My Beloved Boss

My Beloved Boss
Apakah aku sudah mencintainya?



Shifa berlari menuju kamar nya. Di rumah itu semua Cucu Oma Tutut mempunyai kamar masing-masing.


Shifa langsung melompat ketempat tidur dengan wajah memerah dan terus tersenyum.


"Aaagghhh" Teriaknya dengan menenggelamkan wajahnya di bantal.


"Ya ampun kenapa aku jadi begini kan jadi malu" Gerutu Shifa.


***


Setelah pulang dari rumah Oma Tutut Rivandra melajukan mobilnya menuju apartemen dengan wajah tidak surut dari senyuman.


"Ohh Syifa i love you" Teriaknya.


"Hehe aku tidak menyangka kau akan mengecup pipi ku Shifa" Ucapnya seraya menyentuh bagian pipi yang di kecup oleh Shifa.


"Apakah aku sudah mencintainya" Tanya nya kepada diri sendiri.


"Aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya bahkan hanya melihat senyum nya saja aku sudah sangat bahagia. Senyuman yang terlihat tulus ya ampun Shifa kau membuat ku tidak waras" Oceh Rivandra.


Rivandra telah sampai di apartemennya ia langsung masuk ke kamar mandi tapi sebelum masuk ia mencari sesuatu yang bisa menempel di pipinya untuk menutupi bekas kecupan Shifa supaya tidak terbasuh air.


Setelah selesai mandi ia berdiri di depan cermin seraya mencopot sesuatu yang ia tempelkan di wajah nya untuk menutupi bekas kecupan Shifa.


"Aku tidak akan mencucinya sampai bertemu lagi dengan mu Shifa" Gumamnya seraya masuk ke dalam selimbut untuk merajut mimpinya.


"Aku merasa kau ada di dekat ku.Apa karena kecupan ini ya?" Ia memegang bagian pipinya itu seraya tersenyum lalu ia pun memejamkan matanya.


***


Pada Pagi hari Shifa sudah berada di kantor ia sedang berkutit dengan pekerjaannya begitu pun dengan Feya mereka sama-sama sibuk. Sedang kan si Bos pemimilik perusahaan itu belum terlihat batang hidung nya.


Pagi ini terlihat sangat mendung tidak seperti biasanya dan udara pun terasa dingin di tambah dengan Ac ruangan.


"Tumben si tuan kejam belum datang " Ujar Feya.


"Hari ini sangan mendung Fey mungkin dia malas untuk ke kantor" Balas Shifa.


"Gak mungkin Shifa dia itu bukan tife orang yang seperti itu" Ucap Feya dengan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 9.


Rivandra masih saja merajut mimpinya di bawah selimbut di tampah cuaca yang sangat mendung membuatnya malas untuk bangkit.Sedangkan di depan pintu Apartemen nya Asisten Raihan sedang berdiri dan sudah beberapa kali menekan bel itu tapi tidak ada sahutan dari dalam dan itu membuatnya sangat cemas.


Asisten Raihan pun menekan kode pintunya karena ia sudah terbiasa untuk keluar masuk apartemen itu.


"Tuan..." Ucap nya tapi tidak ada sahutan ia pun naik ke lantai atas menuju kamar Rivandra.


"Tuan apa kau baik-baik saja?"Tanyanya saat membuka pintu kamar.


Tidak ada jawaban ia hanya melihat tuannya itu sedang menutup seluruh tubuhnya dengan selimbut.


"Tuan apa kau sakit"Raihan mengguncang pelan bahu tuannya itu yang tertutup dengan selimbut tebal.


"Apa" Jawabnya dengan suara khas bangun tidur.


"Apa kau sakit?" Tanya Raihan.


"Tidak aku sangat mengantuk"


"Apa kau tidak akan ke kantor?" Tanya nya lagi.


"Nanti saja siang. Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor"


"Tapi tuan anda harus ke lapangan untuk meninjau proyek hari ini jam 11 siang"


"Nanti saja itu masih lama"


"Tapi sekarang sudah pukul 9"


Rivandra bangun dari tidurnya "Apa kau membohongi ku"


"Tidak anda bisa lihat sendiri" Raihan menunjuk jam yang berada di nakas samping tempat tidur.


"Ya ampun apa aku tidur terlalu lama atau aku begitu nyenyak karena...." Rivandra menyentuh pipinya seraya tersenyum membuat Raihan bergidik.


"Baiklah kamu tunggu aku di bawah" Usirnya tapi Raihan malah diam mematung.


"Tunggu apa lagi cepat....Atau kau mau membandingkan punya mu dengan punya ku?"


"Maaf tuan saya tunggu anda di bawah"


Raihan keluar dari kamar Rivandra lalu duduk di sofa di ruang tamu yang berada di lantai bawah apartemen Rivandra.


"Kenapa dia sangat aneh" Guman Raihan dan ia pun menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju dapur untuk membuatkan tuannya sarapan.


Rivandra sudah siap dengan setelan kerjanya seperti biasa ia terlihat sangat tampan tapi satu yang beda dari biasanya yaitu senyuman.Biasanya Rivandra akan berangkat ke kantor dengan wajah datar tanpa ekspresi tapi saat ini ia terlihat sangat berbeda.


"Tuan ini sarapannya" Raihan menyodorkan roti bakar dan satu gelas kopi.


"Kau sudah seperti istri ku saja Rai. Tapi sayang aku tidak ingin memiliki istri batangan" Ujarnya seraya mengambil roti itu dan memakannya sambil berlalu keluar dari apartemen.


Emang siapa juga yang mau menjadi istri mu. Hei tuan aku masih normal.Gumam nya dalam hati.


" Tuan kopinya tidak kau minum?"Tanya Raihan.


"Yasudah kalau tidak mau mending ku minum saja" Ucap Raihan lalu meminum satu gelas kopi itu dengan cepat padahal kopinya masih sangat panas.


"Sial! ini sangat panas" Raihan memegang lidahnya yang mendadak menjadi hilang rasa kemudian berlalu pergi untuk mengejar tuannya.


Mereka sudah sampai di kantor Shifa dan Feya menyambut mereka dengan ramah.


"Selamat pagi menjelang siang pak" Ucap mereka sambil menundukan kepalanya.


"Shifa buatkan kopi"


"Sesiang ini...Ehh baik Pak" aucapnya dan berlalu pergi menuju pantry.


Shifa mengetuk pintu ruangan Bosnya setelah mendapat sahutan ia langsung masuk dan dan menyimpan kopi itu di meja.


"Ini Pak kopi nya"


"Makasih Shifa" Ujarnya dengan tersenyum membuat Shifa mengerutkan dahinya.


Aneh. Pikirnya.


"Shifa..."


"Iya Pak"


"Kamu jangan memanggil ku Bapak emang saya Bapak mu" Ucapnya.


"Terus apa saya harus memanggil Kakek atau Om"


"Asagfirullah itu panggilan yang sangat tua"


"Ya terus aku memanggil apa"


"Vandra saja"


"Gak sopan masa iya Sekretaris memanggil atasannya dengan menyebut nama".


"Karena kamu adalah sekretaris hati saya"


"Hah..." Sahut Shifa yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Rivandra.


"Enggak yasudah terserah kamu deh mau memanggil apa juga asal jangan yang di sebutkan tadi"


"Oke Mister" Ucap Shifa.


"Apa... Kamu kira kita berada di negara mana? Ini indonesia..."


"Huhh sudah lah saya akan memanggil Bapak saja dari pada pusing"Shifa berlalu pergi keluar dari ruangan itu.


" Ehh Shifa..."Panggilnya yang membuat Shifa mendongakkan kepalanya.


"Iya pak"


"Nanti kamu ikut saya untuk meninjau proyek yang sedang kita bangun"


"Kenapa harus saya, kenapa bukan Mbak Feya saja"


"Karena kamu masih baru di sini jadi saya harus melihat kinerja kamu"


"Baiklah, saya permisi"Shifa duduk di kursi nya dan ia melihat Feya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


" Feya..."Panggil Shifa.


"Hmmmm"


"Tuan kejam mengajak ku untuk meninjau proyek"


Feya langsung melihat ke arah Shifa dengan senang.


"Asik dia tidak mengajak ku,jadi tidak perlu panas-panasan di luar sana"


"Sekarang mendung tidak panas, apa Kamu tidak marah?" Tanya Shifa.


"Oh iya ya hehe, marah kenapa?" Tanya nya balik.


"Kamu tidak marah kalau aku di pilih untuk menemaninya"


"Kenapa harus marah aku bahkan sangat bahagia karena dia itu sangat menyebalkan" Ucapnya dengan memelankan suaranya saat menghcapkan kata terakhir itu.


"Benarkah?"


"Ehem"Ucap feya dengan tersenyum senang. Mereka pun melanjutkan kembali pekerjaannya.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen Dan Vote.