
"Aku berangkat"
Hari ini adalah pertama kalinya aku masuk kerja setelah cuti selama satu minggu. Tapi ada sesuatu yang berbeda kali ini. Bukan karena pakaian atau yang lainnya, tapi perasaanku telah terselesaikan untuk pak Reynand. Seminggu yang lalu, dia kembali menolakku dengan sangat jelas dan membuat aku menyerah.
Butuh waktu untuk menerima kenyataan bahwa aku selalu menjadi wanita yang tidak dicintai oleh pria. Dan hal itu menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepalaku. Apakah aku wanita yang tidak menarik? Apakah aku terlalu mendesak pria yang kucintai, sehingga mereka semua kabur.
"Selamat pagi, Pak" sapaku pada Kepala Bagian yang berada di dalam ruangannya. Semua pegawai bagian logistik sepertinya berada di dalam perusahaan hari ini.
"Anna, satu minggu aku tidak melihatmu. Apakah ayahmu baik-baik saja?" tanya Kepala Bagian.
"Iya, ayah baik-baik saja setelah operasi pemasangan ring di jantungnya. Apakah cuti saya menimbulkan masalah?" Ada yang aneh dengan ruangan ini. Meja yang sebelumnya kupakai, telah hilang entah kemana.
Kepala Bagian menyuruhku untuk duduk dan tenang, aku mulai curiga dengan perilakunya yang sangat berbeda dengan biasanya. "Kau dipindahtugaskan kembali" kata Kepala Bagian dengan menunduk.
"Kemana?" Aku sudah menduganya, pemilik perusahaan ini pasti sangat membenciku dan berusaha memecatku dengan alasan cuti yang tidak seharusnya.
"Ruang Presiden Direktur"
Mendengarnya, membuatku merasa sangat heran. Presdir telah menerima sekretaris baru setelah aku pergi dan sepertinya dia juga tidak memecatnya. Lalu, pekerjaan apa yang akan kulakukan di ruangan presiden direktur. Ketiga kalinya aku pergi ke ruangan kepegawaian untuk menerima surat pindah tugas, mereka sepertinya juga merasa heran dan curiga denganku.
Di surat pindah tugas, tertulis jelas bahwa aku akan bekerja di ruangan presdir, tapi tidak terdapat jabatan yang akan kutempati. Kalau ini hanyalah gurauan, maka aku siap untuk meletakkan surat pengunduran diri di hadapannya.
Akhirnya aku kembali ke lantai paling atas di perusahaan ini. Tidak tahu yang harus dilakukan, aku berdiri tepat di depan meja sekretaris pak Reynand. Di samping mejanya, terdapat meja kosong yang penuh dengan berkas. Dia pasti sangat sibuk sehingga tidak bisa menyelesaikan arsip berkas-berkas itu.
"Camelia Anna Hamid, Pak Presiden Direktur menunggumu di dalam" Tidak ada hal yang aneh dengan sekretarisnya, dia cantik, muda dan pandai. Dan tidak ada rumor jelek tentangnya diantara kelompok penggemar pak Reynand, aku bertanya-tanya dalam hati tentang pekerjaan yang akan kulakukan di ruangan ini.
"Selamat pagi, Pak" Aku menyapa dua atasan dalam satu jam kerja. Tragis sekali nasibku kembali bertemu dengan pria ini. Dia berada di balik kursi kebesarannya dan aku melihat-lihat ruangannya yang tidak berubah..
"Selamat pagi" jawabnya tanpa berbalik. Aku akan sangat membencimu kali ini, tidak akan kubiarkan perasaan suka itu tumbuh kembali di hatiku hanya karena melihat dan berdekatan denganmu.
"Kepala Bagian Logistik menugaskan saya kembali ke ruangan Presdir" Sekretarisnya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memberikan berkas di meja atasannya lalu tertawa melihat aku berdiri jauh.
"Aku yang menugaskanmu kembali, aku adalah Presiden Direktur dan pemilik perusahaan ini" katanya mengoreksi perkataanku. Kau pikir aku tidak tahu hal itu, dasar pria jahat.
Aku melihat ke arah sekretarisnya dan merasa sangat malu untuk mengatakan sesuatu, tapi aku tetap harus melakukannya. "Apakah pak Reynand merasa terbebani dengan adanya saya di perusahaan ini. Karena saya dapat mengundurkan diri" Aku menunduk tidak berani melihat reaksi sekretarisnya, karena perkataanku.
Kudengar pintu terbuka lalu tertutup kembali dengan cepat, aku mengangkat kepala dan berhadapan dengan pria ini. "Jadi kaupikir, aku tidak profesional dalam bekerja?" Pasti aku salah paham tentang penugasan ini. Pertanyaannya kujawab dengan menggelengkan kepala.
"Ayu, sekretarisku yang sangat cantik, merasa kelelahan menangani semua pekerjaannya selama ini. Aku tidak tega melihat wajah cantiknya menjadi sangat buruk setiap harinya. Karena itu aku memanggilmu untuk menangani sebagian besar pekerjaannya" kata-katanya sangat tajam menembus hatiku.
"Apakah saya memiliki kesempatan untuk mengajukan surat pengunduran diri?" Aku memberanikan diri untuk pergi saja dari perusahaan ini daripada disiksa, melihat wajahnya setiap hari.
"Aku tidak akan pernah menyetujui pengunduran dirimu. Karena aku akan membuat kau tidak bisa bekerja dimanapun setelah berhenti. Bahkan di toko roti ayahmu sendiri" Sekarang dia mengancamku.
"Tugasmu adalah membangunkan aku di pagi hari, menyiapkan semua keperluanku, mengikutiku kemanapun aku pergi dan mengantarkan aku pulang di malam hari. Garis besarnya adalah kau menjadi bayanganku" lanjutnya menjabarkan semua pekerjaan yang akan aku lakukan nantinya.
"Tapi Anda memiliki pak Graham sebagai bayangan, untuk apa memiliki dua bayangan?" tanyaku.
"Graham akan menjadi pengawal yang setia, dia adalah tangan kananku dan bukan bayangan. Kaulah yang seharusnya menjadi bayanganku" Kesal sekali aku melihat wajahnya saat ini. "Sekarang kau harus mengikutiku ke suatu tempat" Dia menelepon seseorang dari ponselnya dan keluar dari ruangan. Sepertinya aku harus mengikutinya mulai dari sekarang, bila tidak ingin lebih merasa bersalah pada orang tuaku.
Sekretaris cantik di depan ruangan itu tidak mengikuti atasannya pergi dan tersenyum melihatku aktif bekerja hari ini juga. Dia pasti merasa sangat senang aku akan membantu pekerjaannya. "Kita akan pergi kemana, Pak?" tanyaku saat kami berada di dalam lift yang sama.
"KIta akan melakukan sesuatu padamu, agar kau terlihat layak berada di sisiku nantinya" jawabnya tanpa memperlambat langkahnya. Aku harus berlari mengerjarnya ke lobi perusahaan dan melihat mobil pak Reynand telah siap. "Naik!" Dia memerintahkan aku untuk naik ke dalam mobil sport Jerman kesayangannya. Dengan ragu, aku masuk ke dalam lalu memasang sabuk pengaman dan duduk terdiam.
Kami berkendara cukup jauh dari perusahaan, dan waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Perlahan mobil mengurangi kecepatan di depan sebuah pusat perbelanjaan. Dia menyuruhku turun dan mengikutinya lagi ke dalam mall yang sangat luas ini. Dia masuk dengan cepat ke dalam sebuat toko pakaian wanita dan menarikku. Aku melepas tangannya dengan kasar dan menunjukkan raut muka tidak suka.
" Pak Evan Reynand, Sungguh kehormatan untuk kami hari ini, Anda menyempatkan datang ke dalam toko kami." Mall ini adalah milik Reynand Property, tentu saja semua yang ada di dalam pusat perbelanjaan ini akan menghormatinya secara berlebihan. Manajer toko pakaian terkenal itu melihatku yang tersembunyi di belakang tubuh kekar pak Reynand.
"Aku ingin membeli semua baju di dalam toko ini yang sesuai dengan ukuran tubuhnya" Semua pegawai toko terutama manajernya sangat terkejut dengan yang dikatakan pak Reynand. tentu saja sebagai subyek yang dibicarakan, aku merasa lebih kaget dari semua orang disini.
"Saya memiliki baju kerja baru yang tidak kalah bagus dengan semuanya, kenapa saya harus membeli pakaian disini?" tanyaku heran.
"Kau adalah asistenku, setiap bagian tubuhmu adalah perwakilan bagaimana aku terlihat di depan publik. Dengan selera rendahan dan uang terbatas milikmu, kau tidak akan dapat mencerminkan seorang boss tampan dan kekar sepertiku" ucapan panjang lebarnya memang ditujukan untuk menyakiti hatiku.
Ada dua orang pegawai perempuan membantuku pergi ke dalam ruang pas dan mulai membawa satu-persatu baju yang bisa didapatkannya.