
Di kantor
Setelah waktu istirahat selesai Feya kembali mengerjakan pekerjaannya ia begitu fokus dengan pekerjaannya itu sampai fokusnya terhentikan oleh seseorang yang menyelonong membuka pintu Ruangan Rivandra dan ia tahu siapa orang itu.
"Hehh kepiting pak Bos nya sedang tidak ada lebih pulang sana ngapain ke gak guna" Usir Feya dengan ketus.
"Heh bakpia diam saja deh saya ke sini bukan mau ketemu si vian"
"Terus"
"Keppphooo" Ucap kevin dengan berbicara ke wajah Feya kemudian ia masuk dan langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
Feya pun mengikuti langkah Kevin dan ternyata Kevin ke kantor Rivandra hanya numpang tidur.
"Ohhh jadi anda ke sini cuma numpang tidur! Maaf ya kepiting ini kantor bukan hotel"
"Berisik kamu dasar kue bakpia harusnya kamu tidak di kantor tapi di pasar haha" Kevin tertawa terbahak bahak membuat Feya menghunuskan tatapan tajam.
"Berisikk namaku Feya bukan bakpia" Teriaknya dengan melempar sepatu yang ia pakai.
Bukk
Sepatu itu mengenai kening Kevin mrmbuatnya meringgis merasakan ngilu di keningnya.
"Wanita sialan" Umpatnya seraya menatap Feya dengan tajam tapi bukannya membuat Feya takut tapi malah membuatnya tertawa dengan senang.
"Apa lihat-lihat" Ketus Feya.
Kevin beranjak dari berbaringnya krmudian mendekati Feya membuat Feya menelan ludahnya kasar.
Bahaya. Gumam Feya
Feya membalikan badannya siap-siap untuk kabur tetapi kalah cepat dengan Kevin ia sudah menarik baju bagian belakang yang di kenakan oleh Feya.
Breewwekkk
Baju bagian punggung yang di kenakan oleh Feya robek sampai ke pinggang membuat Feya membulatkan matanya karena ia merasakan punggungnya sangat dingin dan mendengar suara kain yang robek. Ia membalikan badannya seraya melihat Kevin sama Syoknya.
Kevin tidak sengaja melakukan itu karena tadinya ia hanya akan menarik bahu Feya tapi ia malah menarik baju itu dan membuat baju itu robek.Saking kuatnya ia menarik sampai mrmbuat baju itu robek dalam satu tarikan.
"Ya ampun" Lirih Kevin apalagi saat melihat Feya membalikan badan dan menatapnya dengan garang.
"Kepiting......." Teriak Feya dengan membuka sisa sendal yang ia pakai kemudian ia memukuli Kevin dan menendangnya dengan kencang.
"Aduhh bakpia aku gak sengaja..." Ucap Kevin saat Feya memukul dan menendangnya.
"Diam kamu gara-gara kamu baju kesayangku satu-satunya menjadi robek dasar laki-laki kurang ajar bilang saja kalau kamu ingin melihat tubuhku yang mulus ini kan "Oceh Feya.
" Nanti aku ganti Feya"
"Gak bisa ganti-ganti karena baju ini banyak kenangannya" Ketus Feya seraya mengambil gunting yang berada di meja kerja Rivandra.
"Feya kamu akan membunuhku?"Tanya Kevin saat melihat Feya membawa gunting kearahnya.
Feya menggunting kemeja yang di kenakan kevin mulai dari bahu lalu punggung dengan pola lurus dan menggunting seluruh baju itu dengan bolong-bolong sehingga Kevin terlihat seperti gelandangan dengan wajah babak belur.
Bahkan celananya pun Feya gunting hingga menjadi celana model terbaru.
"Kamu yakin tidak ingin mengguntung bagian resleting ini" Tunjuk Kevin ke bagian bawah perutnya.
"Iya emang kenapa?" Tanya Feya dengan judes.
"Ya takutnya nanti kamu menyesal karena tidak melihat sesuatu yang indah di bagian sini" Ucapnya dengan menggoda Feya.
"Dasar tidak waras"Umpat Feya dengan memundurkan langkahnya dan melihat penampilan Kevin yang seperti gembel.
" perfect"Feya mengangguk-nganggukkan kepalanya membuat Kevin cemberut saat melihat penampilannya di cermin.
Badan Kevin terasa ringsek dan tubuhnya terdapat bagian-.bagian yang lebam termasuk kening yang di lempar oleh sepatu bahkan tangan dan bahunya pun lebam.
"Laki-laki kurang ajar tidak tahu diri awas saja aku tidak akan membiarkanmu bahagia untuk beberapa hari ini bahkan mungkin seterusnya" Ucapnya seraya mengambil sebelah sepatunya di dekat sofa kemudian ia keluar dari ruangan itu karena sudah puas menyiksa kevin tapi sebenarnya ia belum terlalu puas menyiksanya tetapi karena takun Kevin mati jadi ia menyudahinya saja.
Feya keluar dengan memegang punggungnya yang polos ia mengambil baju yang berada di bawah mejanya kemudian berlari ke kamar mandi.
Kevin membuka ruangan pribadi Rivandra tetapi pintu ruangan itu di kunci dengan kode bahkan kode itu sudah di ganti tidak seperti dulu.
"Sial! mau di simpan di mana wajah ku kalau keluar memakai baju seperti ini"Ucapnya dengan bingung.
Feya sudah kembali dari kamar mandi ia sudah berganti baju dengan kemeja yang baru kemudian ia melanjutkan kembali menyelesaikan pekerjaannya tanpa perdulu kepada kevin yang sedang bingung di dalam.
" Bakpia..."Panggilnya dengan wajah memelas.
Feya pun mendongakkan kepalanys kebelakang.
"Apa?" Tanyanya dengan ketus.
"Kode kunci Ruangan pribadi Vandra apa?" Tanyanya.
"Mana ku tahu" Ketus Feya.
"Ya sudah cariin baju sana"Titah Kevin.
"Ogah" Ketus Feya kemudian ia melanjutkan kembali pekerjaannya sambil menunggu jam pulang tiba tanpa mendengarkan ocehan Kevin.
Karena Feya tidak mendengarkan ucapannya Kevin pun masuk kembali ke ruangan itu.
***
Hari sudah sore dan hujan pun mulai reda Shifa dan Rivandra pun masih terlelap dengan nyamannya bahkan posisi mereka tidak berubah sedikit pun.
Karena hari sudah semakin sore Raihan pun memasuki mobil dan ingin melihat keadaan bos nya.
Raihan masuk ke dalam mobil dan ia mengerutkan keningnya saat melihat pemandangan di dalam sana.
"Ya ampun apa mereka..." Raihan menutup mulutnya lalu ia tersenyum dan mengambil ponsel nya untuk memotret pemandangan tersebut.
Raihan menyimpan ponselnya lalu menyalakan mesin mobil tersebut dan membuat kedua makhluk yang berada di belakang terbangun.
"Kau...Sedang apa kau disini" Ujar Rivandra saat melihat Raihan sudah ada di dalam mobil.
"Maaf tuan ini sudah sangat sore apa sebaiknya kita pulang"
"Ya kita pulang saja"
Raihan pun melajukan mobilnya dengan tenang sesekali ia melihat ke arah belakang di mana mereka masih tenang dengan posisi seperti itu.
Shifa sudah bangun dan seluruh nyawanya pun sudah terkumpul ia bangkit dari pelukan Rivandra.
"Mau kemana?" Tanya Rivandra.
"baju ku sudah mulai kering" Ucap Shifa.
Shifa pun turun dari pangkuan Rivandra dan duduk di kursi sebelah.
"Sebentar Shifa wajah mu pucat sekali"
"Aku tidak apa-apa" Ujarnya seraya menyandarkan tubuhnya dan kembali memejamkan matanya.
Rivandra terus memperhatikan Shifa yang wajahnya semakin pucat.
Mobil sudah melaju sangat jauh dari pembangunan tadi tetapi tiba-tiba Raihan memberhentikan mobil itu.
"Ada apa?" Tanya Rivandra yang merasa mobil itu berhenti.
"Maaf tuan jalannya di tutup dan di depan juga sedang banyak orang" Ujar Raihan.
"Kenapa bisa di tutup?" Tanya Rivandra lagi.
"Saya tidak tahu" Raihan membuka kaca mobil saat melihat seorang pejalan kaki menuju ke arahnya.
"Maaf pak jalannya tidak bisa di lewati karena tanggulnya jebol sehingga menyebabkan sungai itu meluap dan airnya tinggi sekali sampai melewati atas jembatan dan kemungkinan besok baru bisa di lewati ketika airnya sudah surut" Ujar orang itu.
"Apa ada jalan lain yang sekarang bisa di lewati di sekitar sini?" Tanya Raihan.
"Saya tidak tahu pak. Lebih baik kalian putar arah karena jika memaksakan itu akan sangat bahaya, saya permisi" Ucapnya seraya melenggang pergi.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa Like,Komen, Dan Vote .