My Boss Be Mine

My Boss Be Mine
Bab 18. Perasaan Evan yang Sebenarnya



Evan tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.


Bertemu pertama kali dengan Anna di pantai, tanpa pikir panjang, Evan menciumnya dengan paksa. Terkejut karena diterima, Evan semakin memperdalam ciumannya. Ketika ciuman itu berubah menjadi sesuatu yang lain, sepertinya Evan tidak dapat menghentikan dirinya. Untunglah semua tidak berakhir seperti yang diinginkan Evan malam itu.


Evan sangat terkejut mendengar Graham menyebut bahwa perempuan yang ditemuinya di pantai berada di dalam daftar calon sekretarisnya. Sisi lain Anna yang dilihatnya di perusahaan membuatnya semakin menarik. Evan hanya ingin menaklukkan Anna di ranjang dan memilikinya seutuhnya.


Tapi melihat Anna di klub malam, membuatnya sangat marah. Memakai pakaian mini yang memperlihatkan tubuhnya, membuat Evan tidak pernah merasakan amarah yang sama sebelumnya.


Kemarahan itu menumpuk ketika melihat Anna selalu bisa membuat para pria di sekitarnya tertarik dan merasa nyaman. Karena itu Rvan tidak mau memilikinya lagi saat Arman membubuhkan obat di minumannya.


Mengirimnya ke tempat lain ternyata tidak meredam amarah yang ada di hati dan kepalanya. Evan berakhir menyakiti hati Anna di pesta semalam.


Anna ... Anna ... Anna ...


Tidak ada yang lain di dalam pikirannya. Anna menguasainya hanya dalam satu bulan dan evan tidak dapat mengeluarkan Anna dari dalam pikirannya


Saat ini, melihat perempuan yang disukainya menangis karena pria lain membuatnya semakin marah.


.


.


.


Lama sekali aku menangis siang ini. Rasanya mataku akan membengkak saat berangkat bekerja besok.


"Makanan sudah datang. Sebaiknya kau hapus air matamu dan makan" Suara pak Reynand membuatku terkejut dan aku dengan cepat menghapus sisa air mata di pipiku.


"Lebih baik Saya pergi sekarang" Aku berdiri dan pergi ke arah pintu keluar. Sekali lagi tangan itu menarik lenganku dan tidak membiarkan aku pergi.


"Makanlah terlebih dahulu. Dan rapikan riasanmu di kamar mandi" ucapan Pak Reynand semakin membuatku malu. Aku mencari kamar mandi lalu masuk ke dalamnya untuk melihat wajahku di cermin.


Tidak terlalu buruk.


Aku keluar dari kamar mandi dan melihat semeja penuh makanan di depanku. Memangnya dia pikir aku rakus, bisa menghabiskan makanan sebanyak ini.


"Makanlah!" perintah pak Reynand. Ada beberapa pelayan berpakaian putih hitam di belakangnya. Apakah dia memanggil pelayan untukku?


Tidak mungkin, pasti aku terlalu berimajinasi.


Aku duduk di hadapannya lalu mengambil garpu yang disediakan. "Tapi Saya tidak makan sebanyak ini" ucapku agak takut.


"Aku tidak memintamu memakan semuanya" Kesal sekali mendengar jawabannya.


Aku mulai mengambil salad yang berada tepat di depanku dan memakannya. Wajah pak Reynand terlihat senang aku mengambil salad untuk pilihan pertama.


"Apakah Pak Reynand tidak makan?" Aku tidak melihat dia mengangkat alat makannya sama sekali. Tidak ada jawaban selagi aku menunggu. Sepertinya dia memang tidak mau makan bersamaku.


"Kau perlu protein di dalam makananmu" Dia memberikan sepotong daging yang dipotongnya.


Apabila aku makan daging yang diberinya, apakah dia akan salah paham sekali lagi padaku?


"Apa maksud dari semua ini?" tanyaku serius. Aku tidak ingin terlarut dalam sebuah perasaan dimana hanya aku yang bahagia.


"Pak Reynand tidak perlu melakukan hal ini untuk pegawai seperti Saya. Apalagi kita tidak memiliki hubungan yang baik" Aku berhenti makan dan hanya melihatnya.


"Graham akan datang kemari dan mengantarmu pulang" Pak Reynand berdiri lalu pergi ke arah taman belakang.


Aku berdiri dan melangkah ke arah belakangnya. Mungkin sekarang adalah saat terakhirku dapat melihat dan menyentuhnya.


Perlahan aku mendekati punggungnya dan memeluknya dari belakang. Aroma ini sangat kukenal dengan baik, tapi tidak akan bisa kuhirup lagi. Dia bahkan tidak berbalik dan melihatku.


Aku melepas pelukanku dan berjalan keluar dari rumah. Saatnya untuk pergi dan melepas semua perasaanku padanya. Bila tidak, akan terlalu sakit untukku. Pak Graham datang di waktu yang tepat untuk mengantarku pulang.


Dua bulan berlalu ketika aku menyelesaikan perasaanku pada pak Reynand. Kami tidak pernah bertemu lagi, dan aku menghindar dari segala acara atau pesta yang Manda sarankan padaku.


"Anna, apa kau tahu kalau Pak Reynand mempunyai kekasih baru?" kata Lia. Aku membuka hati dan mendapat teman baru di perusahaan. Seorang pegawai baru di bagian desain. Ruangannya berada di sebelah bagian logistik.


"Benarkah? Aku tidak terlalu mengikuti kabar di perusahaan" jawabku. Lia adalah satu dari kelompok penggemar pak Reynand di perusahaan.


"Kabarnya wanita itu adalah sekretaris Presdir kita. Sampai sekarang belum diketahui bagaimana wajahnya" Darimana kelompok penggemar ini mendapatkan kabar secepat ini?


"Apakah semua itu benar? Kalian tidak tahu kalau itu hanyalah kabar tidak berdasar" Rasa penasaran memenuhi benakku.


Tidak mudah menghilangkan perasaan pada seorang Evan Harold Reynand. Mungkin takdirku adalah berada di kelompok yang sama dengan Lia.


Aku kembali ke ruangan setelah beristirahat dan mendapati tidak ada orang selain aku disini. Kepala Bagian pergi dengan dua orang ke tempat proyek dijalankan. Pasti mereka tidak akan kembali ke perusahaan hari ini.


Bekerja di saat sendirian membuatku sangat bosan. Para pria di ruanganku selalu sibuk membicarakan sesuatu seperti anak, istri, pendidikan dan gaji. Mereka berisik dan membuatku tidak kesepian.


Aku menyalakan lagu di laptop dan kembali bekerja. Matahari menyinari punggungku di sore hari dan membuat rasa kantuk menyerang tiba-tiba.


Mataku terasa berat dan kepalaku semakin terjun bebas dari tempatnya semula. Aku tertidur di meja dengan laptop yang menyala.


Ketika aku bangun, Lia berada tepat di depanku dan mengusik laptopku.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku dengan suara berat.


"Aku mematikan laptopmu seperti perintah seseorang" Aku bertanya-tanya siapakah yang memberikan perintah pada Lia. Tapi aku tidak perlu khawatir karena Lia akan menceritakan semuanya padaku.


"Apakah kau punya hubungan dengan Presdir kita?" Pertanyaan aneh dari Lia untukku.


"Hubungan apa? Aku pernah menjadi sekretarisnya selama 2 bulan. Apakah hubungan semacam itu?" jawabku.


"Benar-benar tidak ada yang lain selain itu?" Aku mengangguk santai mendengar pertanyaannya.


"Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu? Kini aku penasaran dengan rasa ingin tahu Lia.


Lia adalah rekan kerja yang baik. Kekurangannya adalah terlalu ingin tahu dan tidak dapat menjaga rahasia.


"Aku tahu kau tidak punya teman di ruangan sore ini. Ketika aku masuk ke dalam ruanganmu untuk menemani, ada sosok besar duduk tepat di depanmu yang sedang tidur. Ternyata dia adalah Presdir" kata Lia bersemangat.


Lia melanjutkan "Dan aku melihat tangannya membelai rambutmu yang terurai di atas meja. Wajahnya terlihat seperti merindukan seseorang ketika melihatmu tidur. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Presdir kita?" Lia semakin ingin tahu.


"Tidak tahu" Aku membereskan barang dan bersiap pulang. Sejenak berpikir, mungkin Lia salah melihat atau sejenisnya. Tidak mungkin ptia itu mendatangi ruangan ini hanya untuk aku.