dan ayam yang ditinggalkan untukku. Ternyata dia tidak sejahat tadi pagi.
Setelah kenyang dan membereskan ruangan Pak Reynand, aku pulang dengan langkah ringan.
.
.
.
"Aku heran dengan perilakumu yang berubah akhir-akhir ini" Arman mengunjungi Evan di rumahnya. "Apa maksudmu?" Evan memeriksa proposal yang diberikan Arman padanya.
"Anna" Begitu nama Anna disebut oleh Arman, Evan menghentikan kegiatannya. "Kau menyukainya? Apa saja yang telah kalian lakukan?" Arman sangat penasaran sejak bertemu Anna di klub.
"Sudah kubilang tidak ada apa-apa antara kami" Evan melanjutkan pekerjaannya. "Lalu apa artinya mobil baru yang dikirim untuk Anna tadi?" Evan kembali menghentikan pekerjaannya.
"Kau jatuh cinta pada Anna?" Arman semakin memancing kemarahan Evan.
"Aku tidak akan pernah mencintai wanita lain selain Freya. Sebaiknya hentikan omong kosongmu dan perbaiki proposalmu!" Evan melempar proposal itu ke pangkuan Arman dan berjalan ke arah balkon.
"Aku tidak pernah menyimpan rahasia apapun padamu. Bahkan terkait penyakit mematikan ibu dan ayahku." Arman menyentuh sisi lembut Evan dan membuatnya membuka mulut.
"Kami bertemu setelah aku sampai di Jakarta waktu itu. Di pantai" Arman menunggu Evan duduk dan semakin penasaran.
"Lalu dia mendaftar untuk menjadi sekretarisku dan kita bertemu dengannya di klub malam. Itu saja" Evan mengambil ponsel dan memeriksa kotak masuknya.
Merasa kesal karena tidak ada satupun pesan maauk, Evan melempar ponselnya ke ranjang.
"Aku tidak percaya kalian tidak melakukan apapun" Arman masih penasaran dengan hubungan keduanya.
"Pulanglah dan persiapkan proposalmu dengan baik. Aku ingin istirahat" Evan tidur di ranjang dengan tidak langsung mengusir Arman pulang.