
"Gimana tuan?" Tanya Raihan kepada Rivandra.
"Apa kamu tahu tentang daerah sini?" Tanya balik Rivandra.
"Saya kurang tahu"
"Sebentar tuan saya akan lihat dulu di maps siapa tahu ada jalan pintas" Ucapnya seraya membuka ponsel.
"Maaf tuan tidak ada jalur lain lagi" Ucapnya dengan wajah kecewa.
"Ya sudah cari penginapan saja"Titah Rivandra.
" Tapi bagaimana dengan Shifa"Tanya Raihan.
"Ya sama kita lah mau gimana lagi!"
Raihan pun menganggukan kepalanya seraya memutar arah jalur mobilnya.
"Cari penginapan di dekat sini"Titah Rivandra.
Raihan pun menghentikan mobilnya lalu mengambil kembali ponselnya untuk mencari penginapan terdekat.
"Kenapa berhenti?" Tanya Rivandra.
"Bukannya anda menyuruh saya untuk mencari penginapan. Kalau sambil menyetir takutnya kita menjadi celaka" Jelas Raihan.
"Oh" Singkat Rivandra.
Raihan pun mendapatkan penginapan tetapi ia tidak yakin kalau bos nya mau menginap di sana sedangkan di daerah situ tidak ada penginapan mewah yang ada hanya penginpan penginapan kecil tetapi semuanya sudah penuh.
"Emm tuan maaf semua penginapan penuh hanya ada satu yaitu sebuah Villa kecil yang di desain dengan keseluruhan kayu dan hanya ada satu kamar apa anda yakin ingin menginap di sana?" Tanya Raihan.
Rivandra terlihat berfikir sebenarnya ia tidak mau menginap di sana apalagi tempatnya kecil dan hanya ada satu kamar tetapi saat melihat ke arah Shifa ia merasa kasihan melihat Shifa yang terlihat sangat pucat.
Saat ini Shifa tertidur kembali dengan menyandarkan kepalanya ke pintu mobil.Shifa mendengar semua percakapan itu tapi ia enggan untuk menimpali ucapan mereka.
"Gak papa ambil saja daripada kita tidur di mobil" Ujar Rivandra.
Raihan pun menganggukan kepalanya dan melajukan kembali mobilnya menuju Villa itu.
Rivandra yang merasa kasihan melihat Shifa tidur dengan menyandarkan kepalanya di pintu mobil pun menarik kepala Shifa supaya bersandar di pundaknya.
Saat Rivandra memindahkan kepala Shifa ia merasakan tubuh Shifa sangat panas bahkan saat ia memindahkan kepalanya, Shifa tidak bergeming dan menuruti semua yang di lakukan Rivandra sebelum itu di luar batas.
" Shifa..."Panggilnya pelan.
"Hmmm" Dehem Shifa dengan masih memejamkan matanya.
"Rai mampir dulu ke tempat yang menjual makanan"
"Baik tuan"
Tubuh Shifa menggigil bahkan wajahnya sangat pucat.
Mobil pun berhenti di sebuah rumah makan sederhana. Raihan pun turun dari mobil.
"Rai..." Panggil Rivandra.
"Iya tuan"
"Sekalian beli obat demam"
"Baik tuan saya akan mencarinya terlebih dahulu"
Raihan pun turun untuk membeli makanan. Sedangkan Rivandra ia menyuruh Shifa untuk berbaring dan menidurkan kepalanya di pangkuan Rivandra tetapi Shifa menolaknya Sehingga dengan paksaan Rivandra pun berhasil menidurkan Shifa.
Shifa beranjak dari tidurnya tetapi Rivadra menahannya.
"Shifa mau ngapain kamu, sudah tidur saja"
"Aku mau bawa minyak kayu putih" Ucapnya dengan suara parau.
"Di mana biar aku saha yang ambil" Ucap Rivandra.
"Di tas"
Rivandra pun mengambil tas Shifa dan mengorek-ngorek isi di dalam nya tetapi ia tidak menemukan minyak kayu putih.
"Tidak ada minyak kayu putih disini Shifa" Ujarnya.
"Ada di resleting kedua"
Rivandra pun membuka resleting yang kedua tetapi ia tidak mendapatkan apa yang di cari malah ia menemukan bungkusan yang seperti roti.
"Gak ada Shifa adanya juga roti"
"Roti? hehe maksudnya roti jepang?" Ujar Shifa seraya terkekeh pelan.
"Hahh roti jepang... Ngapain kamu bawa roti jepang? Kapan kamu ke jepang kenapa tidak memberitahuku?" Tanyanya dengan beruntun membuat Shifa terkikik seraya bangun dari tidurnya.
"Kenapa tertawa?"
"Tidak hehe" Shifa mengambil tas itu kemudian ia merampas roti jepang yang berada di tangan Rivandra.
"Kenapa bangun kamu tidur saja" Ucap Rivandra.
"Aku gak papa cuma sedikit pusing" Shifa mengambil minyak kayu putih yang berada di dalam tas nya kemudian mengusapkan ke tengkuk dan memijat kepalanya.
"Sini biar aku saja yang memijatnya" Rivandra merebut minyak kayu putih itu karena ingin mrmijat kepala Shifa.
"Gak usah" Shifa pun berbaring kembali dengan merapikan rok nya yang tersibak.
"Apa kamu lapar Shifa?" Tanya Rivandra. Shifa pun menganggukan kepalanya.
"Baru ingat saat kamu menyuruh Raihan untuk membeli makanan" Ucap Shifa dengan membalikan bedannya menghadap ke sandaran kursi tapi karena ia tidur dengan menjadikan pangkuan Rivandra menjadi bantal jadi yang ia lihat adalah perut Rivandra.
"Salah" Lirih Shifa seraya membalikan kembali badannya membuat Rivandra terkekeh.
"Hahaha Shifa kenapa kamu bulak-balik terus?" Tanya Rivandra.
"Gak papa" Sebenarnya Shifa merasa pegal dengan tidur menghadap ke depan karena ia sudah seperti itu dari beberapa menit yang lalu.
"Sudah Shifa aku tahu kamu pegal jadi menghadap kesini saja"
"Atau mau tidur seperti tadi siang" Tanya nya.
"ehehe tidak itu sangat tidak baik" Ucap Shifa seraya membalikan tubuhnya menghadap ke belakang.
"Tidak baik kenapa?" Tanya Rivandra.
"Tidak baik karena itu dosa hehe" Ujar Shifa.
Ralat karena itu membuat hati ku tidak karuan dan sebenarnya aku tidak ingin beranjak dari sana dan ingin berlama-lama seperti itu , ya ampun aku mikirin apaan sih. Gumam Shifa dalam hati.
"Jadi tadi siang kamu melakukan dosa"
"ya bisa jadi tapi itu darurat" Ucap Shifa membuat Rivandra tertawa dan menenggelamkan kepala Shifa di perutnya yang kota-kota membuat Shifa tidak bisa bernapas karena pengap.
Shifa mencubit pinggang Rivandra karena ia tidak bisa bernapas dan melihat gara-gara pria itu.
"Aawwwhh" Rivandra melepaskan kepala Shifa membuat Shifa bisa bernafas kembali.
"Kau ingin membunuhku Pak?" Tanya Shifa.
"Tidak"
Raihan pun datang dengan membawa makanan untuk bekal di villa dengan minuman hangat yaitu dua gelas kopi dan satu gelas teh hangat.
"Kau lama sekali"
"Maaf tuan saya membeli dulu bekal dan beberapa makanan untuk di Villa"
Raihan pun memberikan minuman ituh kepada Shifa dan Rivandra.
Shifa baru saja memejamkan matanya tetapi ia terbangun kembali saat mendengar pintu mobil di buka.
Rivandra membantu Shifa untuk duduk dan memberikan minuman hangat itu kepada Shifa.
"Terimakasih" Ucap Shifa.
Raihan menjalankan mobilnya sambil memakan roti dan begitu pun dengan Shifa mereka memakan roti.
"Shifa bukannya kamu punya roti jepang" Ujar Rivandra.
Uhukk uhukkk
Shifa tersedak lalu Rivandra pun langsung memberikan minum kepada Shifa.
"Pelan pelan makannya"
"Kenapa roti jepang nya tidak di makan?" Tanya Rivandra.
"Hihi itu bukan roti makanan hihi" Shifa terkikik mendengar penuturan Shifa.
"Bukannya itu roti jepang kenapa bukan makanan itukan roti?" Tanya Rivandra dengan bodohnya
"Apa Bapak tidak tahu roti jepang itu istilah untuk apa?"
"Emang untuk apa?" Shifa hanya terkikik dan membuat Rivandra semakin bingung.
"Rai apa kamu tahu roti jepang itu apa"
"Kalau tidak salah itu pembalut tuan" Ujar Raihan membuat Rivandra tambah bingung di buatnya.
"Pembalut itu apa?" Tanya nya.
Ya ampun apa Bos Rivandra sebodoh itu masa iya sih dia gak tahu pembalut . Gumam Raihan.
"Itu untuk datang bulan tuan" Jelas Raihan.
"Kenapa kamu tahu? Apa kamu datang bulan ?bukannya yang datang bulan itu hanya wanita?"
" Saya tahu karena saya punya adik perempuan tuan. Bukannya anda juga punya saudara perempuan"Ucapnya.
"Maksudmu Syla ponakanku" Raihan pun menganggukan kepalanya.
"Tapi Syla tidak pernah memberitahuku akan hal itu"
Mana mau dia memberitahu itu kepada mu tidak ada untungnya juga. Gumam Raihan dalam hati.
"Mungkin dia malu tuan" Ujar Raihan.
Rivandra pun menganggukan kepalanya karena keponakannya itu sangat tertutup meskipun sangat manja kepadanya.
Shifa membuka ponselnya di sana sudah banyak panggilan dari keluarganya. Karena ponselnya di silent jadi ia tidak tahu kalau sudah ada puluhan panggilan dan pesan tidak terjawab.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa Like,Komen,Dan Vote.