My Beloved Boss

My Beloved Boss
Kecelakaan



Shifa berlari menuju lift hingga ia sampai di mobil. Shifa mengendarai mobilnya keluar dati perusahaan itu.


Rivandra mengejar Shifa dan sebelum pergi ia melihat ponsel Shifa yang tergeletak di bawah sofa kemudian ia pun mengambilnya lalu mengejar Shifa.


Shifa mengendarai mobilnya di jalan yang agak sepi.


"Aarrrgggghhhh" Teriak Shifa.


"Kenapa perasaan ini harus muncul sekarang dan kenapa harus dia" Teriaknya dengan kembali menangis.


"Kenapa aku harus mencintai pria seperti itu" Ucapnya dengan sesenggukana.


"Kenapa?" Ucapnya pelan.


"Di saat semua pria mengejar ku kenapa harus dia yang hati ku pilih,Kenapa?"


"Aku sangat muak, Kenapa hati ku kembali sakit saat melihat dia dengan wanita lain..."


"Aaarrrrggghhh" Teriaknya dengan kencang ia membawa mobilnya dengan sangat kencang hingga ia sampai di jalan raya yang ramai.


Saking prustasinya Shifa mengendarai mobilnya dengan kencang tanpa memperdulikan orang lain.


Rivandra yang mengejar mobil Shifa di belakang pun merasa khawatir karena Shifa mengendarai mobilnya dengan keadaan emosi.


"Memang ada apa sih aku bingung, semua yang dia ucap kan itu apa?" Rivandra terus bertanya"tanya ada apa dengan Shifa.


"Kenapa dia menjalankan mobilnya sangat kencang" Ujarnya.


Shifa terus menangis sambil mengendarai mobilnya sampai ia tidak melihat di depannya ada seorang bapak-bapak yang sedang mendorong gerobak sampah.


"Ya ampun"Ujar Shifa saat ia menginjak rem tetapi rem itu tidak bekerja dan lebih tepatnya blong, akhirnya Shifa pun membanting stirnya untuk menghindari orang yang hampir ia tabrak hingga ia menabrak pembatas jalan.


Brakkk


Shifa menabrak pembatas jalan hingga mobilnya ringsek. Shifa tidak sadarkan diri dengan luka di keningnya karena membentur stir mobil.


"Shifa..." Teriak Rivandra saat melihat mobil Shifa di kelilingi orang-orang.


Rivandra pun keluar dari mobil dengan raut wajah khawatir.


"Kenapa kalian cuma diam saja cepat bantu buka pintunya" Ujar Rivandra saat melihat semua orang hanya memperhatikannya saja.


Mereka pun mrncoba membuka pintu mobil itu dan akhirnya berhasil. Rivandra langsung mengangkat tubuh Shifa.


Darah mengucur dari dahinya,Rivandra pun memasukan Shifa ke mobilnya dan dengan segera ia membawa Shifa ke rumah sakit.


"Bertahan lah Shifa" Di sepanjang perjalanan Rivandra memegang tangan Shifa.


Hingga ia sampai di rumah sakit, Rivandra mengangkat tubuh Shifa hingga sampai ke ruang IGD.


"Maaf Tuan anda tunggu di luar saja"Ujar suster.


Rivandra duduk di kursi depan IGD tersebut dengan wajah cemas ia menjambak rambutnya sendiri.


"Ini semua salah ku coba saja kalau aku tidak melakukan itu kepada Shifa" Gumam Rivandra.


Rivandra pun menelpon Raihan.


panggilan terhubung.


"Halo tuan"


"Rai coba kamu periksa apa ada yang salah dengan mobil Shifa"


"Maksudnya apa tuan?"


"Shifa baru saja kecelakaan dan aku melihat sepertinya mobil yang ia kendarai rem nya blong"


"Baik tuan" Ujar Raihan. Panggilan pun terputus.


Tidak berapa lama seorang dokter dan suster keluar dari ruangan itu dan Rivandra pun langsung menghampirinya.


"Bagai mana Dok apa dia baik-baik saja"


"Pergelangan kaki beliau retak tetapi untungnya tidak parah dan beliau harus di rawat, Kalau begitu kita permisi dulu"


Dokter itu melenggang pergi meninggalkan Rivandra sendiri.


Rivandra masih duduk di depan ruangan itu dan sampai saat ini Shifa belum juga sadar.


"Maaf Tuan kami harus memindahkan Nona Shifa sekarang"


"Baik lah pindahkan ke ruang VVIP"


"Baik Tuan"


Shifa pun sudah di pindahkan ke ruangan VVIP seperti yang Rivandra minta. Wanita itu belum juga sadar kan diri sampai sekarang.


Rivandra tidak menghubungi keluarga Shifa karena ia mendengar saat Bu Sophia menelpon kalau mereka sedang berada di palembang.


Rivandra duduk di sebuah kursi, saat ini ia sedang menggenggam tangan Shifa sembari memperhatikan wajah Shifa yang keningnya di perban.


Rivandra merasakan ada gerakan di tangan Shifa dan ternyata benar saat ini Shifa telah sadar.


Dokter menyuruh Rivandra menunggu di luar karena ia akan memeriksa keadaan Shifa.


Shifa sudah selesai di periksa oleh Dokter dan Dokter itu pun sudah keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana Dok apa dia baik -baik saja"


"Keadaan nya sudah lebih baik"


"Baik Dok terimakasih"


Rivandra pun masuk ke dalam ruangan itu, ia melihat Shifa sedang duduk sambil melamun.


"Shifa..." Panggil Rivandra.


Shifa menoleh ke arah suara dan kembali ke arah semula.


"Shifa aku minta maaf"


Shifa mengalihkan pandangannya nya menghadap ke arah jendel, ia tidak ingin melihat wajah Rivandra untuk saat ini.


"Shifa..." Rivandra memegang bahu Shifa dan Shifa langsung menepis nya.


"Pergi lah biarkan aku sendiri" Ucap nya.


"Iya aku akan pergi dan aku mohon maaf kan aku" Ujar Rivandra.


"Aku bilang keluar... Apa kau tuli!" Teriak Shifa.


"Baiklah aku keluar" Ujar Rivandra.


Rivandra keluar dari ruangan itu tetapi ia tidak benar-benar pergi dari sana.Ia duduk di sebuah kursi yang berada di depan pintu.


Shifa terdiam dalam ke sendirian di ruangan tersebut,ia menangis kembali saat mengingat semuanya.


Rivandra sedang duduk termenung di depan ruangan Shifa, Tiba -tiba ia merasakan ada sebuah getaran di saku celana nya dan saat di ambil ternya itu adalah ponsel Shifa.


Ponsel Shifa bergetar karena ada pesan masuk dari Bella. Ponsel itu tidak di kunci sehingga ia bisa membukanya dan membaca pesan dari Bella sebelum ia menekan pesan Bella ia melihat ada pesan dari sebuah nomor tanpa nama.


Rivandra pun membuka pesan itu dan saat ia buka ia melihat sebuah Video saat video itu di putar ia membulatkan matanya.


"Siapa yang berani mengirim video ini" Geram Rivandra dengan emosi.


"Apa Shifa berubah karena ini"


"Iya aku yakin pasti karena ini" Rivandra tersenyum senang "Berarti ia cemburu" Ucapnya dengan tersenyum.


"Om..." Panggil seorang gadis yang sedang berlari di ujung lorong sana.


"Syla..."


"Om sedang apa di sini" Syla mengintip di celah pintu ruangan yang berada di belakang Rivandra.


"Apa dia Sekretaris mu?"Rivandra pun menganggukan kepalanya.


" Ya ampun apa dia Calon Tante ku"


"Apa maksud mu Syla?" Tanya Rivandra.


"Bukannya orang yang kau sukai itu Sekretaris mu"


"Kau tahu dari mana?"


"Bukannya saat di taman kemarin kau sendiri yang bilang...Upss" Syla menutup mulutnya.


"Kamu mengintip Syla"Tanya Rivandra dengan curiga.


"Hehe maaf Om aku bahkan merekam aksi wanita ular itu dari awal"


"Kenapa kau tidak menemaninya di dalam?" Tanya Syla.


"Dia marah kepada ku mungkin karena ini" Rivandra menunjukan Video tadi.


"Ya ampun ini sangat kacau" Ujar Syla.


"Syla Om mau ke toilet dulu kau tunggu di sini ya jaga dia sebentar"


"Siap Om"


Rivandra pun melenggang pergi menuju toilet sedangkan Syla ia sedang memikirkan cara untuk membuat calon Tante nya tidak marah kepada Om nya itu.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa Like ,Komen,dan Vote