
Rivandra terjatuh dengan wajah berada di dada Shifa sedangkan setengah tubuhnya di kasur dan kakinya menjuntai ke lantai.
"Aarrggh Van kau menyentuh dadaku"Shifa mendorong wajah Rivandra dari dadanya.
"Hehe empuk" Rivandra terlihat cengengesan dan itu sukses membuat Shifa cemberut.
Rivandra bangkit dari tempat tidur dan begitu pun dengan Shifa ia terduduk di atas kasur dengan wajah cemberut.
"Maaf Shifa, kalau saja lantainya tidak basah kita tidak akan jatuh untung saja kita jatuhnya ke depan kalau kebelakang itu akan sangat sakit"
"Terserah, kau keluar sana" Usir Shifa kepada Rivandra.
"Masa aku keluar setengan telanjang gini!"
"Ya terus emang kau mau memakai baju ku?" Tanya Shifa.
"Boleh kalau ada"
"Ada banyak malah dengan berbagai warna"
"Ukuran?"
"M, L, Ada juga yang XL tapi gamis untuk ke pengajian"
"Gila..." Umpat Rivandra membuat Shifa terkekeh.
Rivandra menelpon Asistennya untuk mengantarkan baju ke Rumah Oma Tutut yang paling tepatnya ke kamar Shifa dan ia memberikan waktu kepada Rai hanya 5 menit hingga membuat Shifa mendengus sebal.
Pria itu memang tidak pernah berubah ia selalu menyusahkan orang lain dengan memberikan waktu sesingkat itu. Gumam Shifa di dalam hati.
"Apa Kak Raihan punya pintu kemana saja seperti Doraemon?" Tanya Shifa.
"Tidak, mana mungkin dia memiliki pintu seperti itu," Jawab Rivandra.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rivandra.
"Tidak tapi kau memberikan waktu yang begitu singkat kepada Kak Rei" Jawab Renata.
"Kak? kau memanggilnya Kakak?" Tanya Rivandra dengan mengernyitkan dahinya.
"Ya emangnya kenapa?" Tanya Shifa.
"Tapi dia bukan Kakak mu?"
"Emang tapi dia lebih tua dari ku"
"Aku juga lebih tua dari mu tapi kau memanggilku Pak sedangkan aku dengan Raihan itu lebih tua dia, harusnya kau memanggil dia Pak dan memanggilku Kakak"
"Gak cocok kalau di panggil Kakak" Shifa menahan tawanya saat melihat wajah Rivandra yang di tekuk gara-gara panggilan.
"Yasudah lah terserah Kau saja" Ketus Rivandra.
"Terus aku harus memanggilmu apa? Akang? atau Kang Mas?" Sewot Shifa.
"Kamu kira kita keturunan sunda dan jawa? bukan kali aku ini keturunan bule"
"Hmm iya Bule lokal" Shifa tertawa terbahak-bahak membuat Rivandra geram dan akan menggelitik Shifa tetapi sebuah ketukan menghentikannya.
Rivandra berjalan menuju pintu untuk membukanya, di depan pintu nampak Raihan yang membawa paper bag.Rivandra langsung merebutnya dan menutup kembali pintunya tanpa bicara sepatah kata pun kepada Raihan.
"Dia kenapa?"Lirih Raihan kemudian ia berlalu dari sana.
Rivandra berjalan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Shifa yang sedang cekikikan menertawakan Rivandra yang merajuk karena ia meledeknya.
Rivandra keluar dari kamar mandi dengan pakaian kasualnya pria itu terlihat libih tampan saat tidak memakai kemeja membuat Shifa melongo melihatnya apalagi Rivandra keluar dengan tersenyum tidak seperti sebelumnya membuat Shifa tambah kaget dengan perubahan raut wajah Rivandra.
Rivandra duduk di samping Shifa yang sedang melihatnya dengan heran bercampur kagum, Shifa agak tersenyum saat memperhatikan Rivandra membuat Rivandra menggodanya.
"Apa aku begitu tampan?" Tanya Rivandra dengan menaik turun kan alisnya seraya tersenyum.
Shifa yang mendengar itu seketika senyumannya memudar malahan ia ingin memukul wajah yang beberapa detik lalu ia kagumi.
"Ayolah Shifa jujur saja"Ujarnya dengan percaya diri.
"Aku tahu aku itu memang pria paling tampan bahkan tidak akan ada yang bisa mengalahkan ketampananku"
"Selain tampan aku juga kaya dan sukses jadi tidak heran kalau banyak orang yang mengenalku dan mengagumiku" Ocehnya dengan percaya diri akut.
Shifa memutar bola matanya mendengar ocehan Rivandra yang terus menerus membanggakan dirinya sendiri, telinga Shifa seakan panas saat mendengarkan Rivandra yang seperti itu.
"Stopp Van" Teriak Shifa.
Rivandra yang masih mengoceh itu pun mendadak berhenti dan membungkam mulutnya rapat.
"Kau membuat telingaku panas" Ujar Shifa.
"Ya sudah kalau kau panas mendengar suaraku aku tidak akan berbicara lagi" Ujarnya dengan wajah sedikit di tekuk.
"Bagus..." Shifa mengangkat jempolnya.
"Kau tidak berhak berbicara seperti itu" Shifa menatap Rivandra dengan tajam.
"Aku hanya becanda" Rivandra tersenyum dengan mengangkat kedua jarinya yaitu telunjuk dan ibu jari sehingga membentuk huruf V seraya tersenyum manis.
Rivandra membantu Shifa turun kemudian ia menuntun Shifa untuk berjalan kebawah tetapi cara berjalan Shifa membuat Rivandra pegal tanpa permisi ia langsung mengangkat tubuh Shifa.
"Van apa yang kau lakukan?" Tanya Shifa.
"Aku pegal dengan cara berjalanmu"
"Ya ampun" Shifa menepuk keningnya.
"Oh iya Van apa aku masih bisa bekerja sebagai sekretarismu?" Tanya Shifa.
"Ya boleh lah kau kan masih sekretariski" Jawab Rivandra.
"Tapi kan aku sudah beberapa minggu tidak masuk kerja"
"Kau kan sakit , kau bahkan tidak bisa berjalan bagaimana mungkin bekerja" Ujar Rivandra.
"Oh hehe"
"Mati lampu ya" Ujar Rivandra.
"Memangnya kenapa?"
"Lift nya mati"
"Benarkah"
Rivandra menganggukan kepalanya dan berjalan menuju tangga, Rivandra menuruti satu persatu anak tangga tersebut dengan menggendong Shifa.
"Kau tidak pegal menggendongku?"
"Tidak karena tubuhmu sangat kurus"
"Ihh aku tidak kurus" Shifa tidak terima dirinya di sebut kurus padahal ia rasa tubuhnya itu biasa saja tidak kurus dan tidak gendut.
Mereka sampai di lantai dasar, Rivandra berjalan mendekati Oma Tutut dan Kakek Jacky yang sedang menonton film india dengan memegang kotak tisu dan mengelap matanya yang berair.
"Kalian sedang apa?" Tanya Rivandra seraya mendudukan Shifa di sofa dan di susul dengan dirinya juga yang duduk di samping Shifa.
"Hey kau tidak melihat kita sedang menonton"Sewot Oma Tutut.
"Maksudku kalian sedang menonton apa?"
"Ohh ini film india yang berjudul Bajrangi Bhaijaan, hiks hiks sedih" Oma Tutut sesenggukan begitu pun dengan Kakek Jacky.
"Emang sesedih itu?" Tanya Rivandra yang tidak mengerti dengan film india.
"Kau tidak pernah nonton film Bajrangi Bhaijaan?" Tanya Shifa.
"Tidak"
"Kau tidak pernah menonton film india?"
"Tidak"
"Salah satu aktor india yang terkenal kau tahu?"
"Tidak, ehh iya ada satu yang ku tahu" Ucapnya tengan tersenyum senang karena akan bisa menjawab pertanyaan Shifa.
"Siapa?"
"Ladoo Singh, dia itu polisi kan inspektur ladoo Singh" Jawabnya dengan yakin ia bahkan tersenyum dengan senang.
Seketika Oma tutut, Kakek Jacky mengalihkan perhatiannya kepada Rivandra yang menjawab pertanyaan Shifa dengan yakin dan percaya diri.
Shifa melongo saat Rivandra mengatakan itu, ia tidak menyangka ternyata Rivandra tidak tahu salah satu aktor terkenal india.
"Maksudmu Inspektur ladoo Shing yang berkumis" Tanya Shifa, Rivandra mengangggukan kepalanya.
"Kau yakin kalau dia manusia?"
"Ya iya lah masa jin" Jawab Rivandra.
"Tapi itu salah satu tokoh kartun india"
"Apa?" Kaget Rivandra.
Oma Tutut dan Kakek Jacky tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Rivandra.
Bersambung.
Jangan lupa Like, komen dan Vote.