
Setelah dua jam bekerja sendiri, pelayan keluarga Reynand akhirnya datang untuk membantu menyiapkan rumah untuk tuan mudanya. Tidak ada alasan khusus kepindahannya yang terasa mendadak ketika aku bertanya pada salah satu pelayan itu.
Bila dilihat dari fasilitas, tentu saja rumah pribadinya memiliki segala yang dibutuhkannya. Akulah yang merasa sangat senang dia pindah ke apartemen ini. Dengan tidak perlu berlari di waktu pagi, aku bisa berangkat lebih lambat sekitar 10 menit.
Melihat jam, ternyata aku tidur sekitar dua jam, tapi aku belum juga melihat pemilik rumah dari tadi pagi ketika dia meninggalkan aku. Sebaiknya aku pulang saja dari sini dan mengirim pesan bahwa seluruh pekerjaan selesai.
Perutku sangat lapar, aku melewatkan makan siang dan sepertinya terlambat makan malam karena terlalu sibuk bekerja. Aku akan makan di tempat makan yang pertama kutemui ketika keluar. Tiba-tiba terdengar suara seseorang menekan pin rumah dan membuka pintu.
Aku melihat pemilik rumah yang menghilang sejak pagi dan meninggalkan banyak pekerjaan padaku. "Kau masih disini?" Lalu menurutmu aku bisa ada dimana pria jelek? Bahkan dengan pakaian santai wajahnya masih saja tampan, kesal sekali.
"Saya telah membereskan semua barang pak Reynand dibantu oleh pelayan yang datang dari rumah keluarga Anda" laporku. Aku mengambil tas lalu berjalan ke arah pintu.
Dia menahanku dengan mengulurkan tangan kekarnya ke depan tubuhku. "Kau disini tanpa ada orang lain hingga sekarang?" tanyanya. Kini aku merasa agak bingung mendengarnya, bukankah seharusnya aku memang harus berada disini hingga semua pekerjaan usai. "Sebaiknya aku mengajakmu makan sesuatu lalu mengantarmu pulang" Perutku berbunyi mendengar dia menyebut kata makan.
Aku tidak menolak ajakannya kali ini karena perutku sangat lapar. Sepertinya aku bisa pingsan kalau bersikeras pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. "Kenapa pak Reynand tiba-tiba pindah ke apartemen ini?" Penasaran sekali aku dengan alasannya pindah.
Dia tidak menjawab pertanyaan yang kuajukan. Aku merasakan kecepatan mobil yang menurun dan berhenti di sebuah restoran khas Jawa Tengah di daerah Kepala Gading. Sekali lagi kedatangan pak Reynand menarik banyak perhatian.
Setelah duduk di kursi dekat jendela, kami mulai memesan makanan. Di malam hari dengan perut yang sangat lapar, sepertinya sop buntut dengan nasi putih terlihat enak. Pak Reynand hanya memesan satu cangkir kopi pahit tanpa makanan.
"Apakah tiket pesawat dan akomodasi saat kita ke Eropa siap?" tanyanya di tengah suara air hujan yang mulai turun.
"Siap. Saya telah melaporkan semuanya pada pak Reynand hari Rabu kemarin" jawabku tenang dan dia tidak bertanya lagi. Mataku mulai bersinar ketika makanan yang kupesan datang.
Karena datang bersama seorang pria yang dikenal banyak orang, aku tidak dapat menyantap makanan sesuai keinginanku. Aku menjaga tata krama makan dengan baik dan menikmati sop buntut dengan banyak sambal.
Aku tidak peduli dengan pandangan mata pak Reynand yang melihatku sejak aku mulai makan. Aku diantar pulang setelah makan disaat hujan deras mengguyur bumi Jakarta.
Tidak ada gangguan di hari Minggu untukku dan aku memanfaatkannya untuk membantu ibu di toko roti. Ayah mulai bisa mengawasi pekerjaan di toko dengan sifat marahnya.
Hari Senin datang tanpa kejutan yang berarti karena kami mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan ke 3 negara di Eropa besok. Yang berbeda adalah aku tidak merasa kelelahan di pagi hari, karena apartemen pak Reynand sangat mudah dijangkau.
Bersama sepuluh orang tim desain, kami masuk ke dalam pesawat dan aku menemukan hal yang aneh. Tidak ada tiket untukku di bagian ekonomi, walaupun aku mencarinya berkali-kali. "Apakah kau benar-benar membawanya?" Aku mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Lia.
Tadi pagi aku melaporkan masalah tiket dan akomodasi selama lima hari di Eropa kepada pak Reynand. Sebelum berangkat ke bandara, pak Graham menyerahkan tumpukan tiket untuk kami semua.
Setelah mencari di dalam tas, aku menemukan tiketku. Di dalamnya tertulis bahwa aku akan berada di kelas bisnis, bukan ekonomi. Merasa tidak nyaman, aku tidak bicara apapun pada Lia dan menghampiri pak Reynand.
"Apakah pak Reynand mengubah tiket saya?" Dia menatapku setelah mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutku.
"Kau akan berada tepat disisiku sebagai asisten pribadi. Aku juga mengubah semua hotel dan akomodasi kita selama di Eropa" katanya santai. Aku mencari amplop berisi semua daftar akomodasi di Eropa dan terkejut. Inilah kekuatan pak Graham, sebagai asisten terpercaya keluarga Reynand.
Aku harus mempelajari semuanya kembali agar tidak terlihat seperti orang bodoh dihadapan tim desain. Kami akhirnya masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi masing-masing.
Kini aku harus berada di sebelah pak Reynand selama 14 jam perjalanan menuju Amsterdam, sangat sial menurutku. Aku memastikan tim desain berada di tempatnya lalu kembali ke kursi di sebelah pak Reynand. "Mereka bisa mengurus dirinya sendiri. Kau ada disini untuk membantuku dan bukan mereka" Pak Reynand sepertinya kesal melihat aku tidak berada di tempatku.
Karena kami berangkat saat malam hari, rasa kantuk menguasaiku dan membuatku tertidur segera setelah pesawat lepas landas. Aku terbangun dengan kaget karena merasakan bantal yang keras. Ternyata lengan pak Reynand yang kujadikan tempat meletakkan kepala, aku menegakkan posisi duduk dan berpura-pura tidak terjadi apapun. Melihat pak Reynand yang menutup mata, aku mengira dia tertidur. Semoga dia tidak tahu aku memakai lengannya sebagai tempat bersandar.
Karena terlanjur terbangun, aku melihat kembali daftar akomodasi yang akan kami gunakan selama di Eropa. Kami akan berada di Eropa selama 5 hari. Rencananya kami akan pergi ke tiga negara yaitu Belanda, Spanyol dan terakhir Italia.
"Apa yang sedang kau lihat?" Aku terkejut dengan bisikan pak Reynand yang berada sangat dekat dengan telingaku.
"Saya sangat ingin melihat bagaimana bentuk hotel yang kita tuju nantinya" Dia membuka laptop dan memperlihatkan tampilan hotel yang akan kami tempati selama di Amsterdam.
Hotel cantik yang berada tepat di samping kanal dengan interior yang sangat cantik. Dengan harga yang tentu saja lebih mahal, kami akan memenuhi tujuan berada di Amsterdam.
Tanpa sadar aku mencondongkan tubuh ke arah pak Reynand disaat melihat-lihat gambar yang ada di laptopnya. Pramugari kemudian datang dengan senyum di wajahnya lalu membuatku merasa tidak nyaman.
"Apakah Anda pasangan pengantin baru yang mencari tempat menginap di Amsterdam?" Pramugari itu tampak gembira setelah melakukan penilaian yang tidak baik lalu pergi kembali ke arah kabin lain. Pasti pramugari ini tidak mengenal pak Reynand. Aku merasa terkejut dengan kata-katanya setelah melihat kami.
Aku kembali menegakkan posisiku dan sekilas melihat senyuman di wajah pak Reynand. Penglihatanku pasti terganggu gara-gara pramugari tadi. Sebaiknya aku tidur sebelum pesawat sampai di Amsterdam nanti.