
Berjalan-jalan di taman rumah sakit lebih menyenangkan daripada berada di dalam ruangan ayah. Kedatangan ketiga orang paling kaya itu telah membuat suasana menjadi tidak nyaman. Bila tidak ad mereka, semua jajaran pejabat rumah sakit tidak akan berada di kamar ayah. Tapi keuntungannya adalah ayah dan ibu diperlakukan dengan baik di rumah sakit ini. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau meminta maaf pada mereka.
Tapi ada lagi hal yang membuat aku lebih tidak nyaman, selain semua keadaan di dalam ruangan ayah. Pandangan setiap perempuan yang melihatku ketika berjalan di taman rumah sakit terlihat sangat aneh. Mereka seperti terpana dan dari mata mereka muncul kekaguman. Aku melihat diriku sendiri dan tidak ada yang salah dengan gaya berpakaianku hari ini. Ketika aku melihat ke belakang, baru aku tahu penyebab mereka melakukan hal itu.
Mau apa lagi orang ini mengikutiku pergi ke taman. Apakah dia ingin mempermainkan lalu membuangku lagi seperti semalam. "Ada apa Anda mengikuti saya?" tanyaku.
"Apakah aku tidak boleh berjalan di sekitar rumah sakit?" Aku lupa kalau dia adalah pemilik rumah sakit ini.
"Silahkan pak Reynand berjalan terlebih dahulu, saya akan kembali ke dalam ruangan ayah" kataku. Dia memegang lenganku untuk menghentikan langkahku.
"Apa yang sebenarnya pak Reynand inginkan?" Aku melepas tangannya dari lenganku dan berdiri agak jauh darinya.
"Apakah kau membenciku karena kejadian semalam?" tanyanya dengan sedikit tersenyum. Sepertinya dia tidak mengerti bahwa perilakunya semalam membuat aku sakit hati.
"Iya, mulai hari ini" Aku berjalan menjauh dari keramaian yang diciptakan karena keberadaannya di taman ini.
Tapi dia tetap mengikuti kemanapun aku pergi dan membuatku semakin merasa kesal.
"Saya hanya ingin berjalan-jalan sendirian. Apakah pak Reynand tidak bisa pergi?" ucapku kasar.
"Aku hanya ingin meminta maaf karena membuatmu kesal. Kelakuanku semalam sangatlah tidak pantas dan ... " Belum selesai dia bicara aku mengangkat tangan kiriku untuk menghentikannya.
"Iya memang benar bahwa selama ini Saya menyukai Pak Reynand" Akhirnya aku mengatakan sesuatu yang terpendam selama ini.
"Entah sejak kapan saya menyukai Pak Reynand. Saya merasa ber-hak menyukai seseorang, walaupun hanyalah pegawai bagian logistik. Kejadian selama ini antara kita selalu saya anggap sebagai takdir dan perlahan merasa senang dengan kehadiran pak Reynand. Tapi saya tidak pernah mengetahui bahwa ternyata Anda masih mencintai seseorang. Jadi semua adalah salah saya karena terlalu memaksakan kehendak" sambungku.
Sepertinya dia sangat terkejut mendengar pernyataan cinta yang tiba-tiba. Aku tidak akan memendamnya lagi dan menghancurkan diriku sendiri. Lebih baik aku mengutarakan semua yang ada di dalam hatiku dan menyelesaikan perasaanku disini.
"Freya akan kembali dan aku akan menikahinya" Sekali lagi dia menegaskan tentang rasa cintanya pada kekasih yang melarikan diri dari pernikahan mereka itu.
"Saya tahu sekarang. Maaf, semoga pak Reynand dan Freya bahagia bersamanya" Berat sekali mengatakan semua ini dari mulutku.
Aku berbalik dan pergi ke arah ruangan ayah dirawat. kali ini dia tidak mengikutiku dan kuharap kami tidak bertemu secara tiba-tiba lagi.
.
.
.
"Tidak pernah kusangka Evan akan mengalami sesuatu seperti ini sebelumnya" Ayah Evan, Malik Reynand mengatakannya pada istri tercintanya.
"Dia menyakiti putri temanku beberapa kali, kini lihatlah bagaimana dia ditinggalkan" Diana Reynand sangat kesal pada putra tunggalnya yang bodoh itu.
"Anna berstatus sebagai janda, tidakkah berlebihan menjodohkan Evan dengan wanita seperti itu?" Malik Reynand sangat memperhatikan status dan latar belakang keluarga ketika berniat menikahkan Evan.
"Kita tidak tahu, apakah semua itu benar" tegas malik Reynand. Diana merasa kesal dengan sifat keras kepala suaminya.
"Memang benar kita tidak dapat membuktikannya. Apakah kita harus memerintahkan Evan memeriksanya?" canda Diana yang dibalas tatapan tajam suaminya. "Kenapa kau melihatku seperti itu. Aku tidak akan melakukannya, semua itu hanyalah gurauan. Oke!" Diana tidak bisa bercanda dengan suami yang dinikahinya selama 35 tahun itu.
"Aku akan menjodohkan Evan dengan wanita lain yang lebih pantas, bukan putri seorang tukang roti" tegas Malik Reynand.
"Pak Hamid dan istrinya adalah temanku dan kau tidak boleh menghina mereka di hadapanku" Melihat istrinya kesal dan pergi, Malik Reynand merasa sangat bersalah dan akan mempertimbangkan usulannya kembali. Diana yang terlanjur marah berpikir dia tidak dapat mengubah keputusan suaminya lagi dan merasa sangat sedih karena kehilangan calon menantu idaman yang disukainya.
.
.
.
"Dari mana saja kau tadi?" Ayah yang masih belum tidur, bertanya padaku.
"Aku berjalan-jalan di luar dan menemukan taman yang sangat cantik. Aku akan mengajak ayah kesana ketika diperbolehkan nanti" jawabku dengan bergelayut manja pada ayah.
"Evan telah mengurus cuti untukmu selama satu minggu di bagian kepegawaian dan tidak akan mengurangi gajimu karena ini" Ibu selalu senang berurusan dengan keluarga temannya dan tidak mempedulikan perasaan anaknya sendiri.Aku tidak menjawab dan pergi tidur di sofa setelah mencium pipi ayah. Semalam aku tidak bisa tidur karena terlalu banyak menangis.
Semakin bertambahnya hari, keadaan kesehatan ayah membaik. Tepat satu minggu aku dan Manda menjemput ayah dan ibu dari rumah sakit dan menyiapkan kejutan atas pulangnya ayah. Semua pegawai ayah telah menunggu di rumah dan memberikan jamuan besar-besaran pada pemilik toko mereka.
"Apakah Paman benar-benar sakit selama ini? Sepertinya semua itu hanyalah kebohongan agar Paman dapat berduaan terus menerus bersama Bibi" sindir Manda yang berbuah pukulan keras ibu pada lengannya. Manda merasakan sakit yang biasa kurasakan setelah diberikan pukulan oleh ibu.
Kami pulang setelah mengurus administrasi dan menerima ucapan selamat yang terlalu berlebihan. Di rumah, seluruh pegawai dengan gugup menunggu pintu depan terbuka. Perlahan aku membuka pintu dan ucapan selamat terdengar bersautan di dalam rumah. Walaupun terkejut, tapi jantung ayah dapat menanganinya dengan baik.
Semua orang sangat senang dengan kedatangan ayah dan bersyukur keadaan tubuhnya baik. Besok pagi cutiku berakhir dan aku diharuskan masuk ke dalam perusahaan pria itu lagi. Sepertinya toko roti juga harus beroperasi lagi besok dengan pantauan ayah. Tidak akan kubiarkan terjadi sesuatu dengan keluargaku, hanya karena masalahku.
"Apa yang kaupikirkan?" Manda mengambilkan aku sepiring kue.
"Aku harus bertemu dengan mas Dimas secepatnya. Mas Dimas yang menyebabkan timbulnya penyakit pada tubuh ayah, aku harus melarangnya mendatangiku dan keluargaku lagi.
"Dia ada di Jawa Tengah saat ini. Sepertinya ada masalah dengan hotel keluarganya, mereka mengalami kerugian besar dan segera akan dinyatakan bangkrut" Manda memperoleh semua informasi dari temannya yang mengenal mas Dimas. Aku tidak tahu masalah seperti itu bisa terjadi dalam waktu yang sangat cepat.
Sebaiknya aku melupakan masalah ini untuk sementara waktu, mas Dimas pasti tidak akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat. Aku makan kue yang ada di piringku dan menikmati pesta penyambutan kembalinya ayah.