
Akhirnya semua selesai, pak Reynand meninggalkan aku sendiri di dalam kamar hotel yang terasa sangat sunyi. Matahari mulai memancarkan cahaya jingga yang kuat dari jendela yang tak tertutup tirai.
Sudah lebih dari lima jam, aku tidak bertemu anakku. Biasanya, aku menyiapkan air mandi dan makan malamnya di waktu seperti ini. Tapi sekarang, aku tidak bisa melihat dan memeluknya.
Setelah berpakaian, aku melihat gambar Adam di layar ponsel.
"Dia baik-baik saja di Jakarta, kau tidak perlu mengkhawatirkannya" Pak Reynand masuk kembali ke dalam kamar dan menyodorkan beberapa kertas padaku.
Aku melihat semuanya dan tertulis, perjanjian jual beli rumah, toko dan mobil? apa maksud dari semua ini?
"Graham menemukan orang yang akan membeli rumah, toko serta mobilmu. Semua uang hasil penjualan akan masuk ke dalam rekeningmu besok pagi" Aku memang setuju untuk bersamanya karena tidak ingin kehilangan Adam, tapi aku tidak pernah ingin melepas semua milikku.
"Tidak, saya tidak akan menjual apapun. Ini adalah hasil kerja keras saya selama lima tahun" Aku tidak akan membiarkan dia melakukan semua ini padaku. Kuserahkan kembali semua berkas perjanjian jual beli padanya.
"Kau boleh memiliki rumah di tempat yang sudah kutentukan. Aku juga akan memberimu mobil lengkap dengan sopir saat kita kembali ke Jakarta" katanya sambil membelai rambutku.
"Saya setuju menikah karena Adam. Bukan berarti saya harus melakukan segalanya sesuai keinginan pak Reynand" Terlihat sedikit amarah di wajahnya setelah aku mengatakan pendapatku.
"Mulai saat ini, tidak akan kubiarkan kau bekerja lagi. Aku akan menyediakan segalanya untuk kalian berdua. Kau harus mengerti kalau itulah yang terjadi saat setuju menjadi istriku" lanjutnya dengan nada tegas, membuatku tidak bisa berkata apapun lagi. Aku sangat membenci sifatnya yang selalu menggunakan kekuasaan pada orang lain.
"Kita akan pergi ke pantai dan makan malam. Aku meny
iapkan banyak makanan laut yang kau sukai" lanjutnya.
Kami sampai di pantai dan aku menatap semua makanan yang ada di atas meja. Pak Reynand yang menemaniku, kini terpaksa menjauh untuk menerima telepon. Yang ada di dekatku hanyalah pak Graham dan dua pengawal pak Reynand.
"Apakah Adam baik-baik saja di Jakarta?" tanyaku sambil terus melihat makanan..
"Iya. Nona Hamid tidak perlu khawatir tentang tuan muda kecil" Benarkah yang pak Graham katakan? Tidak mungkin Adam baik-baik saja tanpa ada orang yang dikenalnya. Dia pasti akan menangis terus menerus sampai kelelahan.
"Kita akan pulang ke Jakarta sekarang juga. Siapkan semuanya dan sepuluh menit lagi, aku dan Anna akan berangkat" Aku terkejut karena pak Reynand yang tiba-tiba berubah pilihan.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Adam?" tanyaku menuntut pak Reynand menjawab.
"Tidak, dia hanya menangis karena ingin bertemu denganmu. Ayah menyuruhku membawamu ke Jakarta" Benar perkiraanku, Adam selalu menangis saat berada di tempat asing dan melihat orang yang tidak pernah ditemuinya.
Perjalanan ke Jakarta terasa sangat lama sekali, aku tidak sabar dan menjadi gelisah. "Tenanglah, aku tidak ingin melihatmu terlalu khawatir" kata pak Reynand mencoba menenangkan aku.
Bagaimana bisa aku tidak khawatir saat anakku yang berada jauh menangis terus menerus.
"Ibu" Melihat wajah Adam membuat aku bahagia. Aku memeluknya dengan erat dan memeriksa seluruh bagian tubuhnya. Matanya terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Seorang anak akan selalu membutuhkan ibunya. Membawamu kemari adalah keputusan yang benar" Aku melihat bibi Diana di sebelahku sedang memegang mainan. Pasti bibi Diana sibuk menghibur Adam agar tidak menangis.
Kami makan bersama dan Adam tidak menahan dirinya lagi untuk menikmati semua makanan yang terlihat enak di meja.
"Apakah kalian akan menikah secepatnya?" Bibi Diana memecah keheningan yang tercipta karena kami merasa sangat canggung.
"Iya. Secepatnya" jawab pak Reynand segera.
"Kami belum membicarakannya" Aku menyangkal kata-kata pak Reynand. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sangat marah karena jawabanku.
Aku menghapus bekas makanan yang tertinggal di mulut Adam dan berhenti makan.
Untunglah menangis seharian tidak membuat Adam demam. Setelah makan dan memastikan aku selalu berada di dekatnya, dia kembali bermain.
"Kau sudah menyetujui untuk menikah denganku, apa sekarang kau berubah pikiran?" Pak Reynand mendekatiku yang menemani Adam bermain.
"Saya akan menikah dengan pak Reynand karena tidak ingin berpisah dengan Adam. Tapi bukan berarti saya harus meninggalkan semua kehidupan saya dan berubah menjadi orang yang pak Reynand inginkan" Aku mencoba membuat pak Reynand mengerti cara berpikirku.
"Aku tidak ingin kau bekerja dan membuat tubuhmu lelah. Karena semua bagian dirimu adalah milikku sekarang" Dia terus saja mengatakan hal itu berulang kali dan mulai membuatku kesal.
"Saya akan bekerja di hotel baru yang akan dibangun sekitar satu tahun setengah lagi. Sebelum itu, saya akan mengembangkan toko dan mencoba bisnis baru" jelasku.
"Hotel itu adalah proyek baru Reynand Property. Kalau kau mau, kau bisa menjadi penanggung jawab hotel itu nantinya" Ternyata pengembang yang membeli ketiga hotel itu adalah dia. Dan aku dengan bodohnya tidak tahu semua itu.
Sampai sejauh apa dia akan membuatku merasa tidak nyaman? Menahan langkahku dan mengatur semuanya sesuai dengan keinginannya. Kelakuannya sekarang ini mirip sekali dengan cerita pak Arman tentang Freya, mantan calon istrinya dulu.
Aku mengambil napas panjang dan melihat Adam yang senang dengan mainan barunya. Kedua orang tua pak Reynand sepertinya kelelahan dan memutuskan beristirahat lebih awal malam ini.
"Saya akan menepati janji untuk menikah dengan pak Reynand. Demi Adam, saya akan mencoba menghormati Anda sebagai ayah kandungnya. Tapi jangan pernah merenggut kebebasan saya, karena itu akan membuat saya merasa lelah" Pria ini ternyata seperti anak kecil yang takut kehilangan mainannya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Tapi aku ingin segera menikahimu dan menjadi ayah yang baik untuk Adam" jawabnya setelah mencium bibirku dengan singkat.
Mungkin semua ini adalah yang terbaik untuk Adam. Bersama ayah kandungnya, dia akan tumbuh menjadi anak yang lengkap.
Sebenarnya, sekitar setahun yang lalu aku memergoki pak Graham yang mengambil gambar ulang tahun Adam dan mengirimnya pada pak Reynand. Karena terus didesak, akhirnya pak Graham menceritakan bahwa pak Reynand terus menerus mengawasi kami dan selalu menyimpan foto Adam bersamanya selama ini.
Pak Graham juga memberikan bukti foto dinding apaprtemen yang penuh dengan gambarku dan Adam. Pak Reynand tidak berani mendekati kami karena takut mengalami penolakan. Syukurlah dia sadar karena menyebabkan hatiku terluka.
Awalnya memang aku marah karena pak Graham melakukan itu. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya selama ini tapi mengkhianatiku hanya untuk pak Reynand.
Tapi perlahan, hatiku terbuka setiap melihat tangisan Adam karena alasan tidak memiliki ayah. Bertemu dengannya di Jakarta membuatku semakin yakin bahwa dia mencintaiku dan menyayangi anaknya. Tapi tidak semudah itu melupakan semua perasaan sakit hati selama ini. Semua membutuhkan waktu dan akhirnya sekarang aku menyerah.