
"Lepaskan" Aku merasa tidak suka berada di dekatnya, apalagi pelukannya. Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh kekarnya dan terlepas dari pelukannya.
"Sebaiknya pak Reynand mengejar Freya sebelum terlalu jauh. Dia terlihat sangat sedih saat meninggalkan pesta" saranku. Tidak ada tanggapan atau reaksi seperti yang kuharapkan. Mata birunya melihat ke arahku dan tidak berpaling.
Pak Reynand membawa tubuhnya mendekatiku dan aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.
"Untuk apa aku melakukannya?" tanyanya membalas perkataanku. Dia selalu membicarakan Freya setiap kali aku mencoba mendekatinya. Berkata akan menikah ketika Freya datang ke Indonesia.
Tangannya mulai membelai pipiku dengan lembut, pipiku pasti memerah sekarang.
"Tentu saja karena pak Reynand mencintai Freya" jawabku. Dia menghentikan tangannya dan terlihat kesal.
"Bagaimana kalau aku mencintai orang lain sekarang?" Pak Reynand mengambil gelas berisi air putih untuknya dan melihat beberapa pelayan yang menyelesaikan tugasnya.
Sepertinya aku tidak memiliki urusan dengan siapapun yang disukainya. Yang paling terpenting adalah dia sudah menolakku lebih dari dua kali. Itu membuatku menyerah terhadapnya.
"Itu adalah urusan pribadi Pak Reynand dan saya tidak berani mencampuri urusan Anda. Sebaiknya saya pulang sebelum malam terlalu larut" jawabku tenang karena dia tidak mungkin menyukaiku.
Ketika dia mengatakan ada seseorang yang disukainya, hatiku tiba-tiba merasa sakit dan tidak ingin mendengar apapun lagi. Lebih baik aku segera pulang dan mandi air dingin untuk menjernihkan pikiran.
Ayah dan ibu tertidur nyenyak saat aku sampai di rumah. Kelihatannya mereka kelelahan hari ini, aku masuk ke dalam kamar lalu mandi. Keluar dari kamar mandi, aku mengeringkan rambut lalu melihat banyaknya kantung baju yang belum kubereskan. Aku tidak akan melakukannya hari ini dan segera tidur.
.
.
.
"Nona Freya telah berangkat ke Paris dan saya akan memastikan dia dan keluarganya tidak menganggu tuan muda lagi" lapor Graham pada Evan.
Evan meletakkan gelas berisi anggur di meja dan melihat pada Graham. "Aku percaya Freya tidak akan pernah kemari lagi. Tapi keluarganya sangat mengganggu" Evan tidak suka orang yang melakukan segala cara hanya untuk mendapatkan uang.
"Saya akan mengurusnya. Saya dengar mantan suami nona Hamid pergi ke Cina untuk menghindari penagih hutang. Apakah saya harus mengirim penagih hutang itu ke tempat mereka?" katanya lagi.
"Awasi saja mereka. Aku tidak mau dia mengganggu Anna lagi. Siapkan acara makan malam dan beri keluarga Hamid undangannya. Aku ingin segera memilikinya" Graham akan segera melaksanakan perintah tuan mudanya.
Sudah terlalu lama Evan menahan keinginan memiliki Anna seutuhnya. Dia berharap sesuatu yang sangat istimewa ketika akhirnya dapat memasuki tubuh Anna nantinya.
.
.
.
Percuma saja menyalahkan ibu karena membangunkan aku terlalu lambat, akulah yang salah. Kemarin seharusnya aku tidak memikirkan kata-kata pak Reynand dan berakhir tidur pada dini hari.
Tanpa sarapan, aku meminjam mobil ayah untuk pergi ke perusahaan. Untunglah pagi ini, jalanan tidak seramai biasanya dan aku dapat sampai ke perusahaan hanya dalam 9 menit.
Setelah memarkir mobil, aku melihat kedatangan pak Reynand dan berlari untuk menyambutnya. Napasku memburu ketika dia melihatku dengan mata birunya. Aku merasa sangat bersalah karena datang terlambat hari ini.
Di lift, hanya ada kami berdua dan aku berusaha menormalkan napasku kembali. "Hentikan" kata pak Reynand membuatku tidak mengerti. Aku melihatnya dengan wajah ingin tahu, dan bertanya-tanya apakah aku melakukan sebuah kesalahan.
Ketika kami hampir sampai di lantai teratas, dia menarikku dalam pelukannya dan menciumku. Dia memaksaku membuka mulut dan membuatku semakin kehabisan napas.
Pintu lift terbuka, dia melepaskan pelukannya dan keluar dari lift. Aku terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia pasti sudah gila, melakukan hal ini di perusahaan. Lagipula, dia memiliki tunangan yang kini berada entah dimana.
Dalam beberapa jam bekerja, aku berusaha keras menghindari berdekatan dengannya. Tentu saja hal itu sulit dilakukan karena dia mengadakan banyak rapat yang mengharuskan aku duduk tepat disisinya.
Lia mengajakku makan di sebuah restoran Jawa saat makan siang dan aku terpaksa menolaknya. Pak Reynand akan membawaku ke sebuah restoran hotel untuk menemui rekan bisnisnya dari Inggris.
Kami berangkat dengan mobil pak Reynand, tanpa pak Graham hari ini. Hotel yang kami tuju adalah milik keluarga Reynand di awal pembangunan perusahaannya. Walaupun berusia hampir 30 tahun, hotel ini semakin terlihat mewah baik di luar maupun dalam.
"Asistenmu sangat cantik, bagaimana kalau kita melakukan penukaran asisten disini" kata rekan bisnisnya yang berusia sama dengan pak Reynand. Sejak bertemu, dia selalu melihatku dengan mata yang membuatku merinding.
"Kau akan kehilangan segalanya, kalau kau terus melihatnya seperti itu" tegas pak Reynand membuatku tenang. Dengan perkataannya, pria itu tidak melihatku lagi dan berkonsentrasi pada pembahasan kerja sama antar perusahaan untuk pembangunan hotel di Bali awal tahun depan.
"Mulai besok pakailah kemeja dan celana panjang. Aku tidak suka banyak mata yang melihat tubuhmu" Pak Reynand dengan kesal meninggalkan aku dengan berjalan lebih cepat dari biasanya. Aku terpaksa berlari untuk mengejarnya dan tidak sempat berpikir apapun tentang permintaannya.
Kemarahan pak Reynand berlanjut sampai di perusahaan. Semua pekerjaanku sepertinya selalu salah walaupun aku mengerjakannya sesuai dengan permintaannya. Ayu tidak berkomentar mendengar teriakan pak Reynand padaku dan tetap melanjutkan pekerjaannya. Padahal aku banyak membantunya di pesta Freya kemarin.
Sekitar pukul 8 malam, ketika banyak pegawai yang sudah pulang, aku masih menancapkan pantatku di kursi yang sama sejak pagi. Belum sempat makan malam membuat perutku terus berbunyi dan aku hanya bisa menghela napas.
Sejak petang tadi, Ayu pulang bersama pegawai lainnya dan meninggalkan aku sendirian di ruangan sebesar ini. Lebih baik aku mengerjakan laporan pertemuan tadi siang sebelum pak Reynand memintanya.
Setelah menunggu lebih dari 30 menit, pak Reynand belum juga keluar dan aku tidak sabar ingin pulang. Aku memberanikan diri pergi ke ruangannya dan memberi salam. Pak Reynand berada di sofa panjang sedang menutup matanya. Jadi selama ini aku menunggunya dan dia tidur dengan nyenyak.
Wajahnya ketika tidur tetaplah tampan, tidak adil sekali. Padahal aku sangat berusaha keras melupakannya dan dia dengan mudah menarik dan menciumku. Perutku berbunyi dengan agak keras dan aku takut membangunkannya. Aku akan menunggu di luar dan memesan makanan saja.
"Apakah kau lapar?" Baru saja aku berdiri didekatnya dan dia terbangun.
"Maaf seandainya saya membangunkan ... " Belum sempat aku menjauh, dia menarik dan aku berakhir berada di atas tubuhnya. Saat aku berusaha berdiri kembali, aku merasakan sesuatu di bagian perutku dan takut bergerak.
"Aku ingin memilikimu" kata itu keluar dari mulutnya dan membuatku merasa heran. Dia menolakku begitu keras sebelumnya dan sekarang dia ingin memilikiku. Ada apa dengan pria ini sebenarnya?