
" Darvo nak kau di mana" Teriak seorang wanita yang sedang kebingungan mencari anaknya.
"Heyy Shifa kau di sini?"Tanya Bella
" Iya Kak"
"Waww hay Barayen,Bella kapan kalian pulang " Sapa Rivandra yang melihat Brayen dan Istrinya.
"Hai Van kau masih tetap sama "Ucap Barayen sambil memeluk temannya itu.
" Daddy dia membuatku takut" Adu Darvo kepada Brayen.
" Heyy kau membuat anakku takut Van kau apa kan dia " Tanya Brayen.
"Jadi anak bawel ini anakmu Brayen" Tanya Rivandra.
"Iya memangnya kenapa kau punya masalah dengan anakku" Tanya nya.
"Wahh kau hebat Brayen kau sudah bisa membuat anak "Ucapnya.
"Kau gila! emangnya kau tidak bisa" Ucap Brayen sambil terkekeh kemudian menarik Bela ke dalam dekapannya.
"Kau lihat aku telah sukses memproduksi yang ke dua"Ucap brayen sambil mengelus perut Bella membuat bela mencubit pinggang Brayen.
" Hahaha kau sangat hebat sungguh hebat Brayen" Ucapnya.
"Iya dong aku gitu loh. Haha memangnya kau tidak bisa Van??" Tanya Brayen.
"Kalau dia tidak bisa apa kakak akan mempraktikan nya di sini?"Tanya Shifa sambil cekikan.
"Uhh itu akan sangat merusak reputasiku Shifa" Ucap Brayen sambil tertawa " Tapi bisa di coba" Tambahnya.
"Heyy kau gila"Bella memberikan tatapan tajam kepada suaminya.
"Hahaha tidak Brayen aku juga bisa melakukannya dan aku pun akan memproduksi yang seperti ini"Ucap Rivandra seraya menunjuk Darvo.
"Kau ingin membuatnya dengan siapa hahh dengan wanita jadia jadian itu" ucap brayen sambil tertawa.
" wanita jadi jadian?"Rivandra mengerutkan keningnya.
" Itu Diana " Ucapnya yang membuat ketiga sahabat Rivandra tertawa.
"Apa dia masih mengejarmu" Tanya Brayen.
"Wanita j***** itu jijik gue mau bikin anak sama dia. Gue gak suka barang bekas" Ucap Rivandra sambil bergidik.
"Hahaha terus lo mau yang kayak gimana Van? Atau mau sama si wanita penguntit itu" timpal bagas sambil tertawa di ikuti oleh kevin dan kenzle.
"Nauzubillah" Ujar Rivandra.
"Terus mau yang kayak gimana" Tanya Bagas lagi.
"Ya yang masih di segel lah belum terutak-atik " Ucapnya seraya mengangkat kepalanya dengan sombong.
"Mulai...." Lirih Shifa yang masih terdengar oleh mereka.
" Mulai apa Shifa" Tanya Bella.
"Sombongnya" Bisik Shifa ke telinga Bella membuat Bella tertawa terbahak bahak.
" Kenapa kamu bell" tanya rivandra.
"Mau tahu aja lo van " ucap bella.
"jadi kalian kenal sama dia" shifa menunjuk rivandra dengan matanya .
"Apa maksudmu menunjukku seperti itu aku ini atasanmu loh" ujar rivandara.
"Ohh jadi dia atasanmu Shifa?" Tanya Bella dan Shifa pun menganggukan kepalanya.
"Haha jadi gini Ifa Kakak itu teman sekolahnya Rivandra waktu SMA kalau kak Brayen itu teman kuliah Rivandra saat di London.
"Ohh gitu" Ucap Shifa seraya membulatkan bibirnya.
"Shifa imut banget sih"Sambar Kevin sambil tersenyum.
"Ihh Kevin lo gak berubah ya dari dulu godain mulu cewek"Ujar Bella.
"Lo yang gak berubah Bella tetap saja galak dari dulu" Ketus Kevin.
"Jadi kalian juga saling mengenal" Shifa memijat keningnya yang mulai berdenyut.
" Iya mereka juga teman sekolah kakak" Ucapnya.
" termasuk Kak Kenzle" Tanya Shifa.
"Iya Ifa" Ucapnya.
"Huhh Pak boleh saya pulang"Tanya Shifa.
"Nanti biar ku antar"Jawab Rivandra.
"Sudah Shifa biar pulang sama gue aja" Ucap Bella.
" Emang kalian siapa mau mengantar Shifa kenal aja engga" Ujar Rivandra yang telmi padahal dari tadi Shifa dan Bella itu saling kenal.
" Adik serius lo Bell?. Apa dia adil lo yang sering lo ceritain dulu?" ucap rivandra.Bella pun menganggukan kepalanya.
"Huhh Shifa kamu Kdik Kakak kan?" tanya Bella kepada Shifa.
"Iya dia juga Aunty nya aku jadi Uncle jangan jahat-jahat sama aunty shifa apa lagi kalau menyiksanya di kantor nanti aku akan menjahilimu lagi"Ancam Darvo dengan berani seakan melupakan kejadian beberapa menit yang lalu di mana dirinya begitu ketakutan saat di tanya oleh Rivandra.
"Jahili apa maksudmu Darvo? Kapan kamu menjahili Uncle Rivandra" Tanya Bella.
" Ee...emm itu Mom emm" Dia tidak berani menjawab pertanyaan Mommy nya karena merasa takut melihat tatapan matanya.
"Yang waktu itu Kak waktu beli bubur ayam sama bubur kacang ijo" Jawab Shifa yang melihat ponakannya ketakutan.
"Ohh jadi dia ahh aku juga ingin... " ucap bella sambil mengusap perutnya yang terlihat agak membuncit karena sudah berusia 5 bulan sambil ketawa ketiwi.
"Ayo Shifa kita pulang" Rivandra menarik tangan Shifa sambil bergidik ngeri melihat Bella.
"Gak pak aku kan mau pulang sama Kakak" Tolak Shifa.
"Tapi kamu kan harus ke kantor lagi Shifa" Ucap Rivandra.
"Tapi ini sudah setengah enam jam kerjanya juga sudah habis Pak"Ujar Shifa.
Rivandra pun mendapat senyuman jahat dari Bella.
" Vann..." Bella tersenyum jahil.
"Mau ngejahilin kok bilang bilang" Ketus Rivandra.
" Dhifa..." Rivandra merengek untuk meminta tolong kepada shifa dengan menunjukan wajah konyolnya bahkan ia terlihat seperti anak kecil yang ingin di belikan balon. Membuat shifa langsung memotretnya.
kesempatan. Gumam Shifa.
"Maaf Pak turutin saja apa mau Kak Bella dia lagi ngidam lo kalau gak di turutin nanti anaknya ileran apa Bapak setega itu membiarkan anak mereka ileran" ujar shifa.
Oke karena kamu yang meminta nya Shifa jadi aku akan menurutimu. Gumam Rivandra sambil tersenyum.
Entah mengapa hari ini Rivandra sangat baik dan juga menuruti perintah Shifa yang membuatnya selalu tenang dan bahagia apalagi jika melihat senyumannya gang sangat manis.
"Emang lo mau apa Bella" Tanya Rivandra setelah mendengar ucapan Shifa.
"Aku mau dandanin kamu di sini Van" ucap bella dengan wajah memohon.
" Ogahh..." Ketus Rivandra.
"Ayo lah Lak nanti aku turutin deh apa mau Bapak" Bujuk Shifa.
"Benar ya Shifa" Rivandra melihat Shifa dengan serius.
" Iya Pak " Shiva tersenyum sangat manis kepada rivandra membuat jantung Rivandra berdegup kembali hanya melihat senyuman tersebut.
"Oo..Oke tapi jangan di sini" Ucap Rivandra yang merasa gugup setelah melihat senyuman itu.
"Aahh aku maunya di sini..." Bella mengerucutkan bibirnya.
"Sudahlah sayang kasian Rivandra " Brayen mencoba membujuk Bella tapi tetap saja dia tetap ingin mendandani Rivandra.
"Yasudah gak di sini deh tapi mau di mana" Tanya Bella.
" Di Apartemen ku saja" Hcap Rivandra sambil tersenyum.
"Oke ayo cepat" Ujar Bella.
Mereka pun ke apartemen Rivandra. Termasuk ketiga sahabatnya juga tidak jadi untuk pulang karena ingin melihat kejadian yang langka dan mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Mereka bertiga membawa mobil masing masing sedangkan Shifa ia di minta Rivandra untuk berangkat bersamanya dan tidak lupa si anak kecil yang jahil dan penuh ancaman siapa lagi kalau bukan Darvo dia ikut satu mobil dengan Aunty nya karena takut Rivandra macam-macam sama Aunty nya.
"Aunty kau duduk lah di belakang bersamaku"Ucap Darvo yang sedang duduk di belakang.
" Enak saja emang kau kira aku supir hah" Ujar Rivandra yang sedang mengendarai mobil.
"Diam lah kau Uncle jangan menggangguku" Ketus Darvo.
" Anak licik" lirih Rivandra
"Apa kau bilang aku licik kau yang licing Uncle " Teriak Darvo.
" Darvo yang sopan dia lebih tua darimu" Ucap Shifa membuat Rivandra menyunggingkan senyumnya dan tersenyum meledek kepada Darvo.
"Iisshh" Darvo mengerucutkan bibirnya.
"Diamlah jangan mengoceh terus duduk yang benar dan pasang sabuk pengamannya" Perintah Shifa dan Darvo pun menurutimya.
Rivandra tersenyum meledek kepada darvo yang sedang melototinya lewat ke arah kaca spion.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa Like, Komen Dan Vote.