My Beloved Boss

My Beloved Boss
Memijat



Setelah makan Shifa tidak bisa tidur ia memainkan ponselnya tetapi jaringannya sangat lemot mungkin karena hujan.


Hari sudah menunjukan pukul 23.17 Shifa merasakan ingin buang air kecil tetapi di kamar tersebut tidak terdapat kamar mandi. Jika ingin ke kamar mandi ia harus melewati ruang tamu dan dapur.


Shifa pun beranjak dari duduknya dan membuka pintu ia melihat Raihan yang sedang tertidur di sofa dan tidak jauh dari itu ia melihat Rivandra yang sedang tertidur dengan menjadikan lengan sebagai penutup matanya.


Shifa berjalan dengan mengendap-ngendap karena takut membangunkan mereka sampai ia tidak hati-hati dalam berjalan dan membuat kakinya menabrak meja.


"Aawwss" Ringgis Shifa seraya memegangi kakinya yang sedikit ngilu karena terbentur meja.


Rivandra yang tidak bisa tidur pun terbangun dan berjalan ke arah Shifa dengan cepat.


"Kamu kenapa Shifa"


"Ehh kenapa bangun,Apa kamu terganggu karena suara ku?" Tanya Shifa.


"Aku tidak bisa tidur dan harusnya aku yang bertanya kepada mu ngapain kamu tengah malam keluar kamar dan belum tidur?" Tanya balik Rivandra.


"Aku tidak bisa tidur dan ingin pergi ke kamar mandi"


"Mau ngapain ke kamar mandi?"


"Aku ingin buang air kecil"


" Ya sudah ayo aku antar nanti kedodoran lagi"


"Apaan sih emang aku nenek-nenek kedodoran" Shifa terkikik mendengar penuturan Rivandra.


Shifa berjalan mendahului Rivandra dan Rivandra pun mengerutkan dahinya saat rok yang dikenakan Shifa terdapat noda berwarna merah.


"Shifa apa kau terluka sampai berdarah?" Tanya Rivandra.


"Maksudnya?"Shifa bingung dengan pertanyaan Rivandra.


"Itu di rok bagian belakang yang kamu kenakan ada noda darah"


"Benarkah?" Shifa langsung mendongak ke belakang melihat ke arah rok nya dan menarik rok itu pelan supaya ia bisa melihat.


Rok yang di kenakan Shifa berwarna krem sehingga akan sangat jelas jika terdapat noda warna apapun.


"Ohh ya ampun kenapa aku bisa sampai lupa" Ujar Shifa ia kembali berjalan menuju kamar nya dan Rivandra mengikutinya di belakang.


Shifa mengambil pembalut yang ada di tasnya dan membuat Rivandra semakain bingung.


"Katanya mau buang air kecil kenapa malah balik lagi ke kamar dan membawa roti jepang itu"


"Dan kamu jawab dulu yang di rok mu darah apa?"Tanya Rivandra dengan beruntun.


" Haha ini darah menstruasi "


"Menstruansi apa lagi itu"


"Maksud ku datang bulan"


"Ohh, terus itu roti jepang apa fungsinya?"


"Hehehe ini untuk menampung darahnya"


"meski di tampung tapi tetap saja itu merembas" Ujar Rivandra seraya melihat rok yang di kenakan Shifa.


"ya karena aku tidak menggantinya seharian ini" Ujar Shifa.


Shifa pun melangkahkan kembali kakinya menuju kamar mandi. Dan dengan setia Rivandra mengikutinya tapi saat Shifa masuk ia menyuruh Rivandra kembali.


"Makasih sudah mengantar ku kamu boleh tidur lagi" Ujar Shifa seraya menutup pintu dan Rivandra hanya diam kemudian ia pergi dari sana.


Shifa mendengar langkah kaki yang menjauh dari kamar mandi dan ia yakin kalau itu Rivandra.


Rivandra berjalan menuju sofa dan mengambil kunci mobil. Ia keluar dari Villa itu dan melangkahkan kakinya menuju mobil.


Rivandra mengambil kemeja nya yang berada di mobil ia memang selalu membawa baju cadangan tetapi itu hanya baju kerja seperti kemeja dan jas biasanya ia akan membawa pakaian itu lebih dari satu.Dan sekarang ia membawa satu kemeja di tangannya untuk di berikan kepada Shifa.


Rivandra sudah berada di depan kamar mandi ia kesana dengan diam-diam dan menunggu Shifa keluar dari kamar mandi.


Shifa keluar dari kamar mandi ia sangat kaget melihat seseorang yang tinggi berada di depannya.


"Aarrgggghh hufff" Teriakan Shifa terhenti karena Rivandra sudah membungkan dengan tangannya.


"Jangan teriak ini aku"


"Emmmm emmmn" Shifa tidak bisa bicara karena Rivandra terus membungkamnya.


Rivandra pun melepaskan tangannya dari mulut Shifa.


"Ya ampun kirain siapa aku kaget banget" Ujar Shifa seraya mengusap dadanya.


"Nih baju buat kamu bukannya rok mu kotor dan baju mu juga basah"Rivandra menyerahkan kemejanya yang berwarna hitam.


"Iya kering terpaksa"


"Cepat pakai ini" Rivandra menyodorkan kembali dan Shifa pun menerimanya.


Shifa masuk kembali ke kamar mandi ia memakai kemeja itu . Kemeja itu sangat besar saat di kenakan oleh Shifa saking besarnya di badan Shifa kemeja itu terlihat seperti tunik.


Di mana panjangnya sampai di atas dengkul bahkan celana pendek yang ia pakai pun tidak terlihat tapi mungkin karena celana itu begitu pendek.


Bagian tangannya pun sangat besar dan panjang melebihi panjang tangan Shifa,sehingga Shifa pun melipat bagian tangannya.


"Haha aku seperti orang-orangan sawah" Gumam Shifa.


Shifa keluar dengan membawa baju dan rok bekas yang tadi ia kenakan dan di sana masih ada Rivandra.


Saat pintu kamar mandi terbuka ia pun mendongak melihat ke arah Shifa ia membulatkan mata nya saat melihat Shifa sangat seksi dengan baju yang kebesaran itu membuat ia menelan ludahnya.


Kenapa dia seksi sekali memakai baju ku. Gumam Rivandra di dalam hati.


"Heyy lihat lah aku seperti orang- orangan sawah baju mu terlalu besar di tubuh ku" Ujar Shifa.


"Tapi kau terlihat sangat seksi" Ujar Rivandra tanpa sadar karena ia terus memperhatikan tubuh Shifa.


"Apa..." Plakkk Shifa memukul lengan Rivandra.


"Dasar mesum" Ujar Shifa seraya berjalan meninggalkan Rivandra dengan terburu-buru.


Saking terburu burunya membuat ia jatuh ke lantai karena keseleo.


"Awwss" Ringgisnya sambil memegangi pergelangan kakinya.


Rivandra mengejar Shifa yang berjalan terburu-buru dan langsung menolong Shifa untuk berdiri tetapi Shifa tidak bisa berdiri karena kakinya terasa sangat lemas.


"Kenapa kamu jalan terburu-buru lihat lah hasil nya kaki mu bengkak!"


"Itu semua karena mu!"Ketus Shifa.


"Karena ku? Memangnya aku kenapa?" Tanya Rivandra.


"Ya...itu tadi"


"Gak jelas"


Rivandra pun langsung mengangkat tubuh Shifa membuat Shifa meronta-ronta minta di turunkan tetapi Rivandra tidak melepaskannya ia membawa Shifa menuju kamar.


Sesampainya di kamar Rivandra menurunkan Shifa di ranjang dengan pelan-pelan kemudian ia mengambil minyak kayu putih yang ada di nakas.


"Harus nya pakai minyak gosok bukan minyak gini" Ucap Rivandra pelan sambil memperhatikan minyak kayu putih itu.


"Emang kamu bisa pijat?" Tanya Shifa.


"Bisa dong"


"Oh kirain kalau Bos itu gak bisa mijat" Shifa tertawa kecil.


"Kamu kira aku itu Bos instan!"


"Hah maksudnya?"


"hihi ya aku itu dulu bukan seorang Bos tapi seorang cucu yang selalu di suruh memijat oleh kakek" Jelas Rivandra.


"Ohh maksudnya Kakek pacar nya Oma?"


"Haha iya aku tidak menyangka ternyata mereka puber kembali" Ucap Rivandra seraya terkikik.


Rivandra memijat pelan kaki Shifa yang sedikit bengkak membuat Shifa meringgis.


"Aawwwss" Ringgis Shifa.


"Tahan sebentar jangan nangis" Ledek Rivandra.


"Emang aku anak kecil nangis"


"Ya siapa tahu kamu itu seperti Darvo"


"Haha mana mungkin" Shifa tertawa seakan rasa ngilu di kaki nya sudah tidak terasa lagi.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen,dan Vote.