My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 24. Ada Apa Dengannya 1



Aku adalah perempuan yang tidak tampak seperti berusia 25 tahun. Kulitku yang putih bersih diwariskan oleh keturunan Asia Timur dari ibuku. Rambut yang dulu hitam lurus, telah berubah menjadi kecoklatan dan bergemombang sejak aku masuk Universitas. Mata berwarna abu-abu, hidung mancung dan bibir bawah tebal merupakan anugerah yang kuterima dari Tuhan.


Dengan tinggi 169 cm dan berat badan 48 kg, aku pernah menjadi salah satu mahasiswi tercantik. Disaat bekerja di perusahaan lama, cukup banyak pegawai laki-laki yang menyatakan cinta padaku.


Semua berubah karena perceraian yang kualami dengan mas Dimas. Dikarenakan merasa kecewa dengan diri sendiri, aku mulai bergaya seperti seorang wanita berumur 40 tahun. Manda sering menegur setiap kali aku keterlaluan dengan baju dan riasan yang tidak sesuai.


Tapi aku memperbaiki diri ketika aku bertemu pria yang menunggu diluar ruang ganti itu. Aku mulai memperhatikan baju yang kupakai, riasan wajah serta tatanan rambut.


Dengan segala usaha yang kulakukan, ternyata dia tidak juga tertarik padaku. Walaupun aku melepas semua baju, dia juga tidak tertarik denganku.


"Baju apapun yang Nona pakai, terlihat sangat bagus. Tidak akan ada pakaian di toko ini yang tidak bisa Nona pakai" Manajer toko ini terlihat sangat senang dengan keadaan ini, tidak denganku.


"Sebaiknya saya keluar sebentar untuk menunjukkan baju ini pada pak Reynand" usulku, dan disambut dengan senyuman cerah pegawai toko. Kali ini aku memakai gaun strapless A-line berwarna hitam dan keluar setelah sekitar setengah jam di dalam ruang ganti.


"Aku tidak menyukainya" katanya ketika melihat aku keluar dari ruang ganti.


"Bisakah saya berhenti mencoba semua baju? Ini terlalu membosankan, sebaiknya Anda membeli semua baju dan semua akan selesai dengan cepat" Aku terlalu lelah memakai puluhan baju lalu melepasnya lagi.


Dia tidak mengatakan apapun dan aku mulai putus asa, sepertinya aku harus kembali ke ruang ganti.


"Baiklah" Aku berhenti bergerak dan melihatnya. "Aku akan membeli semuanya dan akan dikirim ke rumahmu. Beri mereka alamat rumahmu lalu pakai salah satu baju dan buang pakaianmu sebelumnya!" perintahnya. Dengan kesal aku masuk kembali ke ruang ganti dan keluar dengan baju baru.


"Apakah kau merasa keberatan dengan semua yang aku lakukan?" Dia pasti melihat wajah tidak suka yang tampak setelah dia memutuskan membeli semua baju. Sebenarnya apa yang dia mau aku lakukan dengan semua baju itu?


"Tidak. Mungkin saya bisa memberikannya kepada siapapun yang membutuhkan disaat saya merasa kewalahan" Aku tidak akan merasa rendah diri lagi dihadapannya.


"Lakukan apapun yang kau mau dengan pemberianku. Tapi kau tidak akan bisa pergi dariku" bisiknya di dekat telingaku. Sekali lagi dia membuat aku mendengar kalau dia menginginkanku, tapi semua hanyalah tipuan. Dia tidak benar-benar tertarik padaku karena terlalu mencintai kekasihnya.


"Kita akan makan siang di tempat yang biasa kukunjungi" Aku tidak tahu sekarang adalah waktu makan siang. Kami menghabiskan terlalu banyak waktu di toko pakaian itu.


Seseorang berlari melewatiku dan mengalungkan tangannya di pundak pak Reynand. Karena kaget, aku berhenti dan melihat pria yang sangat berani itu. Pasti pak Reynand akan sangat marah dengan kelakuan pria itu di depan orang banyak.


"Tidak kusangka akan bertemu kalian disini. Halo, Anna" Aku menghela napas lega setelah mengetahui pria itu adalah pak Arman. Lama sekali aku tidak melihatnya, sejak kepindahanku ke bagian logistik.


"Lepaskan tanganmu. Aku tidak menyukainya merusak bajuku" Cara bicara pak Reynand pada sahabatnya sangatlah kasar. Aku heran pak Arman bisa bertahan dengan segala kata yang diucapkannya.


"Baiklah, maaf. Sedang apa kau berada di pusat perbelanjaan di siang hari? Bersama Anna?" tanya pak Arman. Aku melihat tajam ke arah punggung pria jahat yang menyiksaku sejak pagi.


"Kami akan makan siang di tempat biasa. Apa kau tidak ada pekerjaan?" tegas pak Reynand pada sahabatnya. Pak Arman menggeleng dan tersenyum padanya. Aku tidak mengerti tentang persahabatan sejak kecil antara pria pewaris usaha besar ini.


Kami bertiga masuk ke dalam restoran Italia dan menatap menu dengan bahasa yang tidak kumengerti. Sebenarnya aku menguasai 4 bahasa, Indonesia, Inggris, Cina dan Jepang. Semuanya tidak berguna ketika berada di dalam restoran ini.


.


.


.


"Apa lagi yang kaurencanakan Evan? Sesuatu terjadi ketika aku pergi ke Amerika?" kata Arman.


"Tidak ada. Aku membutuhkan asisten karena pekerjaan yang terlalu banyak" sangkal Evan lalu meminta pelayan menghidangkan makanan pembuka.


"Kau pikir aku akan percaya dengan semua omong kosong yang kausiapkan untuk Anna?" Terlalu sulit menipu sahabat sejak keci,. Arman adalah seseorang yang paling mengerti tentang Evan.


"Dia menyerahkan dirinya padaku" Evan memandang jauh dan mengingat semua yang dilakukan Anna saat itu.


"Jadi akhirnya kalian melakukannya?" Arman sangat ingin tahu tentang kabar terbaru Evan dan Anna.


Evan menggeleng dan membuat Arman sangat kecewa. "Kau tidak melakukannya?" Dari tatapan Evan, Arman tahu jawaban dari pertanyaannya. "Apa kau kehilangan kemampuanmu?" tanya Arman penasaran. Tentu saja Evan menjawabnya dengan tatapan tajam dan seakan ingin menutup mulut Arman dengan apapun di sekitarnya.


"Pantas saja Anna tidak ramah hari ini. Dan apa yang ingin kaulakukan dengan menjadikannya asisten pribadi kalau kau tidak akan menyentuhnya?" tegas Arman pada sahabatnya itu.


"Aku ingin dia selalu berada di sisiku" Jawaban Evan membuat Arman kesal dan ingin memukulnya. Tapi semua kemarahannya harus tertahan karena Anna kembali dari toilet.


.


.


.


"Aku memesan semua makanan yang menurutku enak. Kuharap kau tidak keberatan dengan itu" Anna merasa cara bicara pak Arman sangat aneh. Dan mereka berdua terlihat seperti baru saja bertengkar karrna sesuatu.


"Terima kasih" kataku pada pak Arman. Kami makan siang bersama dan berpisah karena pak Arman memiliki pertemuan lain di dalam mall.


Aku dan pak Reynand kembali ke perusahaan lalu melanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Tidak ada komentar dari sekretarisnya yang bernama Ayu. Selain aku harus menyiapkan mejaku sendiri hari itu.


Memulai dengan membereskan semua berkas yang berada di meja lalu membantu mengarsipkannya. Tak lama waktu pulang tiba dan Ayu bersiap-siap untuk pulang.


"Aku akan pulang terlebih dahulu. Selamat bekerja" salam Ayu sebelum pergi meninghalkan aku sendiri di luar ruangan Presdir. Bukannya sekretaris harus pulang setelah atasannya pergi, atau Ayu menerima perlakuan khusus lainnya karena cantik?


Aku melihat ke ruangan pak Reynand dan merasa kesal. Harusnya aku telah berada di dalam rumah dan membantu ibu merawat ayah.