
Mendengarnya mengusirku merupakan hal yang menyakiti hatiku. Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, tapi kata-kata kasar selalu terucap dari mulutnya untukku.
"Terima kasih tidak memecat Saya" kataku lirih. Aku membawa sisa harga diriku keluar dari rumahnya.
"Graham akan mengantarmu pulang" Terdengar suaranya mengikutiku ke depan rumah.
Aku berjalan menjauh dari rumah itu dan tidak berbalik lagi. Pagi ini mungkin ayah dan ibu menghajarku, tapi aku tidak akan berpikir itu buruk bagiku. Bertemu dengan pak Reynand adalah nasib buruk dalam hidupku.
Kemarahan ayah dapat diredam karena aku membuat alasan tidur di rumah Manda. Tentu saja aku harus mengirim pesan ke Manda dahulu sebelum mengatakannya pada ayah.
"Aku berangkat, Bu" Aku memeluk ibu sebelum keluar dari rumah.
Sampai di perusahaan, aku segera naik ke ruanganku dan membereskan semua barangku. Sebaiknya aku menyelesaikan semua tumpukan berkas ini sebelum pergi.
Pak Graham mengirim pesan bahwa tuan mudanya berangkat dari rumah. Berpura-pura tidak terjadi apapun, aku ke bawah untuk menyambutnya.
"Selamat pagi, Pak" aku memberi salam dengan pegawai yang lain. Aku berjalan tepat dibelakangnya dan diam.
Ketika kami berada di ruangan Presdir, aku menyerahkan agenda yang kubuat padanya. "Untuk hari ini, tidak ada jadwal keluar kantor untuk pak Reynand. Tidak ada rapat internal maupun rapat yang lain" Aku menunggu perintahnya.
"Aku akan membahas kepindahanmu dengan bagian kepegawaian hari ini. Mulai besok kau bisa bekerja di bagian yang lain" Dia sangat tegas dan tidak pernah basa-basi. Aku membencinya.
"Baik, Pak. Sekali lagi Saya meminta maaf atas kelakuan Saya dan terima kasih tidak memecat Saya" Aku keluar dari ruangan dan mulai mengerjakan tumpukan berkas yang ada di atas mejaku.
Akhirnya tumpukan berkas itu selesai kukerjakan sebelum waktunya makan siang. Aku merasa senang sekali lalu pergi untuk makan siang.
Kembali ke ruanganku setelah makan siang membuatku lega. Perut kenyang, pikiranku menjadi tenang.
Terdengar suara pertengkaran dari dalam ruangan pak Reynand. Sepertinya itu suara temannya yang menjebakku. Pasti proposal kerja samanya ditolak sepertiku. Aku kembali ke meja dan mengerjakan sesuatu.
"Anna!" Pak Sanjaya keluar dari ruangan pak Reynand seperti habis melihat monster.
"Selamatkan aku dari amarah Evan yang meluap hari ini" Aku tidak memberikan reaksi terhadap akting buruknya.
"Saya tidak bisa membantu lagi. Karena mulai besok Saya tidak akan bekerja di tempat ini lagi" terangku membuatnya terkejut.
"Evan memecatmu?" Sepertinya sekarang dia tidak berakting lagi.
"Tidak. Hanya memindah Saya ke bagian lain" jawabku dengan tersenyum.
Pak Sanjaya terlihat terpukul mendengar kabar dariku. Sebaiknya memang begitu, kalau tidak aku akan memukul kepalanya.
"Apakah ada yang bisa kubantu? Kau terluka karena aku, dan sekarang kau tidak menjadi sekretaris Evan karena aku. Kalau ada yang bisa kubantu maka aku akan melakukan apapun" tawarannya terdengar menggiurkan tapi sebaiknya aku tidak mempercayainya.
"Aku akan menikahimu bila kau mau" Mataku melotot mendengar katanya kali ini. Aku tertawa keras setelah melihat wajahnya yang sungguh-sungguh.
"Kalau begitu" Aku mendekat ke arah telinga pak Sanjaya lalu membisikkan sesuatu.
"Tolong pastikan Saya dipindah di bagian terjauh dan tidak memiliki kesempatan bertemu dengan pak Reynand" bisikku
"Apa kau serius dengan keinginanmu?" jawabnya. Aku mengangguk dengan pasti. Tidak lagi bertemu dengan pak Reynand adalah keinginanku.
Berakhir juga pekerjaanku sebagai sekretaris hari ini. Tanpa melihatku, pak Reynand pergi dari perusahaan dengan mobil sportnya.
Dia berkata mulai besok, aku akan bekerja di bagian keuangan dan menjadi salah satu staff di sana. Aku menyerah pada keinginannya dan menerima penugasanku.
"Kenapa wajahmu menjadi jelek hari ini?" Aku pergi ke tempat Manda untuk menghibur hatiku. "Setelah kejadian seperti itu, seharusnya dia menendangmu keluar dari perusahaan!" Memang benar, semua adalah salahku.
Tidak seharusnya aku ke pantai dan bertemu dengannya malam itu. Menerima semua sentuhan dan kebaikannya membuatku terlena. Jantungku berdetak kencang saat bersamanya, tapi dia tidak.
"Seharusnya aku tidak pernah mengenal laki-laki dan hidup tanpa cinta selamanya" kataku sedih.
"Kau masih 25 tahun, banyak hal indah di dunia selain pria. Seharusnya kau menerima tawaran bibi untuk pergi berlibur" Ucapan Manda membuatku semakin terpuruk.
"Lebih baik aku pulang sekarang" Manda memelukku.
"Berjuanglah lebih keras lagi seperti dulu. Temanku bukanlah perempuan yang mudah menyerah dan sedih" kata-kata Manda ada benarnya.
Makan malam dengan orang tuaku lalu membantu ayah mempersiapkan adonan roti di toko sedikit menghiburku. Semoga mereka tidak pernah tahu tentang pekerjaanku yang mengalami masalah.
Esoknya, aku melapor ke bagian kepegawaian lalu mendapatkan surat pindah bagian yang ditanda tangani pak Reynand.
Tapi di dalamnya tertulis aku pindah ke bagian logistik bukan bagian keuangan. Sepertinya pak Sanjaya benar-benar memegang janjinya untuk membantuku.
Aku keluar dari bagian kepegawaian dan bertemu dengan pak Reynand. Sepertinya dia akan mengadakan rapat internal seperti yang tercantum di agenda. Aku membungkuk tanpa menyapanya.
"Anna" Dia memanggilku. "Aku tidak melihatmu di bagian keuangan" Apakah dia mencariku di ruangan bagian keuangan?
"Saya dipindah ke bagian logistik sesuai surat ini. Untuk apa Saya ke bagian keuangan?" jawabku.
"Maaf, Pak. Akan sangat tidak sopan kepada Kepala Bagian Logistik, seandainya Saya terlambat datang." Aku berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi.
Jalanku tidak akan pernah bertemu lagi denganmu. Walaupun dia tetap menjadi atasanku, tapi setidaknya aku akan jarang atau tidak pernah bertemu dengannya.
"Selamat pagi, Pak" Aku menyapa kepala bagian logistik. Kepala bagian adalah pria berusia hampir 60 tahun yang memiliki sejarah panjang dengan pemilik perusahaan.
Karena usia, sebenarnya dia harus pensiun. Tapi tuan besar Reynand tidak mengijinkan dan menempatkannya di bagian logistik.
Dan yang lebih mengejutkan bagiku adalah semua pegawai di bagian logistik adalah pria. Mereka sepertinya masih sangat muda dan tampan, walaupun tidak setampan pak Reynand.
Pak Arman benar-benar membalas budi dengan baik padaku.
"Selamat pagi, Saya Anna yang akan bekerja di bagian ini sebagai staf baru. Semoga Saya bisa membantu pekerjaan Anda semua" kataku.
Tepuk tangan riuh menyambut perkenalanku dan aku mendengar mereka menyebutku cantik. Beberapa pujian mengiringi tepuk tangan mereka. Semua ini membuatku sangat senang.
Mereka memperkenalkan diri masing-masing dan tidak membuatku merasa terkucil.
Sepertinya bagian logistik sangat cocok untukku. Semoga aku tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih pada pak Sanjaya. Aku sangat bahagia hari ini. Tidak akan ada sesuatu yang akan membuatku sedih sekarang.