My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 47. Pulang, Akhirnya ...



Diana melihat seorang anak laki-laki yang sangat tampan membeli es krim. Karena senang dengan anak-anak membuat Diana mendekatinya dan ikut membeli es krim.


Dia sangat terkejut setelah melihat anak itu dari dekat. Mata birunya yang cerah mengingatkannya pada Evan sewaktu kecil.


Anak itu menoleh dan melihat Diana yang menatapnya tak percaya. Benar-benar mirip, apakah ada suatu kebetulan dalam dunia ini?


Ketika melihat orang yang memanggilnya, Diana yakin tidak ada kebetulan di dunia ini. Kedatangannya ke mall ini untuk membeli makanan yang disukainya membuatnya bertemu dengan seseorang yang ditakdirkan menjadi keluarganya.


Tapi Anna tiba-tiba menyembunyikan anak tampan itu dibelakangnya. Kenapa dia menghalangi aku untuk menyapa anak kecil itu? Apa yang sedang disembunyikan oleh Anna?


Tidak. Kali ini Diana tidak akan mengalah pada keadaan. Dia pasti akan memeriksa kebenaran yang disembunyikan oleh Anna.


.


.


.


"Ibu. Sebaiknya kita cepat pergi" Evan menghalangi ibunya untuk mendekati Anna.


"Tunggu, Evan. Anak itu sangat mirip sekali denganmu waktu kecil" Bibi Diana bersikeras melihat Adam dan aku ingin segera pergi dari sini.


"Anna. Biarkan aku melihatnya" Melihat bibi Diana memohon seperti itu, membuat aku tidak tega. Tapi aku takut mereka akan mengambil Adam saat tahu kebenarannya.


"Ibu, siapa nenek itu?" tanya Adam dengan polosnya. Melihat aku yang berada dalam peperangan batin, pak Reynand menenangkan ibunya dengan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar dari tempat aku berdiri.


"Sebaiknya kau dan Adam pulang" suruhnya. Dengan berat hati, aku menarik Adam pergi. Sebaiknya aku segera pulang ke Bali dan tidak menginjakkan kaki lagi di Jakarta.


"Kenapa kau ingin pulang pagi-pagi sekali?" tanya Ayah ketika melihat aku membereskan baju dan memasukkannya ke koper.


"Bibi Diana bertemu dengan Adam sore ini. Aku takut mereka akan mengambil Adam pergi" Keluarga Reynand memiliki uang, kekuasaan dan segalanya. Mereka bisa mengambil Adam dariku kapanpun dan itu membuatku sangat ketakutan.


"Mereka harus berhadapan denganku dulu" tantang ayah. Tapi hatiku masih merasa tidak tenang karena kejadian sore tadi.


Adam tertidur segera setelah kami pulang dari mall. Mungkin kami memang sebaiknya tidak pernah pergi ke Jakarta. Sebaiknya aku benar-benar pergi ke Belanda dan bukan Bali. Aku mulai menyesali segala keputusan yang pernah kubuat selama ini.


Pagi harinya


"Aku akan mengantar kalian ke bandara" Ayah mengeluarkan mobil dan aku menjadi bingung.


"Ayah dan ibu di rumah saja, kami bisa berangkat sendiri" Mereka tidak boleh tahu kalau kami hanya pergi ke Bali.


"Ayo, Adam. Kami akan mengantar kalian" Aku tidak bisa melawan ayah yang sangat keras kepala. Sebaiknya aku jujur pada mereka tentang dimana kami tinggal selama ini, sebelum mereka mengetahuinya dari orang lain.


"Jadi selama ini kalian tinggal di Bali?" teriak ayah setelah mendengar kebenaran tentang rumahku. Hampir saja terjadi kecelakaan karena ayah menghentikan mobil secara tiba-tiba.


"Iya" Aku tidak berani melihat wajah kedua orang tuaku dan membelai kepala Adam yang sedang makan kue kecil.


"Karena itu kau menolak uang pemberian ayah setelah kau tiba disana?" Harga tiket dan biaya hidup di negeri asing sangatlah mahal. Aku tidak mungkin membebani kedua orang tuaku setelah membuat mereka kecewa dengan kehamilanku.


"Tapi kami melewatkan kelahiran Adam karena berpikir kau tinggal sangat jauh. Seharusnya kami datang ke Singaraja untuk melihat bayi tampan ini lahir" Adam membalas perkataan ibu dengan senyuman.


Untunglah kedua orang tuaku tidak terlalu marah karena aku membohongi mereka. Semua kulakukan untuk mengurangi pengeluaran karena banyaknya kebutuhan Adam.


Kami akhirnya berangkat ke Bali setelah berpamitan pada kedua kakek dan nenek Adam. Mereka berjanji akan datang ke Singaraja dan menutup toko.


Setelah mengalami perjumpaan yang mengejutkan, aku merasa tenang karena kami kembali ke rumah. Besok adalah hari dimana nasib pekerjaanku di hotel ditentukan. Semoga aku bisa menerima pendapatan selain toko dan memberikan segalanya pada Adam.


Esok harinya, Adam bersekolah setelah seminggu ijin tidak masuk. Aku merasa senang bisa kembali ke lingkungan yang selama ini kami tinggali dan melakukan aktifitas seperti biasanya lagi.


Sebelum pergi menghadiri pertemuan dengan pihak pengembang yang membeli hotel tempat aku bekerja sebelumnya, aku pergi memeriksa keadaan toko.


Sesudah memastikan toko berjalan dengan baik, aku pergi menjemput Ni Luh dan kami akan menghadiri pertemuan bersama.


Ternyata pertemuan ini dihadiri oleh pegawai yang diberhentikan secara paksa dari tiga hotel menengah yang dibeli. Kurang lebih seratus orang menggantungkan harapan mendapatkan pekerjaan di hotel yang akan dibangun nantinya.


Dari hasil diskusi yang panas, pihak pengembang menyatakan kesediannya menerima semua orang yang hadir disini sebagai pegawai di hotel yang akan dibangun. Tapi karena pembangunan hotel itu dilaksanakan dalam satu tahun setengah, banyak dari kami yang akhirnya mundur dan memilih mencari pekerjaan lain.


"Bagaimana ini Mba Anna?" Seharusnya Ni Luh tidak perlu merasa bingung. Dia masih berumur 22 tahun dan lulus dari perguruan tinggi yang baik. Seharusnya tidak sulit baginya menemukan pekerjaan baru.


"Sebaiknya kita menerima penawaran mereka dan mencari pekerjaan lain. Seandainya hotel siap beroperasi, kita bisa memilih antara kedua pekerjaan itu yang lebih menguntungkan kita." Ni Luh setuju dengan yang kukatakan dan menandatangani kesepakatan bersama.


Keluar dari pertemuan, aku mengantar Ni Luh ke rumahnya dan berjanji untuk saling berkomunikasi walaupun tidak bekerja di tempat yang sama.


Sebaiknya aku menjemput Adam dan mempersiapkan makan malam yang banyak. Aku sampai di depan sekolah Adam dan menemui gurunya.


"Mama Adam, Adam sudah pulang siang tadi" Biasanya, orang lain yang bukan anggota keluarga tidak diperbolehkan menjemput. Tapi bagaimana bisa gurunya bilang Adam sudah pulang saat aku belum menjemputnya?


"Tapi saya tidak menjemput Adam" Aku merasa khawatir dan berharap gurunya hanya bercanda.


"Tadi Adam dijemput oleh ayahnya. Ternyata suami mama Adam sangatlah tampan, saya sangat terkejut melihatnya." Hanya ada satu orang yang ada di pikiranku ketika bu Guru menyebut ayah Adam.


Setelah keluar dari lingkungan sekolah, aku segera menghubungi pak Graham.


"Dimana Adam?" tanyaku setelah telepon tersambung.


"Sebaiknya nona Hamid tenang. Tuan muda hanya ingin bermain dan makan malam dengan tuan muda kecil" jawab pak Graham.


"Bagaimana aku bisa tenang kalau anakku tidak ada? Dimana dia?" teriakku. Setelah pak Graham menyebutkan nama hotel tempat mereka berada, aku bergegas kesana dengan hati yang kacau.


Tiba di hotel yang dimaksud, aku berlari untuk mengambil anakku kembali.


"Nona Hamid" Pak Graham menahanku untuk masuk ke dalam kamar tempat Adam berada.


"Jangan lakukan ini pada saya. Dimana Adam?" Aku memohon pada pak Graham untuk membuka pintu.


"Tuan muda kecil berada di rumah keluarga Reynand. Saat ini tuan muda ingin berbicara dengan Anda" ucapan pak Graham membuatku lemas. Aku sangat takut semua ini terjadi saat bertemu bibi Diana. Aku tidak percaya mereka melakukan semua ini dengan sangat cepat. Seharusnya aku tidak pernah pulang ke Jakarta.