My Beloved Boss

My Beloved Boss
Darurat



Jam 11 pun tiba Rivandra dan Shifa sudah berada di mobil yang di kendarai oleh Raihan untuk pergi menuju proyek itu berlangsung.


Seperti biasa Rivandra tidak membiarkan Shifa duduk di depan denga berbagai alasan dan sedikit ancaman akhirnya Shifa pun menurut dan duduk dengannya di kursi penumpang.


Raihan yang merasa aneh dengan tingkah berlebihan Bos nya itu pun hanya mengedikan bahunya acuh meskipun ia sangat penasaran ada apa dengan Rivandra tapi ia tidak ingin terkena masalah karena rasa kepo nya itu.


Mereka sudah sampai ti lokasi.Saat mereka turun dari mobil seorang yang di percaya mereka untuk memperhatikan pembangunan itu pun memberikan safety helmet kepada Rivandra, Shifa dan Raihan. Untuk melindungi kepala mereka dari benturan.


Siang ini hari begitu mendung dan berawan, mereka sedang berada di depan bangunan dan Rivandra menyuruh Shifa untuk memotret bangunan tersebut.Setelah selesai Rivandra mengunjungi Shifa yang berada jauh darinya karena ia memotret suatu bangunan yang begitu besar jadi tidak mungkin kalau bangunan itu akan terpotret seluruhnya jika berada di jarak yang sangat dekat.


Saat ini Shifa sedang melihat hasil potretannya ia berada di tengah lapang yang sangat luas atau lahan kosong karena nantinya bangunan itu akan di buat gedung sebuah mall. Sedangkan Raihan ia sedang melihat-lihat bagian belakang gedung tersebut.


"Shifa gimana apa hasilnya bagus?" Tanya Rivandra.


"Lumayan meskipun cuaca tidak mendukung tapi tidak membuat gambar ini rusak.Karena ponsel ku sangat bagus" Ucapnya.


" Hmmm" Rivandra berdehem mendengar penuturan Shifa membuat Shifa terkekeh.


Duarr Duarr


"Aaggghhh" Shifa terlonjak kaget mendengar suara petir dan refleks memeluk Rivandra saat tersadar ia langsung melepaskannya.


"Hehe maaf aku kaget" Ucapnya dengan cengengesan.


Byurrr byurrr


Tiba-tiba turun hujan yang begitu besar yang seketika membuat baju mereka basah.


"Aduh hujan" Ucap Shifa.


Karena mereka memakai safety helmet jadi kepalanya tidak basah tapi tidak dengan pakaian nya pakaian mereka basah kuyup.


Mereka pun berlari ke arah mobil karena yang paling dekat jarakmya dari tengah lapang itu adalah mobil.


Mereka masuk kedalam mobil baju mereka basah kuyup.


"Kenapa hujannya sangat tiba-tiba" Ujar Shifa seraya membuka safety helmet nya dan mengambil tisu di tasnya untuk mengelap wajahnya yang basah.


Rivandra mengambil baju cadangannya yang selalu ada di mobil dan membuka baju basahnya. Shifa masih tetap fokus membersihkan wajahnya hingga tidak menyadari bahwa Rivandra telah membuka seluruh pakaiannya yang basah kecuali boxer.


Saat cermin yang ia pakai tidak sengaja mengarah pada rivandra ia pum langsung membulatkan matanya saat melihat rivandra yang hanya memakai boxer.


"Ya ampun" Shifa menoleh kepada Rivandra.


"Hai Shifa"


"Hai?" Shifa mengernyitkan keningnya.


"Kamu kenapa Pak seperti ayam yang baru di cabut bulu nya" Ujar Shifa.


"Maksud kamu"


"Ya hanya terlihat kulitnya saja haha"


"Bukannya kamu suka dengan penampilan ku seperti ini?"


Pakkkk


Shifa memukul Rivandra membuat Rivandra menelan ludahnya kasar saat melihat kemeja putih yang di pakai Shifa yang menjiplak karena basah


"Dihhh dasar Gr" Ujar Shifa.


"Kenapa?" Tanya Shifa saat melihat Rivandra diam dan terbengong.


"Enggak" Rivandra menggelengkan kepalanya.


"Kamu yakin tidak mau memegang tubuhku yang sangat bagus ini?" Tambahnya.


"Bapak itu kalau mau pamer-pamer badan gak usah jadi pembisnis mending jadi model" Ujar Shifa.


"Gak mau! Jadi model itu uangnya kecil mending jadi pembisnis"


"Iya terserah"


Rivandra memakai kemeja dan celananya di mobil sedangkan Shifa ia memalingkan wajahnya karena tidak ingin melihat pemandangan yang begitu merusak mata sucinya.


"Kamu gak ganti baju Shifa?"


"Mau ganti pakai apa"


"Ogah nanti di kira Bapak-Bapak yang sedang ronda"


"Hahaha Shifa kamu itu ada-ada saja"Rivandra tertawa terbahak-bahak.


" Aku tidak sedang ngelawak kenapa Bapak tertawa?"


"Tapi kamu lucu Shifa" Ucapnya seraya tersenyum.


"Ac nya bisa di matikan tidak ini sangat dingin" Ujar Shifa seraya menggosok-gosok tangannya.


"Ini sudah mati dari tadi juga" Ujar Rivandra.


eeessssttt esssstt


Shifa terlihat menggigil seraya menaikan kedua kakinya ke kursi mobil. Rivandra yang melihat itu merasa kasihan.


"Shifa..." Shifa mendongak.


"Ehh wajah mu pucat sekali" Ucap Rivandra seraya menarik Shifa ke dekat nya.


Shifa terus menggigil Rivandra pun membuka kemejanya lalu memeluk Shifa.


"Eehh mau ngapain" Ucap Shifa dengan suara parau.


"Diam kalau tidak gini nanti kamu sakit" Ucapnya.


Shifa pun menurut ia diam dengan kedua kaki di tekuk dan Rivandra pun memeluknya dengan erat.


"Mending buka saja pakaian mu nanti kamu bisa masuk angin kalau memakai pakaian basah" Ujar Rivandra tapi ia tidak mendapat sahutan dari Shifa. Saat ia melihat ternyata Shifa sedang tertidur.


"Apakah pelukanku begitu hangat?" Tanya nya kepada diri sendiri karena tidak ada siapapun di sana kecuali Shifa yang sedang tidur.


"Shifa..." Rivandra menggoyangkan pipi Shifa yang berada di dalam pelukannya pelan.


"Hmm" Sahut Shifa hanya dengan deheman.


Rivandra mengangkat Shifa ke dalam pangkuannya karena jika dengan posisi tadi ia merasa pegal dan tidak nyaman.


Saat Rivandra mengangkatnya Shifa menggeliat dan membuka matanya karena terkejut.Shifa merasakan tubuhnya melayang.


"Eehh Bapak mau ngapain jangan kurang ajar ya" Ucapnya dengan suara parau.


"Tidak Shifa kalau kau duduk seperti tadi akan membuat bahu mu sakit" Ujar Rivandra dan Shifa pun diam ia tidak mau bahunya sakit dan jika Rivandra tidak memeluknya ia kedinginan dan akan masuk angin kemudian ia pun menuruti ucapan Rivandra.


"Ini darurat" Ucapnya membuat Rivandra terkekeh.


Shifa menenggelamkan wajahnya di dalam dada Rivandra yang terbuka karena Rivandra membuka semua kancing kemejanya supaya bisa membagi hangat tubuhnya kepada Shifa.


Shifa tertidur kembali ia merasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini untuk pertama kalinya ia di peluk dan duduk di pangkuan laki-laki selain ayahnya itu juga dulu saat ia masih kecil.


Shifa menyilangkan tangannya di dada karena ia tidak ingin dadanya bersentuhan dengan tubuh Rivandra.


"Kenapa tangan mu seperti itu?" Tanya Rivandra.


"Hah" Shifa mendongak dan melepas kedua tangan dari dadanya untuk menurunkan rok nya yang sedikit tersibak.


"Ohh tida kau tutup lagi saja seperti tadi" Ujarnya saat melihat dada Shifa yang menerawang karena bajunya basah apalagi baju yang Shifa kenakan adalah kemeja putih.


"Hmmm" Shifa memejamkan matanya kembali seraya menyilangkan tangannya di dada yang tadi sempat ia lepas untuk membenarkan rok nya.


Hujan belum juga reda malah hujan itu semakin besar di tambah dengan petir yang saling bersahutan.


Rivandra yang merasa ngantuk pun ikut tertidur tetapi sebelum tidur ia mencium puncak kepala Shifa.Rambut bagian atas nya tidak basah karena tadi Shifa memakai safety helmet.


"Wangi sekali" Ujarnya saat mencium aroma rambut Shifa yang begitu wangi dan wangi nya pun sangat kalem.


Sedangkan Raihan ia sedang berada di bangunan tadi. ia pun sama terjebak hujan di sana tadinya ia akan mencari Rivandra dan Shifa karena tidak terlihat takutnya mereka tidak menemukan tempat untuk berteduh.Tetapi salah satu pekerja bangunan memberitahu kalau Rivandra dan Shifa berlari memasuki mobil.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen dan Vote