My Beloved Boss

My Beloved Boss
Cara lain



Shifa membuka ponselnya di sana sudah banyak panggilan dari keluarganya. Karena ponselnya di silent jadi ia tidak tahu kalau sudah ada puluhan panggilan dan pesan tidak terjawab.


"Ya ampun" Shifa pun langsung menelpon kembali.


"Halo Assalamualaikum Ayah"


waalaikum salam Nak kenapa kau belum pulang ini sudah hampir malam. Ucap pak Randi di balik telepon.


"Maaf ayah sepertinya aku tidak bisa pulang sekarang, karena kami terjebak di sebuah daerah yang jalannya trhalang oleh air sungai yang meluap karena tanggul yang jebol" Jelas Shifa.


Kami? Kamu sama siapa Shifa?. Tanya Pak Randi.


Shifa pun menjelaskannya dan ayahnya sedikit ragu dan khawatir membiarkan anak gadisnya bersama laki-laki di luar sana.


Rivandra pun merebut ponsel Shifa untuk menjelaskan kepada Pak Randi.


"Assalamualaikum Om maaf ini semua salah saya karena mengajaknya untuk menemani saya melihat pembangunan proyek di daerah yang hanya satu jalaur untuk menuju ke pusat kota" Jelas Rivandra.


Apa kamu dapat di percaya? Apa kamu bisa menjaga anak saya? Kalau sampai kamu berbuat buruk kepada anak saya, saya tidak akan segan-segan memberikan pelajaran dan balasan yang akan membuat mu menyesal. Tegas Pak Randi di balik telepon sana.


"Iya Om saya janji tidak akan berbuat buruk kepadanya"


"Janji mu saya pegang awas saja kalau kamu mengingkari nya"


"Baik Om saya minta maaf sekali karena telah mengajak Shifa"


Tidak apa karena itu sudah kewajiban sekretaris kepada atasannya. Ujar Pak Randi.


"Iy..." Ucapan Rivandra terpotong karena ucapan seseorang di balik telepon yang tiba-tiba membentaknya.


Hey Vandra gue gak percaya sama lo mana buktinya kalau lo dan Adik gue terjebak di daerah sperti lo bilang hahah... . Bentak Bella di balik telepon.


"Gue sharelock sama lo dan lo cari berita di daerah situ"Ujar Rivandra.


Setelah mendapat sharelock itu Bella pun percaya karena tempat itu masuk berita karena tanggul yang jebol.


Telepon pun sudah terputus dan mereka sudah dampai di Villa yang di sewa oleh Raihan.


" Ini Villanya?"Tanya Rivandra.


"Iya tuan apa anda ingin mengganti penginapan?" Tanya Raihan.


"Sudah lah ini saja tapi nanti kau tidur di luar"


"Hahh..."


"Maksud ku tidur ti sofa ,tikar atau apa gitu,bukannya kau bilang cuma ada satu kamar"


"Oh iya baik tuan"


Mereka turun dari mobil di depan Villa sudah berdiri sepasang pria dan wanita paruh baya mereka tersenyum kepada Shifa,Rivandra,dan Raihan.


Shifa di tuntun Rivandra untuk menuruni mobil karena Shifa masih merasa pusing.


"Apa kalian yang menyewa Villa ini"Tanya pria paruh baya itu.


" Iya pak benar kami yang sudah memesannya"


"Perkenalkan saya Anang dan ini istri saya marni kami yang menjaga dan mengurus Villa ini" Ucapnya.


"Baik pak Perkenalkan saya Raihan"


"Saya Rivandra dan ini Shifa" mereka menjabat tangan kedua paruh baya itu.


"Mari silahkan masuk tapi maaf di sini cuma ada satu kamar dan kalian pun pasti sudah tahu kan?"Ajak Pria paruh baya itu.


"Iya Pak kami sudah tahu"


"Tapi kalian tenang saja karena di dekat ruang tamu ada sebuah bangku yang terbuat dari bambu yang di atasnya di lapisi kasur"Ucap pria paruh baya itu.


Pria dan wanita paruh baya itu menunjukan semua tempat yang berada di Villa setelah itu mereka pamit untuk pulang.


" Kami pamit dulu kalau kalian butuh apa-apa panggil kami saja di rumah sebelah ya"Ucap mereka.


"Baik terimakasih Pak, Bu dan ini untuk biaya sewanya" Raihan memberikan uang kepada mereka.


"Terimakasih kami pamit dulu"


Mereka sudah keluar dari dalam Villa itu dan Raihan pun sedang menyiapkan makan malam yang tadi sempat ia beli di jalan.


"Apa sebaiknya kita makan malam dulu tuan?" Tanya Raihan.


"Aku tidak mau makan aku ingin istirahat saja" Ucapnya sambil akan merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kau tidur di kamar saja biar aku dan Raihan yang tidur di sofa" Ujar Rivandra.


"Mana mungkin sekretaris mengambil alih tempat tidur untuk atasannya"


"Bukannya kau yang bilang waktu itu kalau sedang di luar prkerjaan di tambah di luar kantor kau akan bersikap biasa saja kepada ku, dan bagi ku juga sama seperti itu jadi untuk sekarang tidak ada atasan dan bawahan kecuali di kantor dan terlibat jam kerja" Rivandra mengingatkan kembali ucapan Shifa waktu di apartemen nya.


"Baiklah" Shifa beranjak dari duduknya dan di tuntun oleh Rivandra menuju kamar yang akan di tempati.


" Terimakasih "


"Iya istirahat lah nanti aku akan membawakan makanan untuk mu" Ucap Rivandra sebelum keluar ia mengacak-ngacak rambut Shifa terlebih dahulu.


"Isssshhh" Shifa mendengus sebal sedangkan Rivandra hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Shifa di kamar itu.


Shifa membaringkan tubuhnya dan tidak berapa lama ia langsung tertidur kembali.


Rivandra sudah selesai dengan makannya ia membawa satu piring makanan ke kamar Shifa. Saat masuk ke dalam ia melihat Shifa sedang terlelap dengan begitu nyamannya ia tidak tega untuk membangunkannya tetapi ia juga khawatir karena Shifa hanya memakan sepotong roti saja tapi itu juga tidak habis.


Dan dengan terpaksa Rivandra pun membangunkan Shifa.


"Shifa" Rifandra menggoyangkan bahu Shifa pelan dan membuat Shifa terbangun.


"Iya" Shifa membuka matanya.


"Kamu makan dulu ya "


"Tidak Pak aku sudah kenyang"


"Memangnya kau makan apa?"


"Roti"


"Sepotong roti tidak akan bisa membuat mu kenyang cepat makan ini" Rivandra menyodorkan sendok yang sudah berisi makanan ke depan mulut Shifa tetapi Shifa menggelengkan kepalanya.


"Cepat kalau tidak aku akan memakai cara lain"


"Bagai mana? Apa kau akan membelah perut ku dan langsung memasukan makanan itu kedalam lambung ku atau kau... Huffff" Ucapannya terpotong saat Rivandra memasukan paksa makanan itu dengan mulutnya.


Rivandra tidak melepaskan sebelum Shifa menelannya.


"Cepat telan... kalau tidak aku tidak akan melepaskannya"


Dengan terpaksa Shifa pun menelan makanan itu dan Rivandra pun melepaskannya.


"Mau ngunyah sendiri atau di kunyahkan oleh ku seperti barusan?" Tanya Rivandra.


Shifa mengerucutkan bibirnya "Kau sudah berjanji tidak akan mencium ku"ujar Shifa yang mengingat janji Rivandra kemarin-krmarin.


" Aku tidak mencium mu aku hanya menyuapi mu"Jawab Rivandra.


"Sama saja..." Ketus Shifa.


"Jangan seperti itu bukannya kau juga sangat menikmati ciuman itu bahkan kau membalasnya"Goda Rivandra dengan tersenyum smirk kepada Shifa.


" Tidak aku tidak mrmbalasnya kau jangan halu"Elak Shifa dengan memalingkan wajahnya karena malu.


"Tidak usah malu aku bahkan sangat menyukainya"


"Kau..."


"Apa? Kau mau mencobanya lagi" Shifa semakin cemberut di buatnya.


"Sudah jangan pikirkan itu Ayo makan dulu sekarang " Rivandra menyuapi Shifa dan dengan terpaksa Shifa pun memakannya karena ia tidak mau di suapi seperti tadi lagi.


Hari sudah malam Rivandra kembali ke ruangan di mana Raihan sedang tertidur sekarang.


Raihan tidur di sofa sedangkan Rivandra di bangku yang beralaskan kasur.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen dan Vote.