My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 21. Menginginkanmu Menyakitiku



Benar-benar tidak dapat dipercaya, bagaimana mungkin dia memperlakukan aku seperti ini sekali lagi. Mungkin akulah yang benar-benar bodoh, sehingga dapat melakukan hal yang sama berulang-ulang kali.


Perhatiannya membuatku merasakan perasaan yang telah kupendam sebelumnya. Tentu saja semua perasaan itu muncul kembali dan membuat aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dan saat ini, pria itu berada tepat dibelakangku. Berbaring di atas tempat tidurku, bermaksud untuk menemani sampai aku tertidur.


"Pak Reynand dapat pergi sekarang juga" kataku. Untuk apa dia bertahan disini ketika tidak ingin menerimaku?


"Aku akan pergi setelah kau tidur" jawabnya santai, membuatku semakin kesal saja.


"Saya adalah perempuan berusia 25 tahun, tidak akan ada sesuatu yang dapat menakuti Saya di dalam rumah ini" Cepatlah pergi sebelum aku meluapkan kemarahanku padamu.


Tidak ada jawaban darinya dan aku berpikir pria itu telah pergi diam-diam. Aku berbalik perlahan dan berada tepat di depan tubuhnya. 'Sebaiknya aku harus melakukan apa di saat dihadapkan dalam situasi seperti ini?'


Aku terdiam dan tidak bergerak sedikitpun. Menghirup aroma tubuhnya membuatku merasakan geli di perut. Bila tidak hari ini, sepertinya aku tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini kembali.


Perlahan aku mendongak dan melihat wajahnya, dia menatap mataku dan tidak melakukan apapun juga. Aku mendorong pundaknya dan mengambil posisi di atas tubuhnya.Aku mendekati wajahnya dan menciumnya tepat di bibir, tetap tidak ada reaksi darinya.


Aku membuka satu persatu kancing kemejanya dan melihat dada telanjangnya di bawahku. Pesona pria ini sangat sulit untuk dikalahkan dan dibiarkan begitu saja. Saat aku terus menerus menciumnya, akhirnya dia membalasnya. Perasaanku sangat senang, seperti mendapatkan lotere setelah mencoba berulang-ulang kali.


Saat ini dia lebih aktif dan membuka baju tidur yang kupakai. Pakaian dalamku entah berada dimana, aku tidak peduli. Ketika akhirnya aku berpikir kami akan melakukannya malam ini, dia berhenti.


Dia bangun dan mengambil celananya lagi, meninggalkan tubuhku yang penuh dengan bekas kecupannya.


"Apa yang ... ?" Dia mengambil semua pakaian yang telah terlempar dan memakainya kembali.


"Sebaiknya kau memakai pakaianmu kembali" Kembali dia mengambil semua bajuku dan meletakkan semuanya tepat di depanku.


"Aku tidak seharusnya melakukan semua ini padamu" katanya dengan nada tegas. Jadi dia merasa bersalah karena menciumku.


"Apakah Pak Reynand membenci Saya?" Aku akan mencari kebenaran dari sikapnya padaku.


"Tidak. Aku tidak memnbencimu" jawabnya.


"Lalu, kenapa?" Aku mempertanyakan alasannya selalu mendorongku pergi.


"Freya akan datang, dan kami akan segera menikah"


Sekarang dia membawa mantan calon istri yang dulu meninggalkannya. Aku menertawai tingkahku yang terlalu mendesaknya untuk menyentuhku. Padahal dia masih mencintai kekasihnya itu.


"Kalau begitu, jangan pernah mendekat lagi!"


Dia pasti mengasihani aku karena masalah ayah dan semuanya, bukan karena dia menyukaiku.


"Pergi" kataku dengan suara serak.


"Aku akan menunggumu tertidur dan pulang" Dia seperti tidak berpikir tentang perasaanku ketika menjawabnya.


"PERGI !!!!!" Aku berteriak dengan sisa suara dan tenaga yang kumiliki.


Aku menatapnya hampir menangis dan dia pergi menutup pintu kamar dari luar.


Bodoh ... bodoh ... bodoh, bagaimana aku bisa terperangkap kembali dalam cinta bertepuk sebelah tangan seperti ini. Aku menangisi kebodohanku dengan keadaan tanpa memakai pakaian selembarpun.


Setelah puas menangis, aku mengambil pakaianku dan pergi ke arah kamar mandi. Di cermin tampak semua bekas kecupan pak Reynand, dan aku merasa sangat kotor. Aku mandi sekali lagi dan memakai baju yang baru kuambil dari lemari. Keluar dari kamar mandi, mataku merasa mengantuk. Sebaiknya aku segera tidur dan melihat ayah pagi-pagi sekali.


Sekitar pukul 4 pagi, aku terbangun setelah tidur selama dua jam. Aku keluar dari kamar dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pak Reynand. Baguslah kalau dia pergi ketika aku menyuruhnya..


Aku harus memusatkan perhatianku pada orang tuaku sekarang. Tidak ada hal penting selain mereka bagiku. Hal yang pertama kulakukan, adalah memberikan kabar tentang ayah pada seluruh pegawai, karena biasanya toko dimulai di saat semua orang masih tertidur. Tak lupa aku menempelkan pengumuman liburnya toko roti kami di depan kedua sisi dindingnya.


Di dapur, aku memasak makanan yang dapat dinikmati aku dan ibu pagi ini.


Dua kotak bekal telah siap di atas meja makan dan aku pergi ke kamar, untuk mandi dan berganti pakaian, tidak lupa aku membawa baju ganti untuk ibu. Tidak mungkin ibu mau meninggalkan ayah disaat seperti ini.


Setelah seluruh persiapan selesai, aku keluar dari rumah dan melihat mobil Bentley milik pak Reynand.


"Nona Hamid" Pak Graham keluar dari mobil dan menyapaku, tidak ada orang lain di mobil.


"Ada apa Pak Graham datang kemari sepagi ini?" tanyaku penasaran.


"Saya diperintahkan oleh Tuan Muda untuk mengantar Nona Hamid ke rumah sakit"


Apalagi maunya pria itu padaku.


"Sebaiknya Pak Graham pulang ke Tuan Muda itu, bahwa Saya akan berangkat sendiri dan tidak membutuhkan bantuannya"


"Apakah Ayah baik-baik saja?" tanyaku ketika melihat ayah terbangun dari tidurnya.


Ayah bangun sekitar pukul 2 dini hari, dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan dari kondisinya pasca operasi.


Aku merasa sangat lega dengan kabar baik itu dan memeluknya.


"Aku tidak apa-apa" jawabnya lemah. Aku selalu berhadapan dengan ayah yang selalu marah dan tegas, melihatnya dalam keadaaan seperti ini, membuatku merasa sangat sedih.


"Apakah kau tidak bekerja? Ini sudah pukul 7 pagi, sebaiknya kau pergi karena keadaan Ayah semakin membaik" Aku menggeleng mendengar saran ibu.


"Aku sudah menirim pesan pada Kepala Bagian, dan dia mengizinkanku tidak masuk kerja selama 3 hari, Aku bisa menemani Ayah dan Ibu" Memeluk ibu membuat perasaanku semakin tenang.


Dokter dan perawat datang ke dalam ruangan ayah dan memeriksa keadaannya, untunglah semuanya baik.


"Saya tidak tahu kalau Bapak dan Ibu adalah teman baik keluarga Reynand" kata Dokter mengejutkanku.


Pasti Dokter ini melihat pak Reynand yang datang bersamaku semalam.


"Tidak, keluarga kami tidak kenal baik. Mereka adalah salah satu pelanggan di toko roti ayah" balasku mengakibatkan cubitan di lenganku oleh ibu.


"Iya. Mereka hanyalah pelanggan di toko rotiku. Kami tidak mungkin mengenal keluarga paling kaya di negeri ini" tambah ayah, semakin membenarkan perkataanku.


"Benarkah? Karena rumah sakit ini adalah milik keluarga Reynand, maka Bapak mendapatkan perawatan terbaik atas perintah Tuan Muda Reynand" jelas Dokter semakin membuat aku merasa tidak nyaman.


"Saya akan berterima kasih kepada mereka, dan juga terima kasih telah merawat ayah Saya dengan baik" jawabku membuat Dokter itu tersenyum.


Tak lama terdengar keributan di depan ruangan ayah dirawat. Rupanya keluarga pemilik rumah sakit ini datang untuk melihat keadaan ayah. Seluruh jajaran direksi rumah sakit mengikuti tuan besar dan istri keluarga Reynand beserta tuan muda mereka.


Ketika mereka masuk ke dalam ruangan ayah, Dokter yang memeriksa memberikan salam dengan membungkuk kepada ketiga orang terkaya di negeri ini.


"Bagaimana keadaan Pak Hamid saat ini?" tanya tuan besar keluarga Reynand itu.


Belum sempat ayah menjawab sendiri, Dokter mengatakan dengan detail keadaan kesehatan ayah saat ini.


Aku dan ibu berdiri di dekat ranjang ayah dan merasa aneh.


Pak Graham yang berada di belakang mereka akhirnya maju untuk mengusir semua orang selain anggota kedua keluarga keluar dari ruangan ayah. "Saya sangat bahagia, Pak hamid baik-baik saja" kata tuan besar Reynand.


Merasa tidak nyaman dengan kehadiran mereka, aku keluar dari ruangan setelah memeluk Bibi Diana dan pergi ke arah halaman rumah sakit. Tidak kukira ada yang mengikutiku dan menarik perhatian seluruh pengunjung dan pegawai rumah sakit karena ketampanannya.