My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 45. Waktu yang Tidak Dapat Diputar Kembali



"Kenapa ke tempat ini?" kataku sebelum pak Reynand turun dari mobil.


"Aku harus menghadiri rapat yang penting, hanya setengah jam dan setelah itu mengantar kalian pulang" Adam terlanjur turun dan aku juga terpaksa harus keluar dari mobil.


Beberapa petugas keamanan yang berjaga terlihat sangat terkejut karena Presdir-nya memegang tangan seorang anak kecil. Aku berdiri tepat di belakang pak Reynand karena tidak ingin menimbulkan rumor.


Setelah berada di dalam gedung perusahaan, aku mengambil tangan Adam darinya dan kami berjalan lebih dulu. Tidak ada yang berubah dari tempat ini, bahkan setelah lima tahun. Pasti lift berada di sekitar sini, dan aku benar. Pak Reynand tersenyum melihatku menekan lantai tempat ruangannya berada.


"Ibumu pernah bekerja di tempat ini, Adam. Dan dia masih mengingat semuanya setelah lima tahun" Dia kembali menggendong Adam dan membawanya keluar dari lift di lantai 15. Aku tidak percaya dengan yang kulihat, seorang wanita yang sama bekerja dengan pria ini selama 5 tahun dan tidak meminta berhenti.


"Ayu" Aku menyapanya dan dia terlihat sangat bingung dengan adanya anak kecil di pundak pak Reynand.


"Anna. Tidak kusangka akan bertemu denganmu lagi" Wajahnya terlihat gembira lalu kembali serius ketika pak Reynand meminta berkas yang harus ditanda tangani.


Kami masuk ke dalam ruangan pak Reynand dan muncul kembali kenangan saat aku bekerja disini. Dua kali bekerja dengan waktu tersingkat lalu terpaksa berhenti.


"Adam akan mengikutiku ke tempat rapat. Kau bisa beristirahat di sini saja" Sejak tadi siang kuperhatikan, Adam selalu berada di dekatnya dan tidak mau lepas.


"Tunggu, jangan mengajak Adam pergi" Aku tidak rela melihat Adam lebih dekat dengannya hari ini. Apa juga, manfaat mengajak anak berumur lima tahun ke dalam rapat yang membosankan


Tapi Adam benar-benar menempel padanya, seperti tidak ingin ditinggal pergi. Pak Reynand kemudian memanggil Ayu ke dalam ruangan.


"Batalkan semua rapat hari ini dan aku tidak ingin diganggu" Katanya ada rapat penting dan sekarang dia membatalkannya. Apa tujuan sebenarnya mengajak kami ke perusahaannya?


Adam yang tidak mengerti apa-apa merasa senang teman bermainnya tidak jadi pergi. Aku duduk dengan kesal dan melihat ponsel.


Ternyata ada pesan dari Ni Luh, pemilik hotel telah menjual tempat bekerja kami pada pihak pengembang raksasa. Hilanglah mata pencaharianku, kemana lagi aku harus mencari pekerjaan di usia 30 tahun ini.


"Ada apa? Sepertinya kau mengalami masalah?" kata pak Reynand. Aku tidak tahu kalau dia memperhatikan karena sibuk bermain dengan Adam.


"Tidak ada masalah" sangkalku "Adam jangan merepotkan paman Evan" Aku berusaha mengajak Adam untuk menjauh dari pak Reynand.


"Aku tidak keberatan, lebih baik kau mengatasi masalahmu dan Adam akan bermain denganku" Kesal sekali melihat wajah menangnya, Adam juga tidak mau bersamaku.


Lebih baik aku menghubungi Ni Luh dan mencari kabar tentang nasib pekerjaan kami. Mungkin saja pihak pengembang raksasa itu memiliki kebijakan untuk mempekerjakan pegawai dari tempat yang mereka hancurkan.


Tapi pembangunan hotel baru yang rencananya akan sangat besar dan mewah itu sepertinya membutuhkan waktu lama. Tidak mungkin kami, para pegawai yang dirumahkan sanggup menunggu.


Setelah mendapat kabar simpang siur dari Ni Luh, aku mengawasi penjualan toko cake. Apabila pemasukan bulanan toko tetap seperti sekarang, maka aku tidak perlu mencari pekerjaan baru. Tapi akan sangat menguntungkan kalau aku bisa bekerja di tempat lain dengan cepat.


.


.


.


"Lihat, ibumu tertidur" Evan menunjuk Anna yang tertidur di sofa kantor pada Adam.


"Ibu harus membantu kakek dan nenek membuat roti tadi pagi" lapor Adam pada Evan. Adam mengambil pensil dari tangan Evan dan kembali menggambar. Dia sangat senang bermain dengan orang lain selain ibu, kakek dan nenek.


Evan menurunkan Adam dari pangkuannya dan mendekati Anna. Wajah Anna ketika tertidur sangatlah cantik dan tanpa sadar Evan mencium bibir mungil Anna.


"Kenapa paman mencium ibu?" Evan benar-benar lupa kalau Adam bersamanya. Pasti dia merasa aneh melihat seorang pria tiba-tiba mencium ibunya.


Evan menarik Adam ke dalam jangkauannya dan menjawab dengan serius. "Karena paman sangat mencintai ibumu" Adam terlihat curiga pada paman yang baru dikenalnya selama dua hari.


Kemarin malam dia melihat ibu dan paman ini berpelukan. Setelah melihat paman ini memiliki mata yang sama dengannya, Adam merasa aneh. Tapi paman ini seenaknya saja mencium ibunya, Adam merasa kesal.


"Paman ini sebenarnya siapa?" Evan merasa terkejut mendengar pertanyaan itu dari anaknya sendiri.


"Paman adalah teman ibumu" Lebih baik Evan mendekati Adam secara perlahan, karena tidak ingin salah langkah.


"Apakah paman ayahku?" Adam memang anak yang pintar. Dia pasti tahu karena melihat kemiripan antara kami. "Kata ibu, ayahku sudah pergi lama sekali dan aku ditinggalkan bersama ibu" lanjut anak berumur 5 tahun ini.


"Sepertinya Ibumu sangat membenciku" Evan tertawa mendengar kejujuran Adam. "Apakah kau senang kalau memiliki ayah?" tanya Evan.


"Tentu saja. Bu Guru selalu bilang kalau ayah akan melindungi keluarganya tapi aku tidak punya" kata-kata Adam membuat Evan merasa sangat bersalah pada kedua orang yang sangat disayanginya.


"Paman akan menjadi ayah Adam secepatnya. Apakah kau mau menjadi anak paman?" Adam melihat ibunya yang sedang tertidur lalu menjawab "Tidak perlu, ibu berkata kami akan baik-baik saja walaupun tanpa ayah" Wajah ceria yang ditunjukkan Adam setelah bicara seperti itu membuat Evan sedih.


Sebesar apa penderitaan yang harus diderita Anna sampai dia berkata seperti itu pada anaknya. Dia pasti harus berjuang keras untuk menjadi seorang ibu yang kuat.


Evan berbaring di depan Anna yang sedang tertidur. Dia memeluk perempuan yang dulu selalu memintanya untuk memilikinya itu. Tidak pernah Evan sangka, perempuan itu berubah menjadi seorang ibu yang sangat hebat untuk anaknya.


"Maafkan aku membuatmu menjadi seperti ini. Aku pasti akan membuatmu kembali mencintaiku lagi dan kita bertiga akan hidup bahagia" Evan mencium kening Anna dan mempererat pelukannya.


Dia tidak tahu kalau perempuan yang ada di pelukannya sudah bangun dari tadi dan mendengar semuanya. Kata-kata Evan membuka semua kenangan pahit yang ingin dilupakan Anna. Waktu tidak dapat diputar kembali dan semua rasa sakit karena penolakan Evan membuat Anna tidak bisa percaya dengan semua kata-kata yang didengarnya.