My Beloved Boss

My Beloved Boss
Sarapan bersama



Mati aku. Gumam Rivandra dan Darvo.


"Jawab Darvo Mommy tidak pernah mengajarkanmu berbohong" Tanya lagi Bella saat ia baru keluar dari kamar dan mencari anaknya yang hilang tanpa sepengetahuannya dan ternyata ia berada di ruang tamu bersama Rivandra.


Darvo pun menengok ke arah Rivandra dan ia mendapat tatapan yang sangat tajam yang hampir saja menembus bola mata miliknya seakan akan tatapan itu berkata 'Jika kau memberitahunya aku batalkan semua yang kau minta' dan sangat jelas sekali bahwa Darvo tidak ingin niat yang ia impi-impikan selama ini batal begitu saja hanya karena sebuah kecerobohan.


Huhh dasar Darvo mulutmu itu sangat lancang sekali. Gimana ya kalau aku jujur pasti semua yang aku inginkan tidak akan terlaksana kalau aku berbohong kasihan sekali Mommy. Oke aku akan berbohong saja tapi lain kali aku akab mengatakan kejujurannya kepada Mommy dan aku akan meminta maaf kepadanya. Gumam Darvo seraya tersenyum.


"Engga Mommy jadi waktu itu Aunty lagi makan terus ada saus yang menempel di bibirnya dan Uncel Rivandra mengusap saus tersebut dengan tangannya lalu memakannya begitu Mommy" Jelas Davo yang sayangnya penjelasan itu sangatlah bohong dan Bella pun percaya saja dengan ucapan anaknya itu.


"Ohh gitu kirain dia mencium Aunty mu" Ujar Bella kemudian ia melenggang pergi meninggalkan ruang tamu membuat Rivandra dan Darvo bernapas lega.


"Syukurlah" Ucap mereka.


"Nak Rivandra Shifa nya sedang sarapan ,lebih baik nak Rivandra juga sarapan dulu bersama kami" Ajak Pak Randi.


"Tidak terimakasih Om saya sudah sarapan" Tolak Rivandra dengan sopan tetapi sebenarnya ia juga merasa lapar karena belum makan.


"Ayo lah nak jangan seperti itu " Ujar pak Randi.


"Iya uncle ayo makan dulu" Ajak Darvo seraya menarik tangan Rivandra dan pak Randi pun sama ia menarik lengan Rivandra akhirnya Rivandra pun menyerah dan mengikuti kemauan mereka.


Setibanya di ruang makan Darvo langsung menarik kursi di dekat Shifa untuk Rivandra.


"Ehh ada tamu... Siapa ya kok ibu baru lihat" Ujar bu Sophia saat ia datang ke meja makan dengan membawa sayur.


"Ohh ini bu dia atasan ku" Jawab Shifa.


Setelah mengambil kan nasi untuk suaminya Bu Sophia pun tersenyum seraya menghampiri kursi yang sedang di duduki Rivandra dan ia pun menyendokan nasi ke piring atasan anaknya itu.


"Ayo di makan nak dan cuma segini adanya" Ujar bu Sophia.


"Iya terimakasih bu saya jadi merepotkan anda" Ucap Rivandra.


"Ehh tidak nak ayo di makan cepat nanti keburu dingin" Ucap bu Sophia kemudian ia pun duduk di kursi tembat biasa ia makan.


"Sok ramah" Lirih Shifa.


"Memang saya ramah" Bisik Rivandra yang duduk tepat di samping Shifa.


Shifa mendelikan matanya kepada Rivandra dan seketika ia menginjak kaki Rivandra dengan sangat keras.


"Aggghh" Ringgis Rivandra dan semua orang menoleh kepadanya.


"Ada apa nak" Tanya pak Randi.


"Ahaha tidak Om " Rivandra tersenyum kepada pak randi dan mereka semua pun melanjutkan makannya.


Setelah selesai makan mereka langsung sibuk dengan urusan masing masing dan pak Randi hari ini ia tidak masuk kantor karena merasa tidak enak badan.


"Ayah ibu aku berangkat dulu ya" ujar Shifa seraya mencium punggung tangan ayah dan ibunya yang saat ini sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Iya nak" ujar pak Randi seraya mengusap kepala anaknya.


"Om tante saya juga pamit dan terimakasih untuk sarapan paginya" Ucap Rivandra sambil mencium lunggung tangan ke dua orang tua Shifa.


Setelah kepergian Shifa dan Rivandra bu Sophia mengobrol dengan suaminga.


"Ayah kayaknya ibu tidak asing dengan wajah pemuda itu" Ujar bu Sophia.


"Ya iya lah dia itu Rivandra zachery seorang pengusaha muda dan sukses se asia bagai mana tidak asing" Ujar pak Randi sambil terkekeh.


"Maksud Ayah Rivandra anaknya Radhitya ?" Tanya Bu sophia.


"Haha iya bu " Ucap pak Randi seraya merangkul bahu istrinya.


"Sudah lah Bu mungkin Ibu pernah bertemu di luar dengannya" Ujar Pak Randi


"Tapi pemuda itu sangat ramah ya tidak seperti kata orang yang mengatakan kalau pemuda itu sangat dingin, sombong dan kejam lagi tapi kenyataannya sungguh berbanding terbalik" Ujar bu Sophia.


"Maka dari itu jangan dengarin apa kata orang sayang" ujar pak Randi seraya mengecup pipi istrinya beberapa kali.


***


Di Dalam mobil seperti biasa Shifa di paksa duduk di belakang bersama Rivandra padahal ia sangat malu setelah kejadian kemarin.


"Bapak itu ngapain sih pake jemput aku segala" Tanya Shifa.


"Ya karena saya tahu kalau mobil kamu ada di kantor dan semua itu karena kemarin saya membawa kamu meeting dan langsung pulang jadi saya harus bertanggung jawab untuk menjemputmu" Jelas Rivandra.


"Alasan bilang saja kalau bapak itu ingin dekat-dekat dengan aku kan" ujar Shifa sambil menggeser tubuhnya menjauh dari Rivandra.


"Jangan GR dulu kamu saya ngelakuin ini hanya kasihan sama kamu jangan kamu pikir saya suka sama kamu" Ujar Rivandra yang berasal dari pikiran tetapi perkataannya itu bertentangan dengan hati.


"Saya tidak pernah berpikiran seperti itu lagian buat apa gak ada untungnya" Shifa berucap dengan memalingkan wajahnya ia hanya memperhatikan setiap tempat yang mereka lewati.


Sesampainya di kantor Shifa tidak berbicara sedikit pun karena hari siang dan waktu untuk masuk kerja pun tinggal beberapa menit lagi shifa pun berjalan dengan tergesa gesa.


"Hey Shifa ngapain kamu jalan tergesa gesa seperti itu kan di sini yang bos saya jadi kamu tidak perlu risau" Ujar rivandra saat melihat Shifa berjalan dengan terburu-buru.


"Maaf pak bukan begitu tapi saya harus bersikap profesional mana mungkin seorang karyawan seperti saya harus masuk kantor bareng dengan seorang atasan permisi pak" Jelas Shifa seraya membungkukan badannya dan berlalu pergi meninggalkan Rivandra dan Raihan.


Saat sampai di ruangannya ia langsung duduk di kursi seraya mengatur nafasnya karena ia berlari saat turun dari lift.


"Hey shifa tumben kamu kesiangan"ujar Feya.


" Haduh Fey aku cape banget"ucap Shifa dan Feya pun langsung menyerahkan botol minum yang selalu ia bawa.


"Makasih Fey " ucap Shifa setelah meminum air yang di berikan Feya.


"Iya Shifa " Ujar Feya seraya tersenyum.


"Ehh Ifa tuan kejam tuh" Ujar Feya.


"Hihh iya " Shifa mendengus sebal saat melihat wajah atasannya dengan terpaksa Shifa Dan Feya pun menyambutnya dengan membungkukan kepalanya meskipun dalam hati mereka mengumpat atasannya itu.


"Selamat pagi pak" Ucap Shifa dan Feya kemudian Rivandra pun mengangguk tanpa tersenyum sedikit pun kemudian ia berhenti tepat di samping Shifa.


"Buatkan saya kopi" Ujar Rivandra kepada Shifa.


"Baik pak " Shifa tersenyum dengan sangat terpaksa.


dan Rivandra pun mengetahui tentang itu tetapi ia tetap membiarkannya karena ia suka melihat senyuman terpaksa dari Shifa dan lain halnya dengan senyuman tulus dan manis yang di berikat padanya itu malah akan sangat menyiksa hati rivandra karena selalu dag dig dug tidak karuan.


Setelah selesai membuat kopi Shifa pun membawanya ke ruangan Rivandra dengan cemberut tetapi tidak saat membuka pintu dan melewati garus ruangan ia tersenyum dengan sangat ramah meskipun palsu.


"Ini pak kopinya" Ujar Shifa seraya menaruh kopi itu di meja.


"Iya Terimakasih" Dehem Rivandra kemudian Shifa pun melenggang pergi dari ruangan itu.


Dasar aneh. Gunam Shifa


.


.


Bersambung