My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 26. Ada Apa Dengannya 3



Saat aku merasa pasti akan dimarahi, dia mendekat dan tidak berkata apapun. Aku melihatnya dan terkejut dengan yang dilakukannya saat ini. Dia berlutut dan melihat kakiku, aku merasa tidak nyaman dan melangkah mundur.


"Kakimu akan sangat sakit kalau kau berlari menggunakan hak sepatu setinggi itu" Sepatu ini memiliki hak setinggi 5 cm. Dan aku merasa sangat nyaman memakainya, kenapa dia memperhatikan sepatu dan kakiku secara tiba-tiba.


"Ketika tiba-tiba dia berdiri, aku melihat keringat yang menetes di lehernya. Aroma keringatnya masuk ke dalam penciumanku dan aku merasakan detak jantungku menjadi terlalu kencang.


"Selamat pagi, Pak. Maafkan saya karena datang terlambat hari ini. Saya akan pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi lain kali" kataku dengan napas yang masih terlalu cepat. Dia berbalik masuk ke dalam rumah dan aku mengikuti mengikutinya.


"Aku akan pergi mandi" Dia masuk ke dalam kamarnya dan aku mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan kaki. Ini hari kedua menjadi asistennya dan aku baru saja memulai hari. Tak bisa kubayangkan melakukannya dalam jangka waktu lama.


Terdengat suara ketukan lalu satu persatu pelayan rumah keluarga Reynand masuk ke dalam rumah dan menyajikan makan pagi untuk tuan mudanya. Sangat menyenangkan menjadi anak orang kaya, mereka hanya perlu bekerja dan melakukan segala sesuatu sesuai keinginan. Ada banyak orang yang akan melakukan urusan rumah lainnya.


"Tuan muda" Mereka memberi hormat pada pria yang keluar dari kamar dengan setelan jas lengkap. Tidak ada kata terima kasih yang terucap dari pak Reynand, para pelayan itupun kembali keluar dari pintu belakang. Dasar pria sombong, begitu berat mulutmu mengucapkan sesuatu pada orang-orang yang membantumu.


"Apakah begitu menyenangkan melihatku?" katanya dengan menikmati makan paginya. Aku tersadar dan mengalihkan mataku pada lukisan yang berada di dinging rumahnya. Terlalu percaya diri sekali pria ini, mengira aku mengagumi ketampanannya.


"Minggu depan pak Reynand akan mengajak berapa orang untuk pergi ke Eropa?" Dia melayangkan pandangan tajam padaku. Apakah aku melakukan kesalahan lagi?


"Panggil semua pegawai desain dan kepala bagian mereka ke dalam ruang rapat hari ini!" Aku mencatat di agenda dan tidak lupa meminta nomor KaBag Desain pada Lia. Semoga semua pegawai desain berada di dalam perusahaan hari ini, kalau tidak pak Reynand akan marah lagi padaku.


"Kita pergi sekarang" Aku tidak melihat dia menyelesaikan makanannya, sangat tidak menghargai usaha orang lain yang menyiapkan makanannya. Aku mengikutinya di belakang dan melihat city car berwarna putih di depan rumahnya.


"Naiklah" perintahnya lalu membuka pintu pengemudi. Aku buru-buru menghalanginya masuk dan membuka pintu penumpang di belakang.


"Pak Reynand adalah seorang Presdir dan saya yang akan mengendarai mobil ini ke kantor selagi pak Graham berada di luar negeri" Dia terlihat merasa kesal karena kelakuanku.


"Karena aku adalah bos untukmu, maka tidak ada alasan bagimu untuk melarang segala keinginanku" tegasnya membuat nyaliku menciut. Padahal aku tidak ingin orang lain memandang kami aneh. Seorang penerus Reynand Property memberi tumpangan pada pegawainya.


Aku menyerah dan memberinya tempat pengemudi lalu masuk dari arah yang berlainan. Perjalanan ke perusahaan berjalan sangat hening karena tidak ada satupun dari kami yang berbicara.


Sesampainya di perusahaan, Ayu telah menunggu dengan beberapa laporan yang harus ditanda tangani pak Reynand dan memberikannya padaku. Aku curiga penerimaanku sebagai asisten pribadi membuatnya sangat senang.


"Siapkan semuanya untuk perjalanan ini dengan baik. Dan ... di Italia, pesankan hotel terpisah untukku." Aku tahu tujuannya memesan hotel lain saat kami berada di Italia. Freya pasti akan datang dan membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Entah kenapa dadaku merasa sangat sakit seperti tertekan seuatu yang berat.


"Kau memesan tiket bisnis hanya untuk pak Reynand, sedangkan kau dan yang lain akan menempati bagian ekonomi?" Aku mengangguk menjawab pertanyaan Ayu. Tidak mungkin kami akan berada di kelas yang sama dengan pak Reynand.


Aku masuk ke dalam ruangan pak Reynand dan memberikan laporan keperluan perjalanan dinas hari Selasa minggu depan. Dia menandatangani semuanya tanpa memeriksa kembali dan aku keluar dari ruangannya.


"Apakah pak Reynand menyetujui semuanya?" tanya Ayu membuatku semakin curiga.


"Ada sesuatu yang salah dengan ini?" Pasti ada sesuatu yang salah, tapi Ayu tidak berkomentar apapun dan melanjutkan pekerjaannya.


Pekerjaanku berjalan dengan lancar sampai akhir minggu dimana aku seharusnya libur. Tapi panggilan pak Reynand membuatku berangkat ke rumahnya setelah aku membantu pekerjaan kasir di toko roti ayah.


"Apa yang Anda maksud pindah?" Aku melihat banyak sekali pekerja berada di rumah pak Reynand, mereka memindahkan banyak sekali kotak besar dan meletakkan di dalam truk.


"Kau ikut denganku" Dia menarik tanganku ke dalam mobilnya lalu melaju ke arah perusahaan. Apartemen baru milik Reynand Property berada disini dan kami masuk ke dalam tempat parkirnya.


Ketika masih merasa bingung, dia memintaku turun dan kami pergi ke lantai paling atas apartemen baru ini. Tampak beberapa kotak yang sama seperti di rumah pribadi pak Reynand dan pekerja yang menyelesaikan dekorasi rumah. "Hari Senin besok dan seterusnya, aku akan berada di apartemen ini. Kau tidak perlu datang lagi ke rumah pribadiku" katanya.


Aku merasa sangat beruntung saat ini, tidak perlu lagi berlari dan berjalan jauh untuk mencapai rumahnya. "Apa yang kaulakukan dengan berdiri disana?" Kini aku merasa bingung dengan kata-katanya.


"Bantu para pekerja itu menyusun bajuku di ruang ganti dan jangan pergi sebelum semua pekerjaan disini usai." ucapnya lalu pergi keluar dari apartemennya sendiri.


Seharusnya aku menghabiskan waktu di toko roti ayah atau tempat tidur hari Sabtu ini. Tapi disinilah aku berada bersama begitu banyak kemeja, celana, setelan jas dan pakaian dalam bosku. Sungguh sial bertemu pria itu sebagai orang yang mempekerjakanku.


Perlahan-lahan aku menata semua pakaiannya berdasarkan warna lalu beberapa pekerja memanggilku untuk memberikan kardus berisi sepatu yang sangat banyak. Aku akan pulang malam, hari ini. Semoga aku bisa menyelesaikan semuanya dan pulang lebih cepat.


Tepat pukul 8 malam, akhirnya aku menyelesaikan semuanya dan membuat rumah ini bersih. Dengan berbagai perabotan mahal itu, aku tidak dapat bekerja sembarangan.


Merasa lelah dan lapar, aku duduk di salah satu sofa hitam yang ditempatkan di ruang tengah. Apartemen seluas 250 meter persegi dengan dua kamar tidur telah siap ditinggali oleh pria itu. Tidak ada tanda-tanda kedatangan pria itu lagi dan aku bisa menutup mataku untuk sementara.