
Pintu itu menghubungkan ke sebuah kamar yang di desain dengan warna hitam putih. Sejenak shifa lupa kalau tujuannya ke sana untuk buang air kecil tapi karena melihat kamar yang sangat rapi dan aroma maskulin yang semerbak memasuki rongga hidung dapat di pastikan kalau itu adalah kamar atasannya karena ia sangat kenal dengan wangi parfum itu.
"Ohh iya" Shifa langsung lari menuju kamar mandi dan menyelesaikan tujuannya.
***
"Van ayo cepat cobain lo gak mau makan" Ajak Kenzle.
"Gak gue mau cuci muka dulu" Jawabnya sambil beranjak dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sebentar gue mau selfi dulu sama lo" Ujar Bella.
"Gak ah Ogah gue" Ujar Rivandra.
"Sekali saja"Bella terlihat memelas.
"Hmm yaudah" Mereka pun selfi dan Rivandra melenggang pergi meninggalkan Ruang tamu.
"Haha ternyata dia cantik juga ya kalau di make up" aucap Bagas.
" Iya haha" Timpal Kevin.
" Iya dong karya siapa dulu"Bella mengangkat kepalanya dengan gaya sombong.
Rivandra terus menaiki tangga dan ia pun menuju ke arah kamarnya ia mengira bahwa Shifa masuk ke dalam kamar mandi yang ada di ruang tidur pintu pertama jadi ia dengan bebasnya masuk ke dalam kamar nya sendiri. Rivandra membuka jas dan melemparnya dengan asal kemudian membuka kemejanya dan celananya hanya menyisakan boxer ia dengan santainya berjalan ke kamar mandi karena pintunya tidak di kunci mungkin saking terburu-burunya Shifa sampai lupa untuk menguncinya. ia melangkahkan kakinya sambil bersiul.
Saat masuk ke dalam ia di kagetkan dengan wanita yang sedang berdiri di depan kaca wastafel dengan wajah yang sangat putih penuh dengan busa.
"Aaaggghh hantu" Teriak Rivandra.
Karena mendengar teriakan shifa yang sedang membasuh wajahnya pun langsung menoleh ke arah yang berteriak dan Shifa pun sama terkejutnya saat mendapati Rivandra hanya memakai boxer. Memperlihatkan dadanya yang terekspos tubuh yang begitu seksi dengan otot-otot yang menonjol membuat Shifa menelan ludahnya dan seketika ia pun ikut berteriak.
"Aaggghhh" Shifa membulatkan matanya tapi bukan Shifa namanya kalau ia tidak cepat tersadar dan langsung memalingkan wajahnya.
"Ngapain kamu di sini" Tanya Rivandra.
"Kan aku tadi sudah bilang kalau aku ingin ke kamar mandi" Ucap Shifa sambil membelakangi rivandra dan tidak berani melihat tubuh Rivandra yang menggoda imannya itu.
"Kenapa harus masuk ke kamar ini" Tanya Rivandra lagi.
" Karena kamar yang itu tidak bisa di buka" Jelas Shifa.
"Kalau berbicara itu tatap lawan bicaranya bukan membelakangi seperti itu" Ucap Rivandra.
"Gak" Shifa terus memalingkan wajahnya membuat Rivandra merasa geram dan langsung memutar tubuh shifa ke arahnya tapi Shifa malah menutup matanya.
"Kamu kenapa ?? Buka matanya !" Titah Rivandra.
"Gak mau" Tegas Shifa.
"Kenapa cepat buka mata kamu kalau gak kamu akan menyesal"Ujarnya sambil tersenyum smirk.
"Menyesal apa? aku gak akan menyesal kecuali membuka mata" Jawab Shifa ketus.
"Kamu yakin" Tanyanya lagi.
"Iya" Jawab Shifa dengan tegasnya.
Cup
Cup
Rivandra mengecup pipi Shifa sekilas sebelah kanan dan kiri karena ia telah memperhatikan wajah yang putih mulus di tambah tetesan air yang menambah kesan segar di wajah Shifa.
Sontak membuat Shifa membuka matanya lalu memukul dada dan lengan rivandra tanpa ampun yang membuat rivandra meringgis meski pura pura
padahal pukulan Shifa itu tidak terasa olehnya.
" Aww Shifa sakit" Teriak Rivandra dengan ber pura-pura.
"Rasain" Ujar Shifa kemudian ia pun bercermin dan melihat kedua pipinya merah bekas lipstik yang membentuk bibir Rivandra.
"Tuh kan harus cuci muka lagi" gerutu shifa dan membuat Rivandra terkikik.
"Apa ketawa" Sewot Shifa.
" Engga" Rivandra mengulum senyumnya.
Tetapi saat ia menggosok wajahnya make up itu tidak luntur dengan sempurna masih banyak yang menempel di wajahnya dan malah menyatu gak jelas membuat wajah Rivandra menjadi aneh dan warna- warni.
Shifa yang menyadari Rivandra menggosok wajah nya dengan bingung pun kembali tertawa.
" Ahaha wajahnya ahaha semakin tidak jelas" Ujar Shifa sambil terus tertawa.
"Kenapa tidak luntur dengan sempurna" tanya Rivandra.
Shifa pun mengeluarkan cairan membersih make up dan kapas dari tasnya karena ia selalu sedia membawa make up nya meskipun hanya sedikit.
"Pake ini nih" Shifa menyodorkan kapas dan cairan pembersih itu kepada Rivandra.
"Apaan ini " Tanya Rivandra.
"Itu cairan pembersihnya coba saja nanti langsung bersih" Jelas Shifa.
Rivandra pun mencobanya tapi ia sangat kesulitan dan menggosokannya dengan kencang.
"Ini sangat sulit dan sangat menyakitkan "Ujarnya.
"Pelan-pelan saja tidak usah di gosok seperti itu" Ucap Shifa sambil memutar bola matanya.
"Kamu saja yang menghapusnya nih aku tidak bisa"Rivandra menyerahkan cairan dan kapas itu kepada Shifa dan shifa pun menghela nafasnya.
" Diam jangan bergerak " Ujar Shifa.
Saat Shifa menghapus makeup itu ia merasakan tangannya pegal karena tubuh Rivandra yang lebih tinggi darinya dan ia juga agak ke sulitan untuk melihatnya dengan jelas.
"Ini sangat sulit kau terlalu tinggi"Ucap Shifa.
"Siapa bilang! Kau nya saja yang terlalu pendek" Ujar Rivandra.
" Kau lihat aku tidak pendek tubuhmu saja yang terlalu tinggi tanganku pegal sekali!!" Protes Shifa dengan sewot.
Tiba-tiba Rivandra mengangkat tubuh Shifa dan mendudukannya di meja yang menyatu dengan wastafel sehingga mengimbangi tubuh nya.
"Main angkat saja gak sopan" Ketus Shifa.
"Udah jangan bawel cepat bersihkan wajahku ,ini semua juga kan gara-gara kamu" Ucapnya.
"Salahin saja terus" Gerutu Shifa.
Shifa pun membersihkan wajah Rivandra dengan serius dan Rivandra pun asik memperhatikan wajah cantik dan manis Sifa dan ia pun turun ke arah bibir yang terlihat sangat menggoda dengan warana pink cerry natural.
Shifa memegang kepala Rivandra supaya lebih dekat dan ia bisa melihat bagian mana yang masih bernoda dan Rivandra pun dengan senang hati mengikuti tangan Shifa menggerakannya dan ia pun merangkul pinggang Shifa supaya lebih memudahkan Shifa dalam membersihkan wajahnya.
" Sudah bersih" Ucap Shifa sambil menurunkan tangannya yang tadi memegang kepala Rivandra.
Tetapi Rivandra tidak bergeming ia terus memperhatikan wajah Shifa sambil tersenyum.
"Udah selesai lepasin" Shifa menepis tangan Rivandra dari pinggangnya tetapi Rivandra malah semakin mempererat rangkulannya dan ia pun maju sedikit demi sedikit dan semakin mempererat rangkulannya pada pinggang shifa sehingga menyebabkan tubuh Shifa terhuyung dan menempel pada tubuh Rivandra membuat Shifa membulatkan matanya.
"Aghhh mau ngapain lepasin"Teriak Shifa.
Tanpa aba-aba Rivandra pun langsung mencium bibir Shifa dengan lembut sedangkan tubuh Shifa hanya menegang karena syok ia tidak membalas atau pun menolak ia hanya diam saja seperti patung dan merasakan jantungnya berdetak seperti sudah lari maraton.
Karena tidak ada penolakan dari Shifa ia pun semakin memperdalam ciumannya tidak bisa di pungkiri jantung nya pun sama seperti shifa berdetak dengan sangat kencang sehingga jantung mereka saling bersahutan.
Rivandra tersenyum di sela-sela ciumannya karena merasakan tubuh Shifa tidak bergerak sedikit pun bahkan mungkin wanita itu tidak Bernafas. Kemudian ia melepaskannya sebentar untuk menghirup udara dan Shifa pun tersadar tapi saat ia ingin berbicara Rivandra langsung kembali mencium bibir itu yang menurutnya terasa sangat manis ciuman itu berlangsung sangat lama sampai seseorang di ambang pintu berdehem sambil memegang ponselnya yang tanpa mereka sadari orang itu telah merekam video dari awal.
Ehemm
Sontak Shifa pun tersadar dan langsung mendorong dada Rivandra dengan kasar dan ia pun turun dari meja tersebut. Saat turun ia terpeleset sehingga menyebabkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan rivandra.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa like komen dan vote nya ya supaya author semangat untuk melanjutkan ceritanya.
Terimakasih😀