My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 38. Pernikahan Manda



Setelah semua teriakan kemarahan ayah dan ibu, keadaan menjadi hening sesaat. Aku terdiam tanpa melihat mereka berdua.


"Lakukan pemeriksaan besok, untuk memastikan!" perintah ayah lalu pergi dari kamarku. Meninggalkan aku dengan ibu yang tidak berhenti menangis.


"Katakanlah pada ibu, siapa orang itu?" Aku tidak mungkin menjawab pertanyaan itu. Kami tidak memiliki hubungan apapun dan aku sudah melupakannya.


"Evan"


Aku tidak tahu bagaimana ibu bisa mengatakan nama itu diantara banyak pria yang kukenal. Mataku menatap lurus padanya dan membuat ibu yakin.


Ibu berteriak dalam diamnya dan itu membuatku semakin ketakutan. "Dia akan menikah dua bulan lagi. Diana sudah menyiapkan pesta besar di hotelnya. Katanya, calon istri Evan adalah seorang anak dari politikus kelas atas" Aku tidak bereaksi atas kabar yang diberikan ibu. Bagiku dia adalah masa lalu yang terlupakan tapi hatiku terasa sakit.


"Kau benar-benar tidak ada hubungan apa-apa dengannya?" tanya ibu.


"Tidak ada. Kami hanya melakukannya sekali dan aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini" kami berdua terdiam kembali dan tercipta keheningan yang menyiksa.


"Tidurlah. Kau tidak perlu bekerja besok dan kita akan pergi ke dokter setelah aku membantu ayahmu membuka toko" Ibu akhirnya pergi dari kamarku dan meninggalkan aku sendiri. Seandainya benar aku hamil, lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?


Aku tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan hal ini terus menerus. Setelah matahari menyapa, aku segera mandi dan menyiapkan sarapan, kegiatan yang kulakukan setiap harinya.


Ayah sama sekali tidak berbicara ketika melihatku dan aku merasa sangat sedih. Ini pertama kalinya aku tidak mendengar teriakan ayah di pagi hari setelah beberapa bulan.


Aku dan ibu pergi ke dokter kandungan sekitar pukul 8 pagi, ketika rumah sakit dipenuhi oleh banyak anak dan ibu-ibu hamil yang mengantre. Melihat bayi yang baru lahir membuat mataku berbinar. Sebenarnya aku sangat menginginkan memiliki anak ketika menikah dulu. Semua persiapan sudah kulakukan termasuk meminum banyak suplemen, tapi takdir berkata lain.


"Apakah ini pertama kalinya Anda melakukan pemeriksaan? Dari catatan terakhir haid, ini sudah masuk bulan kelima" Aku dan ibu terdiam, mendengar penjelasan dokter.


"Ini pertama kalinya" Dokter melihat buku kunjungan periksa dan melihat data ayah bayi yang kosong. Tanpa bertanya lagi, dokter memeriksa perutku dan aku melihat wujud bayi di layar USG.


Kepala, tulang punggung, jari kaki dan tangan telah terbentuk sempurna. Rasanya sangat takjub melihat seorang bayi yang berada di perutku, andai keadaannya lain.


"Lihat sesuatu yang menonjol di daerah ini" Aku melihat ke arah yang ditunjukkan dokter. "Selamat, kau akan mendapatkan seorang putra" lanjut dokter membuatku bangga. Seorang putra yang akan mewarisi semua ketampanan ayahnya, baru kali ini aku tersenyum.


Aku masik memandangi gambar janin yang berada di dalam perutku saat Dokter menjelaskan berbagai hal tentang kehamilan. "Seandainya bayi ini dirawat sendiri oleh sang ibu" Perkataan Dokter ini sungguh-sungguh menyakiti perasaanku, tapi dia benar.


"Kau harus merawatnya dengan baik. Berikan semua nutrisi dan vitamin yang dibutuhkan bayi yang ada di dalam kandunganmu. Agar dia menjadi bayi yang sehat dan menemanimu menjalani hidup nanti" Aku terhenyak akan kenyataan yang dikatakan Dokter ini. Mungkin dia pernah tahu seseorang yang mengalami hal sama.


"Saya akan merawatnya dengan baik" janjiku pada Dokter itu. Mata ibu berkaca-kaca setelah mendengar kemantapan hatiku.


"Pergilah" Aku menoleh pada ayah dan merasa tidak percaya dengan yang kudengar sebelumnya.


"Aku akan membiayai hidupmu dan persalinanmu nanti. Tapi jangan berada di rumah ini. Setelah pernikahan Manda, kau boleh pergi kemanapun kau mau. Ke luar negeri akan semakin baik" Aku benar-benar hancur sekarang. Walaupun aku disakiti mas Dimas waktu itu, ayah selalu membelaku. Tapi sekarang, dia mengusirku pergi dan merasa malu akan keberadaan bayi ini.


Pernikahan Manda dilaksanakan dengan sangat meriah esok harinya. Aku memakai gaun bridemaid yang terlihat longgar karena badanku semakin kurus. Tapi aku sudah meminum semua vitamin yang diberikan Dokter dan merasa baik-baik saja.


"Aku sangat gugup" Manda terlihat cantik dan gemetar, aku merasa sangat bahagia melihatnya menikah hari ini.


Aku menemaninya keluar dari tempat pengantin perempuan dan menyerahkannya pada ayah Manda yang lama sekali tidak pernah kutemui. Keluarga mereka terpaksa bersatu untuk pernikahan ini.


Upacara pernikahan berjalan lancar dan aku sempat meneteskan air mata karena bahagia. Manda dan Randy terlihat sangat serasi, aku tidak pernah menyangka mereka akan sampai pada tahap ini.


Resepsi pernikahan diadakan setelah upacara dan aku bisa melihat siapa saja yang datang ke pernikahan ini. Kebanyakan adalah tamu keluarga Randy, sedangkan keluarga Manda hanya berjumlah sedikit. Kami semua menunggu makanan yang akan diantar di meja kami.


"Lama tidak bertemu" Suara ini sangat kukenal. Pria inilah yang membuat aku terusir dari rumahku sendiri. Wajahku tegang dan tiba-tiba perutku terasa sakit. Ternyata bayi ini merespon suara ayahnya.


Aku berdiri dan menoleh ke belakang. Wajahnya masih saja memancarkan aura dingin yang kusukai. Ada seorang perempuan cantik di belakangnya. Sepertinya itu adalah calon istrinya. Dadaku bergemuruh dan mataku terasa berat dengan air mata.


"Selamat siang, Pak" sapaku hormat padanya. Terlihat perempuan di belakangnya menarik-narik tangannya dan aku tahu hubungan mereka pasti sedang dalam keadaan baik. Hal itu semakin memantapkan aku untuk pergi jauh dari kota dan negara ini.


Saat mereka pergi, perutku terasa sangat sakit dan aku tidak tahan lagi. Terpaksa aku meninggalkan pesta Manda dan berencana untuk pulang. Seseorang menarik tanganku dan aku tertahan untuk pergi.


"Ada apa? Apa kau sakit?" Kenapa dia muncul di saat aku sudah melupakannya? Kenapa ada benihnya di perutku? Kenapa hanya aku yang harus mengalami kehancuran seperti ini? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku saat aku melihat dia lagi.


"Anna, wajahmu pucat. Graham akan mengantarmu pulang" Aku menepis tangannya yang memegang lenganku dengan keras. Tidak lama lagi, dia akan menikah dan aku harus pergi dari rumahku sendiri. Kehidupanku hancur karena kesalahanku sendiri dan tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain pergi.


"Saya baik-baik saja, hanya kurang makan dan tidur semalam karena membantu Manda. Selamat atas pernikahan pak Reynand dan semoga kalian bahagia selamanya" Aku tersenyum dan menahan sakit yang terus muncul. Sepertinya aku harus pergi ke dokter dan memeriksakan kandunganku.


Aku melangkah pergi dan menghentikan taksi yang berhenti di depan gedung pernikahan. Perlahan sakit perutku berkurang dan aku merasa baik sekarang. Tapi, aku tidak mau mengambil resiko dan pergi ke rumah sakit sekarang juga.


"Semuanya baik-baik saja. Tidak ada guncangan atau keadaan buruk yang terjadi. Mungkin ibunya sedang tertekan dan dia mengerti itu" kata dokter menunjuk perutku. Aku bisa tertawa dengan lega sekarang. Kupikir akan terjadi sesuatu dengan bayi ini.


Aku berkonsultasi masalah perjalanan jauh pada dokter dan dia memberikan nasehat panjang yang harus kupatuhi saat berada di tempat lain. Semua kucatat dengan baik dan aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya.


Saat keluar dari rumah sakit dan berencana pulang, aku dikejutkan dengan keberadaan seorang pria besar yang kukenal. Apakah pak Graham melihatku yang masuk ke dalam bagian kandungan? Aku mendekatinya dan mencoba memastikan.