
" Kau mengenalnya Van"Bisik Kakek Jacky.
"Ya dia sekretaris ku"
"Jadi dia sekretaris yang kau sukai"Rivandra pun menganggukan kepalanya ia sudah menduga,kemarin Syla pasti mengintipnya bersama dengan Kakek Jacky.
***
"Tidak Oma, pikiran ku tidak sedangkal itu"Ujar Shifa.
Oma pun mengambil sebuah gunting di laci nakas"Sini biar Oma gunting saja kenapa kau harus memakai Cutter kalau masih ada gunting" Oma pun memotong benang itu.
"Susah... , Kau benar Shifa sepertinya ini harus pake Cutter" Ujar Oma.
"Tapi Oma akan berusaha"Ujarnya lagi.
Oma pun menyingkirkan rambut Shifa yang menghalanginya itu."Rambutmu menghalangi saja"
"Sebentar biar aku ikat dulu"Shifa mengikat rambutnya asal.
" Tubuh mu terlalu kurus Shifa lihatlah ini sangat kecil sekali tidak ada dagingnya ini tinggal tulang"
"Oma jangan sembarangan aku tidak sekurus itu"
"Tubuh mu tidak ada seksi-seksi nya"
"Harusnya ini di besarin sedikit lagi supaya kau terlihat sangat seksi" Ujar Oma dengan menunjuk dada Shifa.
"Apaan sih Oma aku itu mensyukuri apa yang ada dalan diri ku"
"Nanti kalau kau sudah menikah ini pasti akan membersar"Ujarnya.
"Apa maksud mu Oma"
"Haha tidak Shifa karena Oma juga pernah mengalaminya"Oma terkekeh pelan dan membuat Shifa menatapnya dengan bingung.
"Ohh"Singkat Shifa.
Oma pun kembali memotong benang itu dan ia membulatkan matanya saat melihat leher Shifa yang terdapat tanda Merah keunguan yang belum juga hilang sepenuhnya.
"Ya ampun Shifa ini perbuatan siapa bilang sama Oma"
"Maksud Oma apa?"
"Ini Kiss mark perbuatan Siapa"
Sial! Kenapa belum hilang juga sih. Gumam Shifa.
"Oma itu bukan Kiss mark tetapi bekas kecelakaan waktu itu Oma jadi memar gitu" Ujar Shifa dengan berkilah.
"Oma pernah muda Shifa, jadi kau tidak bisa membohongi Oma"Ujar Oma dengan tatapan curiga. Shifa hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Oma Tutut.
"Apa itu ulah mu Van" Ujar Kakek Jacky.
"Apaan kek?"
"Kau lihat leher sekretaris yang kau sukai itu ada bekas Kiss mark apa kau yang melakukannya"Tanya Kakek Jacky dengan dingin.
" Ya aku hilang kendali"Jawabnya dengan menundukan kepala.
Kakek Jacky mematikan panggilannya secara sepihak.
"B******* Kau menodai Cucu Tutut, Van"
"Tida Kek aku tidak berbuat lebih dari itu" Ujarnya.
"Kau bohong Van ,Dari kapan kau sering melakukan hal seperti itu"
"Jangan bilang selama kau tinggal di apartemen kau melakukan hal seperti itu kepada semua wanita" Tambahnya dengan emosi.
"Dia orang pertama"Ujar Rivandra santai.
" Kau harus tanggung jawab Van, nanti kalau dia hamil gimana?"
"Gima mau hamil aku bahkan tidak menidurinya , yang aku lakukan hanya sebatas menciumnya" Jelas Rivandra.
"Kau tidak bohong"
"Tidak kek "
"Kau memang Cucu ku" Ujarnya dengan tersenyum dan membuat Rivandra mengernyitkan Dahinya Heran.
"Aneh" Ujar Rivandra.
"Kakek kau mematikan panggilannya"
"Ahh iya Van karena Kakek Syok dengan penuturanmu"
Kakek Jacky pun menghubungi kembali Oma Tutut ia refleks mematikan panggilannya itu karena kaget saat mendengar ucapan Rivandra.Tidak berapa lama Oma tutut pun menerima panggilan tersebut.
"Kenapa kau matikan panggilannya tua"Sewot Oma Tutut.
"Aaahh kamu so sweet sekali sihh" Oma Tutut tersipu malu saat Kakek Jacky memanggilnya sayang.
Oma yang bereaksi seperti itu pun membuat Shifa tertawa terbahak-bahak dan Rivandra yang mendengar Shifa tetawa pun tersenyum senang.
"Hahaha kalian memanga serasi" Ujar Shifa.
"Oma apa aku boleh melihat wajah kekasihmu"Tanya Shifa.
"Tentu saja"Oma Tutut pun mengarahkan ponselnya kepada wajah Shifa.
" Hai Kek kau begitu tampan"Ujar Shifa.
"Makasih Nak kau juga sangat cantik, Siapa namamu"
"Nama ku Rayshifa"
"Nama yang bagus"
Rivandra yang melihat wajah Shifa di layar ponsel Kakek Jacky pun memotret dengan ponselnya saat Shifa sedang tersenyum.
Kau memang cantik Shifa aku sangat merindukanmu. Gumam Rivandra.
***
Sudah satu minggu Shifa tinggal di rumah Oma Tutut pagi ini Shifa sedang belajar berjalan tanpa menggunakan tongkat dengan di bimbing oleh seorang pelayan yang dulunya adalah seorang perawat.
"Ayo nona sebentar lagi kaki mu akan pulih, Semangat"
"Iya terimakasih bi"
Oma datang dengan memakai baju renang plus dengan kacamata renangnya di ikuti oleh Susi yang membawa nampan berisi minuman untuk Shifa dan Oma.
"Oma mau renang?" Tanya Shifa saat ia melihat Oma duduk di bangku taman dengan santai.
"Iya tapi nanti Oma menunggu pelatihnya dulu" Ujarnya dengan meminum jus yang di bawa Susi.
Shifa meminta pelayan yang membimbingnya itu untuk menuntunnya duduk di samping Oma.
"Apa Oma sekarang punya pelatih renang pribadi?"
"Iya hari ini dia akan datang kesini dan mengajarkan Oma berenang"
"Oma belum juga bisa renang dari dulu?"Tanya Shifa dan Oma hanya cengengesan membuat Shifa melongo di buatnya.
Tiba-tiba datang seorang pelayan lain ke hadapan mereka.
" Maaf Oma di depan ada pelatih renang yang mencari mu"
"Ahh dia sudah datang, Suruh saja langsung kesini"
"Baik Oma" Sebenarnya dulu mereka memanggil Oma Tutut itu dengan sebutan Nyonya tetapi Oma Tutut tidak ingin dirinya di panggil Nyonya.
Dulu Rumah besar itu adalah milik Pak Randi tetapi karena kejadian Shifa dan Dafa yang selalu tersesat Pak Randi pun memberikannya kepada Oma karena kebetulam Rumah Oma yang tidak kalah besar dan mewahnya itu terbakar dan membuat Oma sedih ,Ia bukan sedih kehilangan Rumah mewahnya tetapi ia sedih karena kehilangan tempat berbagai macam kenangan dirinya bersama sang suami yang sudah tiada beberapa puluh tahun yang lalu.
Saat Pak Randi memberikan Rumah itu sebenarnya Oma menolak karena ia tidak ingin tinggal di Rumah yang besar bak istana itu, Dengan berbagai paksaan ia pun mau tinggal di sana dengan puluhan pelayan.
Di Rumah tersebut selain terdapat danau juga terdapat taman hijau yang sangat luas bahkan kebun dengan berbagai sayuran dan bumbu pun ada di sana apalagi buah-buahan jika sedang musim buah mereka akan panen dan membagikannya ke tetangga dan ke pakir miskin.
"Oma apa kau yakin dengan pelatih renang yang kau pilih kali ini"
"Iya Oma yakin karena dia sangat tampan"
"Ya ampun Oma jangan di lihat dari tampannya nanti kalau dia menenggelamkanmu bagaimana?"
"Tidak akan, mana berani dia menenggelamkanku ya cantik ini"
"Apa dia pelatih renang yang handal jangan-jangan dia penipu, Oma"
"Ahh kau bawel sekali mana mungkin dia mau menipu Oma kalau sampai dia menipu, akan Oma patahkan kakinya"
Shifa yang melihat Oma seperti itu pun menjadi gemas"Ahhh Oma aku gemas sekali kepadamu"Shifa mencium pipi Oma tutut yang kriput itu.
"Oma memang menggemaskan dan tentunya sangat cantik"
"Iya aku percaya"
"Oma apa pelatih renangnya sudah terkenal di kalangan pelatih para atlet?"
"Oma apa kau sudah siap" Ujar seorang pria yang berjalan mendekati mereka dan membuat Shifa membulatkan matanya.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa Like,Komen dan Vote.