My Beloved Boss

My Beloved Boss
Perubahan sifat Shifa



Pagi ini Bella akan kembali lagi ke London ia di antar keluarganya menuju bandara kecuali Shifa karena pagi ini ia harus pergi bekerja.


"Kakak hati-hati di jalan ya, jangan lupa untuk selalu memberikan kabar kepada kita"Ujar Shifa


"Iya adik ku sayang"Bella memeluk Adiknya itu.


" Aku titip Darvo ya jaga dia karena dia itu nakal sekali"


"Iya Kak kau tenang saja"


"Mata mu sembab Dek apa kau semalam nangis?"


"Tidak Kak aku tidurnya terlalu malam jadi seperti ini"


"Jika ada masalah berbagi lah sama Kakak ya sayang"


"Iya Kak"


Mereka pun berangkat, tersisalah Shifa di depan rumah dengan tetesan air matanya, Air itu keluar bukan karena di tinggal Kakak nya tetapi ia masih begitu sakit hati saat mengingat Video yang ia lihat semalam.


Setelah mengusap air matanya ia langsung masuk ke dalam mobil.Sebelum menjalankan mobilnya Shifa memoleskan make up di wajahnya supaya tidak terlihat sembab.


Shifa sudah sampai di kantor ia langsung duduk di kursinya.


"Hai Shifa"


"Hai Feya apa kau merindukan ku"


"Ya aku sangat merindukan mu" Feya memeluk Shifa yang sedang duduk di kursinya.


"Aku juga merindukan mu Feya"


"Ehh bentar Feya bukannya itu baju mu" tunjuk Shifa pada baju yang berada di tong sampah dekat meja Feya.


"Ohh iya, kenapa belum ada yang membuangnya"


"Kenapa di buang bukannya itu baju kesayang mu"


"Baju kesayangan ku robek gara-gara si kepiting"


"Kepiting?"


"Itu si Kevin sahabat nya Bos"


"Ohh Kevin"


Shifa mengangguk-nganggukan kepalanya tanda mengerti "Kalian melakukan apa? Apa yang kalian lakukan sampai membuat baju itu robek"


"Jangan berpikir macam -macam Shifa , dia menariknya"


"Ya ampun" Kaget Shifa.


perbincangan mereka terhenti saat Rivandra datang, mereka berdua menundukan kepalanya seraya menyambut kedatangan Bos perusahaan tersebut.


"Selamat pagi pak" Ucap mereka.


"Pagi, Shifa buatkan kopi" Shifa menganggukan kepalanya seraya pergi menuju pantry.


Seperti biasa setiap pagi Shifa di suruh membuat kopi oleh Rivandra.


Shifa memasuki ruangan Rivandra dengan membawa satu gelas kopi dan ia langsung menyimpannya di meja Rivandra. Tanpa basa-basi terlebih dahulu ia langsung keluar dari ruangan tersebut.


"Kenapa dia tidak menyapa atau berbicara seperti biasanya" Bingung Rivandra.


"Ahh mungkin dia masih datang bulan" Gumam Rivandra seraya meminum kopi buatan Shifa.


Beberapa jam berlalu Shifa mengetuk pintu ruangan Rivandra setelah mendapat sahutan dari dalam ia pun masuk.


"Maaf Pak ini berkas yang harus anda tanda tangani" Ujar Shifa.


"Iya Shifa"


"Saya permisi"


Siang hari sebelum jam istirahat tiba Shifa sudah berada di kantin bersama Feya mereka sedang makan siang berdua.


Setelah jam istirahat selesai mereka kembali bekerja.


Shifa mengetuk kembali pintu ruangan Rivandra setelah beberapa saat yang lalu Rivandra menyuruhnya untuk mengambil berkas yang sudah di tanda tangani.


"Ini berkasnya Shifa" Ucapnya dengan tersenyum manis kepada Shifa.


"Iya" Ujar Shifa dengan dingin.


"Ada lagi yang bisa saya bantu" Ujar Shifa dengan wajah datar.


"Kalau tidak ada saya permisi" Ujarnya seraya melenggang pergi keluar dari ruangan itu.


"Dia kenapa jadi berubah seperti itu" Ujar Rivandra yang merasa geram dengan tingkah dingin Shifa hari ini.


sampai jam pulang pun telah tiba,Feya pamit kepada Shifa untuk pulang duluan sedangkan Shifa ia akan pulang setelah membereskan mejanya.


"Shifa aku duluan ya "


"Iya Fey kamu duluan saja aku beres-beres dulu" Ujar Shifa,Feya pun langsung pergi dari sana.


Setelah Feya pergi Shifa masih membersihkan meja nya dan tiba-tiba telpon yang ada di meja nya berbunyi.


"Shifa kamu masuk dulu ke ruangan ku sekarang" Ujar Rivandra.


Setelah membereskan barang-barang dan meja nya Shifa memasuki ruangan Rivandra.


"Maaf Pak ada yang bisa saya bantu?" Tanya Shifa.


Rivandra beranjak dari duduk nya dan menghampiri Shifa yang berdiri di depan mejanya.


"Shifa kenapa hari ini kamu berubah"


"Saya tidak berubah,saya masih tetap Shifa"Jawab Shifa.


" Tapi kenapa kau bersikap dingin kepada ku?"


"Saya tidak bersikap dingin Saya biasa saja seperti hari-hari biasanya"Ujarnya dengan dingin.


"Ya ini kan di kantor jadi saya harus berbicara formal"


"Shifa kau kenapa"


Tiba-tiba ponsel yang berada di tangan Shifa berdering ada telepon dari bu Sophia.


Assalamualaikum,Nak. Ujar Bu Sophia di balik telepon.


"Waalaikumsalam Bu ada apa?"


Nak apa kau tidak apa jika di rumah sendiri?.


"Memang nya kalian mau kemana?"


Hari ini kita akan ke Palembang karena Tante mu lagi sakit.


"Maksud Ibu Tante Mary"


Iya nak.


"Iya Bu tidak apa"


Panggilan pun terputus.


"Shifa kau kenapa" Tanya Rivandra lagi.


"Saya tidak kenapa-kenapa"


Rivandra memdekati Shifa dan ia memegang kedua lengan nya pelan.


"Shifa kau kenapa bicara pada ku"


Shifa yang merasa geram dengan pertanyaan Rivandra pun berbicara dengan nada tinggi" Saya bilang saya tidak kenapa-kenapa , mengapa anda banyak tanya sekali"Ujar Shifa dengan suara tinggi.


"Tapi ini bukan kau Shifa"


"Sudah lah saya mau pulang" Ujar Shifa seraya melangkahkan kakinya tetapi baru beberapa langkah saja Rivandra sudah menarik tangannya.


"Apa lagi?" Tanya Shifa.


"Shifa kenapa kau jadi berubah gini,aku tidak bisa mengenali sifat mu yang sekarang"


"Apa kau tidak dengar? aku tidak berubah, sudah beberapa kali berbicara pada mu kenapa kau tidak mengerti juga!" Bentak Shifa.


"Shifa..."


"Apa lagi kau mau bilang aku berubah dan kau juga mau tanya aku kenapa, iya hahh!" Bentak Shifa lagi.


Rivandra yang merasa geram karena Shifa berbicara dengan terus meninggikan suaranya pun langsung menarik pinggang Shifa.


"Lepas kau mau ap..." Ucapan nya terpotong saat Rivandra menarik tengkuknya dan mencium bibirnya dengan kasar.


"Emmm" Shifa berusaha mendorong tubuh Rivandra tetapi tenaga nya tidak sebanding dengan tubuh Rivandra yang besar.


Rivandra terus m******* bibir Shifa. Shifa berusaha memberontak tetapi Rivandra tidak membiarkan Shifa lepas.


Rivandra menggiring tubuh Shifa ke Sofa hingga Shifa terbaring di atas sofa yang empuk itu dan Rivandra menindih tubuhnya.


"Emmmhhh" Shifa berusaha memukul dada Rivandra tetapi Rivandra mencekal kedua tangan Shifa.


Hingga Rivandra merasakan suatu cairan asin yang mengenai bibirnya ya Shifa menangis ia tidak bisa lagi membendung semua air mana yang menggenang di pelupuk matanya.


Rivandra melepaskan pangutan di bibirnya itu kemudian ia mengecupnya dan terus menurun ke bawah ia mengecup leher Shifa dan membuat beberapa tanda di sana tanpa melepaskan cekalan tangannya pada lengan Shifa.


Setelah selesai Rivandra kembali mencium bibir Shifa dan kali ini cekalan di tangan Shifa melonggar hingga Shifa mendorong dada Rivandra dengan kencang hingga Rivandra tersungkat ke ujung sofa.


"B*******" Umpatnya.


Plakkk


Shifa menampar Rivandra dengan sangat kencang hingga membuat tangannya sakit.


"Pria B*******! Aku tidak menyangka kau akan melakukan itu kepada ku!" Ujarnya dengan masih tetap menangis.


"Maaf Shifa aku hilang kendali"


"Asal kau ingat Rivandra aku tidak seperti wanita-wanita mu yang selalu mengobral kan tubuhnya kepada mu!" Bentak Shifa.


"Shifa aku melakukannya karena ka...." Ucapannya terpotong.


"Baru kali ini aku bertemu dengan pria se B******* diri mu!"


"Shifa kenapa dengan mu?"


"Kau bilang aku kenapa? Kau pikir sendiri apa kau pantas memperlakukan wanita seperti itu!.


Kau pikir harga diri ku serendah itu?."


"Dengan apa yang telah kau lakukan, kau masih bertanya, kenapa dengan ku?"


"Shifa..."


Shifa tersenyum sinis"Kenapa?,


Apa wanita itu tidak bisa memuas kan nafsu mu" ujar nya dengan tersenyum sinis.


" Apa maksud mu Shifa? Wanita siapa?" Tanya Rivandra dengan bingung.


"Sudah lah aku muak!" Ucap Shifa dengan meninggikan suaranya.


Ia pun keluar dari ruangan itu dan mengambil tasnya yang ada di meja tempat ia bekerja.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa Like,Komen dan Vote.