
"Apakah pak Reynand memanggil saya?" Aku siap melindungi wajahku dari serangan calon istrinya. Buku agenda kuturunkan karena Freya berada sangat jauh dariku.
"Besok malam aku akan mengadakan pesta, tempat dan siapa saja yang akan datang akan diurus Graham. Ayu akan mengurus sisanya, dan kau harus menemani Freya pergi membeli sebuah gaun" Mataku melebar mendengar perintahnya dan seperti tidak percaya.
Tidak mungkin aku harus menemani calon istrinya itu.
Tapi aku tak mungkin menolak perintah atasanku dan mengeluh pada Ayu. Beberapa waktu yang lalu, Ayu tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Setelah aku keluar dari ruangan pak Reynand, Ayu terlihat sangat sibuk. Pasti dia baru saja menerima kabar dari pak Graham.
"Sepertinya aku harus pergi keluar sekarang" Ayu harus meyiapkan dekorasi dan makanan hanya dalam waktu satu malam, tentu saja merepotkan. Aku duduk dan menempelkan kaleng soda dingin di pipiku lagi.
Freya keluar dari ruangan pak Reynand dan berdiri di depan meja kerjaku. Aku memegang kaleng soda dan siap membela diri saat terjadi sesuatu. "Aku akan menunggumu di apartemen Evan sore nanti!" Dia pergi setelah mengatakannya. Rasanya sangat lega melihat dia semakin menjauh dariku.
"Apakah pipimu baik-baik saja?" Ini dia pangeran kita yang bersembunyi di belakang putri ketika pelayannya ditampar. Kesal sekali melihatnya pura-pura peduli padaku.
"Tidak baik, tapi rasa sakitnya akan pergi" jawabku kesal tanpa melihat wajahnya.
"Kuharap kau memaafkannya, dia hanya kesal dengan hawa panas Jakarta"
Apa?????
Dia pikir calon istrinya boleh melakukan apapun hanya karena alasan itu. Aku semakin membenci pria ini.
"Kau terlambat 5 menit" teriak calon istrinya padaku ketika aku menjemputnya sore hari.
"Maafkan saya" Dengan kata maaf, dia tidak akan bisa membuat masalah denganku lagi.
Kami pergi ke sebuah butik milik desainer terkenal ibukota, bersama pak Graham. Pak Reynand mengadakan pertemuan dengan bagian desain dan memeriksa kemajuan mereka lalu memutuskan tidak mengikuti wanitanya berbelanja.
"Aku tidak suka dengan semua gaun ini. Panggil desainer kalian kemari!" tegasnya ketika kami baru satu menit berada di butik ini. Terpaksa aku meminta tolong pegawai butik untuk memanggil pemilik butik untuk melayani calon istri pemilik Reynand Property.
"Aku ingin pakaian sexy berwarna hitam dan memperlihatkan belahan dada dan punggungku" katanya pada desainer terkenal itu. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat gambar rancangannya. Itu terlalu terbuka, dan pak Reynand akan membiarkannya memakai gaun ini.
"Aku juga butuh gaun untuk asisten calon suamiku. Terserah saja" Aku berdecak kagum melihat betapa penurutnya pemilik butik itu pada perempuan ini. Semua bisa terjadi karena nama besar keluarga Reynand.
Setelah memesan gaun yang harus dikerjakan dalam 20 jam, kami pergi ke sebuah kafe dengan pemandangan kota Jakarta di malam hari. Sepertinya aku harus menemaninya sampai malam hari atau pak Reynand menjemputnya.
"Apakah kau benci padaku?" Pertanyaan yang terlalu tiba-tiba membuatku agak menjaga diri. Aku tidak mau dia menamparku di depan banyak orang.
"Tidak. Saya tidak membenci Nona Freya" jawabku. Dia memutar-mutar gelas yang berisi anggur di depanku dengan anggunnya.
"Kau menyukai Evan?" tanyanya lagi. Aku penasaran dengan maksud pertanyaan itu, tapi dengan tegas, aku menjawab
"Tidak"
"Evan sangat kaya dan tampan. Kenapa kau tidak menyukainya?" Freya bertanya sekali lagi, membuatku tidak senang.
"Apakah Anda cemburu dengan Saya?" balasku curiga. Dia tidak akan puas sampai mendapatkan jawaban yang dia mau.
"Saya tidak menyukainya dan membencinya. Hubungan kami adalah antara bos dan asisten pribadi. Hanya itu" tegasku. Aku tidak ingin dia bertanya sesuatu tentang pak Reynand padaku.
Setelah pak Reynand datang ke kafe, aku mengucapkan selamat malam dan pergi dari lahan ranjau yang dibuat Freya. Dia sangat ingin mencari informasi tentangku dan pak Reynand.
Malam hari di Jakarta, udara masih terasa panas. Tentu saja aku memilih mandi dengan air dingin setelah berada di rumah. Ayah dan ibu membicarakan sesuatu tentang toko roti ketika aku bergabung.
.
.
.
Kedatangan Freya di Amsterdam bukanlah keinginan Evan. Dengan berani Freya masuk ke dalam kamar Evan dan memperlakukannya seperti tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka. Semua acara yang telah disusun Evan berantakan dan Anna terpaksa menggantikan perannya di Eropa.
Awalnya mungkin Evan merasa kasihan melihat Freya menangis dan meminta maaf tapi tidak ada rasa yang tersisa di hati Evan. Walaupun Freya menggodanya dengan telanjang dihadapannya, Evan tidak merasa tertarik.
Karena itu Freya kembali membuat masalah dengan mengikuti Evan ke Indonesia dan bersikeras tinggal di apartemen yang sama. Segala cara dilakukan Evan untuk memulangkan Freya, tapi tidak ada yang berhasil karena banyak orang yang mengenal Freya sebagai istrinya. Dan Freya sangat pandai memanfaatkan hal itu untuk keuntungannya sendiri.
"Kenapa kau menampar Anna?" Freya tiba-tiba membuat pipi Anna memerah dengan tamparan kerasnya.
"Apa kau menyukainya? Jadi dia yang telah merebut hatimu dariku?" Amarahnya menjadi-jadi dan membuat Evan semakin kesal.
"Apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Evan menghentikan tangis Freya.
"Cintai aku lagi seperti dulu" Freya menginginkan sesuatu yang mustahil karena Evan telah memilih orang lain.
"Sejak kau memutuskan pergi dari sisiku dan membatalkan pernikahan kita, aku ingin sekali membunuhmu dan keluargamu" Wajah serius Evan membuat kata-katanya semakin terdengar nyata bagi Freya.
Freya sebenarnya tahu bahwa Evan tidak menyukainya lagi. Tapi demi kelangsungan hidup keluarganya di Perancis, Freya mencari tahu keberadaan Evan sekali lagi. Beruntungnya Freya, Evan berada di negara yang sangat dekat dengan Italia.
Hanya kekayaan dan nama besar Evan yang bisa membuatnya menjadi seorang model yang dikenal di dunia mode Perancis dan Italia. Freya terlalu besar kepala lima bulan yang lalu dan meninggalkan Evan demi karir model yang sebenarnya tidak bisa berkembang.
"Aku akan memberi keluargamu uang untuk bertahan hidup. Dan lebih baik kau kembali ke Perancis secepatnya" kata Evan di kantor pagi itu.
"Buatlah pesta besar untukku agar aku bisa bertahan di dunia mode dalam waktu yang agak lama" Freya belum pernah memohon sebelumnya pada Evan. Sekarang dia menyesal begitu keras kepala meninggalkan Evan di hari pernikahan mereka.
"Setelah pesta, kau akan naik pesawat pertama ke Perancis" Evan membuat kesepakatan walaupun tahu hal itu akan sulit dilakukan dengan sifat Freya. "Kau akan pergi atau aku akan membuat seluruh keluargamu mati kelaparan di jalan" Sedikit ancaman akan membuat Freya patuh dan tidak membuat masalah lagi.