
"Ada apa denganmu?" Diana tidak habis pikir, putra satu-satunya dan selalu membuatnya bangga menjadi orang yang menyedihkan.
Evan tidak pernah pulang ke rumah keluarga Reynand, tempat istri yang dinikahinya satu tahun yang lalu. Dia mengurung diri di dalam apartemen, tanpa kehidupan.
"Aku sudah melakukan yang kalian suruh, sekarang pergilah dari tempatku" Teriakan Evan bahkan tidak terdengar sehat di telinga ibunya. Air mata mulai menetes dari mata Diana karena tidak ingin melihat anaknya seperti ini.
Malik Reynand, ayah Evan bersikeras menikahkannya dengan putri seorang jaksa agung yang terkenal, dia telah menurutinya. Dia pikir dengan pernikahannya, kenangan tentang Anna akan memudar dan menghilang selamanya
Tapi tidak, Anna tetap menjadi bayangan yang tidak bisa dia hapus. Dia mencari Anna setiap hari tapi langkahnya selalu terhenti. Seperti ada seseorang yang memotong semua informasi tentang Anna yang akan dia terima. Karena kesal, Evan meninggalkan pekerjaannya dan mengurung diri di apartemen yang dia buat untuk Anna.
Tidak tahan lagi, Diana pergi dari apartemen Evan dan menyalahkan diri sendiri. Seandainya dia bersikeras pada suaminya waktu itu untuk menikahkan Evan dan Anna, maka semua ini tidak akan terjadi.
Malik Reynand berada di rumah sakit karena kelelahan mengatasi semua pekerjaan yang ditinggalkan Evan. Dan sekarang Evan tidak memiliki keinginan untuk menjalani hidupnya lagi. "Bagaimana ini Graham?" Tangisan Diana menggema di mobil saat Graham mengantarnya ke rumah sakit.
Graham kembali ke apartemen Evan. Tidak ada yang bisa dilakukannya karena Anna membuatnya berjanji sebelum pergi ke Bali. Tapi tidaklah mudah melihat tuan mudanya menghancurkan hidupnya sendiri seperti ini.
"Saya memiliki seorang cucu yang sangat tampan, apakah tuan muda ingin melihatnya?" Tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh Evan. Dia tetap meringkuk di atas kasur dan menolak untuk membuka mata.
"Dia memiliki wajah yang tampan, kulit yang putih, rambutnya hitam kelam dan bermata biru" Kata terakhir yang diucapkan Graham membuat Evan membuka mata dan menunjukkan ketertarikan. Dia melihat foto yang diperlihatkan Graham dan melihat kemiripan dengan dirinya waktu kecil.
Karena penasaran, Evan duduk dan melihat ponsel Graham dengan tidak sabar. Dia memperbesar gambar dan melihat mata biru yang sama dengannya. "Siapa dia?" tanya Evan. Graham tidak menjawab dan tetap diam.
Evan menggeser foto itu dan banyak sekali gambar anak itu di dalam ponsel Graham. Usianya sekitar 1 tahun karena anak itu baru saja belajar berjalan. Dia membuka video yang tersimpan dan terkejut.
Terdengar suara dan tampak wajah yang sangat dikenalnya. Anna, bersama seorang anak.
"Ayo Adam, coba jalan ke ibu. Kakek Graham ingin melihatmu berjalan. Sini Sayang" Suara Anna tampak gembira dan anak kecil itu tersenyum lalu melangkah ke arah Anna.
Tidak puas, Evan melihat semua gambar Adam dan menemukan foto kelahiran anak itu. Bayi kecil yang sangat tampan tertidur di pangkuan Anna yang sedang menangis.
"Nona Hamid mengandung anak tuan muda saat pergi" Evan menjatuhkan ponsel Graham dan segera berganti pakaian.
"Saya tidak akan mengantarkan tuan muda pada Nona Hamid. Itu adalah janji Saya padanya" Evan memegang kerah kemeja Graham dan marah.
"Bagaimana bisa kau simpan hal seperti ini sendiri? Apa kau sudah gila?" Evan berteriak dengan seluruh tenaganya dan terjatuh. Badannya sangat lemah dan tidak sanggup berdiri.
"Adam Malik Hamid. Itu adalah nama yang diberikan Nona Hamid pada anak itu. Dia tumbuh dengan sehat dan keadaan mereka sangat baik." lapor Graham. Evan mulai menangis menyesali semua yang terjadi selama ini. Seandainya waktu itu dia menahan Anna dalam pelukannya, maka dia akan tersenyum bahagia melihat bayi itu lahir.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Evan setelah tersadar.
"Singaraja, Bali. Keluarga Hamid mengira mereka berada di luar negeri" jawab Graham.
"Awalnya Nona Hamid sangat kelelahan. Tapi setelah tuan muda kecil lahir, Nona Hamid memiliki dua pekerjaan tetap yang masih dilakukannya sampai sekarang" Graham mengerti tuan mudanya akan bangkit setelah melihat putranya.
"Saya bisa membawa tuan muda melihat mereka. Tapi sesuai janji saya pada Nona Hamid, tuan muda tidak boleh melihat terlalu dekat. Tunggulah sampai Nona Hamid memutuskan pulang ke Jakarta dan temuilah mereka secara langsung" jelas Graham.
"Anna terlihat sangat cantik. Dia pasti kesulitan menghidupi Adam sendirian. Aku akan menunggu selama apapun, bawa aku melihat mereka saja." Evan gemetar melihat semua gambar Anna dan Adam, anaknya. Dia memiliki seorang putra yang tampan. Senyum mulai menghiasi wajahnya.
Setiap bulan Graham selalu membawa Evan ke Singaraja dan melihat perkembangan Adam. Semua barang yang diberikan Graham pada Anna dan Adam, dibeli oleh Evan. Foto Adam dan Anna menghiasi dinding apartemen dan membuatnya bangkit kembali.
Dengan tekad yang besar untuk membawa Anna dan Adam kembali ke sisinya, dia menceraikan istrinya lalu kembali ke perusahaan. Semangatnya selalu muncul ketika mendapat kiriman foto baru dari Graham.
Empat tahun menunggu, akhirnya malam ini Evan melihat Anna di depan matanya. Semua kerinduan yang pernah dia tahan selama ini terbayar dengan adanya Anna. Dia memeluk Anna seperti takut kehilangan sekali lagi. Kali ini Anna dan Adam akan berada di sisinya untuk selamanya.
.
.
.
"Apa yang pak Reynand lakukan" Aku mencoba keluar dari pelukannya yang terlalu kencang. Semua pasang mata melihat kami dan membuatku kesal.
Akhirnya dia melepaskan pelukannya dan aku bisa bernapas lagi. "Lepaskan saya ... " Belum sempat aku mendorongnya, dia menciumku di depan semua orang dan membuatku terkejut.
Ciumannya begitu menuntut dan jiwaku seperti tertahan di tempat yang dia inginkan. Aku menarik napas panjang setelah dia melepaskan aku. "Aku merindukanmu" bisiknya di telingaku. Kalau dia kira bisa memperlakukan aku seenaknya lagi, maka dia salah.
Aku mendorongnya dan memberinya sebuah tamparan. Hal inilah yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Aku melangkah pergi meninggalkan Manda yang memanggil.
Pria itu tetap mengikutiku sampai ke jalan dan aku merasa sangat kesal. Aku berhenti dan menoleh ke arahnya. Rasanya ingin sekali aku melemparkan sesuatu pada badannya.
"Kau boleh memaki dan memukulku sebanyak yang kau inginkan. Tapi, bisakah kita pindah le tempat lain agar kau bisa melakukannya dengan bebas?" katanya tenang. Aku melihat banyak orang yang datang karena ingin tahu tentang kami. Apa sebenarnya yang dia inginkan dariku?
Pak Reynand melepas jasnya dan meletakkannya di bahuku. Dia mengajakku ke suatu tempat dengan mobil mewahnya dan aku menurut. Tidak ada cara lain agar orang-orang yang berkerumun itu pergi.
Di dalam mobil, dia selalu bercerita tentang dirinya yang berhasil membangun beberapa hotel selama tiga tahun ini. Kini dia berencana membangun sebuah mall besar di daerah Sumatera Barat dan aku tidak peduli sama sekali.
"Apakah Adam tidur?" katanya tiba-tiba, membuatku sangat terkejut.
Aku melihatnya sangat tenang ketika menanyakan tentang Adam. Apakah dia tahu tentang Adam? Apa yang dia tahu dan bagaimana dia tahu?
Pak Reynand hanya tersenyum padaku dan semakin membuatku bingung.