My Beloved Boss

My Beloved Boss
Pagi yang hangat



Pagi hari sekitar pukul 07.00 Keluarga Shifa sudah bersiap-siap untuk mengunjungi Oma Tutut.


" Darvo kau yakin tidak mau ikut Mommy?" Tanya Bella kepada Darvo yang masih tertidur dengan sangat pulas.


"Hmm iya aku yakin Mom"


"Yasudah Mom berangkat ya"Bella tidak mendapat sahutan dari Darvo dan ia sekeluarga pun berangkat kecuali Darvo dan Shifa.


Saat ini Shifa pun sama dengan Darvo ia masih tertidur dengan sangat pulas karena tadi malam ia tidur sangat malam sekali.


Sekitar pukul 9 kedua orang itu masih tetap tertidur dengan nyenyaknya. Sedangkan di depan rumah sudah berdirinya seorang pria tampan dengan memakai pakaian kasual.Pria itu menekan bel dan tidak berapa lama pintu di buka oleh seorang Asisten rumah tangga.


" Maaf tuan mencari siapa karena seluruh keluarga sedang tidak ada di rumah"


"Apa Shifa pun tidak ada di rumah?" Tanya pria itu.


"Ohh kalau Non Shifa dan den Darvo mereka masih tidur tuan" Ucap pelayan itu.


"Sesiang ini?"


"Iya karena tidak ada yang membangunkannya kalau saya mana berani" Ujar pelayan tersebut.


"Boleh saya membangunkannya?"


"Tapi anda siapanya Non Shifa ya?" Tanya pelayan itu.


"Ohh saya bos nya di kantor tempat kerja Shifa" Rivandra melihat pelayan itu sepertinya sangat khawatir dan tidak begitu percaya dengan orang asing.


"Kau tenang saja aku tidak akan berbuat yang tidak-tida" Tambah Rivandra.


" Baiklah silahkan tuan, kamarnya berada di atas nanti di depan pintunya tertulis nama non Shifa.Kalau anda butuh apa-apa panggil saya saja"


"Baik Terimakasih"


Rivandra melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga di rumah tersebut hingga sampailah ia di sebuah pintu yang bertuliskan nama Rayshifa ia membuka pintu tersebut yang kebetulan tidak di kunci.


Rivandra melihat sekeliling kamar yang terdapat beberapa bingkai foto dan hiasan-hiasan wanita lainnya.


Hari sudah begitu siang sehingga cahaya pun menembus ruang tidur tersebut.


"Shifa"Panggil Rivandra dengan memegang lengan Shifa yang sedang tidur membelakanginya.


" Hmnm"Sahut nya entah sadar atau tidak.


Rivandra terus mencolek lengan Shifa yang kebetulan lengan itu polos tidak terbungkus apapun karena Shifa memakai baju tidur tanpa lengan.


"Apaan sih Kak Bella diam deh jangan ganggu aku tidur ini hari minggu jangan membangunkanku" Racau Shifa dengan masih memejamkan matanya.


Rivandra kembali mencolek lengan tersebut.


" Kakak bisa diam gak mending sini tidur kembali bersama ku jangan membangunkan ku"Racau nya sambil menepuk tempat tidur di sebelahnya.


Sontak perkataan itu membuat Rivandra tersenyum dan langsung melompat ke tempat tidur.


"Pelan-pelan nanti ranjang ku hancur" Lirih Shifa ia tidak membuka matanya sama sekali.


Rivandra tidur dengan menghadap ke wajah Shifa ia menelan ludahnya saat melihat selimbut yang menutupi tubuh wanita itu tertarik olehnya sehingga hanya menutupi bagian kaki Shifa. Sehingga tubuh Shifa yang tertutupi oleh selembar kain yaitu dres tidur yang ia pakai itu terlihat sangat menggoda iman nya.


"Astagfirullah jangan sampai aku berbuat dosa" Rivandra mengusap wajahnya kasar saat ia akan beranjak dari ranjang. Shifa memeluknya dengan erat.


"Ya allah maafkan aku kenapa aku harus di beri pemandang indah di pagi hari" Gumam Rivandra.


Shifa semakin mempererat pelukannya bahkan kaki nya pun ikut pelingkar di pinggang Rivandra.


"Hmn sepertinya aku kenal dengan parfum ini" Lirih Shifa.


"Kak Bella apa kau memakai parfum kak Brayen"


"Tapi ku rasa ini bukan parfumnya" Racau Shifa.


Shifa tidur dengan wajah menengadah ke atas ia merasa nyaman dengan pelukan itu sehingga ia kembali tertidur dengan pulas.


"Shifa" Ucap Rivandra pelan.


"Ya ampun apa senyaman ini pelukan ku" Ucap Rivandra.


Rivandra pun tersenyum smirk


Cup


Rivandra mengecup bibir Shifa tapi tidak ada reaksi.


"Emmmm"Shifa mulai bereaksi dan Rivandra pun melepaskannya.


"Hey kak apa kau sudah tidak normal jelas-jelas ada kak Brayen kenapa kau mengecupi bibir ku. Aku tidak sudi ya bibirku di kecup oleh wanita" Racau Shifa.


"Ya ampun dia masih mengira bahwa aku adalah Bella" Gumam Rivandra.


"Kalau di cium oleh pria apa kau sudi" Ucap Rivandra dengan agak keras di telinga Shifa seraya membalas pelukan Shifa.


Shifa sepertinya mengenal suara itu


Apa aku masih di dalam mimpi. Gumam nya di dalam hati dan seketika ia membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat membuka mata yang pertama ia lihat adalah wajah Rivandra yang terlihat sangat tampan.


"Apa aku mimpi" Ucapnya seraya mencubil pipinya.


"Tidak" Ucap Rivandra seraya mempererat pelukannya.


"Hohh ya ampun" Shifa merasa jantungnya berdetak sangat kencang di saat posisinya sangat berdekatan seperti ini.


Bagai mana ia tidak mengira itu mimpi kalau semalam saja pikirannya terus berputar-putar memikirkan pria yang sekarang berada di hadapannya.


Dengan tersenyun Rivandra semakin mempererat pelukannya kemudian ia menarik tengkuk Shifa dan menyatukan bibir itu untuk yang kedua kalinya


Shifa pun tidak di berikan celah untuk berbicara sehingga shifa memukul punggung Rivandra tapi Rivandra langsung mencekal tangan itu dan semakin memperdalam ciumannya.


Sampai Shifa pun terbawa suasana ia mulai sedikit demi sedikit membalas ciuman tersebut.Mereka terus berciuman seakan menyalurkan perasaan keduanya yang sudah mulai nyaman dan takut kehilangan.


Shifa meremas jaket bagian belakang Rivandra saat ciuman itu semakin dalam. Nafas nya sudah mulai habis sehingga Rivandra melepaskan ciuman itu sebelum ia hilang kendali kemudia ia mengecup dahi Shifa.


"Maaf Shifa" Ucapnya.


Shifa bernafas dengan terengah-engah begitu pun dengan Rivandra mereka saling berebut oksigen.


Jika saja Rivandra tidak melepaskan pangutan itu mungkin ia sudah melakukan lebih kepada Shifa tapi ia tidak egois ia tidak akan melakukan hal seperti itu kepada wanita yang ia sayang sebelum mereka halal mungkin hanya sebatas ciuman meski tetap saja itu dosa.


"Tunggulah aku di luar" Ujar Shifa dingin kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


"Shifa maaf" Ujar Rivandra ia mengejar Shifa tapi wanita itu sudah menutup pintu kamar mandi.


"Shifa" Rivandra mengetuk pintu itu.


"Tunggulah di luar dan tolong bangunkan Darvo" Teriak Shifa dari dalam.


"Baiklah"Rivandra keluar dari kamar Shifa dengan wajah gusar.


Shifa di kamar mandi sedang duduk di atas kloset ia sedang mengatur nafasnya supaya jantung berdetak dengan sebagai mana mestinya.


" Ya ampun jantung kenapa kau terus berdetak dengan kencang sudah lah aku takut terkena serangan jantung dan aku juga tidak ingin mati muda"Ucap Shifa dan setelah detak jantungnya kembali normal ia langsung mandi.


Rivandra turun ke bawah dan di sana ada pelayan yang sedang membereskan rumah.


"Eh tuan sudah bertemu dengan Nona Shifa?" Tanya pelayan itu.


"Iya dia menyuruh ku untuk membangunkan Darvo. Kamarnya sebelah mana ya?" Tanya Rivandra.


"Kamarnya di atas tidak jauh dari kamar Non Shifa"


"Iya bi terimakasih, Boleh saya minta minuman"


"Iya sebentar tuan biar saya ambilkan anda mau minum apa tuan?" tanya pelayan itu.


"Air mineral dingin" Ujarnya.


pelayan itu mengerutkan keningnya. Kenapa pria ini pagi-pagi sekali meminta minuman dingin. Pikirnya.


"Saya sudah biasa meminum minuman dingin di jam segini" pelayan itu pun mengangguk kemuadian mengambilkan air mineral dan memberikannya kepada Rivandra.


Setelah minum ia langsung menuju kamar Darvo saat ia masuk ia melihat ranjang anak itu memiliki pagar membuat Rivandra mengerutkan keningnya.


"Aneh sekali tempat tidurnya" Ucap Rivandra.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen dan Vote.