My Beloved Boss

My Beloved Boss
Sikap dingin



pukul 06.00 Raihan bangun dari tidurnya ia langsung bergegas kekamar mandi dan saat melewati bangku yang semalan di tiduri oleh Rivandra ia tidak melihat keberadaan Bos nya itu.


Tanpa pikir panjang ia pun langsung menuju kamar mandi untuk melaksanakan ritual pagi.


Setelah selesai ia mencari keberadaan Bos nya itu tetapi tidak ada di mana pun. Ia pun berencana untuk membangunkan Shifa karena Bosnya mungkin sedang olah raga di luar.


Raihan membuka pintu kamar Shifa ia sangat terkejut saat mendapati Bos nya berada di sana. Mereka sedang tertidur Shifa tertidur dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sedangkan Rivandra ia tidur di kaki Shifa.


Dan yang paling membuat ia syok adalah saat melihat Shifa memakai kemeja Rivandra dengan celana yang sangat pendek.


"Bangunin jangan ya" Gumam Raihan.


Dengan keberanian tingkat dewa ia pun menggoyangkan tubuh Rivandra tanpa memikirkan akibat apa yang akan ia terima saat membangunkan seorang Rivandra yang sedang tertidur dengan nyenyaknya.


Meskipun Raihan sering membangunkan Rivandra saat di apartemen tetapi itu semua ada alasannya yaitu pekerjaan.


"Tuan..." Ucapnya.


Shifa yang merasa kakinya bergoyang karena gerakan dari tubuh Rivandra yang sedang di goyangkan oleh Raihan pun membuka matanya.


"Rai..." Ujar Shifa dengan suara khas bangun tidur.


"Ehh Shifa maaf aku mengganggumu"


"Kau juga menggangguku Rai"Rivandra bangun dari tidurnya dan sekarang ia sedang duduk di atas ranjang dengan menatap Raihan tajam.


"Maaf tuan saya...." Ucapan Raihan terpotong oleh Rivandra.


"Kau tahu kita baru tidur pukul 3 dini hari kenapa kau berani sekali membangunkan kita, kita bahkan baru tidur 3 jam" Ujar Rivandra menatap Raihan penuh benci.


"Maafkan saya tuan saya tidak tahu kalau kalian baru tidur 3 jam, Kalau begitu saya keluar dulu dan silahkan kalian lanjutkan tidur kembali"Ujar Raihan.


"Apa kau meledek ku Rai"Tanya Rivandra.


Ya ampun apa aku salah bicara. Gumam Raihan.


" Tidak tuan saya minta Maaf"


"Tidak Kak Raihan aku akan ke kamar mandi jadi nanti aku akan menemani mu untuk menunggunya tidur" Ucap Shifa seraya turun dari ranjang tersebut.


"Ehhh Shifa kenapa bangun?" Tanya Rivandra.


"Hehe ini sudah pagi tidak baik kalau bangun terlalu siang"


"Ngapain kamu panggil dia, Kak?"Tanya Rivandra.


" Karena dia lebih tua dari ku"Jelas Shifa.


"Kalau aku?"


"Sama kau juga lebih tua dari ku"


Rivandra hanya diam tidak bicara kemudian ia beranjak dari duduk nya dan pergi ke kamar mandi mendahului Shifa.


"Heyy aku duluan" Shifa mengejar Rivandra membuat Raihan terbengong dengan mulut terbuka.


"Kamu nanti saja, aku mau mandi" Ujar Rivandra.


"Tapi aku gak kuat"


"Aku juga gak kuat"


"Tapi aku duluan yang mau kekamar mandi!"


"Yasudah kita barengan saja" Saran Rivandra.


"Gak mau!"


"Maaf tuan ada telepon dari tuan Jacky" Raihan datang di tengah tengah perdebatan mereka.


"Mau apa si Kakek tua itu nelpon?"


"Saya tidak tahu tuan tetapi ia ingin berbicara dengan anda"


Raihan menyerahkan ponsel yang dari tadi terhubung dengan Kakek Jacky kepada Rivandra.


Dan itu adalah kesempatan bagi Shifa untuk masuk ke kamar mandi.


"Saya duluan" Ujar Shifa seraya tersenyum dan melambaikan tangan nya ke Rivandra.


"Sial! Gara-gara si Kakek tua aku tidak jadi satu kamar mandi dengan Shifa" Umpat nya.


Barusan kamu bilang apa hah!! Dasar Cucu durhaka.Ujar Kakek Jacky dari balik telepon.


"Ada apa Kakek? Tumben telpon aku" Tanya Rivandra.


Kamu di mana sekarang Vandra?. Tanya Kakek Jacky.


"Kakek tidak perlu tahu sekarang aku di mana"


"Vandra nanti siang kamu pulang ke rumah"


"Apa itu penting?"


"Gak tahu Kakek, karena itu Ayah mu yang minta"


"Ya nanti kalau jalannya sudah bisa di lewati"Ujar Rivandra dengan dinginnga.


Ia sudah bisa menebak apa yang ayahnya itu inginkan.


Telepon pun terputus dan Rivandra duduk di Sofa. Shifa keluar dari kamar mandi dengan masih memakai kemeja kebesaran itu.


Rivandra langsung masuk ke kamar mandi dengan wajah dinginnya tanpa menyapa Shifa.


"Kenapa dia?" Tanya Shifa kepada Raihan.


Shifa langsung masuk ke dalam kamar untuk mengganti bajunya ke baju awal yang ia pakai.


Mereka sedang berada di perjalanan menuju pusat kota, seperti biasa Shifa duduk dengan Rivandra.


Di sepanjang perjalanan Rivandra tidak berbicara apa pun. Saat Shifa ingin bertanya baru saja ia membuka mulutnya tetapu sudah di dahului oleh Rivandra.


"Kamu tidak usah masuk kantor"


"Baik Pak"


Mobil telah sampai di depan rumah Shifa, Rivandra hanya diam saja tidak seperti biasanya yang banyak menggoda dan menjahili Shifa.


"Tarimakasih" Ucap Shifa,Rivandra hanya menganggukan kepalanya.


Shifa langsung masuk ke dalam rumah dengan pikiran terheran-heran ada apa Rivandra.


"Aunty..." Teriak Darvo.


"Hai Darvo"


"Kau pulang sendiri?"


"Tidak aku di antar"


"Sama Uncle Van?"Tanya Darvo dan Shifa menganggukan kepalanya.


" Dia tidak mampir dulu?"


"Tidak"


Mereka pun memasuki Rumah karena hari sudah siang jadi Pak Randi sudah tidak ada di rumah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam " Bu Sophia datang menyambut kedatangan Shifa.


"Shifa...kamu tidak apa-apa kan Dek kamu tidak di lecehin oleh si Vandra kan?" Tanya Bella dengan heboh.


"Tidak Kak kau tenang saja"


Siang harinya mereka sedang duduk dan bercanda ria di halaman belakang.


"Shifa Kakak besok ke London lagi loh" Ujar Bella.


"Kenapa buru-buru sekali"


"Ya karena sudah terlalu lama di sini kasian Kak Brayen di sana sendiri"


"Huhh Kalau anak itu mau di ajak atau tetap di sini?"Tanya Shifa seraya menunjuk Darvo yang sedang bermin dengan laba-laba.


"Dia tetap di sini, sekolah di sini"


"Ohh oke Kak tapi jangan lupa ya selalu beri kabar"


"Siap Adik ku tersayang"


Hari ini mereka menghabiskan waktu bersama karena kapan lagi mereka akan bersama sedangkan nanti mereka tinggal di negara yang berbeda.


Setelah mengantar Shifa, siang ini Rivandra langsung ke rumah Kakek Jacky tanpa ke apartemen terlebih dahulu.


"Kakek ada apa?" Tanya Rivandra.


"Nanti kita akan makan malam dengan keluarga Diana" Bukannya Kakek Jacky yang menjawab tetapi Ayahnya lah yang menjawab yaitu Radhitya.


"Sudah ku duga" Gumam Rivandra.


"Van Diana bilang kamu mengabaikannya,dan kau malah membela sekretaris mu" Ujar Radithia.


Rivandra hanya tersenyum sinis"Aku tidak membela sekretaris ku tetapi aku memilih yang benar. Apa Ayah tahu? Diana yang selalu kau banggakan ternyata tidak sebaik yang kau kira"Tegas Rivandra.


"Apa maksud mu? dia itu sangat baik bahkan Sekretaris mu yang mencakar lengannya"


"Dan Ayah percaya?"


"Ya karena dia adalah sosok wanita paling baik" Ujar Radithia dengan percaya diri nya.


"Aku melihatnya sendiri bahwa Diana telah membenturkan kepala sekretaris ku ke tembok. Dak apakah ayah akan percaya,kalau luka yang di tangannya itu adalah perbuatannya sendiri. Dia mencakar tangannya sendiri"


"Mana mungkin dia melakukan itu! dia itu gadis baik-baik tidak seperti sekretaris mu yang murahan itu!"


"Suatu saat ayah akan menyesal dengan ucapan ayah sendiri!"


"Apa maksud mu?"


"Tidak"singkat Rivandra.


"Pokonya hari ini kamu harus tetap di sini jangan pergi kemana pun"


"Baik"


"Bagus, itulah anak kesayangan ku" Ujarnya seraya menepuk bahu Rivandra dengan tersenyum.Sedangkan Rivandra ia hanya menunjukan ekspresi dinginnya.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen dan Vote.