My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 41. Lima Tahun Kemudian



"Kapan kalian akan pulang ke Indonesia? Ibu ingin bertemu dengan Adam secepatnya" Setelah lima tahun, ayah dan ibu belum juga mengetahui bahwa aku tidak pergi dari Indonesia.


"Adam sekarang bersekolah, Bu. Nanti kalau dia libur, aku akan mengajaknya pulang dan bertemu kakek dan neneknya" jawabku menenangkan ibu.


Aku menutup telepon ibu dan melanjutkan pekerjaan kembali. Setelah bekerja keras, aku diangkat menjadi kepala bagian keuangan di hotel yang sama. Bisnis cake yang pernah kuandalkan sebelumnya, kini telah menjadi toko dengan lima pegawai di ujung jalan dekat rumah.


Adam telah berusia lima tahun dan memulai sekolah taman kanak-kanak dua bulan yang lalu. Dia sangat senang berada di sekolah bersama teman-teman yang baru dikenalnya.


"Apakah Bu Anna pernah dengar tentang rencana pembangunan hotel baru?" tanya Ni Luh, satu-satunya bawahanku. Aku menggeleng menjawabnya dan mulai memusatkan telingaku pada ceritanya.


"Kabarnya ada perusahaan besar yang akan membeli beberapa hotel di sekitar dan juga hotel kita. Mereka akan membangun hotel besar dan mewah sebagai penggantinya."


Pengembangan beberapa tempat wisata di Singaraja memang mendatangkan lebih banyak wisatawan baik asing maupun lokal. Dan hotel-hotel kecil seperti kami tidak akan cukup memuaskan para pengunjung kota ini.


"Kita hanya harus menunggu hasil pembahasan pemilik hotel dengan perusahaan properti yang akan membeli semua hotel ini" kataku tenang. Aku sudah memiliki rumah kecil dan sederhana, toko cake sebagai cadangan pendapatan dan anak yang tampan. Walaupun aku diberhentikan, kehidupanku tidak akan menjadi buruk.


Setelah pulang dari hotel, aku mengendarai mobil yang kubeli dengan susah payah untuk menjemput Adam. Dia tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan nakal. Beberapa kali gurunya selalu mengeluh menghadapi ulah Adam. Tapi dia tidak mencelakakan orang lain atau temannya, hanya melakukan sesuatu yang luar biasa untuk mencari perhatian.


Pernah dia membawa kecoa di tempat bekal dan membukanya saat temannya berkumpul. Dia juga menanjat tempat yang seharusnya tidak dia naiki. Mungkin dia merasa perhatian dariku masih kurang. Aku harus mengambil cuti lalu pulang ke Jakarta dan mempertemukannya dengan orang tuaku.


"Selamat sore, Bu" Guru Taman Kanak-Kanak selalu terlihat lelah di saat petang menjelang.


"Selamat sore, Ibu Adam. Hari ini Adam tidak melakukan sesuatu yang luar biasa dan merenung terus menerus di kelas. Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Aku merasa bingung dengan pertanyaan Bu Guru. Sepertinya tidak ada yang terjadi di rumah dan mobil saat berangkat tadi.


"Adam hari ini bermain dengan teman-teman?" Tidak ada jawaban dari bibir mungilnya dan aku berusaha tidak mencubitnya.


"Adam ingin seorang ayah, seperti Dian, Arza dan Boby" katanya dengan nada marah. Topik ini selalu muncul setiap minggu dan aku memiliki jawaban yang sama.


"Ayahmu tidak ada lagi di dunia ini" Hanya itu alasan yang bisa kukatakan padanya agar tak ada pertanyaan tentang hal ini lagi.


"Ibu seharusnya menikah lagi" kata Adam membuat aku terkejut. Bagaimana bisa seorang anak umur lima tahun bisa menyuruh ibunya menikah lagi?


"Seandainya minggu depan kita pergi ke rumah kakek dan nenek selama satu minggu. Apakah Adam tidak akan merenung lagi?" Wajah lucunya tersenyum lebar dan mengangguk. "Ibu akan mengajukan cuti dan kita bisa berlibur selama satu minggu di Jakarta. Dengan satu syarat" Aku mengeluarkan jari telunjukku padanya.


"Tidak boleh mengatakan tempat kita tinggal selama ini. Janji?" Kami saling melingkarkan jari kelingking dan berjanji dengan satu sama lain.


Pengajuan cutiku berjalan lancar karena selama empat tahun, aku tidak pernah mengambil cuti, walaupun Adam sedang sakit. Semua kulakukan untuk memberikan kehidupan yang baik untuk Adam.


Semuanya menarik perhatiannya, dan banyak perempuan dan ibu-ibu yang mengagumi wajah tampannya. Aku merasa bangga memiliki anak yang tidak pernah minder pada orang lain dan pintar.


"Kakek ... Nenek ... "


Teriakan Adam di toko membuat semua pengunjung terkejut dan melihat anak kecil yang berlari kencang itu. Aku kesulitan menyusulnya karena harus membawa dua koper besar berisi kebutuhan kami selama di Jakarta.


"ADAM" Terdengar teriakan ibu dan ayah dari luar toko dan membuatku geleng-geleng kepala.


"Hentikan, Ayah ... Ibu. Kalian membuat semua pengunjung tuli" Aku berlari memeluk ibu yang sudah lama tidak kutemui.


Ayah yang memeluk Adam mendekatiku dan kami berempat saling berpelukan. Semua rasa rindu yang terpendam, kami lepaskan saat itu juga dan membuat hatiku sangat senang.


Ayah bermain sepanjang hari dengan Adam dan aku membantu ibu menyiapkan berbagai macam makanan yang akan disukai cucu mereka. "Berumur 30 membuatmu tampak semakin dewasa, Anna" puji ibu.


"Memiliki anak seperti Adam, membuatku semakin dewasa" Walaupun umurku menginjak 30 tahun, tapi tampilan wajah dan tubuhku tidak berubah jauh dari sebelumnya. Hanya sikap dan pemikiran saja yang berubah.


Adam bercerita tentang mainan yang dimilikinya lalu teman-teman TK. Untunglah Adam masuk ke TK yang dipenuhi dengan warga asing, jadi nama kebanyakan temannya berbau Inggris.


Kami berempat makan malam dengan ceria dan wajah bahagia ayah dan ibu tidak bisa lagi disembunyikan. Mereka bertiga tertawa bersama setiap Adam melangkah atau melakukan sesuatu yang lucu. Aku merasa hidup kami lengkap.


"Kau ada di Jakarta?" Aku menghubungi Manda setelah meninggalkannya tanpa kabar selama satu tahun setelah dia menikah.


"Iya. Bisakah kita bertemu besok?" tanyaku. Ingin sekali aku berbicara empat mata dengan sahabatku ini. Ada juga hal penting yang harus kuceritakan, keberadaan Adam.


Kami berdua akan bertemu saat makan siang besok karena ayah dan ibu berjanji akan membelikan mainan untuk Adam di mall. "Dia tidur?" Adam pasti sangat lelah karena terlalu gembira.


"Ayah dan Ibu akan menemaninya tidur. Tidurlah di kamarmu!" suruh ayah sambil terus menerus mencium Adam.


Aku pergi meninggalkan mereka bertiga dan masuk ke dalam kamar yang tidak pernah kupakai selama 5 tahun. Semua barang masih berada di tempat yang sama, dan kamar ini menjadi sangat bersih. Ibu pasti sering membersihkannya. Aku merebahkan punggung di atas kasurku dan mengingat kembali masa kecil sampai dewasa.


Hidupku penuh dengan cobaan pada tahun itu. Perselingkuhan mas Dimas, pertemuan dengan Evan Reynand dan lahirnya Adam. Semua kujalani dengan banyak air mata dan berakhir bahagia. Kehadiran Adam dalam hidupku membuat hari demi hari yang kujalani tampak sangat berharga.


Tidak terasa lima tahun telah terlewati dan aku tidak pernah lagi mencari berita baru tentang ayah Adam. Semoga keluarga Reynand tidak akan pernah tahu tentang keberadaan Adam.