My Beloved Boss

My Beloved Boss
Menginap



Seperginya Maya , Shifa , dan Gina. Mereka masih tetap tertawa membuat Rivandra kesal lalu melempar bantal ke arah mereka.


"Terus saja tertawa gue gak akan ikut kalian ke bukit" Ketus Rivandra.


"Jangan gitu lah Bro" Bagas tersenyum kepada Rivandra.


"Masnya mau aku cium gak" Bagas memonyongkan bibirnya mendekati Rivandra.


"Nauzubillah " Rivandra langsung pindah sofa yang tadinya dekat dengan bagas sekarang duduknya bersebrangan supaya terhindar dari bagas.


"Sorry ya Gas gue masih normal" Ujar Rivandra sambil bergidik ngeri melihat kelakuan Bagas.


"Ahaha heeh Van lo udah pernah nyium siapa saja ?" Tanya Bagas seraga terkikik.


"Mau tahu aja lo Gas" Ujar Rivandra.


"Kue gratis..." Teriak Kevin seraya membuka kotak kue yang tadi di berikan Maya kepada mereka.


"Kalau gratisan aja langsung berbinar" Hcap Kenzle.


"Ehh harus dong kalian itu gak boleh menolak rezeki" Ujar Kevin.


"Bilang saja kalau lo itu pelit..." Ucap Bagas.


"Kalian itu berisik sini kotaknya biar gue aja yang makan" Rivandra menyambar kotak kue itu dari tangan kevin.


"Gue belum makan Van jangan di habisin" Kevin terlihat ingin merebut kotak kue itu dari tangan Rivandra tapi kalah cepat dengan Rivandra ia sudah memakan potongan kue itu.


"Jangan di habisin dong Van kita juga kan mau" Ujar Kevin.


"Kalian tenang saja gue akan nyisain kok paling cuma satu" Rivandra tersenyum licik kepada sahabatnya yang melihat ke arahnya dengan tatapan membunuh.


"Yaudah nih karena gue orang paling baik hati,tampan, tidak sombong dan yang paling pasti Kaya dan sukses ini akan memberikan tiga potong kue untuk kalian" Rivandra tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya yang melongo.


"Becanda" Rivandra tersenyum kepada mereka yang membuat mereka kesal dan langsung melempar bantal dan kaleng bekas minuman yang ada di meja.


Di kamar Gina


"Besar ya rumah kamu Gin" ucap Shifa.


"Haha biasa aja malahan aku ingin punya rumah minimalis" Jawab Gina.


"Kenapa ?? " Tanya mereka.


"Kadang aku itu suka ngeri sendiri saat di rumah sendirian meskipun ada pelayan tapi gak tau serem aja rumahnya kebesaran" Jawabnya.


"Iya memang dulu aja aku pernah tinggal di rumah besar gini tapi cuma satu bulan karena aku takut..." Ucap Shifa.


"Takut kenapa ? " Tanya gina.


"Takut tersesat haha" Shifa tertawa dan ia kembali mengingat kejadian saat ia masih sekolah Smp saat itu Pak Randi membeli rumah yang sangat besar bak istana tapi karena Shifa dan Dafa selalu tersesat saat keliling rumah jadi mereka pindah ke rumah yang sekarang di tempati.


"Ya ampun Shifa , tapi kamu benar tahu aku aja dulu waktu kecil suka salah masuk kamar. Dan setelah itu selama beberapa tahun Mamaku mengerahkan pengawal untuk menjaga ku keliling rumah supaya tidak hilang" Cerita Gina yang membuat Shifa dan Maya terkekeh.


"Kalau aku tidak pernah seperti kalian karena rumah aku itu pertama ruang tamu terus kamar tidur itu juga cuma ada tiga setelah itu ruang makan yang menyatu dengan dapur mana mungkin aku kesasar" Ujar Maya sambil terkikik membuat mereka tertawa bersama.


"Aku juga ingat saat itu aku kan jalan-jalan keliling rumah tujuannya itu mau ke taman belakang aku berangkat pukul empat sore dan sampai kamar jam sembilan malam" Cerita Shifa.


"Kok bisa emang sebesar apa rumahnya sampai membutuhkan waktu berjam-jam ? " Tanya Maya.


"Bukan masalah besarnya tapi aku kesasar di ruangan yang sama aku belok kanan dan aku belok kiri tetap saja munculnya di tempat yang sama sampai ayah dan ibu nyariin aku mereka juga panik kirain mereka aku di culik" Ujarnya seraya tertawa mengingat kejadian itu.


"Ahaha parah banget untung aku belum pernah seperti itu" Ucap Maya.


"Iya kamu beruntung May tidak pernah kesasar di rumah sendiri" Ujar Gina.


"Eh terus itu rumah masih ada atau sudah di jual ?" Tanya Maya yang di angguki oleh Gina.


"Masih ada kalian mau main ke rumah itu ? " Tanya Shifa.


"Gak ah taku apa lagi gak ada orangnya" Ucap mereka.


"Siapa bilang rumah itu sekarang di tempatin oleh Oma aku tau " Ucap Shifa.


"Wah boleh tuh kapan-kapan kita main ke sana tapi kalau kesasar gimana?" Tanya Maya.


"Kalian tenang saja karena kalau ada tamu nanti akan di kasih peya supaya tidak tersesat seperti ku " ucap Shifa seraya tersenyum lebar.


"Kapan dong ? " Tanya Maya.


"Gimana kalu besok. Besok aku libur loh" Ujar Shifa.


Bereka berbincang bincang sampai tidak terasa hari sudah mulai gelap.


"Aku mau pulang dulu ya" Ucap Shifa.


"Shifa menginap saja besok kan kita mau pergi ke rumah Oma kamu" Ucap Gina.


"Tapi gimana ya takut nya nanti gak di izinin menginap" Tolak Shifa dengan halus.


"Coba saja dulu Shifa" Ujar Gina.


Shifa pun menghubungi Ayahnya dengan ragu.


Panggilan terhubung.


"Halo ,Assalamualaikum ayah" ucap Shifa saat panggilan telah di angkat.


Waalaikumsalam nak kamu dimana kenapa belum pulang ini sudah malam. Terdengar suara Pak Randi begitu khawatir kepada anaknya.


"Emm Ayah jadi tadi sepulang kerja aku main ke rumah gina dan tidak sadar ternyata sudah sangat malam jadi bolehkah aku menginap di rumah Gina ? " Tanya Shifa dengan ragu-ragu.


Boleh asal di rumah saja jangan ke mana-mana.titah pak Randi.


"Makasih ayahh" Shifa berjingkrak dengan senang.


Esstt jangan senang dulu sebentar ayah mau menelpon dulu kenan apakah boleh anak ayah menginap di rumah nya kalau tidak boleh nanti ayah suruh Dafa jemput kamu di sana. Ujar pak Randi.


"Iya ayah" Yang tadinya tersenyum senang dan berjingkrak jingkrak sekarang Shifa mengerucutkan bibirnya.


Pak Randi mematikan telponnya dan langsung menghubungi kenan yang merupakan sahabatnya yaitu ayahnya Gina dan Kenzle.


Setelah menelpon dengan kenan pak Randi pun langsung menghubungi anaknya.


Halo nak kana Kenan kamu boleh boleh saja menginap di rumahnya dan ingat ya nak jangan buat masalah di sana dan jangan mengganggu ketrnangan orang. nasihat Pak Randi.


"Siap ayah..." Teriak Shifa dengan semangat.


Pak randi pun memutuskan kembali telepon tersebut.


"Ehh gin emang Mama kamu di mana ko aku belum melihatnya dari tadi ? " Tanya Shifa.


"Mama sama Ayah sedang ada undangan jadi kemungkinan mereka pulang malam sekali tapi gak tahu juga hehe" Ucapnya.


"Gin ini kue dari mamaku untuk tante Tara dan ini buat kita harusnya buat kita itu dua kotak tapi tadi di bawah di berikan kepada kakak mu jadi cuma satau " Ucap Maya sambil menyerahkan satu kantong plastik yang berisi dua kotak kue.


"Iya gak papa makasih ya May " Ucap Gina.


"Ayo kita ke bawah aku lapar belum makan ini kan sudah malam" Ajak Gina.


"Baru juga jam setengah delapan " Ujar Shifa.


"Hehe ayo ahh" Gina menggandeng tangan Shifa dan Maya untuk menuruni tangga.


Setibanya di ruang makan mereka langsung duduk di kursi.


"Bi tolong simpan kue ini buat mama ya jagain takutnya nanti ada yang makan" Titah Gina kepada salah satu pelayannya.


"baik Non" Pelayan tersebut melenggang pergi meninggalkan ruang makan.


"Ini sudah masuk waktu makan malam deh tapi kayaknya mama dan ayah gak makan malam di sini" Ucap Gina.


"Maaf nona tadi nyonya telpon katanya dia akan pulang sangat malam jadi kalau mau makan duluan saya dan kemungkinan dia tidak akan makan malam di rumah " Ucap pelayan yang sedang membuka tutup semua tempat makanan.


"Ohh gitu ya bi baik lah apa kak kenzle sudah makan ? " Tanya Gina.


"Belum non" Jawab pelayan tersebut.


Mereka pun makan malam saat ingin menyuapkan makanan tiba tiba dari arah pintu muncul empat orang pria yang berjalan ke arah meja makan.


.


.


Bersambung.


**Hai Jangan lupa untuk Like, Komen dan vote nya ya karena itu akan menjadi semangat bagi Author.


Tarimakasih😁**