
Kami sampai di Amsterdam sekitar pukul 01.30 waktu Belanda. Langit gelap menghiasi pemandangan Amsterdam yang pertama kali kulihat. Lia juga sangat kecewa karena tidak dapat melihat indahnya pagi hari di kota ini.
Kami melakukan perjalanan singkat untuk sampai di hotel yang telah dipesan. Melihat kanal membuat rasa kecewa kami terobati. Ternyata kamarku berada tepat di samping kamar pak Teynand dan berbeda satu lantai dengan tim desain termasuk Lia.
Sayang sekali, padahal ini adalah kunjungan pertamaku dan Lia ke luar negeri. Aku merebahkan diri di atas ranjang yang luas dan meluruskan punggung setelah berada di pesawat dalam waktu yang lama.
Baru kali ini aku berada dekat dengan pak Reynand dalam waktu yang lama. Melihat mata birunya, menghirup aroma parfumnya dan merasakan kehangatannya membuatku merasakan sesuatu yang sangat ganjil. Keinginan memeluk dan menciumnya memuncak ketika kami berdekatan.
Aku membuka balkon yang berada di kamar dan mencium bau malam hari kota Amsterdam. Sebaiknya aku tidur lagi atau setidaknya berbaring di atas tempat tidur. Aku juga harus menghubungi ayah dan ibu di Indonesia. Mereka pasti akan khawatir tidak mendengar kabar dariku.
Pagi hari, aku pergi ke kamar pak Reynand dengan pakaian rapi dan mengetuk pintu. Karena kami bepergian di bulan April, maka udara tidak begitu dingin diluar. Pak Reynand membuka pintu dan menampilkan rambut berantakan dengan baju mandi. Kelihatannya dia belum bersiap-siap untuk pergi.
"Tidurlah lagi dan beritahu asisten pribadimu untuk pergi" Aku mendengar suara perempuan memakai bahasa Inggris dari dalam kamarnya. Pak Reynand melihatku dengan tatapan yang tidak bisa aku jelaskan.
"Tunggulah di restoran dan aku akan turun sepuluh menit lagi" Dia menutup pintu kamarnya tepat di depanku. Tanganku gemetar dan detak jantungku terasa lebih cepat dari biasanya.
Pertanyaan tentang suara perempuan yang berada di kamar pak Reynand, berada di dalam pikiranku dan tidak mau pergi. Aku menghadapi tim desain di restoran dan mengatakan bahwa pak Reynand akan bersama kami sekitar sepuluh menit lagi.
Aku duduk terdiam setelah mengatakannya dan pergi mengambil makanan lalu diikuti oleh seluruh anggota tim. "Anna, aku dengar ada seorang perempuan di kamar pak Reynand" Lia mengatakan hal yang tidak mungkin dia ketahui.
"Bagaimana kau tahu?" tanyaku. Lia menjelaskan bahwa karena perbedaan waktu, dia tidak bisa tidur lalu berjalan-jalan di depan kamarku dan pak Reynand. Sekitar pukul lima pagi, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik masuk ke dalam hotel saat Lia berada di lobi.
Karena penasaran, Lia mengikutinya dan sampai di depan kamar pak Reynand. Karena takut membuat masalah, Lia bersembunyi di salah satu sudut dinding dan melihat pak Reynand memasukkan wanita itu ke dalam kamarnya.
Yang lebih mengejutkan adalah setelah beberapa lama, Lia mendengar jeritan-jeritan nakal dari mulut wanita itu. Lia sangat yakin pak Reynand dan wanita itu melakukan hubungan suami istri di dalam kamar.
Lia kemudian memperlihatkan ponselnya dan menunjuk ke dalam layar. Seorang wanita cantik dengan tubuh hampir telanjang berada di gambar itu. "Itu Freya, calon istri pak Reynand yang dulu melarikan diri dari pernikahan mereka" ucapnya membuatku semakin yakin.
Akhirnya dia menemukan kekasihnya kembali saat berada di Eropa. Pria itu pasti sangat gembira dini hari tadi, dapat memeluk kembali calon istrinya yang kabur.
"Sebaiknya kita simpan kabar ini untuk kita sendiri dan membagikannya ketika berada di Indonesia" bujukku pada Lia. Dia berpikir sejenak lalu menyetujui usulku yang dapat menguntungkannya.
Walaupun kami menunggu selama satu jam di restoran, pak Reynand dan kekasihnya tidak juga muncul. Lia melihatku dengan tersenyum penuh arti lalu aku mengalihkan perhatiannya.
Aku mengajak mereka ke salah satu gedung apartemen tertinggi di Belanda yang terbuat dari kayu untuk inspirasi pembangunan gedung perkantoran di Singapura.
Perlahan aku tidak memikirkan pak Reynand lagi dan bersenang-senang bersama pegawai desain lainnya. Kami mengambil gambar bersama-sama di depan gereja tua yang dialih fungsikan sebagai perpustakaan. Lalu menikmati makan siang yang sangat enak di cafe. Kami bersebelas seperti pelancong yang datang ke Amsterdam untuk berlibur dan bukan bekerja.
"Kelihatannya kau bersenang-senang bersama mereka" Kami kembali ke hotel ketika jam menunjukkan pukul 3 sore dan bertemu pak Reynand beserta kekasihnya di lobi.
Pertama kali ini aku melihat wajah kekasihnya secara langsung dan mereka memang tampak sangat serasi. "Maafkan kami karena tidak menghubungi pak Reynand. Tapi kami tidak mungkin menyia-nyiakan waktu hanya untuk menunggu" jawabku ketus padanya.
Wanita cantik yang berada di belakangnya maju ke arah kami dan mulai memperkenalkan diri. Beberapa pegawai laki-laki merasa terpesona dengan penampilan Freya yang sangat seksi.
Aku menyambut perkenalan diri Freya dengan memberi hormat. "Kau pasti asisten pribadi Evan" Suara Freya terdengar manis di telingaku dan dia memasukkan tangannya ke dalam lengan pak Reynand seperti menegaskan statusnya.
"Saya Anna. Senang berkenalan dengan anda" Aku mengeluarkan tangan dan disambut Freya dengan baik. Dia juga menyapa satu persatu tim desain yang berada di belakangku termasuk Lia.
"Kami akan bersiap untuk pergi melanjutkan perjalanan ke Spanyol karena tiket kereta telah terlanjur dipesan" kataku pada pasangan kekasih yang bersatu itu.
Wajah pak Reynand yang ditunjukkan padaku terlihat sangat menakutkan. Aku tidak tahu seandainya ada sesuatu yang membuatnya kesal. "Pergilah, aku akan mengikuti kalian" Dia pergi keluar hotel dengan Freya dan aku merasa, kami akan melakukan perjalanan ini sendirian mulai sekarang.
Aku masuk ke dalam kamar dan sibuk melihat kembali rencana perjalanan kami. Kami keluar dari hotel setelah makan pagi di hari berikutnya dan naik pesawat kembali ke kota Madrid, Spanyol. Karena tidak ada rencana menginap maka kami hanya melihat keindahan area Empat Tower Bisnis disana lalu berangkat kembali ke Roma Italia.
Sekitar satu jam tiga puluh menit terbang ke kota Roma, Italia. Kami sangat lelah berada di jalan dan memutuskan tidur di hotel yang telah dipesan pak Graham. Aku tidak melihat sosok pak Reynand datang ke hotel ini dan menyerah mengharapkan kehadirannya.
Tim desain dan aku mengunjugi beberapa tempat seperti Teater di Marcello, Galleria Sciarra dan Palazzo Bonaparte sebelum mengakhiri kedatangan kami di Eropa dengan makan malam bersama.
Masih tidak ada pak Reynand sebelum kami kembali pulang ke Jakarta dan aku meminta ijin tidur kepada seluruh tim.
Esoknya kudengar pak Reynand datang ke acara makan malam tim dan mulai mengadakan pengarahan untuk desain gedung perkantoran di Singapura. Lia mengatakan pak Reynand dan kekasihnya pulang ke Jakarta dengan pesawat sewa pribadi. Aku hanya mengangguk mendengarnya, dan kesal karena dia tidak memberitahuku apapun.
Selesai sudah perjalanan 5 hari kami di Eropa dengan jadwal yang sangat padat. Kami menaiki pesawat Turki untuk pulang selama hampir 25 jam perjalanan.