
Syla masuk ke dalam ruangan tempat Shifa di rawat. Shifa mendengar pintu di buka dan suara langkah kaki, ia kira itu adalah Rivandra karena tidak mungkin suster datang di jam sekarang.
"Aku bilang pergi kenapa kau balik lagi"
"Emm maaf Tante ehh Kakak" Ujar Syla.
Shifa membalikan badannya ternyata ia salah tebak karena itu bukan lah Rivandra.
"Siapa kau?"Tanya Shifa dengan mengernyitkan keningnya.
"Halo Tante kenalin aku Syla, Ehh maaf maksudnya Kakak"
"Siapa kau,ada keperluan apa?"
"Aku ponakannya Om Vandra"
"Maksud ku Rivandra Zachery"
"Mau apa kamu?" Tanya Shifa dingin.
"Maaf Tante ehh ya ampun kenapa aku selalu menyebut itu sih" gerutunya.
"Maksud ku... Aduh gimana ya ngomong nya"
Syla terlihat kebingungan ingin berbicara apa dan tingkahnya itu membuat Shifa tersenyum.
"Kamu masih sekolah?" Tanya Shifa dengan tersenyum.
Syla pun duduk di kursi bekas Rivandra tadi sehingga ia bisa lebih dekat dengan Shifa.
"Iya aku baru kelas 11" Ujar nya.
"Pastas kau sangat lucu dan cantik"
"Aahh makasih" Ucapnya dengan tersipu malu.
"Ada apa kamu kesini? Apa kamu di suruh Om mu untuk kesini"
"Tidak Kak kebetulan tadi aku lewat sini karena sudah menjenguk teman yang di rawat di ruangan sebelah sana" Ujar nya.
"Apa kau mengenal ku"
"Aku tidak begitu mengenal mu tetapi aku sedikit mengenal sosok diri mu"
"Maksudnya gimana"
"Aku tahu kau itu sekretaris Om ku dan kau juga adalah wanita pertama yang membuat Om ku senyum-senyum sendiri"
"Maksud mu gila?"
"Hahaha bisa jadi"
"Becanda maksud ku kau adalah orang pertama yang membuatnya tertarik"
Shifa hanya diam mendengarkan kelanjutan cerita Syla.
"Kenapa Kakak tidak menyuruh Om Van masuk?" Tanya Syla.
"Tidak kenapa-kenapa Syla"
"Oh iya boleh aku minta nomor telepon Kakak?"
Shifa pun memberikan nomor ponsel nya kepada Syla dan ia baru ingat kalau ponselnya tidak ada.
"Ponsel ku tidak ada" Guman Shifa sambil mencari-cari keberadaan ponsel nya.
"Kak apa kau ingin melihat sesuatu"
"Apa?"
"Tentang kesalah pahaman mu dengan Om Vandra"
"Maksud mu?"
"Ini" Syla memperlihatkan sebuah video yang ada di ponselnya kepada Shifa.
"Apa ini?"
"Bukanya Kakak sudah melihat video ini. Tempat yang sama,orang yang sama,adegan yang berbeda dan arah merekam yang berbeda" Ujar Syla.
Shifa melihat wajah Rivandra yang begitu dingin dan pria itu berusaha mendorong tubuh Diana yang ada di pangkuan nya,dan ternyata ia salah sangka yang ia kira mereka sedang berciuman tetapi ia salah sebenarnya video itu adalah Diana yang sedang menggoda Rivandra.
"Kau mengenal si Nenek sihir itu?" Tanya Syla.
"Iya aku mengenalnya"Shifa pun mengembalikan ponsel itu kepada Syla hati nya sudah mulai tenang karena ia hanya salah sangka.Tetapi ia masih tetap tidak suka dengan sikap Rivandra kepadanya.
Shifa menengadahkan kepalanya ke atas seraya menarik nafas dan menyingkirkan rambutnya yang menempel di leher yang basah karena keringat yang ia hasilkan dari menangis tadi sebelum Syla datang.
Hingga leher itu terlihat sangat jelas kulit leher yang putih dengan beberapa tanda berwaran merah ke unguan.
"Emm bentar Kak apa yang di leher mu itu tanda kiss mark?" Tanya Syla.
"Maksud mu apa?" Tanya Shifa.
"Emm itu di leher mu Kak" Tunjuk Syla pada leher Shifa kemudian Syla pun memberikan cermin yang ada di tas nya kepada Shifa.
"Apa Om Vandra yang melakukannya?" Tanya Syla.
Shifa hanya diam ia tidak menjawab pertanyaan Syla dan membuat Syla tersenyum.
"Dia sungguh tertarik pada mu Kak" Ujar nya.
"Apa? Kau bilang tertarik pada ku hehh" Shifa tersenyum sinis.
"Iya aku tahu dia tidak akan melakukan itu jika bukan pada orang yang sangat ia sukai"
"Sukai? Hehh dan aku hampir di lecehkan oleh nya kau tahu itu?"
"Dia tidak akan mungkin melakukan itu Kak"
"Tidak akan mungkin bagaimana bahkan dia menindih ku, jika saja aku tidak mendorongnya mungkin dia telah merenggut kesucian ku saat ini!"Tegas Shifa.
" Aku minta maaf atas semua yang telah Om Vandra lakukan Kak"Ujarnya.
"kenapa kau yang minta maaf?"
"Kemari lah" Titah Shifa dengan merentangkan tangan nya dan Syla pun berdiri dengan berhambur ke dalam pelukan Shifa.
"Aku tidak akan membenci mu sayang karena kau tidak punya salah apa pun kepada ku"
"Tapi kau masih tetap membenci Om Vandra kan?"
"Entah lah " Shifa melepaskan pelukan itu dan mengusap air mata Syla.
"Kenapa kau begitu percaya kepada ku?"
"Karena aku tahu kau adalah anak yang baik aku bisa melihat dari sorot mata mu itu,Kau begitu menyayangi Om mu kan?"
"Ii...iya aku sangat menyayangi nya tetapi setelah dia berbuat hal seperti itu kepada mu aku juga membencinya"
"Hey jangan seperti itu baik buruk nya juga dia adalah Om mu adik dari orang tua mu jadi tidak pantas kau membencinya" Nasihat Shifa seraya memegang tangan Syla.
"Tapi kau sangat membenci nya kan?"
"Kau kan seorang wanita,apa kau tidak akan benci kepada pria yang hampir saja melecehkan mu?"
"Aku akan sangat membenci nya Kak"
"Apa benci itu akan bertahan lama jika orang yang hampir melecehkan mu adalah orang yang kau sayang"
"Mungkin tidak akan lama tetapi aku membutuhkan waktu"
"Nah itu sayang, aku juga seperti yang kau bicara kan aku butuh waktu untuk memulih kan semua ini dan aku juga tidak ingin berlarut-larut dalam sebuah masalah"
"Itu artinya kau menyayangi Om ku?" Tanya Syla dan Shifa pun menganggukan kepalanya.
"Kau serius?"
"Ehemm tapi aku butuh waktu untuk menerima semua yang telah ia lakukan"
Tanpa mereka sadari seseorang telah tersenyum di balik pintu sana seakan mendapatkan lotre orang itu sangat bahagia saat ini.
"Emm Tante Shifa aku pulang dulu ya kau cepat sembuh"
"Ehh maaf maksud ku Kakak" Ujar nya lagi.
"Tidak apa Syla, kau hati-hati di jalan ya"
"Terimaksih Tante" Syla memeluk Shifa dan Shifa pun membalas pelukan itu.
"Semoga cepat sembuh Tan"
"Terimakasih Syla"
Syla keluar dari ruang rawat Shifadan berpapasan denga Rivandra yang berdiri dari duduknya.Syla tersenyum seraya memeluk Rivandra.
"Om dia menyayangi mu" Ucap Syla seraya melepaskan pelukan itu.
" Iya Syla terimakasih"
"Om ngintip?" Tanya Syla dengan curiga dan Rivandra pun tersenyum.
"Semangat berjuang Om aku pamit dulu ya"
Syla pergi meninggalkan rumah sakit dengan di antar supir, sedangkan Rivandra ia masuk ke dalam ruangan Shifa dan ia melihat Shifa sedang berbaring menghadap ke jendela seraya melihat pemandangan langit di malam hari.
"Ada apa Syla kau tidak jadi pulang?" Tanya Shifa saat mendengar pintu di buka.
"Syla..." Shifa membalikan tubuhnya dan ia begitu terkejut saat melihat Rivandra ada di depannya dengan segera ia langsung mengalihkan kembali pandangannya.
"Shifa aku minta maaf" Ujar Rivandra, ia berjalan ke arah Shifa menghadap ia berlutut di bawah tempata Shifa terbaring.
"Shifa..." Shifa hanya diam ia akan membalikan badannya tetapi tangannya tidak sengaja kaki kanannya tersentuh oleh kaki kiri nya.
"Awwsshh" Ringhisnya pelan.
" Mana yang sakit Shifa"Rivandra terlihat sangat panik dengan menyentuh kaki shifa.
"Jangan sentuh aku" Bentak Shifa.
"Apa kau begitu membencin ku Shifa?"
shifa tidak menjawab pertanyaan Rivandra ia hanya diam saja dan mengalihkan pandangan nya dari tatapan mata Rivandra.
"Shifa apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkan ku"
Shifa terus saja diam bahkan matanya kembali memerah menahan air matanya supaya tidak tumpah.
"Shifa..."
"Menjauh lah dari ku"Ucap Shifa.
" Sampai kapan?"
"Entah, aku tidak ingin melihat mu "
"Kau pergi lah aku tidak ingin melihat mu "ucapnya lagi
"Baiklah aku pamit dulu"
Cup
Rivandra mengecup dahi Shifa yang tidak terkena luka kemudian ia pergi setelah berbicara.
"Kalau butuh sesuatu telpon aku ini ponsel mu"
Rivandra pun keluar dengan wajah kecewa ia bingung bagaimana caranya supaya Shifa memaafkannya atau memberikannya kedempatan untuk minta maaf.
Rivandra menyuruh salah satu bodyguard nya untuk menjaga Shifa di rumah sakit.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa Like,Komen dan Vote.