My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 35. Caranya Mencintai 2



Aku tidak tahu, apakah semua ini hanya mimpi. Ibu membangunkanku pagi hari dan pria yang memelukku semalam tidak ada. Mungkin semua hanyalah mimpi karena aku sangat ingin bertemu dengannya.


"Tadi dokter memeriksamu, dan katanya kau akan baik-baik saja. Mungkin tiga hari lagi, kau boleh pulang ke rumah. Aku mengangguk dan pergi ke arah kamar mandi dengan menahan rasa sakit. Tidak akan lama lagi, suster akan membawakan obat penahan rasa sakit dan aku akan sembuh.


Setelah makan pagi, ibu mrngajakku berjalan-jalan ke arah taman untuk menghirup udara segar. Ketika aku bertanya tentang mas Dimas, tidak ada jawaban yang diberikan oleh ibu. Aku benar-benar harus berbicara pada pak Arman, untuk mengetahui semua kebenarannya.


Sekitar jam makan siang, ibu pergi ke arah kantin dan aku berkesempatan menghubungi pak Arman. "Pak Arman, maaf kalau saya mengganggu" kataku ketika dia mengangkat teleponnya.


"Anna, senang sekali berbicara denganmu. Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu?" Kelihatannya pak Arman tidak mengetahui tentang kejadian yang melibatkan aku dan mas Dimas semalam. Sebaiknya aku bertemu dengannya di luar rumah sakit.


"Bisakah kita bertemu?" Aku menyebutkan tempat minum kopi yang memiliki pemandangan pusat kota, dan dia menyetujuinya. Kami akan bertemu nanti malam sekitar pukul 8 malam. Aku harus bisa memberi alasan agar ibu tidak menunggu di sini malam ini.


Hari berlalu dengan tenang dan suster telah menyelesaikan pemeriksaan terakhir sebelum pukul 7 malam. Aku berhasil meyakinkan ibu untuk membiarkan aku sendirian lagi malam ini. Karena aku tidak diberikan cairan infus dari tadi sore, maka pelarianku akan semakin mudah.


Aku berganti pakaian dan keluar dengan tenang. Lukaku tertutup pakaian dan orang yang melewatiku tidak akan pernah tahu bahwa aku adalah salah satu pasien di rumah sakit ini. Tiga puluh menit lagi waktu janjiku dengan pak Arman dan aku melaju menaiki taksi.


Ternyata pak Arman sudah menunggu di tempat yang kami tuju dan dia memesan es kopi manis untukku.


"Maafkan saya terlambat" Aku menyapanya dengan cepat dan duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Aku juga baru datang, tapi wajahmu terlihat pucat, apakah kau tidak apa-apa?" Ah ini pasti karena aku tidak sempat merias wajah ketika memutuskan pergi tadi. Aku menggeleng dan tersenyum lalu menyesap es kopi yang dipesan pak Arman.


"Saya ingin menanyakan sesuatu pada pak Arman" kataku membuka pembicaraan.


"Tentang Evan?" Dia seperti membaca pikiranku dan aku mengiyakan.


"Kau ingin tahu tentang kisahnya dengan Freya atau rasa sukanya padamu?" Saat aku mendengar kata-kata pak Arman, hatiku menjadi tidak tenang. Jadi pak Reynand sebenarnya menyukaiku?


"Ternyata kau tidak tahu. Tentu saja karena Evan selalu menarik dan melemparmu lagi. Iya kan?" Memang karena itulah aku ragu apakah dia benar-benar menyukaiku atau tidak.


Kemudian pak Arman menceritakan awal kisah cinta antara pak Reynand dan Freya. Dari ceritanya, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa Freya tidak suka dengan sifat pak Reynand yang membatasi geraknya. Lama kelamaan rasa cinta itu berubah menjadi kesal dan Freya memutuskan untuk meninggalkannya.


Segala cara dilakukan pak Reynand ketika mengetahui Freya menduakannya termasuk menghancurkan semua usaha keluarganya. Termasuk perusahaan pria yang menjadi selingkuhan Freya. Aku merasa agak terkejut dan berpikir bahwa yang dikatakan mas Dimas tentang kehancuran usaha keluarganya adalah karena aku, itu benar.


Aku menarik napas panjang setelah pak Arman menceritakan segalanya tentang masa lalu pak Reynand. Tapi aku masih belum tahu, alasan dia selalu mendorongku menjauh darinya kalau memang dia menyukaiku.


"Tentu saja karena dia takut menyakitimu seperti Freya. Dia tidak ingin kau kabur setelah menjadi miliknya. Lalu dia akan secara terpaksa menghancurkanmu dan keluargamu." Aku melihat pak Arman dan mencoba memahami semua perkataannya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Aku mendengar suara itu tepat di belakangku dan menatap wajah takut pak Arman.


"Aku diajak oleh Anna minum kopi, kami sudah lama tidak bertemu karena aku sibuk keluar negeri. Kau tahu kan?" ucap pak Arman berusaha meredam kemarahan sahabatnya. Dia tahu Evan sangat tidak suka, wanitanya keluar dengan laki-laki lain.


"Apa yang kau lakukan disini dan bukan di rumah sakit?" Aku sudah merasa dia bertanya padaku dan bukan pak Arman.


"Rumah sakit? Apa kau sakit, Anna? Pantas saja wajahmu pucat dari tadi" Wajah pak Arman berubah menjadi khawatir.


"Iya, tidak apa-apa. Ini karena saya tidak sempat memakai riasan sebelum keluar" Aku bsrusaha menghibur diriku sendiri sebelum menghadapi pria besar di belakangku.


Aku berdiri lalu berbalik untuk melihat wajahnya dalam gerak yang sangat lambat karena takut. Tapi aku tidak melihat wajah mengerikan yang kubayangkan. Dia terlihat benar-benar mengkhawatirkan aku.


"Apa pak Reynand ke rumah sakit malam ini seperti kemerin malam?" Aku hanya ingin memastikan tidak sedang bermimpi kemarin malam.


"Apakah lukamu baik-baik saja?" Dia menyentuh bahuku dengan lembut dan membuat semua mata memperhatikan kami. Pak Arman maju untuk menghalangi beberapa orang yang mengeluarkan ponsel mereka.


"Sebaiknya kalian pergi sebelum membuatku iri" usir pak Arman. Pak Reynand membawaku pergi dari kafe dan meninggalkan temannya sendirian. Ternyata dia membawa pak Graham bersamanya untuk mencari keberadaanku.


"Saya tidak ingin kembali ke rumah sakit" kataku yakin. Pak Graham membuat kecepatan mobil menurun dan menunggu perintah tuan mudanya.


"Bawa kami ke apartemen" Setelah pak Reynand memberikan perintah, pak Graham tanpa ragu melaju mengantarkan kami dengan cepat.


Aku sedikit tidak tenang ketika berjalan di lobi apartemen dan bertemu dengan sebuah keluarga pemilik apartemen, satu lantai di bawah kamar pak Reynand.


Tapi mereka tidak berbicara apapun pada pak Reynand dan aku mengikutinya dalam diam. Ketika masuk ke dalam apartemen, aku mengingat bagaimana Freya dan dia berada di dalamnya dan tidak tahu apa saja yang mereka lakukan sebelum aku datang pagi itu.


"Duduklah" Dia menunjuk sofa berwarna abu-abu yang berada di depan tv, tempatku hampir tertidur waktu aku menata apartemen ini.


Aku duduk tanpa membantah dan dia masuk ke dalam kamarnya. Tidak tahu untuk apa. Aku menunggu lama sekali dan dia keluar dari kamar dengan baju santainya. Apakah berganti pakaian memerlukan waktu selama itu? tanyaku dalam hati.


Dia memakai kaos putih dan celana rumahan panjang berwarna abu-abu, membuat kakinya terlihat sangat panjang.


"Apakah kau ingin makan sesuatu?" Akhirnya dia bertanya padaku setelah membuatku menunggu lama.


"Tidak, ini sudah terlalu malam untuk camilan dan saya sudah kenyang" jawabku tidak membuat suasana di sekitar kami membaik.